namaku liana. usiaku berumur 17 tahun sekarang. aku sekarang sudah duduk di bangku kelas 2 menengah atas. aku memiliki teman bernama desi umurnya sepantaran denganku hanya saja dia lebih tua 3 bulan dariku dan satu lagi si jenn dia lebih muda dariku.
aku memasuki gerbang sekolah terburu-buru. lonceng bel telah berbunyi tanda pelajaran akan di mulai.
" hai, liana." panggil seseorang dari belakang.
aku masih berjalan cepat tanpa menoleh.
" woii... kau ini memang tidak setia kawan, ya." rungut desi sambil merangkul bahuku.
" bel udah bunyi tahu. ngga ada waktu, kita bisa terlambat masuk." terangku sambil mempercepat langkah kakiku.
" kamu tahu, kan. ini mata pelajaran pak bambang si guru killer." sambungku lagi dengan tatapan horor.
sementara desi yang mulai sadar, segera mengikuti langkahku. nasib kami berdua masuk lebih dulu sebelum pak bambang masuk ke dalam kelas.
" selamat pagi, anak-anak." sapa pak bambang lantang.
" pagi, pak." teriak anak-anak kelas.
" baik, keluarkan PR kalian." perintah pak bambang.
aku melongo beberapa saat. aku benar-benar lupa mengerjakan PR karna asik main game, sementara desi di sebelahku diam membisu. Dapat aku lihat bulir-bulir keringat di dahinya yang sebesar biji jagung bertengger di sana.
" kamu sudah mengerjakan PR?" tanyaku setengah berbisik pada desi.
" a-aku belum mengerjakannya." jawab desi tergagap.
hahh...
aku menghela nafas. aku sudah dapat merasakan kalau sebentar lagi pak bambang akan menghukum kami berdua.
" kalian berdua." panggil pak bambang sambil menunjuk ke arah kami.
" mana tugas kalian?" tanya pak bambang dengan wajah galaknya.
aku bersusah payah menelan air ludah sebelum menjawab.
" a-anu.. pak." jawabku tercekat.
" kami lupa, pak." sambung desi dengan wajah menunduk takut.
" baik. kalau kalian lupa." ujar pak bambang dengan menunjukkan wajah menakutkan.
" kalian berdua bapak hukum, sebelum pulang sekolah bersihkan seluruh kelas. biar kalian berdua tidak lupa dengan tugas kalian lagi." perintah pak bambang.
aku hanya bisa diam, menerima perintah tak terkecuali desi di sebelahku yang hanya bisa memberikan isyarat dengan anggukan kepala.
pelajaran pak bambang telah selesai waktunya anak-anak kelas istirahat. semua murid berhamburan keluar untuk menuju kantin karna pada jam segini perut mulai keroncongan minta di isi.
aku mengambil duduk di meja paling depan bersama desi. aku memesan bakso sementara desi memesan nasi goreng untuk minumannya seperti biasa minuman sejuta umat yaitu es teh.
saat kami berdua khusyuk menikmati makanan kami masing-masing. tiba-tiba datang seorang gadis ke meja kami berdua.
" ah.... kalian berdua tidak memesankan punyaku sekalian." rungutnya pada kami berdua.
" nanti kalau aku pesan terus kamu ngga mau makan gimana?" tanyaku pada temanku itu yang hobinya telat terus.
dia hanya diam tanpa membalas tapi wajahnya terlihat sebal karna kami meninggalkannya.
" ya, lagian jenn. kamu kemana aja?" tanya desi penasaran.
" aku tadi habis nonton film di hp aku, ceritanya seru banget loh." jawab jenn dengan mata berbinar.
" ya, nonton aja terus. biarkan saja perutmu kelaparan." sahutku sambil melirik jenn tajam sementara jenn hanya terkekeh melihatku.
" hah... hari ini sial sekali." keluh desi pada jenn.
" memangnya kenapa?" tanya jenn penasaran.
" semua karna guru killer itu. kami berdua lupa mengerjakan PR dan dia menghukum kami membersihkan seluruh kelas." cerocos desi tanpa jeda seolah sedang meluapkan kekesalannya.
" padahal aku mau nonton drama sore nanti." rajuk desi dengan wajah yang ingin menangis.
aku hanya bisa diam mendengar keluh kesah desi karna akupun juga sama seperti dirinya terkena hukuman dari pak bambang.
" eh.... tapi kalian kalau bersih-bersih jangan sampai ke halaman belakang, ya." ujar jenn memperingatkan.
" memang kenapa?" tanyaku spontan.
sementara desi mencoba mendengarkan lebih lanjut.
" katanya dulu sering banget ada anak kelas yang hilang dan besoknya di temukan di belakang sekolah makanya kan anak-anak di suruh pulang sebelum senja." ujar jenn dengan wajah horor.
" ah.... kamu ini takhyul saja." timpalku tak percaya.
" aku serius loh." ujar jenn meyakinkan.
" kau ini, jenn. hanya buat kami takut saja." sebal desi sambil memukul lengan jenn.
kring...
kring...
bel sekolahpun berbunyi tanda istirahat telah berakhir. aku dan desi kembali ke kelas kami sementara jenn pergi ke kelasnya.
waktu berjalan cukup cepat akhirnya sudah waktunya anak-anak sekolah untuk pulang.
" jangan lupa, ya. hukuman kalian." ujar pak bambang galak sebelum kami pulang.
aku dan desi mulai melaksanakan tugas kami untuk bersih-bersih. aku membersihkan kelas bagian atas sementara desi bagian bawah. di lantai atas ada 5 kelas dan di lantai bawah ada 6 kelas jadi totalnya ada 11 kelas.
aku buru-buru menaiki tangga dan segera memulai membersihkan kelas satu-persatu. mulai dari merapikan kursi murid-murid, meja guru dan menyapu kelas sampai bersih. tak terasa haripun mulai gelap dan tugasku juga sudah selesai. aku segera menuruni tangga dan menemui desi.
aku memeriksa satu-persatu kelas tapi aku tidak menemukan desi. aku periksa di kelas kami, tas desi masih ada di sana. aku mulai kebingungan.
' mungkin desi sedang ke toilet.' pikirku mencoba menenangkan.
1 jam sudah aku menunggu desi di kelas tapi dia tidak muncul juga. hari sudah gelap, akhirnya aku putuskan untuk mencari desi saja. karna hari sudah gelap aku menggunakan penerangan melalui ponsel pintar milikku.
aku menyusuri koridor sekolah dengan perlahan. dapat aku dengar suara sepatuku yang bergema. aku melihat arloji di tanganku.
jam 18.30wib.
' ini masih belum terlalu malam.' pikirku.
malam ini begitu dingin, bahkan bulu tengkukku merinding. perasaan takut mulai menghampiriku tapi aku tetap memberanikan diriku untuk mencari desi.
" desi." panggilku.
" desi." panggilku lagi.
namun desi tidak menjawab.
" desi." panggilku sekali lagi kali ini cukup keras namun kali inipun tetap sama.
aku hampir putus asa mencari desi ingin rasanya aku menangis. tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di depanku, aku segera menyoroti lampu senter di ponselku ke depan. aku melihat desi berjalan cukup cepat ke arah halaman belakang.
" desi." teriakku tapi dia diam saja.
aku mengekorinya dari belakang sampai akhirnya dia berhenti di halaman belakang. aku segera menepuk bahunya.
" desi, ayo pulang. ini sudah malam." pintaku pada desi tapi dia masih diam.
kini perasaan takut semakin menghampiriku, entah kenapa ketakutanku semakin menjadi sekarang apalagi melihat desi yang hanya diam saja. dengan tangan bergetar aku menyoroti lampu senter di ponselku ke arah desi sambil melangkah mundur.
saat ku melangkah mundur kakiku tersandung sebuah batu besar dan menghentikan langkahku untuk mundur. desi yang tahu aku menghindar darinya, dia segera membalikkan tubuhnya.
" hehehee..." tawa desi mengerikan.
aku yang melihat itu segera mengambil langkah untuk lari namun desi lebih cepat dariku. dia menahan bahuku dengan tangannya.
" jangan pergi." lirihnya.
aku tidak bisa bergerak, tubuhku kaku. perlahan desi mendekatkan tubuhnya padaku dan menjulurkan kepalanya ke samping telingaku.
" JANGAN PE-PERGI." teriaknya di samping telingaku.
aku yang kaget, spontan berteriak dan menoleh ke arahnya. itu bukan desi. wajahnya rusak dan penuh darah, dia begitu menyeramkan. tiba-tiba pandanganku mengabur dan aku tidak sadarkan diri.
ketika aku terbangun, di depanku ada sebuah rumah yang lumayan besar. aku tidak ingat kalau ada rumah sebesar ini.
" halo. apa ada orang?" tanyaku sebelum masuk ke dalam rumah itu.
" halo." ujarku lagi namun tak ada jawaban.
seketika pintu rumah itu terbuka sendiri, aku memasukinya tanpa ragu. bangunan rumah itu cukup mewah dan banyak sekali lukisan-lukisan terpampang di dinding.
aku menelusuri setiap ruangan yang ada dirumah itu namun aku tidak menemukan siapapun. hingga aku berdiri pada pintu terakhir. aku memutar kenop pintu lalu mendorong pintunya untuk masuk. aku sangat terkejut ketika melihat desi sudah dalam keadaan terikat tali dengan panik aku menghampirinya.
" desi kamu tidak apa, kan?" tanyaku khawatir melihat desi sambil berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.
"hmm...hmm..." sahut desi dengan mulut yang masih tersumpal.
aku bisa melihat airmatanya, dia baru saja menangis. segera aku membuka penutup mulutnya lalu melanjutkan membuka tali.
" kenapa kamu disini?" tanya desi tersedu-sedu.
" aku juga tidak tahu." jawabku asal masih fokus membuka tali di tangannya.
ketika tali sudah terlepas sempurna, aku menggandeng tangan desi dan mengajaknya untuk pergi keluar tapi belum sempat kami keluar dari kamar itu, kami sudah di cegat.
" kalian tidak bisa pergi." teriak wanita itu.
wanita itu berpakaian gaun putih namun sedikit lusuh dengan rambut hitam panjang menjuntai ke depan dan menutupi wajahnya. kuku-kukunya sangat panjang bahkan kulitnya yang mengelupas masih bisa terlihat dari lengan baju yang dia kenakan.
" kalian tidak boleh pergi." ulang wanita itu.
kali ini dia menampilkan wajahnya yang tertutup itu. dia bukan manusia!
wajahnya pucat pasi dan sangat mengerikan,
buruk dan rusak bahkan tulang pipinya dapat terlihat, matanya terlepas satu dan masih menggantung.
desi meringkuh ketakutan di belakang punggungku. sementara aku sedang berfikir cara menghadapi wanita itu agar bisa keluar dari tempat ini. wanita itu perlahan mendekati kami sementara kami berusaha menghindarinya. kami berdua terus melangkah mundur sampai kami terpojok di sudut ruangan dan tak bisa kemana-mana lagi.
saat tangannya mencoba menggapaiku, tiba-tiba cahaya terang menyilaukan muncul.
" kamu tak berhak menyentuh cucuku." teriak seseorang entah darimana asalnya, aku tak melihatnya.
perlahan wanita itu mundur selangkah demi selangkah. aku yang melihat itu segera kabur dengan menggandeng tangan desi tapi sayangnya gandengan tanganku terlepas, aku berusaha meraih tangan desi lagi namun terlambat. wanita itu sudah lebih dulu menangkap desi, aku ingin menolong desi tapi pintu kamar itu seketika tertutup dan aku terlempar keluar.
hahh...hahh...
aku terengah-engah.
" liana, kamu baik-baik saja?" tanya pak bambang khawatir sambil menatap mataku.
sesaat aku kebingungan.
" ini dimana pak?" tanyaku kembali pada pak bambang tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya.
" ini di rumah mbah jarwo." terang pak bambang.
" kamu beruntung, nak. sebab ada yang melindungi. tapi temanmu...." ujar mbah jarwo terpotong sambil menggelengkan kepala.
aku langsung melihat ke sebelahku, di sana desi sedang terbaring dengan pandangan kosong.
" desi." panggilku sambil mengguncang tubuhnya namun desi tidak merespon.
" desi. panggilku lagi kali ini aku menitikkan air mata.
" mbah. kenapa dengan teman saya?" tanyaku pada mbah jarwo sambil terisak.
" temanmu sudah terjebak. dia sudah tak bisa lagi keluar dari sana. dia sudah menjadi anaknya dari lady mayora." terang mbah jarwo.
tubuhku terasa lemas mendengarnya, aku hanya bisa menangis sambil melihat kondisi desi saat ini. sejak hari itu aku sudah tidak melihat desi lagi, dia dan orangtuanya pindah dari kota itu dan aku sudah tidak pernah lagi mendengar kabar keadaan desi. sementara itu halaman belakang sekolah telah di tutup secara permanent.
-end
untuk para pembaca jangan lupa dukung author ya. ini pertama kalinya saya buat cerita pendek bergenre horor. heheee...
mohon dukungannya dengan cara mengklik tombol ❤ dan komentar pembaca juga saya nantikan.
terimakasih 🙏🙏☺☺🤗🤗😘😘