Prolog.
Seorang gadis rambut terurai, dengan style baju hitam dan masker yang dipakainya itu, keluar dari ruangan yang cahaya redup dengan langkah sempoyan menuruni tangga. Muka kusut dan mata yang bengkak memerah akibat menangis semalaman. Dan pastinya bisa dilihat gadis itu jauh dari kata baik.
Sebelum pergi dia berniat berpamitan kepada mamanya. "Mah..." Terdengar panggilan gadis yang menggema memenuhi ruangan yang membuat sang empunya berbalik.
Karena tidak asing dengan suara tersebut dia segera menghapus air matanya jangan sampai anaknya semakin terlarut kesedihan karenanya.
Wanita paruh baya berbalik mendapati anak semata wayangnya dengan ukiran senyuman di wajahnya. Tujuannya kini yaitu menyembunyikan kepahitan dalam hatinya setelah melihat reaksi anaknya yang dijodohkan dengan anak sahabatnya sendiri.
Dia berbalik dan berkata: "iya sayang." Seperti itulah tanggapan mamanya disetiap harinya.
Sang mama menatap sendu anaknya kesayangannya yang kini di hadapannya dengan penampilan serba hitam dan mata yang bengkak dan memerah.
Kinara, Mama gadis itu. Hanya tegar didalam hati menepikan rasa sedihnya dan menghampiri anak semata wayangnya itu dengan seulas senyuman di wajahnya yang dipaksakan demi menutupi kesedihannya agar tak ditatap sang anak.
"Anak mama kenapa hm? Kok jadi berantakan kayak gini?" tanya mama lembut. Kinara pun menuntun anaknya untuk duduk di tepi kasur yang tebal itu.
"Mah...." Hanya ucapan itu yang dilontarkan oleh bibir kecil sang anak berhasil membuat hatinya makin tersayat perih.
"Aku ga mau menerima perjodohan ini, aku udah lelah lari dari semua kenyataan ini mah," Lagi lagi perkataan anaknya ini membuat bendungan air dalam kelopak mamanya jatuh tanpa izin pemiliknya.
"Kenapa mah...Kenapa?" Lagi-lagi kalimat yang dilontarkan sang anak yang membuat sang mama berderai air mata.
"Winda gak mau nerima perjodohan ini mah nanti siapa yang akan rawat mama disini?" tanyanya dengan suara serak parau. Gadis itu segera mendekap erat mamanya enggan untuk melepaskan dekapannya sang mama hanya diam dan membalas pelukan sang anak sesekali mengusap punggungnyap.
Ya, dia adalah Winda gadis remaja yang ceria,dan periang, dan baru saja lulus SMA yang sebenarnya dia seharusnya kuliah seperti anak gadis pada sebelumnya tapi dia malah tejebak dalam labirin yang tidak tau jalan keluarnya yang menghasilkan harapan-harapan yang diharapkannya menjadi dokter diluar negeri menjadi sirna setelah mendengar kabar bahwa dia akan dijodohkan dengan seorang CEO ternama di Korea yang pastinya tidak sedikit orang yang mengenalnya.
Penyebab Winda sedih karena perjodohan konyol yang di ajukan tiba-tiba 2 hari yang lalu. Saat semua keluarga berkumpul dan menjalani rutinitas setiap bulan.
Perjodohan yang menghantuinya membuatnya belakangan ini air matanya terus mengalir, dan senyumnya yang seperti dulu tak kunjung datang.
Karena dengan perjodohan ini, membuatnya ketakutan akan sang Mama yang tinggal di rumah seorang diri nantinya ada Bi Inah yang menemani.
Kedua, cita citanya sejak kecil untuk menjadi dokter di luar negeri, harus pupus seketika bagaikan abu.
Kini, Winda izin pada Mama Kinara ke suatu tempat yang tidak asing baginya dan Mamanya. Winda pun siap dengan hoodie hitam miliknya. Dan segera menaiki mobil pribadinya tak lupa menancapkan gasnya dan melewati rintikan hujan deras yang turun terus menerus.
Di atas sana sepertin memahami dan menggambarkan perasaannya saat ini yang tercampur aduk.
#Pemakaman🥀
Disini lah dimana Winda sekarang, ambruk terduduk bagaikan orang yang tidak tahu arah kemana dia berlabuh. Dalam hitungan detik dia langsung menangis menumpahkan kesedihan yang ia alami sambil memeluk bongkahan batu dan bunga mawar yang tergeletak di atas persinggahan terakhir sang Papa. Benar, Papa dari Winda telah meninggal dual tahun yang lalu setelah kecelakaan yang terjadi saat itu.
Winda menatap teduh tempat persinggahan terakhir ayahnya, tak kunjung beralih pada batu nisan untuk mencurahkan segala isi hatinya dengan air mata yang dari tak kunjung usai
"Pah..." ucapnya lirih. Rasa tidak sanggup mengatakannya dan hanya memegang dadanya sakit mengingat sekilas perjodohan yang dialaminya sekarang ini.
"Pah...papa tau gak? Winda dijodohin sama lelaki. Papa pernah bilang kalau aku akan mendapatkan lelaki yang terbaik apakah dia emang terbaik pah?" ucapnya dengan sesenggukan.
Ditatapnya batu nisan dan beralih menatap langit biru yang tiap harinya menampakkan cahayanya yang tak pernah usai bagi orang yang liatnya.
Seketika air mata terjatuh lagi saat mengingat......
17 tahun lalu...
"Pah... papah" terdengar teriakan anak kecil yang memanggil papanya agar berbalik menghadapnya. lelaki jangkung yang awalnya berdiri tegap berbalik menatap anak setinggi lutut itu. "Iya apa sayangnya Papa??"
Papa pun mengerti dan mengangkat gadis kecilnya ke dalam gendongannya.
"Liat deh Pah langitnya cantik banget warnanya bilu,telus tuh ada putih-putihnya," ujargadis kecilnya membuat sang Papa tersenyum dan merasa gemas sendiri melihatnya.
"Telus itu Pah putih kek selimut di kamar Winda itu apa namanya?" tanyanya lagi.
"Itu tuh namanya awan." jawab papa menghadap ke atas melihat langit dan menunjuk awan. Kemudian beralih menatap sang anak.
"Papah winwin mau tanya lagi hehehe," Winwin kecil itu hanya nyengir dan berlanjut bertanya pada sang papa.
"Mau nanya apa anaknya papa satu ini?" sambil menaikkan kedua alisnya terlihat menanti pertanyaan
"Kalo malam itu yang banyak terus terang di langit tuh apa namanya?" tanya polos sang anak kepada sang papa. "Itu namanya bintang sayang." jawab Papa.
"Bintang itu punya cahaya sendiri makanya yang terang yang kamu lihat itu namanya bintang" jelas Papa "Bedanya kamu sama bintang itu, kalau bintang itu menerangi langit malam kalau anak papa yang satu ini, menerangi langitnya Mama, Papa, Ka Alden dan juga orang lain." lanjut Papa yang take lepas dari ukiran senyum yang sedari tadi tak kunjung usai dilihat.
"Jadi Winwin itu bintangnya Papa?"tanya Winda polos. "Iya sayang kamu itu bintangnya Papa yang selalu terang," jawab sang Papa.
Winda kecil atau dikenali dengan nma Winwin kecil, sangat senang dan terikut memeluk Papa.
"Dimanapun Winwin berada, Winwin bakal selalu jadi bintangnya Papa, Mama,dan Ka Al." sahut Winwin.
Seorang wanita melihatnya dari kejauhan menatap haru adegan itu.
***
"Winda udah janji akan terus menjadi bintangnya Papa dan Mama, jika itu keputusan yang terbaik buat Winda..." Winda menjeda ucapannya.
"Winda akan berusaha ikhlas menerimanya Pa, terima kasih karena selalu membuat Winda tersenyum sekaligus selama ini jadi motivator Pa, Winda akan berbuat apapun demi membuat Mama bahagia dan Papa yang tersenyum melihat Winda dibawah sini." Jelas Winda panjnng lebar akhirnya merasa lega
Winda menatap langit sekilas yang mulai menampakkan sinarnya setelah hujan yang sedari tadi mengguyur.
"Oke pah Winda pamit dulu kapan-kapan Winda tengokin papa lagi." Sekilas Winda pun memeluk batu nisan milik Ayahnya dan berlalu pulang ke rumahnya.
Di rumah...
Setelah sampai Winda pun segera membersihkan dirinya dengan ritual mandinya dan segera menjumpai sang Mama.
Menuruni setiap anak tangga dengan senyuman yang mulai terukir di wajahnya dan menampakkan pada sang Mama.
Kinara yang merasa dilihat malah terheran heran menatapnya bingung. Winda menghempaskan badannya dan duduk di samping Kinara di sofa depan televisi.
"Mah Winda mau bicara mah.."ucapan yang dilontarkan dan mulai meraih tangan sang mama
.
"Winda mau bilang kalau, Winda terima perjodohannya Ma," ungkap Winda. Yang diberi tahu menatap bingung sekaligus tidak percaya pada ungkap anak yang berada di hadapannya.
Mamah pasti bertanya kenapa Winda tiba tiba seperti ini, pikir Winda. Winda tertawa renyah melihat tatapan Mama yang terkesan lucu baginya.
"Karna Winda mau lihat Mama bahagia, dan juga Papa bahagia juga di alamnya menatap Winda bahagia seperti ini, Winda kan pernah janji sama Papa untuk menjadi bintangnya kalian. Jadi bintang bertugas membawa penerangan bukannya kegelapan, jadi Mama gak usah sedih lagi yah Winda ga suka liat mama sedih seperti ini nanti yang disana marah loh haha," tunjuk Winda pada langit-langit rumahnya.
Mama yang mengerti maksudnya terikut hanyut dalam suasana ceria ini.
Bias Inah dari jauh hanya menatap haru majikannya dan terfokus pada nona nya. 'Bahagia selalu yah non.' batin sang bibi.
Kinara pun terikut tertawa renyah mendengar penuturan Winda dan dipeluknya erat. Tiba tiba mamah melonggarkan pelukan yang membuat Winda beralih menatap heran sang Mama .
"Jadi sayang, impian kamu jadi dokter diluar negeri gimana?" tanya Mama risau. Winda tertunduk sejenak. Dan kembali memandang Kinara dengan senyuman yang tak lepas dari tadi.
Winda hanya tertunduk, sebagai tempat satu-satunya mencari alasan. Hanya itu, biar Mama tak mengetahuinya.
"Mama ga perlu khawatir. Nanti kan aku masih bisa jadi dokter disini. Lagipula rumah sakit disini bagus kok. Lalu impian aku, yang perlu Mama tahu yaitu membuat membuat Mama bahagia." jelasnya.
Tidak disadari Kinara mengelap ujung matanya yanguni ditetesi air mata barusan.
'Mama senang kamu bisa jadi periang lagi seperti dulu, Mama harap kamu bahagia selalu dengannya nanti tanpa pengawasan mama lagi,' - batin Kinara, Mama Winda.
"Mana mungkin Winda akan ngecewain Mama, apapun itu asalkan terbaik buat kita. Winda akan berusaha melakukannya agar tetap membuat Mama bahagia." -Winda
"Pah dimanapun Winda, Winda akan usahain untuk menjadi bintangnya mama,dan Ka Al. Setidaknya Winda dapat membuat Papa tersenyum bangga disana,"
Winda menatap teduh taman rumahnya. Tempat dimana dia bersama Papanya dulu dengan ukiran senyumnya. "Miss you Pah...."
Since : 28 Oktober 2020