"wuuft.. semoga Boss tidak marah lagi"
Eira bersia mengetuk pintu ruangan Bos Arkan. Setelah beberapa hari menyelesaikan laporan keuangan perusahaan, hari ini waktu Eira mengahadap Boss.
~Tok tok tok 💢
"Masuk saja"
_Gleg
Mendengar suaranya saja sudah membuat Eira gugup.
"Ada apa?"
Boss masih membelakangi Eira, sehingga hanya terdengar suaranya saja.
Tapi tunggu.. kenapa tadi suaranya berbeda?
"ini laporan__"
kursi berputar, kini nampaklah siapa yang duduk di sana.
BLUSH!!
Eira mematung
"selamat pagi " * smirk
Jantung Eira serasa berhenti berdetak. Sosok di depannya tersenyum sangat manis tapi mengerikan.
"Eira?.. Are you okay?"
Siapa yang dilihat Eira.. dia adalan Alden. Mantan kekasih Eira semasa Sekolah Menengah. Sontak Eira kaget dan tak tahu harus bagaimana.
" em.. i'm okay Boss.."
mencoba tersenyum, meski Kaku
"apa kabar? setelah lama.. kenapa kebetulan sekali bertemu mantan di sini?"
Pandangan Alden berubah serius.
"mungkin takdir Bos"
jawab Eira sekenanya.
"waah takdir yang hebat.. bahkan ternyata kau bekerja di perusahaan milik Ayahku"
" astaga kenapa bisa.. bodoh kau Eira"berkata dalam hati
"sudahlah jangan menyesali perbuatan yang telah lalu.. haha. akan bagus jika kau bekerja di sini.. "
Mata Eira membulat,
"Apa maksudnya itu" batin Eira.
"sepertinya kau masih single .. apa karena belum bisa move on?"
" maaf Bos.. ini laporan keuangan_"
Eira tak bisa melanjutkan kata-katanya. Alden tiba tiba berdiri dan menghampiri nya.
GREB!!
" ada apa ini.. kenapa dia " batin Eira
"aku merindukanmu.. jangan pergi lagi"
Seketika Eira merasa sangat bersalah, bagaimana tidak. Eira memutus Alden sepihak dan pergi begitu saja. Dan tak memberi kabar apapun.
"aku mencari-cari mu.. kenapa kamu menghilang?"
"maaf.. aku.. aku terpaksa"
Tangis Eira tumpah, rasa sakit dan sesak di dalam dada nya muncul lagi.
" ssssst... jangan menangis.. aku sudah memaafkan mu. kenapa kau tak jujur saja waktu itu.. aku pasti bisa membantu"
Eira sadar jika masih di peluk,
lalu melepas pelukan menatap heran.
"tidak semudah kelihatannya.. " menunduk
Eira terpaksa putus dan pergi karena Ayahnya pindah tugas. Tak mau menyusahkan Alden dengan status LDR nantinya.. dengan egois Eira memutus Alden tanpa sebab.
"oke.. kita mulai dari awal.. semoga aku belum terlambat.."
Alden tiba tiba.. mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Meraih tangan Eira dan berjongkok.
"Alden.. " suara Eira masih tercekat
" Eira.. maafkan aku.. tapi maukah kau menikah dengan Alden?"
Mata Alden tersirat sebuah kesungguhan hati, bahkan Eira juga masih merasakan cinta Alden padanya masih ada dan tak berkurang.
Tapi Eira..
" Alden... apa kau sudah tahu tentang ku sebelumnya??"
Alden terkesiap, tentang Eira? apa.. setahunu Eira belum menikah dan bahkan tidak ada desas desus kedekatannya dengan seorang pria.
"ada Apa Eira? bukanya kau masih sendiri?"
Eira menggeleng.
Alden sedikit kecewa.. ada apa ini? apa Eira sudah dimiliki orang lain.
"kau tahu.. jika aku tidak punya siapa siapa lagi?"
Astaga , hati Alden kembali hangat.
Alden sudah berpikiran buruk dia pikir Eira sudah bisa move on. hehe
" bukan masalah bagiku.. asal kau masih memiliki perasaan yang sama denganku" senyum Alden merkah
Eira menggeleng.
"benarkah?? apa kau benar-benar mencintai orang lain? bukan aku?"
Eira membantu Alden berdiri, menatapnya sejenak lalu
_CUP_
sebuah kecupan manis mendarat di pipi Alden.
"kau salah.. rasa ini tak pernah berubah , masih sama dan hanya untukmu"
Eira dan Alden sama sama tersenyum.
" jadi..."
Eira mengangguk, tak disangka.
Pekerjaan lemburnya berhari hari justru dapat bayaran yang lebih dari harapannya.
Setelah Alden memasang cincin di jari manis Eira, mereka kembali berpelukan.
"Terimakasih Eira.."
Eira menggeleng cepat, "harusnya aku yang berterima kasih Alden "
Dan selanjutnya.. wajah Alden mendekat, kening mereka berdua menempel.
Alden mengambil posisi siap mencium Eira .
"ALDEN!.. "
Dua sejoli itu menoleh.
"Papa!.. aish menganggu saja.. "
Alden mengacak rambut frustasi, karena modusnya gagal.
Sedangkan Eira nampak gugup karena kepegok Bos-nya alias Ayah Alden.
"pulanglah.. jadikan Eira isteri baru terserah kalian mau berbuat apa"
Setelah mengatakan itu, Ayah Alden keluar ruangan.
"Benarkah Ayah?? .. "
"kita harus segera menikah "
Alden bersemangat dan refleks memeluk Eira lagi.