Suasana sunyi nan mencekam menyelimuti perkemahan kami yang berada di tengah hutan wilayah barat ujung pulau Jawa. Tempat ini hanya dapat dijangkau dengan menapaki jalan kecil atau menggunakan sampan selama lima hari dari pemukiman terdekat. Keganjilan beberapa nama di perkemahan Magical Land Camp menambah sensasi angker yang dapat kami rasakan dengan jelas. Begitu matahari terbenam dan kabut mulai merangkak dari dalam danau, keangkeran yang mencekam ini dapat berubah menjadi tak tertahankan.
Di sekitar daerah ini, semua nama sungai, bukit, dan pulau berasal dari mantra-mantra sihir seperti Avada Kedavra Island (pulau kutukan yang tak termaafkan), Alohomora River (sungai yang terkunci), Sectumsempra hill ( bukit hilang ingatan) menurut mitos yang beredar bahwa dahulu kala ada penyihir yang mengutuk warga yang tak mau menuruti perintahnya di tempat-tempat tersebut dengan menggunakan mantra saktinya. Dengan kata lain, semua nama tempat di sini memiliki makna dan acap kali semua nama itu dapat dipahami dengan mendatanginya secara langsung.
Dan ada lagi yang tak kalah menyeramkan di tempat perkemahan kami yaitu terdapat danau tengkorak adalah nama yang sarat akan makna, walaupun kami tidak tahu cerita mengenai asal-muasal nama danau tersebut, kami semua dapat sepenuhnya merasakan atmosfer suram yang menghantui tepian danau. Kalau bukan karena adanya bukti jejak rusa yang cukup baru di sekitar sini, kami pasti sudah memilih mendirikan tenda di tempat lain.
Setahuku, ada dua orang pria yang mendirikan tenda sekitar beberapa ratus mil dari kami. Mereka duduk bersama kami di dalam sebuah transportasi umum untuk sampai ke perkemahan ini. Tujuan yang sama membuat kami saling berkenalan, namun hanya sedikit yang kami ketahui tentang satu sama lain. Kami tidak suka dengan salah satu dari pria, karena terlihat sangat arogant. Ya kedekatan kami dengannya hanyalah disebabkan karena sang pemandu perkemahan, kevin. Yang berteman dengan salah satu anggota di kelompok kami. Dan sekarang mereka mendirikan kemah berjarak lima puluh mil lebih dari perkemahan kami.
Anggota perkemahan kami terdiri dari aku Aaron seorang pegawai Bank swasta, Chris seorang dosen di sebuah universitas swata di Jakarta dan istrinya (wanita yang lihai sekaligus penembak jitu).
Saat itu merupakan malam terakhir kami berkemah di sana, dan Chris sedang berbaring di dalam tenda kecilku sambil menjelaskan bahayanya berburu secara berpasangan tanpa ditemani pasangan yang lain.
Ya, Chris dan istrinya memiliki hobby berburu. Namun mereka tidak pernah berburu hewan yang di lindungi, mereka seringkali justru membantu hewan-hewan yang di lindungi dari pemburu liar.
Tutup tenda ku gantung ke atas dan masuklah aroma masakan dari arah perapian terbuka, beberapa orang di luar tenda sedang sibuk mempersiapkan makan malam.
"Jika terjadi sesuatu pada salah satu dari mereka,” ujar Chris, "maka cerita dari satu-satunya orang yang selamat tidak akan dapat dibuktikan kebenarannya, karena..."
Kemudian dia menjelaskan hukum dengan panjang lebar layaknya seorang professor sampai aku sendiri menjadi bosan dan pikiranku melayang membayangkan kenangan pemandangan indah dari tempat yang akan kami tinggalkan; Magical Land Camp yang di tengahnya berisi ratusan pulau, arus jeram, hamparan hutan yang hampir tak berujung, warna langit yang merah keemasan saat matahari terbit, dan langit yang penuh bintang di malam-malam yang kami habiskan dalam dingin untuk berjaga jika ada seekor rusa yang berjalan di sekitar danau yang kesepian.
Tidak lama kemudian, senandung suara Chris semakin menentramkan hati. Kurasa aku bisa tertidur tepat di depan matanya, atau mungkin aku memang sudah tertidur sejenak.
Tiba-tiba, terjadilah sebuah tragedi yang mengubah ketentraman di perkemahan kami menjadi kekacauan yang seakan-akan keluar dari mimpi burukku.
Awalnya Chris tercengang dan berhenti bicara, kemudian terdengar suara langkah seseorang yang berlari melewati barisan pohon pinus, lalu suara kebingungan orang-orang. Sejurus kemudian, istri Chris sudah berdiri di depan pintu tenda dengan wajah pucat pasi. Dia tidak mengenkan topi, celana berburunya kusut masai, tangannya memegang senapan, dan kata-katanya berantakan.
“Cepat, Chris! Itu pasti pemburu liar. Tadi aku tertidur dan suaranya membangunkanku."
Chris segera mengambil senapan dan keluar dari tenda.
"Ya Tuhan!" Seru Chris seolah dia baru menemukan sesuatu yang luar biasa.
Aku melihat pemandu camp membantu, atau lebih tepatnya menyeret seseorang dari dalam sampan. Suasana berubah hening, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara ombak yang menyapu sampan ke tepian danau.
Tak lama kemudian terdengarlah suara kencang seseorang yang berbicara secepat kilat namun terbata-bata. Alvin, seseorang yang baru saja di tolong pemandu camp sedang menceritakan apa yang terjadi dengan nada yang terkadang terdengar seperti berbisik dan terkadang hampir berteriak. Selama berbicara, dia berkali-kali menangis dan bersumpah. Ada sesuatu yang bergerak secara diam-diam dari balik kata-katanya, sesuatu yang menyelimuti bintang-bintang, mengacaukan ketentraman di perkemahan, dan menyentuh kami dengan rasa tidak percaya.
Ingatan akan suasana saat itu masih melekat jelas dalam benakku, kabut mulai merambat dari ujung danau, kami berdiri di tengah pekatnya kegelapan dengan ditemani lentera kecil. Alvin diangkut dan dipandu untuk berjalan menuju perkemahan. Sementara itu, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Sepatu mereka sekali-kali terbenam dalam pasir di pinggir danau, dan tubuh Alvin yang sudah hampir tidak berdaya diangkut dengan terseok-seok. Sebuah cabang pohon yang digunakannya sebagai dayung berbaring di dalam sampan.
Tapi yang paling mengejutkan kami adalah perbedaan yang jelas antara tubuhnya yang sudah tidak lagi bertenaga dan kekencangan suaranya. Ada kekuatan yang mendorongnya menceritakan seluruh kisahnya yang penuh dengan keganjilan. Awalnya aku terkesima karena dia masih kuat untuk duduk di dekat perapian walaupun wajahnya sudah pucat pasi. Aku melihat ada ketakutan yang dalam di matanya, juga air mata. Kata-katanya mengalir tanpa henti.
Alvin yang sedang menceritakan kisahnya dengan tatapan nanar, ia memandang semua orang yang duduk di sana satu persatu sambil berharap jika ada salah satu di antara kami yang dapat mengkonfirmasi kisah yang sama sekali tidak pernah kami saksikan. Tapi hanya satu orang yang dapat membenarkan apa yang di ucapkannya, yaitu Raka yang juga teman satu kelompoknya.
"Tidak perlu menceritakan semuanya sekarang," ujar pemandu camp dengan suara serak namun penuh kelembutan, "makanlah dulu, kemudian barulah bercerita. Minum teh hangat ini, mumpung belum dingin."
"Aku tidak bisa makan atau minum," tangis Alvin. "Ya Tuhan, kau ngerti enggak? Aku mau menceritakan ini dulu! Aku ingin mengatakannya ke seorang manusia yang dapat meresponku. Aku sudah tidak tahan lagi!! Sekarang, dengar!"
Raka teman satu kelompok Alvin, memandangnya dengan ekspresi ketakutan, dan kami sadar bahwa tidak ada yang dapat menghentikannya sekarang. Maka mulailah dia bercerita.
Tidak ada yang luar biasa dari kisahnya, bagi orang-orang yang sudah biasa malang-melintang di hutan, cerita itu terdengar biasa saja. Hanya saja caranya bercerita membuat bulu roma kami berdiri. Awalnya dia menceritakan kejadian yang sebenarnya, namun beberapa saat kemudian ada beberapa rincian yang sengaja dilewatkannya, bagian yang seharusnya dapat membuat hatinya tenang jika telah diceritakan.
Tentu saja dia memperhalus kata-katanya dengan menyelipkan kata-kata aneh yang terdengar melodramatis, puitis, dan bahkan tidak sesuai. Semua itu membuat ceritanya semakin gila. Dia juga tidak henti-hentinya menanyai kami secara bergantian sambil melototi wajah kami satu per satu dengan matanya yang ketakutan, "Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan pada saat seperti itu?" "Apa lagi yang bisa kulakukan? Penyihir itu benar-benar nyata." Tapi itu belum seberapa dibanding dengan caranya bercerita, ia meminta kami menyimpulkan kisahnya seolah kami adalah mesin fonograf yang bisa mengulangi apa yang telah dikatakannya dengan persis dan pertanyaan-pertanyaan tadi digunakannya untuk menekankan maksud tertentu yang menurutnya sangat penting untuk ditekankan.
Sayangnya, gambaran kejadian yang sebenarnya telah melekat dalam benak Alvin, sehingga walaupun dia berusaha menutup-nutupinya dengan kata-kata yang membingungkan, kami tetap dapat melihat gambar-gambar tersebut terbentang dengan jelas di balik bayangan hitam yang menyelimuti dirinya. Dia tidak dapat menghalangi atau bahkan melenyapkan bayangan tersebut. Kami tahu, dan aku masih yakin bahwa pada saat itu dia tahu bahwa kami mengetahuinya.
Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, cerita itu sendiri terdengar cukup biasa. Ia dan temannya yang bernama Haris berangkat dari perkemahan, dengan menaiki sampan yang berukuran sekitar dua setengah meter. Di tengah-tengah perjalanan, sampan yang mereka tumpangi terbalik. Mereka saling berpegangan tangan di atas sampan yang terbalik selama beberapa jam. Kemudian membolongi sampan, memasukkan tangan ke lubang, dan berpegangan lebih erat agar tidak mati kedinginan karena tubuh mereka masih berada di dalam air. Sementara itu, mereka berada jauh dari pesisir danau, dan angin yang saat itu berhembus dengan kencang menyeret sampan ke sebuah pulau kecil. Namun ketika mereka sudah berada beberapa meter dari pulau, mereka sadar bahwa angin tidak akan menyeret sampan ke sana. Angin akan membuat mereka tetap terhanyut dan melewatinya.
Maka mulailah mereka bertengkar, temannya ingin meninggalkan sampan dan berenang ke pulau. Sementara Alvin percaya bahwa kalau mereka menunggu sampai sampan melewati pulau dan angin kembali tenang, maka mereka bisa mencapai pulau tersebut dengan berenang atau bahkan dengan menggunakan sampan. Tapi temannya tidak ingin menyerah begitu saja, setelah mereka berkelahi, temannya meninggalkan sampan dan menghilang tanpa suara, seperti di telan oleh penyihir.
Alvin masih bertahan dan ternyata teorinya benar, ia pun berhasil sampai di pulau bersama sampannya setelah terombang-ambing di air selama lebih dari lima jam. Dia menceritakan kepada kami bagaimana dia merangkak ke pesisir pulau dan langsung jatuh pingsan dengan kakinya masih berada di dalam air, betapa bingung dan ketakutannya dia saat tersadar di tengah-tengah kegelapan, bagaimana sampannya kembali terhanyut namun dengan kebetulan yang luar biasa ditemukannya kembali di ujung pulau dengan menyeretnya menggunakan cabang pohon.
Ia juga mengatakan bahwa secara kebetulan sebuah kapak kecil masih tersangkut di dalam sampan yang terbalik, dan untungnya botol kecil di dalam kantong celananya yang berisi korek api masih utuh dan kering. Dia membuat api unggun dan menjelajahi pulau dari ujung ke ujung sambil memanggil-manggil kedua temannya, namun tidak ada balasan, sampai akhirnya dia melihat bayangan orang-orang merangkak dari pesisir pantai dan menghilang di tengah-tengah kegelapan yang menyelimutinya. Ia pun kehilangan seluruh nyali dan kembali ke perapian yang telah dibuatnya tadi lalu memutuskan untuk menunggu sampai matahari terbit.
Esoknya ia memotong sebuah cabang pohon sebagai pengganti dayung, dan setelah melakukan pencarian terakhir yang juga tidak membuahkan hasil, dia naik ke dalam sampan. Dia takut jika sampannya akan kembali terbalik dan membuatnya terombang ambing di tengah perairan. Dia hanya dapat mengira-ngira posisi perkemahan kami, dan setelah mengayuh dari pagi sampai malam tanpa makanan atau pun minuman, dua hari kemudian, dia berhasil sampai kemari.
Kurang lebih begitulah ceritanya, dan dari caranya berbicara, kami tahu bahwa semua yang dikatakannya benar, namun pada saat yang sama kata-katanya juga membangun sebuah kebohongan yang luar biasa menyeramkan.
Ketika kisahnya berakhir, dia langsung jatuh pingsan, dan dengan ekspresi wajah yang penuh simpati, pemandu camp kembali menolongnya.
“Alvin, kau harus tetap makan dan minum walaupun dalam keadaan tidak sadar.”
Barney yang pada malam itu bertugas sebagai juru masak, segera membagikan omelet sosis, mie rebus, kue gandum, dan tah panas ke seluruh orang yang duduk dengan sangat diam dan perasaan yang bercampur aduk. Kami pun makan dengan lahap.
Walaupun kami semua masih curiga, entah bagaimana dia malah membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Ketika gelasnya kosong, Barney memberikannya ceret teh. Ketika dia mulai membersihkan sisa-sisa makanannya, Barney segera menambahkan makanannya dari kuali penggorengan, dan baskom yang berisi kentang rebus selalu berada di dekatnya. Dan satu perbedaan lagi, dia terlihat sangat sakit, bahkan sebelum makan malam selesai, dan kemudian ia muntah secara tiba-tiba setelah makan.
Alvin mengatakan jika,di tengah-tengah kegelapan, pikirannya hampir menjadi gila. Pohon-pohon terdengar berbicara padanya, dan matanya selalu melihat bayangan orang-orang merangkak dari dalam air, atau dari balik batu besar, lalu menatapnya sambil berusaha berbicara padanya melalui gerakan-gerakan mereka, serta wanita-wanita yang nampak seperti bayangan penyihir terus mengitari danau.
Kami mencoba untuk membicarakan hal lain, tapi itu sia-sia, karena Alvin selalu mengulangi ceritanya dan menolak jika diajak berbicara mengenai topik lain. Kami pikir, jika dia beristirahat sepanjang malam, pikirannya akan menjadi lebih tenang dan mungkin akan bersikap berbeda, tapi ternyata kondisinya sudah tidak tertolong lagi.
Begitu piring-piring disingkirkan, kami pikir tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Percikan api dari bara kayu terbang ke langit yang dihiasi bintang-bintang. Suasana malam itu masih terasa damai dan tenteram, dan aroma pohon pinus berhembus bersama angin malam. Api yang membakar kayu bagaikan wewangian di udara, dan samar-samar kami dapat mendengar ombak yang menyapu pesisir danau. Semua terasa begitu tenang, indah, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia fana. Suasana di malam itu begitu menyentuh kalbu namun aku yakin tidak ada satupun dari kami yang menikmatinya.
Kisah kematian Haris yang mencekam menjadi pusat perhatian malam itu.
" Besok pagi aku berencana akan melakukan pencarian terhadap Haris" ucap pemandu camp.
"Banyak yang bilang kalau air di sekitar pulau sana sangat dalam," ucap Alvin, "tapi, ya, tentu kita tetap bisa menemukannya." sambungnya.
Kemudian selama beberapa menit semua orang kembali hening, lalu Alvin menumpahkan ceritanya lagi dengan kata-kata yang hampir sama seolah dia telah menghafalnya di luar kepala. Dia selalu menolak jika seseorang memintanya berhenti membicarakan hal tersebut.
Sang pemandu camp segera berusaha memotongnya "Aku meminta para pemandu lainnya untuk membantu mencari Haris, dan menghubungi tim SAR."
"Ya sebaiknya memang begitu, agar kita lebih cepat menemukan Haris" sahut Chris.
Mereka semua sibuk berusaha menghentikan lidah Alvin sebelum keganjilan kisahnya menjadi sangat jelas sehingga kami terpaksa harus menginterogasinya. Tapi itu sia-sia! Walaupun keganjilannya kali ini tidak begitu jelas, namun sudah cukup membuat kami saling memandang untuk kedua kalinya.
"Aku akan kembali mengelilingi pulau kecil itu lagi, berharap entah bagaimana dia sudah berada di sana tanpa sepengetahuanku, dan aku selalu mengira kalau aku mendengar erangan terakhirnya dari dalam kegelapan. Kemudian malam pun menyelimuti langit seperti selimut tebal, dan...."
Semua mata beralih dari wajahnya, aku menyodok kayu bakar di api unggun dengan sepatu botku, dan Chris meraih bara api dengan tangan kosong untuk menyalakan pipa rokoknya, walaupun itu sudah mengeluarkan asap tebal.
"Kupikir kau tadi bilang dia tenggelam tanpa suara," komentar Chris pelan sambil menatap lurus wajah ketakutan Alvin yang ada di hadapannya. Kemudian, tanpa ampun, dia terus menghujani penjelasannya yang membingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan.
Hasil dari tekanan-tekanan ini, yang sebelumnya terus dibendung Alvin, sekarang menjadi semakin kentara sehingga membuat semua orang bergerak secara bersamaan. Istri Chris meninggalkan perapian dengan tergesa-gesa, alasannya dia ingin bangun pagi-pagi besok. Sebelum itu, dia bersalaman dengan Alvin dan mengucapkan selamat malam dengan nada yang terdengar seperti komat-kamit.
Saat menjelang tidur, aku terpaksa harus berbagi tenda dengan Alvin. Sebelum menyelimuti dirinya dengan selimut tebalku, karena malam itu sangat dingin, Alvin berbalik dan mengatakan bahwa dia memiliki kebiasaan mengigau dalam tidurnya dan ia ingin aku membangunkannya jika hal itu mengganggu tidurku.
Ternyata, ia memang benar-benar mengigau dalam tidurnya, dan hal itu amat sangat menggangguku. Amarah dan kekasaran kata-katanya masih menghantuiku sampai saat ini, dan jelas dalam tidurnya dia menceritakan sebagian kisah dari kejadian yang sebenarnya. Aku ketakutan setengah mati mendengarnya. Kemudian aku sadar, kini aku hanya punya dua pilihan di hadapanku, aku harus lanjut mendengarnya, atau aku harus membangunkannya. Pilihan pertama tidak mungkin bagiku, namun pilihan kedua terasa sangat menjijikkan, dan di tengah-tengah dilema aku melihat sebuah jalan keluar.
Walaupun udara sangat dingin, aku merangkak dengan perlahan dan meninggalkan tenda, berniat untuk menjaga perapian tetap menyala di bawah langit berbintang dan menghabiskan sisa malam dengan tidur di alam terbuka.
Segera setelah aku berhasil keluar dari tenda, aku melihat bayangan sesosok orang sedang berjalan di pinggir danau. Sosok itu adalah sang pemandu camp, dan aku dapat melihat jelas apa yang sedang dilakukannya, ia sedang memeriksa lubang yang dibuat di badan sampan.
Aku mendekatinya, dan mengatakan bahwa aku tidak dapat tidur karena kedinginan, sambil berdiri bersebelahan, kami melihat bahwa lubang di sampan tersebut terlalu kecil untuk dimasuki tangan orang dewasa, dan tidak mungkin dilubangi oleh dua orang yang sedang berusaha bertahan hidup di air yang sangat dalam, lubang tersebut pasti dibuat setelahnya.
Kevin tidak mengatakan apa-apa padaku dan begitu juga aku. Kemudian ia pergi mengumpulkan kayu untuk api unggun karena malam itu sangat dingin dan embun mulai menebal.
****************
Dua hari kemudian beberapa orang pemandu berjalan tertatih-tatih, mengikuti jalan kecil dari arah selatan danau. Mereka membawa sebuah tandu yang terlihat sangat berat, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengeluh atau bahkan berbicara. Walaupun begitu, pikiran mereka luar biasa sibuk, dan rahasia mengerikan yang mereka emban jauh lebih berat dari pada beban yang membebani pundak mereka.
Mereka menemukan Haris di perairan yang berada sekitar beberapa meter dari pesisir teduh di pulau. Di belakang kepalanya terdapat sebuah luka panjang dan mengerikan yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh seseorang penyihir.
Dari hasil investigasi yang di lakukan keesokan harinya, Haris tewas di bunuh oleh Alvin karena perebutan kekuasan berburu.
Ya mereka adalah kawanan pemburu liar yang tengah memburu rusa, yang di lindungi di hutan tersebut.
[selesai]