Tahun ini adalah kelas terakhirku di sekolah menengah atas. Namun, karena Ayah yang dipindah tugaskan mendadak, mau tidak mau kami sekeluarga harus pindah. Tentu saja, aku juga harus pindah ke sekolah yang baru.
SMA Tunas Bangsa. Yang kudengar, sekolah baruku itu terkenal dengan murid-murid yang cerdas dan berprestasi. Mengetahui hal itu, tentu aku sangat bersemangat. Seperti hari ini, aku berangkat sangat pagi. Apa lagi? Pastinya aku ingin berjalan-jalan lebih dulu, sebelum masuk ke kelas.
Jam di tanganku menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit. Namun, suasana di lorong tempatku berdiri, begitu sepi. Entah kenapa, pandanganku tertuju pada sebuah kelas yang terletak di sudut.
Perlahan, aku berjalan menuju kelas itu. Hawa di sekitar itu sangat berbeda dengan kelas-kelas lainnya. Sesosok anak perempuan mengenakan seragam lusuh, berdiri di depan kelas tadi. Ia menunduk.
Ketika aku berjalan mendekat, seseorang menepuk pundakku. Secara reflek, aku menoleh. Seorang gadis dengan rambut diikat ke belakang sembarangan, menatapku sambil tersenyum.
"Mau ke mana? Anak baru ya?" tanya gadis itu.
Aku menoleh ke arah sosok dengan seragam lusuh tadi, tetapi kosong, tidak ada apa-apa di sana.
"Iya, baru masuk hari ini." Aku membalikkan badan untuk berbicara dengan gadis berkuncir tadi.
"Jangan di sini, ayo ikut aku! Eh, kamu kelas berapa?" Masih dengan senyum, gadis itu mengajakku pergi dari tempat tersebut.
"Kelas dua belas A," jawabku.
"Oh, kita sekelas. Namaku Vita, kamu?"
"Elen."
"Oh, ayo ke kelas dulu!"
Vita menarik tanganku lembut, membawaku ke kelas yang tak jauh dari lorong tadi. Di ruangan itu, sama, masih sepi. Hanya beberapa anak yang sudah datang dan mengobrol. Aku duduk di sebelah Vita, lalu ikut mengobrol dengan siswa lainnya, setelah menyalami mereka satu per satu.
Tak terasa, beberapa menit berlalu. Bel masuk berbunyi. Pelajaran pertama, Biologi. Guru yang mengampu, memintaku untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Begitu pula pelajaran-pelajaran selanjutnya.
Awalnya aku merasa tidak ada yang aneh. Namun, lama-lama, bulu kudukku merinding. Seperti ada yang memerhatikanku. Aku menoleh ke arah bangku belakang. Semua murid khusyuk mendengarkan penjelasan guru Sejarah, Bu Eni. Kemudian, aku memalingkan muka ke arah jendela. Mataku menangkap sosok seorang siswi berdiri di sana. Hanya terlihat wajahnya yang pucat.
"Anak baru, Elen. Coba jelaskan tentang apa yang ibu paparkan tadi, di depan kelas."
Aku gelagapan saat mendengar perintah Bu Eni. Sejujurnya, aku tidak menangkap apa yang dikatakan ibu guru tadi. Dengan modal nekat, aku maju ke depan kelas.
Setelah berdiri di depan kelas, aku melihat siswi yang berdiri di luar jendela tadi. Bibirnya tersenyum, tetapi tiba-tiba mulutnya melebar seperti sobek. Dari mata dan mulutnya mengucur darah. Kemudian sosok itu terbang, hanya kepala. Tidak ada tubuh. Aku berteriak-teriak ketakutan.
Bu Eni terlihat panik. Sama halnya dengan teman sekelasku. Mereka serentak menoleh ke arah jariku menunjuk.
"Elen, Elen kenapa? Ada apa?"
"Itu, Bu ... itu ... kepala, copot!"
Wajah Bu Eni memucat, lalu ia melihat ke pergelangan tangannya. Kemudian, menghubungi seseorang dari ponselnya. Menceritakan apa yang terjadi tadi.
"Ayo! Ayo! Kita pindah kelas, cepat!" perintah perempuan tersebut setelah memasukkan ponselnya ke kantong pakaian.
Hampir seperti orang yang diburu sesuatu, teman-temanku membereskan buku dan tasnya.
"Kamu juga Elen, ayo pindah ke kelas di dekat ruang guru!"
Aku merasa heran. Cepat-cepat kubereskan buku dan memasukkan ke dalam tas.
"Lewat sini, El. Nanti aku ceritakan." Seperti tahu apa yang kupikirkan, Vita menatapku lalu menarikku ke pintu belakang kelas.
Setelah sampai di ruang kelas tadi. Semua murid yang sudah di sana memulai pelajaran lagi sampai jam pulang sekolah. Mereka terlihat seperti biasa saja. Akan tetapi, dalam hatiku, masih ada yang mengganjal.
Bel jam pulang sudah berbunyi. Aku mengerling pada jam di dinding. Pukul empat sore tepat. Semua murid terlihat semangat untuk pulang. Seperti tidak terjadi apa pun tadi.
Vita berjalan menyejajarkan tubuhnya di sebelahku.
"Kamu beneran tadi lihat penampakan, El?"
Aku mengangguk.
"Serem?"
Aku mengangguk lagi.
"Sebenarnya ada apa sih tadi, Vit?"
Langkah Vita terdengar berhenti. Aku pun menghentikan jalanku.
"Sebenarnya, kelas pojok itu. Tempat area terlarang di sekolah. Bahkan, kelas yang kita tempati tadi siang, itu masih separuh dari area terlarang tersebut."
Aku menatap Vita dengan kebingungan, lalu memandang ke lorong yang menuju ke kelas yang dimaksud.
"Jangan lihat ke sana!" pinta Vita. Kemudian gadis itu menarikku lagi, menjauhi tempat tadi, menuju gerbang sekolah.
"Tepat jam tiga, kita tidak boleh berada di tempat tadi, El. Siapa pun, termasuk guru, kepsek atau pun pesuruh." Vita mulai berbicara kembali.
"Kenapa?"
"Peraturan tidak tertulis. Tapi harus ditaati."
Aku makin bingung.
"Kalau kita tidak menaati?"
"Dulu, waktu aku masih kelas sepuluh. Guru yang mengajar, lupa memindahkan siswa dari ruangan kelas yang kita tempati tadi. Kemudian, belasan murid kesurupan massal. Beruntung aku tidak."
"Astaga! Tapi kenapa?"
Vita mengangkat bahunya.
Aku dan Vita sudah berdiri di dekat gerbang. Banyak siswa yang sudah berdiri di sana. Ada yang menunggu jemputan, ada pula yang masih asik mengobrol. Seperti ada yang menarik, mataku memandang ke lorong tepat menuju ke kelas pojok itu. Lapangan basket membentang di antara tempat ku berdiri dan tempat tersebut.
Kemudian, aku berpaling dari tempat tersebut. Setelah melihat beberapa makhluk yang rupanya tidak karuan. Mereka semua seperti menatapku tajam. Kepalaku berdenyut-denyut. Tiba-tiba semua terlihat menjadi buram. Tubuhku terasa lemas. Hanya teriakan Vita yang kudengar, lalu semuanya gelap.