Lastri menundukkan kepala. Duduknya jadi menekur memandang ujung-ujung jari kakinya yang hitam. Angin yang menerobos bebas terdengar mengusik dinding reot gedek. Mengurai nakal rambut Lastri yang lusuh.
Matahari sudah tidak terlihat lagi di ufuk barat, tertutup oleh awan yang berarak, seakan-akan gunung rinjani yang berselimut halimun tebal hendak menghempaskannya di atas gedek.
Lastri mengangkat kepalanya. Suara gemerisik angin seperti membawakan suara tembang lamat-lamat ke telinganya. Lastri menoleh dan meraih sebatang tongkat bambu yang bersandar di samping tempatnya termenung. Dengan sisa tenaga yang masih bertahan di tubuh kurusnya, ia mencoba bangkit dan berdiri seakan-akan ingin menantang gunung yang menjulang bisu berselimut kabut.
Ia mendesah dan tersenyum seolah-olah ada kesenangan yang tiba-tiba menyeruak di antara kesepiannya. Rupanya ia tidak sendiri. Rupanya pak tua pengembala kambing masih terlihat mengaso dibawah sebuah pohon asam tak jauh dari gedeknya. Lastri kembali duduk. Tapi mata nanarnya tak mau berpaling dari sesosok renta yang bersandar tanpa beban di bawah pohon sembari melantunkan tembangnya. Sementara waktu ia merasa tenang. Setidak-setidaknya sampai menjelang malam tiba nanti, ia masih tahu dia tidak akan sendiri di tempat yang sunyi itu. Dan setidak-tidaknya, gerimis yang sebentar lagi akan turun tidak akan mengundang lagi derai air matanya.
Ingat-ingat tentang dunia yang pasti akan berakhir.
ingat-ingat tentang Munkar dan Nakir yang mengadili dalam lahat.
Ingat-ingat pengadilan di padang Mahsyar.
Ingat-ingat tentang akhir baik dan akhir buruk.
Ingat Allah dan Allah akan mengingatmu.
Kepala Lastri kembali tertunduk. Suara tembang yang mulai mengalun dari suara sumbang orang tua itu semakin terdengar kencang menerobos celah pagar gedek. Lastri jadi menangis. Tak kuasa menahan kepedihan yang terasa menusuk hatinya. Tembang yang dulu sering ia dengar dari mulut ibunya menjelang tidur itu seperti hendak mencomot saraf ingatannya. Membawanya paksa menuju rentang waktu yanng telah berlalu. Ke masa lalunya yang kelabu. Ketika masa gadisnya ia habiskan di atas hamparan pasir Senggigi. Di antara dentuman suara disco yang menghentak tubuh seksinya. Dari hotel ke hotel tergores saksi bisu saat tubuh cantiknya ia halalkan di antara himpitan tubuh kekar para bule yang membokingnya. Bahkan jika bulenya orang itali, ia rela untuk tidak dibayar. Ia begitu mengidolakan lelaki dari negeri Pizza itu. Dari segi materipun ia sudah merasa lebih dari cukup. Dari hasil kencannya dengan para bule yang berseliweran di pantai senggigi, gili trawangan dan gili meno, baik yang short time maupun long time, ia bisa membeli apa saja yang diinginkannya. Ia satu-satunya pemilik villa megah di kawasan pantai pink Tangsi. Wajah cantik dengan body sintalnya telah menjadikannya cewek panggilan kelas atas dengan tarif super mahal dan khusus untuk konsumsi orang-orang asing.
No time for money, but just for my satisfaction. Begitu katanya ketika teman-teman seprofesinya menanyakan kebiasaannya itu.
Karna wajah cantiknya itupun, ia menjadi gadis yang angkuh. Ia merasa sudah tidak pantas tinggal di dusun kecil di bawah gunung rinjani. Bersama gadis gunung lainnya, bila pagi dan sore menenteng kendi di pinggul mencari air. Atau bila magrhib tiba, berduyun-duyun membawa kitab untuk mengaji di surau samping rumah pak kadus. Ia muak dengan suara azan dan pemuda-pemuda kolot kampungnya yang hari-harinya di habiskan dalam selubungan sarung-sarung sembahyang mereka. Ia muak dengan segala aturan-aturan agama yang serasa mengekang ekspresi remajanya. Ia ingin seperti gadis-gadis kota. Pakai celana ketatlah, berdandan gaul, nongkrong di Mall dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya. Di kota hak asasi lebih dihargai ketimbang harus terkurung di antara cibiran dan cemoohan tetua-tetua kampung dengan seperangkat aturan adatnya. Yang tak pernah mau mengerti bahwa zaman benar-benar telah berubah.
”Tempora muntantur et nos mutamur in illis.”
Begitu yang sering dikatakannya jika ada orang yang mencoba menegur perubahan pada dirinya. Dan tentunya orang-orang kampung tak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Kalau sudah begitu,dia akan tertawa terbahak-bahak mencemooh orang kampung yang bodoh.
Hujan masih menyisakan gerimis. Angin dingin masih kencang berhembus. Azan magrib terdengar mengalun di sela-sela gemeritik rintik hujan di atas serakan dedaunan dan rumbai kering atap gedek. Menyisakan keheningan magrib itu.
”’Hei, ada apa dengan Baiq Lastri. Kenapa keadaannya memperihatinkan seperti itu. Adakah dia mengidap penyakit AIDS ?"
”Cepat ungsikan gadis ini ke tempat yang jauh dari pemukiman kalian. Aku tahu penyakit apa yang kini bersemayam di tubuh laknatnya. Penyakit setan yang mematikan, yang ia pungut di atas butir-butir pasir senggigi.”
Lastri terkesiap dan terbuyar dari lamunannya. Kata-kata menyedihkan dari orang-orang kampungnya tiba-tiba seperti menerjang ingatannya. Air mata yang mengalir di sekanya dengan ujung lusuh kainnya. Dia merasa tak sanggup lagi mengenang kenangan masa lalunya yang pahit. Lebih-lebih saat orang kampung memakinya habis-habisan dan kemudian mengaraknya ke tempat pengasingannya kini.
Lastri mendongakkan kepalanya. Matanya yang sayu mulai menatap resah suasana sekeliling yang telah gelap. Ia sudah terlalu jauh terhanyut dalam kenangan masa lalunya. Senja telah lama melempar sauh dan meninggalkannya sendiri dalam sunyi. Begitupun juga dengan pak tua pengembala kambing.
Kejadian itu telah berlalu sepuluh tahun yang lalu. Waktu yang terlalu lama untuk bersandar mengenangnya di antara gubuk reot dan kesunyian pengasingannya. Menelannya dalam kebisuan derita yang sepertinya tak berujung.
Suara jangkrik mulai terdengar mengerik ramai. Menenggelamkannya dalam kebisuan panjang. Menerawang dengan tatapan kosong menatap langit bermendung. Dia kembali sepi. Seperti hari dan malam-malam sebelumnya. Selalu terkurung dalam keheningan kicau burung pagi dan malamnya terseret ke dasar waktu. Menenggelamkannya dalam kedalaman sunyi. Tanpa canda, tanpa teman, dan yang terdengar hanya debur ombak dan suara disco penuh celoteh birahi menerobos telinga. Semua meninggalkannya di persimpangan waktu bersama beribu-ribu penyesalan yang menyesakkan.
Langit masih terlihat mendung. Sepertinya gerimis yang masih terdengar menggeretak di atas atap rumbai sebentar lagi akan segera diiringi hujan lebat. Begitu juga dengan angin yang semakin menghempas keras, membuat lastri yang masih mencoba bertahan terpaksa harus masuk gubuk. Tetapi sesampainya di dalam, ia hanya bisa tertegun melihat gubuknya penuh dengan genangan air. Ia mendongak dan mendapati atap rumahnya tak mampu menahan air hujan yang deras mengalir. Dia kembali menangis dan memang tak ada yang bisa dilakukan selain menangis dan meratap. Tapi ia juga sadar itu semua tak ada gunanya bahkan hanya akan menambah mata menjadi semakin sebak saja. Asap sudah terlanjur membumbung tinggi di angkasa dan tak mungkin bisa kembali lagi. Apalagi mengingat penyakit yang kini bersarang di tubuhnya. Tinggal menunggu waktu saja hingga maut datang menjemputnya. Tapi sampai kapan ia tak tahu. Tangan-tangan kematian itu tak kunjung jua membungkam segala kesedihan dan derita hidupnya. Dan ia merasa sudah terlalu cukup lelah untuk itu. Tak ada yang tersisa dari harta maupun benda yang dimilikinya untuk menyembuhkan penyakit itu. Hasilnya tetap nihil. Kalau sudah begitu ia hanya bisa termenung mengenang masa kejayaannya dulu, saat para lelaki hidung belang begitu memanjakan dirinya. Membelai lembut setiap lekuk tubuhnya, seakan-akan setitik debupun tak dibiarkan melekat di tubuhnya. Terbayang saja akan bayangan mereka rasanya sudah tidak mungkin. Mereka sudah pergi dan tak mungkin kembali lagi. Penyakit mematikan itu memang telah di setting Tuhan untuk lubang-lubang yang terlalu nakal. Untuk rahim-rahim yang terlalu ruah dengan sperma-sperma kotor. Hanya tobatlah jalan satu-satunya jalan yang akan membuatnya sedikit lapang menjalani sisa hidup. Tapi sekali lagi tobat terlalu indah untuk didengar telinganya. Lebih-lebih saat cibiran demi cibiran dari penduduk kampung yang masih dendam dengannya, seperti berhamburan menyesakkan dadanya. Dan ia hanya bisa menganggukkan pasrah mengiyakan. Tak ada gunanya lagi bertobat. Dosa terlalu berlebih dan dengan sisa-sisa umurnya kini tak akan mampu menebus dosa dan kesalahan masa lalunya. Lagi pula diapun tidak bisa berbuat apa-apa dengan tubuh lemah seperti itu.
Hujan masih turun dengan lebatnya. Suasana menjadi begitu riuh dengan hempasan demi hempasan angin yang sesekali di selingi oleh gemuruh dan kilat yang menakutkan. Tapi lastri masih bersandar pasrah dan terdiam dalam tangisnya. Hingga kemudian petir yang kesekian kalinya menghantam dan merubuhkan rumahnya.
Suasana sejenak hening. Terlihat sesuatu bergerak-gerak dari reruntuhan gubuk. Ternyata Lastri masih hidup. Hantaman keras petir yang merubuhkan gubuknya belum juga ditakdirkan untuk membuatnya membisu.
Dengan sempoyongan Lastri berusaha menegakkan tubuhnya. Kali ini ia tersenyum sinis saat mendapati dirinya nyaris tak tergores sedikitpun, padahal tertimpa reruntuhan gubuk. Tiba-tiba mata Lastri membelalak tajam. Dia sepertinya marah dan mulai menunjuk-nunjuk ke atas.
”Sebenarnya apa yang kau mau wahai Tuhan! Aku memang pendosa besar, tapi tak cukupkah waktu sepuluh tahun dalam penderitaan dan keterasingan untuk menebus semuanya? Tak cukupkah segala kucilan dan sumpah serapah yang menghunjam setiap ketenanganku? Kau tetap saja membiarkanku seperti ini walaupun kau sendiri juga tahu, gubuk satu-satunya tempatku berteduh kau hancurkan. Atau apakah memang kau tidak punya kekuasaan untuk mengambil nyawaku? Lastri terdiam sejenak.. setelah menelan ludahnya dalam-dalam ia kembali melanjutkan kata-katanya, tapi kali ini dengan nada yang begitu lemah.
Dan waktupun bercerita kepadaku bahwa Kau memang benar-benar tidak ada. Kau mungkin hanya ilusi menakutkan dari celoteh-celoteh mulut dunia yang pengecut’.
Terdengar suara petir menghempas dan kilat menyambar begitu dahsyatnya sehingga tubuh Lastri terpelanting jauh. Seketika segala rintihannya hilang bersama tubuhnya yang hancur berkeping-keping. Dan malaikat kegelapan mulai menggiringnya lewat gang-gang sempit dan menakutkan.