PELAKOR TOBAT
Nama ku adalah Adystie Fana. Memiliki tubuh sangat ideal, tubuh yang sangat ingin dimiliki oleh perempuan diluar sana. Cantik? Oh sudah pasti. Semua yang ada didiriku ini begitu sangat sempurna. Tapi sayang, julukan yang berikan oleh teman-teman ku saat ini adalah PELAKOR TOBAT. Sunggu menyedihkan bukan? Setiap kali menghabiskan waktu bersama teman-teman, mereka pasti selalu berkata.
"Wiiih... Teman kita guys, si PELAKOR TOBAT telah tiba." Begitulah mereka selau serempak berkata seperti itu.
Sunggu membosankan, setiap kali mendengar itu. Alasan kenapa aku selalu dibilang pelakor tobat adalah karena telah berhasil merusak hubungan orang dari yang masih pacaran, sudah bertunangan bahkan hampir menikah. Semua telah ku gagalkan dan memakan korban sebanyak 49 pasangan. Sungguh gila, bukan?.
Aku mengakui bahwa aku memang seorang pelakor dan suka merebut pacar atau tunangan orang lain. Akan tetapi, aku tidak berani merusak pernikahan orang lain. Tidak seperti pelakor yang ada di luar sana yang merusak rumah tangga orang lain. Bukankah aku cukup baik?
Meski aku memiliki kecantikan dan bodi yang sangat indah, percuma saja kalau akhlak ku minus.
Hari ini adalah hari yang sangat membosankan menurut ku, terlebih lagi di luar sana sedang hujan dan membuat jiwa raga ku malas.
Biasanya kalau sedang hujan seperti ini, aku selalu menghabiskan waktu dengan kekasihku. Misalnya, kami pergi ke mall jalan-jalan sampai bisan. Jalan-jalan dengan kekasih sih, lebih tepatnya kekasih orang lain yang berhasil ku miliki. Namun, saat ini aku hanya bisa berdiam diri di rumah.
"Argg... Membosankan." Teriak ku sambil menatap ponsel ku yang sesekali berdering.
Ingin rasanya aku kembali mencari mangsa baru. Namun, aku menahan hasrat ku. Oh astaga, jiwa pelakor ku meronta-ronta takkala melihat adengan mesra yang ku tonton di layar televisi saat ini.
"Huufft... Apa aku kembali saja merusak hubungan orang yah?" Gumam ku sembari memegang ponsel dan melihat pesan yang baru saja masuk. Dan ternyata dari seorang pria. Eh ralat, bukan seorang tapi beberapa orang.
"Mumpung ada jantan ni yang lagi chat. Apa sebaiknya ku layani saja, ya? Kebetulankan aku sedang bosan." Ucap Fana sambil tersenyum melihat ponselnya.
"Oh iya. Merusak hubungan orang yang sedang pacaran dapat pahala kan. Secara pacaran kan dosa, kalau aku merusak hubungan mereka berarti aku dapat pahala dong. Yah benar." Gumam Fana lagi sambil melihat pesan di hp nya.
"Akh... Tapi, jangan deh. Aku kan sudah tobat. Masa mau jadi perusak lagi, jangan merusak citra dan gelar yang baru saja kau dapatkan, Fana.
" Fana terus berbicara tanpa niat ingin membalas pesan yang masuk dan berniat ingin memblokirnya. Tapi, sebelum memblokir dia mengirim pesan dan sebuah stiker.
"Menyerahlah wahai kaum jantan, jangan merusak gelar ku sebagai pelakor tobat." (Bendera putih) Fana mengirim pesan itu disertai dengan stiker benderanya. Lalu kembali fokus menonton drama.
Setelah sebulan lamanya vakum dari dunia per-pelakoran. Fana kini tertarik dengan salah satu mahsiswa yang wajahnya standar saja, namun menenangkan jiwa kalau dipandang.
Dia terus berusaha ingin selalu dekat, namun tetap saja tak terjangkau. Seolah mereka berada di dunia yang berbeda. Pria itu begitu tetkenal dengan kealiman dan ketaatannya. Sedangkan dirinya sangat terkenal dengan label nama seorang pelakor. Iya, dulu pelakor. Tapi, sekarangkan sudah ada kata Tobatnya.
Fana memberanikan diri untuk menyapa Dimas. Sudah beberapa kali dirinya diabaikan oleh Dimas. Tapi, kali ini Fana berpikir bahwa dirinya harus bisa dan harus berhasil memikat Dimas dengan rupa yang dimilikinya. Sungguh, tingkat percaya diri yang sangat tinggi.
"Hai!" Sapa Fana ketika melihat Dimas, tapi diabaikan begitu saja.
"Hei, Dimas. Aku sedang menyapa mu. Wanita tercantik di kampus in si sedang menyapa mudan kau kenapa selalu mengabaikan aku?" Fana kini berdiri menghalangi jalan Dimas sambil merentangkan kedua tangannya sebagai penghalang.
Dimas sempat melihatnya sekilas, namun segera menundukkan pandangannya kembali.
"Maaf, nona. Anda menghangi jalan saya." Kata Dimas, sembari melangkah ke arah samping. Percuma saja kalau kata Fana, dia akan menghalanginya.
"Sudah ku bilang bukan, nama ku Adystie Fana dan aku menyukai mu. Kamu mau kan jadi pacar ku?" Kata Fana dengan suara yang dibuat sealus mungkin.
"Astagfirullah. Apa yang anda katakan, nona. Maaf, saya tidak berniat berpacaran dan maaf saya harus pergi. Saya bisa terlambat." Ucap Dimas, lalu segera berlalu meninggalkan Fana yang baru saja ditolakny.
"Haaa... Aku baru saja ditolak? Wanita cantik seperti diriku ini ditolaknya?" Ujar Fana sambil melongo tak percaya bahwa dirinya baru saja ditolak.
"Muka standar seperti itu sempat-sempatnya menolak aku yang sudah cetar membahana ini." Kata Fana sambil melihat kepergian Dimas.
"Hei, kalian ada yang mau jadi pacar aku nggak?" Ucap Fana kala itu melihat segerombolan laki-laki yang berjalan tak jauh darinya.
"Mau!" Jawab mereka secara bersamaan.
"Nah kan, mereka saja mau. Waah, dia pasti orang aneh. Bisa-bisanya menolak diriku. Dan buat kalian, aku ogah jadi pacar kalian. Kalian itu terlalu membosankan." Tiba-tiba saja ada ide yang terlintas di otak cantiknya.
Fana menyeringai memikirkan idenya, entah apa yang terjadi selanjutnya itu urusan nanti. Misinya saat ini adalah harus bisa membuat Dimas tidak berkutik.
"Tarik napas, lalu buang. Oke, satu, dua, tiga." Ucapnya sambil mengambil ancang-ancang ingin berteriak.
"Dimaaas... Aku bersedia menjadi istri mu. Aku menerima lamaran mu saat ini." Ucap Fana dengan suara yang sangat keras dan sangat lantang. Alhasil semua orang yang berada di tempat itu dapat mendengarnya dengan jelas.
Sehingga membuat orang yang diteriaki namanya pun berbalik dengan wajah yang sangat terkejut.
"Astagaaa. Guys, ternyata Dimas juga kepincut dengan kecantikan Fana. Dia bahkan telah melamarnya." Itu adalah kata orang-orang disana. Sedangkan Dimas yang mendengar perkataan itu tampak gusar dan berjalan cepat ke arah Fana.
Setibanya di depan Fana, tampaknya Fana sedang cengir seperti kuda. Dimas dengan segera menarik ujung lengan kemeja milik Fana. Yang benar saja, Fana begitu senang.
Fana tidak tahu saat ini Dimas akan membawanya kemana. Dimas melepaskan ujung lengan kemejanya dan menyuruh untuk mengikutinya. Fana hanya bisa menurut saja. Sampai akhirnya mereka telah tiba di sebuah ruangan, tampaknya ini adalah ruangan dosen.
"Assalamualaikum, permisi bi!" Kata Dimas sambil mengetuk pintu.
"lya, masuk saja." Terdengar suara dari dalam ruangan.
"Eh, Dimas. Ada apa, nak?" lanjut orang tersebut.
"Maaf, abi. Langsung saja. Dimas ingin segera meminang wanita yang berada di belakang Dimas saat ini." Katanya tanpa menoleh ke arah Fana.
"Haa... Meminang?" Kata Fana dan Abi secara bersamaan.
"Iya, nona. Bukannya anda sendiri tadi yang berteriak di lorong kampus bahwa saya telah melamar." Ucap Dimas dengan nada suara yang terdengar dingin.
"Ya ampun, kena batunya deh. Padahal kan tadi cuma mau isengin dia saja. Mana suaranya menakutkan lagi. Hiks, momy tolang Fana." Batin Fana sambil menunduk.
"I-itu ta-tadi... saya hanya berniat sekedar bercanda saja, karna Dimas selalu mengabaikan aku." Cicit Fana dengan pelan.
"Mau candaan atau tidak, itu urusan anda. Yang pasti, saat ini orang-orang sudah tahu bahwa saya telah melamar anda. Dan saya akan mengabulkan perkataan mu barusan." Ucap Dimas.
"Haduh, Dimas. Dengar, pernikahan buknlh hal yang mudah. Pikirkanlah baik-baik. Lagi pula, gadis ini hanya bercanda saja." Kata Abinya.
"Tidak abi, percuma saja. Dimas tetap akan menikahinya. Keluarkan ponsel mu, nona." Jawab Dimas dengan tegas.
"Baiklah, kalau itu keputasan mu. Abi akan mendukung keputusan mu.
Tatapan Dimas kembali pada Fana. Seketika Fana menundukkan pandangan dan merutuki kebodohannya. Niatnya ingin jadi pacar, malah berujung jadi calon istri.
"Mana ponselnya?"
"I-iya, sebentar."
"Segera hubungi orang tua mu." Pinta Dimas pada Fana.
"Untuk apa?" Tanya Fana
"Lakukan saja."
Fana langsung menuruti perkataan Diamas dengan menelpon orang tuanya.
Tuuuut... tuuut... tuuut...
"Halo, ada apa sayang? Tumben telpon" Terdengar suara wanita paru bayah dari seberang.
"I-itu mom. A-anu..." Ucap Fana dengan gugup sembari melihat ke arah dimas dan Abinya Dimas.
"Assalamualaikum, maaf tante. Perkenalkan nama saya Dimas." Kata Dimas yang berhasil merebut ponsel dari tangan Fana.
"Eehh. Pasti pacarnya Fana, iya kan?" tanya Momynya Fana.
"Bukan pacar, lebih tepatnya calon suami." Ucap Dimas dengan tenang.
Hening, suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Tidak terdengar balasan dari seberang sana.
"Haaa... Menikah? Honeeeeey, cepat kesini." Terdengar suara teriakan dari seberang telpon.
"Ada apa sih, sweety?" Kata seorang lelaki paru bayah.
"Fana, putri kita mau menikah" Cicit momy Fana dengan sangat keras.
"Haaa... Akhirnya, putri ku akan segera menikah. Kita akan segera menjadi kakek dan nenek." Ucap Papinya Fana dengan antusias.
"Iya, honey. Akhirnya tidak lama lagi. Cepat segerakan acarnya, Fana. Momi and Dad sudah tidak sabar memiliki cucu." Kata momynya tak kalah antusianya.
Sungguh malang nasib Fana, bahkan orang tuanya saja sangat antusias.
Akhirnya Dimas dan Fana menikah setelah pertemuan dua keluarga yang sangat mendadak.
Setelah menikah Adystie Fana memutuskan untuk mengenakan hiijab karena ceramah yang didengarnya setiap hari dari suaminya.
Ya, suami kilatnya.
The And