PESANTREN DAN PERJODOHAN...
"Ndo' kamu setuju kan dengan pilihannya Abah?" Bu Nyai Husna Tsuroya menanyai puterinya.
"Ndak tahu Bu" Ning (Sebutan puteri Kyai) Salwa menjawab sekenanya.
"Lho kok ndak tahu?" Bu Nyai Husna menunggu jawaban.
Pembicaraan lewat sambungan telepon itu sempat terjeda. Ning Salwa belum bicara karena terkejut dengan kenyataan dirinya akan dijodohkan. Tali perjodohan adalah momok menakutkan dalam kehidupan perempuan pesantren.
Apalagi dalam dunia yang semua kata Abah, Ning Salwa hanya bisa pasrah. Berkaca dari sejarah, perjodohan telah mendarah daging di kehidupan Nawaning (para puteri Kyai). Ning Salwa ibarat burung dalam sangkar.
Sekalipun Salwa terbang bebas, dia harus kembali ke dalam sangkar. Bagaimanapun juga Salwa perempuan pada umumnya. Perempuan dewasa yang berhak menentukan bukan ditentukan.
"Bu kenapa selalu Abah yang menentukan? Kenapa tidak bilang dulu ke Salwa? Ini kan bukan zamannya Siti Nurbaya!" Salwa melanjutkan teleponnya.
"Ibu ndak pernah ngajarin kamu ngomong seperti itu!" Bu Nyai sedikit menasehati.
Sempat hening...
"Ndo' dengarkan Ibu! Nanti sore, tamunya Abah datang ke rumah. Abah mau mengenalkan kamu, hanya sebatas perkenalan bukan perjodohan! Sekarang Ibu dan Abah sedang perjalanan pulang" Bu Nyai menerangkan.
"Injeh Bu!" Ning Salwa mengiyakan.
Telepon yang mati tak pernah mengerti suara hati. Salwa menjerit dalam hati begitu teleponnya mati. Seperti benda mati yang tak berdaya, seperti itulah keadaan Salwa. Dia berjalan layaknya tahanan yang tertawan.
Berjalan menuju kamar dengan langkah pelan, sangat pelan. Di dalam kamar, Salwa membuka album kenangan dengan tangis tertahan.
"Gus (Sebutan putera Kyai), njenengan sudah didahului orang. Orang itu tamunya Abah. Nanti sore dia datang!" Ning Salwa menangisi sebuah foto.
"Gus, kenapa yang datang bukan njenengan? Kenapa yang datang malah orang lain? Kenapa Gus?" Ning Salwa menanyai foto seseorang.
"Tujuh tahun berlalu aku menunggu. Menunggu kepulangan njenengan. Kapan pulang? Pulanglah, bawa aku lari dari rumah ini!" Ning Salwa meratapi diri.
"Gus, aku tidak tahu harus lari kemana?" Ning Salwa putus asa.
Percuma, mengajak bicara sebuah foto hanya menguras tenaga. Ning Salwa meratapi sebuah foto laki-laki yang duduk di kendaraan RX-Kingnya. Untuk mengobati luka yang dibutuhkan adalah teman bicara, Ning Salwa butuh teman bicara.
"Mba' Salwa, bukain pintunya!" Suara dari balik pintu.
Tahu siapa yang memanggil, Salwa buru-buru menyimpan albumnya ke dalam lemari. Dia berjalan ke arah pintu seperti berlari. Kini Salwa Shidqi membagi tangisannya pada Humaya Hilli.
"May, mba' mau dijodohin!" Ning Salwa memeluk adiknya di pintu.
"Dijodohin sama siapa?" Ning Maya menenangkan kakaknya.
"Sama tamunya Abah" Ning Salwa menyerah.
Kesedihan Salwa Shidqi ikut dirasakan Humaya Hilli. Adik manapun tidak tega melihat kakaknya berduka, ikut perih bila kakaknya bersedih.
"Mba' jangan nangis! Perempuan yang menangis, cantiknya terkikis" Ning Maya berkata manis.
Seterusnya Salwa dihibur adiknya. Ning Maya mengajak kakaknya ke meja rias, berencana merias.
"Mba' ndak mau dijodohin sama tamu yang ndak jelas!" Derita Salwa.
"Tapi mba', tamunya Abah kali ini cocok kok!" Maya sedikit membocorkan.
"Kamu kenal tamunya Abah?" Salwa timbul kecurigaan.
"Ndak, cuma firasatku saja" Maya menutupi kebohongan.
Di depan cermin, di meja rias, Maya merias kakaknya dengan riasan kecantikan perempuan Jawa.
"Siapapun tamunya, mba' harus kelihatan cantik! Apalagi ini tamunya Abah" Maya memulai rencana.
Tidak ada respon, Salwa membiarkan dirinya dirias. Kebanyakan perempuan memilih diam sebagai jawaban, entah diam tanda persetujuan atau diam tanda penolakan. Begitulah perempuan, selalu meredam jawaban dalam diam.
"Mba' selesai dirias. Dengan make up ini tamunya pasti jatuh hati" Humaya Hilli memuji.
Sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan Maya. Sesuatu yang dapat merubah tangis kesedihan menjadi kebahagiaan. Untuk tahu inginnya Salwa, Maya perlu mengatur rencana.
"Mba' sebentar ya? Aku ke kamar mandi dulu" Maya bersandiwara.
PERAWAN TUA DAN SANDIWARA...
Ning Salwa termakan sandiwara. Humaya Hilli sengaja meninggalkan kakaknya itu di kamar untuk menyiapkan kejutan. Setelahnya, yang tersisa hanyalah lamunan Salwa. Di ruang kamar yang serupa tahanan, Salwa mulai nyaman berbicara pada dinding kamar.
Ini adalah keadaan yang paling dibenci dan ditakuti perempuan, termasuk Salwa. Puteri pertama Kyai Amin Shidqi itu tak biasanya bersedih. Ning Salwa biasa ceria di depan Abahnya, Ibunya, adiknya, keluarganya, bahkan selalu tersenyum kala tampil di muka umum.
Salwa Shidqi adalah Ning yang berpendidikan, dia perempuan pesantren yang berprestasi bahkan dosen universitas di Kediri. Jabatannya sebagai Dekan Fakultas mengundang banyak pujian dan apresiasi dari civitas kampus yang respect dengan kinerjanya.
Posisi Salwa ini juga tak bisa lepas dari pengaruh Abahnya, karena memang yang mengorbitkan Salwa sebagai Dekan Fakultas adalah Abahnya sendiri. KH. Amin Shidqi sebagaimana orang tahu, beliau merupakan Rektor sekaligus pemimpin jama'ah Dzikrul Ghofilin Kediri.
Maka wajar bila nama KH. Amin Shidqi dikenal banyak orang, digandrungi kalangan tradisional juga intelektual. Begitupula nama Salwa, Ning yang kerap menyuarakan suara kaum perempuan pesantren itu banyak dikenal kalangan muda.
Tentang pengalaman Salwa tentu sudah jangan ditanya. Dekan Fakultas Dakwah itu terbiasa tampil di depan ratusan mahasiswanya. Tapi, Salwa selalu kesulitan bila berhadapan dengan perjodohan. Ketika yang dihadapi adalah perjodohan, yang dikorbankan adalah perasaan.
Diantara teman-teman dosen perempuan, hanya Salwa Shidqi yang belum menikah. Padahal kurang apa dia? Cantik sudah barang tentu, puteri Kyai, masih terlihat muda, tapi kenapa pria tak jua mendatangi rumahnya? Ning Salwa yang bertitle S-3 menyiutkan nyali lelaki.
S-3 nya jadi alasan kenapa pria tak jua mendatangi rumahnya. Lelaki tidak berani memperkenalkan diri karena tahu diri. Laki-laki malu bila pendidikan calonnya lebih tinggi, ditambah lagi Salwa puterinya Kyai.
Wajar bila sekedar untuk mengetuk pintu, laki-laki perlu berpikir dahulu. Selebihnya, Ning Salwa menerima statusnya sebagai "Perawan Tua". Dia pasrah manakala teman-teman dosen bertanya kapan nikah, siapa jodohnya, dan Salwa menjawabnya dengan satu kata "Pas".
Salwa Shidqi acuh terhadap godaan mahasiswa yang tebar pesona, atau mahasiswi yang mencandainya dengan kalimat "Ibu semangat, masa depan masih terlihat". Benar, kini Salwa melihat jodohnya pada sebuah album yang kembali dibukanya.
"Gus, sebegitu paniknya Abah sampai-sampai aku dicarikan jodohnya. Padahal, foto ini jadi bukti kalau puteri Yai Amin Shidqi, sehidup semati dengan putera Yai Zidnan Ali" Salwa membasahi fotonya dengan air mata.
Ning Salwa berduka sampai lupa, lupa keberadaan Maya yang mempersiapkan kejutan untuknya. Hingga tanpa sepengetahuan Salwa, diam-diam Maya menghubungi seseorang untuk segera datang. Dengan tipudaya yang terencana, Maya menghubungi tamu Abahnya.
"Assalamualaikum, Gus? Cepetan kesini, mba' Salwa udah nangis dari tadi! Rencananya berhasil. Pokoe, mba' Salwa ndak tahu kalau yang datang itu njenengan" Ning Maya menelpon di ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam, kamu ndak boleh jahat sama kakak sendiri!" Si Pengendara RX-King menerima teleponnya.
"Yang jahat itu Abah sama Ibu, lagian njenengan juga mengiyakan. Ini kan sandiwara kalian, aku malah diajak ikut-ikutan. Tapi aku suka, soale mba' Salwa gampang banget ditipunya" Ning Maya tertawa.
Sesaat tidak ada suara, hanya suara kemresek dari panggilan telepon yang masih terhubung.
"Kok kemresek suaranya, Gus? Njenengan sudah sampai mana tho? Kok lama?" Maya mendengar bising RX-King dari teleponnya.
"Sudah sampai depan rumah!" Gus Alvin Ali memarkirkan RX-Kingnya.
"Hah?" Maya membuka tirai jendela.
Bersambung......