Aku adalah seorang dokter umum yang baru berdinas di IGD salah satu rumah sakit swasta yang cukup mentereng di kota tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Usiaku dua puluh lima tahun, walaupun kata orang aku ini cukup cantik dan menarik, aku masih jomblo. Sebut saja namaku Juni Cantika. Orangtuaku memberiku nama Juni,.karena aku lahir di bulan Juni. Lalu, Cantika, karena mereka berharap aku tumbuh menjadi perempuan yang cantik baik secara fisik maupun karakter.
Orangtuaku sudah meninggal karena kecelakaan di jalan tol. Aku selamat, tapi kedua orangtuaku tidak selamat.
Tiga bulan ditinggal pergi oleh kedua orangtuaku, merupakan bulan-bulan yang sangat sulit bagiku. Aku yang terbiasa dimanja, karena aku adalah anak tunggal, harus belajar mengurus apa-apa sendiri.
Dan sejak aku selamat dari kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orangtuaku, aku mulai mengalami hal-hal aneh. Aku tinggal sendirian di rumah besar milik papaku, dan mulai mengalami hal-hal aneh sejak aku selamat dari kecelakaan maut itu
Kejadian aneh pertama yang aku alami, terjadi di satu bulan pertama setelah kedua orangtuaku meninggal. Aku mendengar kamar kedua orangtuaku ada suara orang. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu dan aku langsung melongo, televisi yang ada di dalam kamar kedua orangtuaku bisa menyala sendiri, lampu di kamar itu juga menyala sendiri. Meremang bulu kudukku tanpa dikomando. Namun, tetap aku beranikan diriku untuk mematikan televisi dan lampu di kamar itu, lalu aku tutup pintunya dan aku kunci.
Kejadian kedua, terjadi di keesokan harinya. Pas aku bangun tidur, aku mendengar keran di kamar mandi dekat ruang tamu, menyala dengan sendirinya dan terdengar suara orang bersiul cukup nyaring. Mirip seperti siulan papaku. Kedua alisku sontak terangkat ke atas dan dengan pelan aku melangkah ke sana. Aku ketok pintu kamar mandi dan tidak sada sahutan dari dalam. Lalu, aku mencoba menyentuh handle pintu dan saat pintu kamar mandi itu terbuka, aku tidak melihat siapa pun di sana dan keran mati. Namun, anehnya lantai kamar mandi tampak basah dan tempat sabun cair juga gayungnya, berpindah tempat. Aku langsung menutup kembali pintu kamar mandi itu dan seketika aku mematung beberapa detik di depan pintu kamar mandi.
Aku kemudian berpikir logis, mungkin ada kebocoran di atap kamar mandi, karena semalam hujan deras. Lalu, aku balik badan ke dapur untuk mulai memasak.
Keanehan ketiga terjadi, saat aku ingin memasak nasi, aku melihat rice cooker dalam posisi on dan lampunya menyala di tulisan warming. Aku sontak menautkan alisku dan aku buka rice cooker. Aku melongo dan kedua alisku terangkat ke atas tanpa dikomando, saat aku melihat ada nasi yang baru matang ada di dalam rice cooker. Aku tutup kembali rice cookernya dan aku terus berjalan mundur ke belakang dengan perlahan. Sekujur tubuhku merinding di saat aku bergumam, "Siapa yang memasak nasi untukku? Aku, kan, tinggal sendiri di rumah ini?"
Karena aku orang yang nggak pernah percaya hal di luar nalar seperti hantu, wong samar, atau makhluk tak kasat mata, aku pergi ke dokter psikiater. Aku berpikir logis, kalau aku ini mengalami depresi tanpa aku sadari, sejak aku ditinggal pergi kedua orangtuaku yang meninggal dengan cara tragis. Aku berpikir logis kalau depresi yang aku alami tanpa aku sadari, membuatku berhalusinasi.
Aku mulai mengonsumsi obat antidepresan sejak itu.
Namun, kejadian aneh yang bikin merinding dan hanya ada di luar nalar manusia terus saja terjadi.
Aku sering terbangun di depan pintu kamarku sendiri di pagi hari. Bahkan pernah dua kali, aku terbangun di ruang makan.
Kau juga sering merasakan selimutku ditarik kencang oleh seseorang dan aku menariknya balik tanpa membuka mata, karena kantuk lebih kuat menderaku daripada rasa apapun yang pernah aku rasakan.
Aku sering mendengar suara keran di kamar mandi menyala sendiri dan sering mendengar suara baut diputar, tek, tek, tek, tek. suara itu mirip dengan suara yang sering aku dengar di bengkel mobil atau motor.
Lalu, hal aneh yang mulai membuatku jengah, saat aku memasak di dapur, tiba-tiba aku mendengar ada suara wanita dari lantai atas memanggil namaku dengan setengah berteriak, "Juni! Juni! Juni!"
Aku mematikan kompor dan memilih duduk di atas kursi makan untuk menghela napa panjang. Dan saat aku mendengar ada suara langkah kaki anak kecil berlari-larian di lantai atas, aku mulai mengambil telepon genggamku untuk menelepon temanku yang bekerja di jual beli rumah untuk berkata, "Aku akan jual rumah orangtuaku yang selama ini aku tinggalin secepatnya. Kalau bisa secepatnya, ya, tolong?! Aku mulai merasa kalau rumah ini terlalu besar untuk aku tempati sendiri"
Di pagi yang cerah yang tidak secerah suasana hatiku, aku menyetir sendiri mobil sedan keluaran tahun 2000 yang aku beli dengan cara mencicil. Aku melajukan sedan warna merah menuju ke rumah baru yang lebih kecil dan berada di lingkungan terpencil pula.
Aku beli rumah itu dari sisa penjualan rumah mewah, super besar dan megah kedua orangtuaku.
Setelah menyetir sendiri selama tiga jam, akhirnya aku sampai di rumah baruku. Rumah yang jauh lebih kecil dari rumah lama yang sebelumnya aku tempati. Namun, aku cukup bersyukur masih bisa diijinkan-Nya, memiliki sebuah rumah tanpa harus berpindah-pindah kontrakan, nantinya.
Aku menurunkan sendiri semua barang-barangku yang tidak begitu banyak. Karena, rumah yang aku beli, pemiliknya yang lama menjual rumahnya beserta dengan semua perabotan rumah yang masih terbilang sangat bagus. Aku termasuk beruntung, batinku saat aku bernegosiasi dengan pemilik rumah tersebut
Aku menurunkan dua koper besar, satu koper kecil, dua tas ransel, dan satu ras punggung. Setelah memasukkan semua barang-barang bawaanku ke dalam kamar, aku memutuskan untuk keluar rumah . Aku ingin menghirup udara segar sebentar untuk mengumpulkan energi sebelum aku menatap rumah baruku.
Aku keluar dan berdiri di depan pintu. Aku mengedarkan pandangan ke segala arah dan bergumam, "Jarak tetanggaku lumayan jauh juga, ya. Sepertinya aku hanya memiliki enam tetangga. Kebetulan lagi, nih, aku nggak perlu keluar uang banyak untuk membeli kue"
Kebiasaan di lingkungan lama tempat aku tinggal dulu, setiap ada tetangga baru, kita pasti berkunjung ke semua tetangga dan memberikan kue. Aku juga akan melakukannya nanti malam setelah aku selesai beres-beres, pikirku.
Aku masuk kembali ke dalam rumah untuk beres-beres.
Jam setengah dua siang, aku selesai beres-beres. Lalu, aku makan nasi kotak yang sempat aku beli di pinggir jalan dan memutuskan untuk membuat kue sendiri dari bahan yang sudah aku beli, karena aku belum tahu lingkungan baruku, maka aku putuskan untuk membuat kue sendiri.
Kue yang aku buat adalah kue sederhana. Kue bolu kukus rumahan. Sekali kukus bisa muat dua puluh sampai dua puluh empat buah adonan kue di dandang susun tiga yang aku beli beberapa dua Minggu yang lalu. Lumayan hemat waktu dan uang, batinku dengan senyum puas.
Aku mulai senang tinggal di rumah baruku walupun baru aku rasakan menempatinya di beberapa jam yang lalu. Tidak ada gangguan apapun. Sepi, nyaman, udaranya sangat bersih, dan hawanya sangat sejuk. "Aku bakal betah tinggal di sini dan tidak perlu lagi mengonsumsi obat antidepresan" Ucapku dengan senyum semringah.
Setelah selesai memasukkan semua adonan kue ke dalam dandang susun tiga, kedua bahuku terangkat ke atas saat aku mendengar bel pintu rumahku. Aku menarik lepas celemek dan menaruhnya asal di atas meja makan, lalu bergegas berlari untuk membukakan pintu.
Seorang gadis manis tersenyum di depanku begitu aku membuka pintu rumahku. Aku refleks tersenyum dan bertanya, "Mencari siapa?"
Gadis manis itu berkata, "Mbak Juni, kan? Mbak nggak ingat sama saya?"
Aku sontak menautkan alisku dan tersenyum aneh. Aku sama sekali tidak ingat dengan gadis manis yang masih tersenyum indah di depanku.
"Aku tadi lihat Mbak keluar dari dalam mobil. Aku bergegas ke sini setelah menyelesaikan pekerjaan rumahku. Rumahku di sebelah timurnya Mbak. Aku Sekar. Ingat?"
Aku menggelengkan kepala dan sambil tersenyum aku berkata, "Maaf, aku belum ingat. Tapi, Silakan duduk. Kita ngobrol sambil menunggu kue bolu kukusku matang. Sekalian mengingat-ingat siapa Sekar, hehehehe"
"Boleh" Sekar duduk dan aku langsung berkata, "Tunggu sebentar, ya?! Mbak Juni ambil minum. Nggak asyik kalau ngobrol nggak ada tehnya"
Sekar menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Aku masuk ke dalam dan lima menit kemudian aku sudah keluar lagi membawa dua cangkir teh celup. Aku duduk dan sambil menaruh cangkir teh di atas meja teras, aku menirukan jargon sebuah iklan, "Mari ngeteh, mari bicara, hehehehe"
Sekar tersenyum lebar menatapku, lalu gadis manis itu berkata, "Aku ke sini, ingin mengucapkan selamat ulang tahun ke Mbak. Mbak, berulangtahun tanggal enam Juni, kan? Selamat ulang tahun, ya, Mbak. Maaf telat ngucapinnya"
"Terima kasih banyak untuk perhatiannya" Sahutku
Cukup lama aku dan Sekar mengobrol, namun aku belum juga ingat siapa Sekar. Aku mulai menelisik wajahnya, bentuk bulat telur, berkulit sawo matang, berhidung mancung, tapi mungil dan pas dipadukan dengan bibirnya yang tipis dan juga mungil. Rambut hitam panjang mempertegas penilaian seseorang bahwa gadis yang bernama Sekar itu adalah gadis yang sangat manis. Dia bisa menjadi pujaan kaum Adam di luar sana. Namun, ada keanehan yang aku rasakan. Aku tidak melihat ada pijar kehidupan di kedua bola matanya Sekar.
Aku tersentak kaget saat Sekar menyentuh lengan bawahku, "Mbak, kok melamun? Mbak sudah ingat siapa aku?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya Sekar, aku menatap lekat tangan Sekar yang masih berada di atas lenganku. Tangan itu terasa sangat dingin, sedingin es batu. Seketika aku mematung saat aku merasakan hawa di sekitarku menjadi sangat dingin dan aku merasa seolah-olah aku berada di dalam lemari es.
Seorang Ibu muda melintas lewat di depan rumahku dan menyapaku, "Mbak, orang baru di sini?"
Aku mengangguk ramah dan berkata, "Iya, Bu. Nanti saya akan ke rumah Ibu" Aku melirik tangan Sekar terangkat dari lenganku.
Ibu itu kemudian berkata, "Iya, Mbak saya tunggu. Lebih baik Mbak masuk, gerimis mulai deras, nih. Jangan duduk sendirian di teras kayak gitu"
Aku baru sadar kalau ternyata gerimis. Pantas saja hawa dingin mulai mendera tubuhku.
Sekar pun pamit dan berkata, "Aku tunggu Mbak di rumahku juga, ya"
"Lho, nggak nunggu kue bolu kukusnya matang?" Sahutku sambil bangkit berdiri.
"Keburu deras Gerimisnya. Aku nunggu Mbak di rumahku. Kita lanjutkan obrolan kita di sana, oke?"
"Oke" Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
Aku kemudian berlari masuk ke dalam dan setelah menutup pintu depan, aku langsung melesat ke dapur untuk mematikan kompor dan membuka dandangku. Aku tersenyum puas dan berkata, "Aih! Bolu kukusku cantik bisa mekar semua dan cantik banget kayak yang bikin, hehehehe"
Aku kemudian mengambil semua bolu kukus dan langsung aku bagi dan aku masukkan ke dalam enam paper bag khusus untuk makanan yang sudah aku siapkan.
Aku kemudian membawa keenam paper bag itu ke ruang tamu dan menaruhnya di atas meja tamu. Lalu, aku duduk dan sambil menunggu hujan reda, aku memakan secuil demi secuil bolu kukus yang tersisa satu dan aku bergumam sendiri dengan senyum geli, "Ah! Beruntungnya aku, masih kebagian satu bolu kukus hangat, hehehehe"
Sambil mengunyah bolu kukus, aku teringat kembali dengan Ibu-ibu yang menyapaku di depan. Secara refleks aku menegakkan badanku dan menaikan kedua alisku ke atas saat aku teringat kata terakhir ya g diucapkan oleh ibu tadi, "Jangan duduk di teras sendirian kayak gitu? Kenapa Ibu tadi bilang kayak gitu? Aku duduk dengan Sekar. Ada Sekar di sebelahku. Kenapa Ibu tadi bilang gitu, ya?" Tubuhku mulai meremang tanpa dikomando.
Aku sontak berucap sendiri untuk menepis bulu kudukku yang mulai berdiri, Ah! Ibu itu pasti ngantuk dan tergesa-gesa pulang karena gerimis mulai deras, jadi dia nggak lihat Sekar" Aku lalu melihat ke jendela dan sontak bangkit berdiri sembari meraih keenam paper bag saat kulihat hujan sudah berhenti.
Aku mulai dari rumah Sekar. Karena, rumah Sekar adalah rumah yang paling dekat dengan rumahku. Aku langsung masuk ke pekarangan rumah yang sangat bagus. Lebih bagus dan lebih besar dari rumahku. Aku memencet bel dan layar interphone menunjukkan wajah seorang wanita cantik yang sudah tua, "Iya, siapa?"
"Saya tetangga sebelah, Nek. Mengantarkan kue perkenalan" Sahutku.
Layar interphone menggelap dan pintu terbuka.
"Selamat petang, Nek. Nama saya Juni Cantika. Saya tinggal di rumah sebelah. Di sana. Lumayan dekat dari sini" Ucapku dengan senyum ramah terbaikku.
"Oh, iya, iya. Nenek senang punya tetangga baru semanis dan sebaik kamu. Terima kasih untuk kue perkenalannya" Nenek di depanku yang berwajah cantik, tersenyum ramah dan tulus kepadaku.
"Tadi, cucu Nenek sudah main ke rumah saya" ucapku dengan pandangan mataku menjurus ke belakang nenek itu untuk mencari sosok Sekar.
"Cucu?" Nenek cantik itu menautkan kedua alisnya dan menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Iya, namanya Sekar. Dia berkulit sawo matang, berkabut hitam panjang sebahu dan dia sangat manis" Ucapku dengan penuh semangat.
"Tunggu dulu! Nama Nak, tadi, Juni Cantika?"
"Iya, Nek"
"Apakah Nak Juni Cantika, seorang dokter"
"Betul" Aku mulai menautkan kedua alisku
"Nak Juni, bertugas di IGD rumah sakit Harapan Kita?"
"Iya, Nek. Bener Banget. Kok, Nenek bisa tahu?"
"Cucukku Sekar, meninggal dunia karena kecelakaan mengerikan yang terjadi di depan rumah sakit Harapan Kita bulan Juni tanggal 6. kemarin. Dia tergesa-gesa ingin pergi kuliah dan ceroboh melanggar truk kontainer yang besar dan panjang. Namun, malangnya ada mobil yang menabraknya dari yang berlawanan. Anda dokter yang menolong cucu saya waktu itu. Cucu saya selamat dan sempat dirawat di ICU selama seminggu. Namun, akhirnya ia meninggal dunia"
Seketika aku mematung saat aku mendengar Sekar mengalami kecelakaan di hari aku berulangtahun dan tubuhku bergetar hebat saat mendengar bahwa aku adalah dokter yang menyelematkan Sekar.
Aku terisak menangis tanpa aku sadari dan tiba-tiba sekujur tubuhku mengeluarkan keringat dingin, pening yang hebat pun mulai menyerangku. Aku jatuh pingsan di depan neneknya Sekar.