“Mbah Putri!” pekikku saat menginjakkan kaki di tanah kelahiranku. Langsung menghampur kepelukan nenekku yang kupanggil Mbah. *Mbah Putri= Nenek (dalam bahasa Jawa)
“Cucu Mbah sudah besar,” gumamnya sembari mengusap rambut ikalku.
Aku menengok kakak iparku. Dia baru saja turun dari mobil di temani kakakku.
“Jadi Mbah, Gita sama Rani tinggal di sini selama seminggu. Sekalian nitip mereka berdua. Tolong dijaga.” Kak Toni, kakakku mulai memberitahu kedatangan kami ke Desa.
Mbah Putri mengangguk. “Kalau seminggu bisa saja. Jangan lebih dari itu, kamu tahu sendiri mbah sendirian. Takut nanti ada apa-apa.”
“Iya Mbah,” Kak Toni.
“Sudah berapa bulan, Nduk?” *Nduk= Nak (untuk perempuan)
Kak Gita mengusap perutnya pelan. “Jalan 4 bulan Mbah.”
Mbah putri mengajak kami masuk ke dalam rumah. Rumah besar yang terbuat dari kayu. Sejenak aku mengamati rumah yang dulu sempat aku huni beberapa tahun bersama kedua orang tuaku. Mbah Putri sudah tua tetapi tidak ingin ikut ke kota tinggal bersama anak dan cucunya. Ia lebih memilih tinggal di rumah tua ini bersama kenangannya dengan Mbah Kakung. *Mbah Kakung= Kakek
Sore hari ditemani hawa dingin. Aku duduk di teras rumah, tidak ada yang menyenangkan. Di sekeliling rumah hanya ada beberapa pepohonan tinggi. Tidak ramai seperti tempat tinggalku di Kota. Desa ini sangat sepi. Jarak antar tetangga juga lumayan jauh.
Hampir Adzan, aku mendengar suara gemricik air dari samping rumah. Aku ingat dulu ada Padasan atau tempat untuk wudhu. “Mbah Putri,” panggilku berjalan mendekati gemricik air.
Semakin aku melangkah mendekat, suara gemricik itu semakin menghilang. “Mbah Putri, tunggu Rani!” aku semakin keras memanggil Mbah Putri dan berlari kecil. Namun saat sudah sampai, Padasan yang kumaksud tidak ada. Aku menjadi sangat bingung. Kulihat sekeliling, semakin gelap dan tidak ada tempat air atau apapun itu.
“NDUK APA YANG KAMU LAKUKAN DI SITU!” teriak Mbah Putri menyentak kesadaranku.
Aku linglung, terlalu terkejut dengan teriakannya. Mbah Putri mendadak marah. “Aku pikir tadi Mbah sedang Wudhu.”
“Jangan di luar rumah surup-surup.” Mbah Putri menarik tanganku masuk ke dalam rumah. *Surup= waktu sore menjelang Magrib.
Kejadian sore tadi berusaha kulupakan. Malam ini, aku akan tidur bersama Kak Gita. Kak Toni telah kembali ke Kota setelah Magrib. Hanya tersisa aku dan Kak Gita, seminggu yang akan datang Kak Toni akan kembali dan menjemput kita berdua.
“Kak Gita,” panggilku. Aku melangkah keluar kamar.
Lampu di rumah semakin redup. Aku tidak tahu penyebabnya, mungkin Mbah Putri sengaja memasang lampu redup untuk menghemat listrik.
“Kak Gita,” panggilku sekali lagi.
Aku mendengar sebuah dentingan sendok. Apa mungkin Kak Gita makan? Tapi sore tadi ia sudah makan. Mungkin saja, karena kak Gita sedang berbadan dua.
“Kak Gita makan?” tanyaku sudah masuk ke dapur.
Di sana aku melihat seorang wanita tengah menunduk. Yang membuatku heran, tidak ada makanan di piring. Namun, Kak Gita tidak berhenti membuat gerakan seolah dia memang sedang makan. Aku mengernyit bingung.
“Dek?” seseorang memanggilku. Segera aku menoleh ke belakang.
Ternyata Kak Gita sedang berdiri di hadapanku. Ia memegang sebotol air. Lalu siapa yang kulihat tadi? aku segera memastikan. Tidak ada, perempuan yang kulihat sangat mirip dengan kak Gita menghilang begitu saja.
“Kamu ngapain?”
“Aku mencarimu, Kak.” Aku menggosok tengkukku. Apa mungkin aku salah lihat? Tapi aku jelas-jelas melihat Kak Gita sedang duduk. “Kak Gita dari mana saja?”
“Aku cuma mengambil air.” Kak Gita segera menarikku.
Berusaha melupakan segala hal yang sudah terjadi. Aku tidak ingin menceritakan apapun pada Kak Gita. Malam ini kita berdua tidur dengan tenang.
~~
“Bu, beli pecel tiga,” ucapku pada ibu pemilik warung.
“Nggeh,” ibu itu menatapku sebentar. “Bukan orang sini, Nduk? Kok baru lihat saya.”
“Baru kemarin ke sini. Mau tinggal sebentar sama Mbah.”
“Oalah… Lha mbah kamu namanya siapa?”
“Mbah Damini, Buk.”
Ibu itu nampak sedikit terkejut. “Berarti kamu cucunya Mbah Darmo.” Ibu itu masih membungkus pesanan sembari asik bercerita. “Dulu Mbah Darmo itu terkenal lho Nduk. Mbahmu iku dukun seng paling terkenal sak kecamatan. Orang-orang jauh pada ke sini minta pertolongan mbahmu.”
Aku mengangguk saja. Dulu aku juga sempat mendengar jika Mbah Kakung seorang dukun. Tapi aku tidak pernah mendengar lagi saat pindah ke kota.
“Dulu Mbah itu dukun apa ya buk?” tanyaku penasaran. Orang tuaku tidak pernah menceritakan apapun tentang Mbah Putri ataupun Mbah Kakung.
“Mbahmu….. Pokoknya—Mbahmu iku suakti. Gak ada orang yang bisa ngelawan. Tapi ya gitu—sesakti-saktinya manusia kalau pakai ilmu hitam. Tetap aja bakal kalah sama yang di atas.”
“Ilmu hitam?” gumamku.
“Huuuush-Huuuush.” Seorang pria datang. “Lambene nek omongan dijogo.” Nb= Mulutnya kalau berbicara dijaga.
Entah apa hubungan mereka berdua. Aku hanya diam. Pria itu menatapku. “Gak usah dipikirin ya Nduk. Bojoku iki ngomonge ngelantur.” Nb= Istriku ini perkataannya melantur.
Pria itu menyerahkan nasi pesananku. “Ini.”
“Matur suwun. Mari Pak, Buk.” Aku berjalan keluar warung.
Pernyataan ibu itu itu tergiang-ngiang di otakku. Apakah mungkin alasan orang tuaku tidak pernah membahas mereka karena Mbah seorang dukun ilmu hitam? Lalu bagaimana reaksi orang tuaku jika tahu aku dititipkan di desa, karena mereka sebenarnya sangat melarang anak-anaknya pergi ke Desa.
Aku sudah sampai di rumah. Kulihat Kak Gita sedang berada di sisi rumah. Segera kuhampiri. “Kak,” panggilku.
Kak Gita sama sekali tidak terusik dengan panggilanku.
Aku semakin mendekat. Kulihat Kak Gita sedang asik memakan sesatu. Saat aku sudah berada di sampingnya. Aku mencium harum yang sangat menyengat. “Kak Gita makan apa?”
Akhirnya Kak Gita menoleh. Ia menunjuk bunga tak jauh dari tempat kita berdiri. “Itu!” lalu menunjukkan tangannya yang menggenggam penuh bunga. “Enak banget, Dek. Kamu harus cobain.”
“Kak, itu bunga! Ngapain makan bunga?!”
“Berisik kamu. Kakak Ngidam.”
“Kak! Buang sekarang!” Aku merampas bunga itu dan melemparnya.
“Aku bakal ngelaporin kamu ke kak Toni. Awas aja!” Sungut Kak Gita berjalan melewatiku. Ia bahkan sengaja menyenggol bahuku.
Tingkah Kak Gita semakin semena-mena. Tidak tahu sopan santun pada orang tua. Jika di larang Mbah Putri, maka akan marah balik. Melaporkannya pada Kak Toni. Lalu Kak Toni akan memarahiku dan Mbah karena tidak bisa menjaga Kak Gita dengan baik.
Hari ini hari ke-6 besok kemungkinan Kak Toni akan menjemput kita. Baguslah aku tidak repot-repot bersama Kak Gita yang semakin hari semakin menyebalkan.
“Nduk,” panggil Mbah Putri dari dalam dapur.
“Nggeh, Mbah.” Aku segera datang.
“Bangunin kakakmu. Surup-surup jangan tidur. Lebih baik persiapan sholat.”
Aku menghela nafas. “Biar sajalah, Mbah. Rani capek, dibilangin gak mau tahu.”
“Ayo cepat bangunin kakakmu. Mbah masak sambel kesukaan kamu. Ayo bangunin dulu kak Gita.”
Dengan sedikit kesal. Aku tetap mengikuti perintah Mbah. Aku sudah masuk ke kamar. Benar saja, Kak Gita terbaring masih memejamkan mata.
“Kak.” Aku mengguncang tubuh Kak Gita. Tapi suhu badannya kenapa sangat dingin? Aku menyentuh dahi Kak Gita. “Kak, bangun dulu.”
Hawa dingin begitu menyeruak. Apalagi saat Kak Gita membuka mata. Tatapannya sangat aneh. Mendadak aku merinding. “Kak, bangun. Mbah Putri udah masak. Ayo makan sama-sama.”
Kak Gita mengangguk pelan. Perlahan turun dari ranjang. Lalu berjalan begitu saja meninggalkanku yang masih bingung. Aku segera menyusul Kak Gita. Tumben sekali tidak berbicara apapun. Aku membantu Mbah Putri menaruh makanan di atas meja.
Setelah itu kita makan. Yang masih membuatku heran adalah Kak Gita makan dengan begitu teratur. Sedikit demi sedikit seperti seorang bangsawan.
“Kak.” Panggilku. Akhinya aku menyenggolnya hingga sendok ditangannya terlepas. “Maaf, Kak. Aku gak sengaja.”
Decitan garpu yang ditekan di atas piring membuat suara begitu nyaring. Kak Gita menatapku nyalang, aku sampai menutup telingaku karena Kak Gita tidak berhenti membuat suara itu. “Kak berhenti, Aku minta maaf.”
“Dia bukan kakakmu, Nduk.”
Aku menoleh pada Mbah Putri.
“Jangan sentuh cucuku!” sentaknya.
Sekujur badanku mulai merinding. Ada apa? Kenapa menjadi seperti ini? Tiba-tiba aku merasa rambutku di tarik kuat oleh Kak Gita. Bukan—kata Mbah Putri Bukan kak Gita.
“Mati saja kau!” teriaknya.
“Lepaskan aku,” lirihku. Perlahan aku merasa semuanya gelap. Aku jatuh pingsan.
~~
Aku tidak tahu di mana ini sebenarnya. Semuanya gelap. Aku ingin pergi tapi tidak tahu jalan pulang. Aku mendengar begitu banyak teriakan orang-orang kesakitan. Mereka meminta tolong agar diselamatkan. Tubuhku kaku saat kabut hitam semakin mendekat. Tenggorokkan ku terasa sangat kering. Aku tidak bisa berteriak meminta tolong.
“Tolong Mbah Kung Nduk.” Suara itu adalah suara kakekku.
Kabut hitam itu telah berbuah bentuk menjadi siluman ular yang melilit tubuh Mbahku. “Mbah…” lirihku memanggilnya.
“Sakit, Nduk. Tolong, Mbah.” Lagi—Mbah Kung merintih kesakitan. Kulihat sekujur tubuhnya penuh luka.
“Lek kowe pengen mbahmu selamet. Serahno bayi neng njero weteng mbakmu. Hahahaha…. Lek ora mbahmu bakal melok aku selawase.” *kalau kamu ingin kakekmu selamat. Serahkan bayi di dalam perut kakakmu. Kalau enggka kakekmu akan ikut aku selamanya.
Aku menggeleng keras. “MBAH!” jeritku saat Mbahku dibawa oleh siluman ular itu.
Ngoosh Ngoossh
Aku bangun. Kulihat sekelilingku ada keluargaku, lengkap. Kulihat Kak Gita juga tengah menatapku kawatir. Mereka menagis sejadi-jadinya. Aku mendengar teriakan ibu yang memanggilku. Kak Toni tidak berhenti mengguncang tubuhku.
Aku sudah bangun, tapi kenapa tidak bisa bergerak.
“HAHAHAHAHAH.” Suara itu datang lagi. Setengah hewan dan Manusia. Ular itu bersisik dan mengeluarkan semacam liur yang menjijikkan. Bau busukknya tercium di hidungku.
“Kowe lan keluargamu gak onok seng selamet. Keluarga Darmo kudu dadi pengikutku kabeh!” *kamu dan keluargamu gak ada yang selamat. Keluarga Darmo harus jadi pengikutku semua.
“AAAAKH.” Jeritku ketakutkan saat ular itu semakin mendekat. Kupanjatkan Do’a yang masih kuingatkan. “Ya Allah selamatkan lah kami.”
Seakan tubuhku terjatuh dan dihempaskan begitu saja. Aku menjerit lagi sekua tenaga.
“AAAAAAKH.” Kulihat semua orang memandangiku. Ibuku langsung memelukku. Semua keluarga terlihat menangis.
“Aku…” lirihku terbata-bata. “Mbah…Kung.”
“Mereka mengincar Rani dan Gita,” kata Mbah Putri. “Kalian harus segera pergi dari sini.”
Semuanya bergegas. Aku di tarik ibuku.
“Nduk kamu menyimpan barang?”
Aku mengingat kembali. Aku segera berlari kembali ke kamar. “Aku menemukan keris kecil dengan ukiran ular ini di samping rumah. Aku membawanya dan menyimpannya di laci.”
“Ratusan keris punya Mbahmu terkubur di tanah ini. Sekalipun jangan ada yang mengambil. Jika mengambil, mereka akan menganggap kamu ingin membuat perjanjian dengan mereka.”
BRAK BRAK BRAK BRAK
Seluruh pintu rumah tertutup sendiri. “Ayo Nduk.”
“AAAAAKH.” Kak Gita berteriak kesakitan.
“Berapa banyak kamu makan bunga?” tanya Mbah Putri.
“Sudah Mbah, jangan ditanya Gita kesakitan,” balas Kak Toni.
Kak Gita menggeleng lemah. Tidak mampu membalas karena rasa sakit luar bisa dirasakannya di dalam perut.
“Mantumu kandarane uangel. Kuwi dudu bawaan bayi. De e mangan kembang sak bendino. Sak iki seng due kembang njaluk ganti, anak e. Bayine diincer.” Nb= Menantumu dikasih tahu sulit. Itu bukan bawaan bayi. Dia makan kembang setiap hari. Sekarang yang punya kembang minta ganti, anaknya. Bayinya diincar.
“Sak iki kudu pie, Buk?” Keluh ayahku. Nb= Sekarang harus gimana Bu?
Hal-hal mitis ini tidak pernah masuk ke dalam logikanya. Aku sendiri tidak pernah melihat ayah sangat ketakutan seperti ini.
“Kalian harus segera pergi.”
“Mbah putri ikut ‘kan?” tanyaku.
“Mbah putri harus mengurus ini semua.”
Kulihat Mbah Putri mengeluarkan semacam pasir berwarna hitam. Menghamburkannya di depan pintu utama. “KALIAN CEPAT PERGI!” teriaknya.
Aku menggeleng keras. Bagaimanapun aku ingin Mbah Putri ikut dengan kami. Aku tidak ingin di usia senjanya Mbah Putri sendirian. “Mbah Putri…”
“PERGI!” hardiknya sembari mendorongku hingga terjatuh.
Aku ditarik paksa menjauh. Ayah dan Ibu menyeretku masuk ke dalam mobil. Aku tidak bisa berhenti menangis. Mbah Putri menatapku dari jendela kaca yang besar itu. Aku menutup mulutku rapat-rapat saat kulihat Mbah Putri di kerubungi oleh makhluk-makhluk menyeramkan berbagai bentuk.
“MBAH!” teriakku. Ibuku memelukku erat.
Mobil semakin berjalan menjauh. Mobil melesat menjauh dari desa, kini membelah hutan yang begitu lebat. Suara alunan musik mulai terdengar, bukan gamelan ataupun musik tradisional jawa. Melainkan seperti musik pemujaan.
Perlahan harum bunga menyeruak di dalam mobil. Aku menggenggam tangan ibuku lebih kencang. Aku menatap Kak Gita yang duduk di samping Kak Toni. Tatapannya kosong, tidak merasakan sakit lagi. Perlahan ia menoleh, tenggorokkanku tercekat saat kulihat wajah Kak Gita berubah menjadi wajah seorang gadis belanda yang sangat cantik.
“Bu….” Lirihku ketakutan. “Bu… dia… bukan Kak Gita.” Wajah itu tersenyum, meringis lalu berubah menjadi menyeramkan. Wajahnya di penuhi dengan darah, kantung matanya menghitam serta lidahnya terjulur ke bawah sangat panjang.
“Bu….”
Ibuku tidak mengatakan apapun. Kurasakan tangannya semakin dingin. Aku menoleh. Dia bukan ibuku—aku sadar ibuku tidak akan pernah mau ikut ke desa. Wanita di sampingku meringis dan tertawa sangat lebar. Aku tercekat, tidak ada yang bisa kulakukan selain diam, tubuhku terasa membatu.
“Kalian tidak akan bisa lepas! Keluarga Darmo harus mati!”
Setelahnya mobil yang ayahku kemudikan mulai oleng. Hingga…. BRAAAAAK
Semuanya gelap, aku tidak bisa melihat apapun.