"Kenapa kau meninggalkan ayah secepat ini, Nisa?" pekik Herman sambil menyangga tubuh tak bernyawa putrinya dengan kedua tangan.
Para warga berbondong-bondong mengunjungi rumah Herman untuk melayat. Nisa ditemukan meninggal dalam keadaan mengambang di waduk irigasi persawahan dengan keadaan mengenaskan.
Terdapat beberapa sayatan senjata tajam di bagian wajah, leher serta perut. Busana kembang desa itu juga terlihat compang-camping, seperti dirobek dengan paksa. Membuat semua orang meyakini, bahwa Nisa adalah korban pembunuhan setelah dilecehkan.
"Aku tak akan memaafkan orang yang telah melakukan ini padamu! Ini pasti perbuatan Salman, si lelaki bejat itu!"
Salman adalah lelaki yang punya hubungan dekat dengan Nisa. Bisa dibilang sebagai pacar. Herman mencurigai jika pria itu adalah dalang kematian putrinya. Sebab, dengan secara kebetulan, ketika Nisa ditemukan meninggal pagi ini, Salman tak ada di rumahnya, bahkan seolah raib dari kampung ini. Seperti melarikan diri dan bersembunyi.
***
Sudah seminggu sejak kepergian janggal Nisa. Para warga masih membicarakannya. Apalagi, ditambah desas-desus yang beredar bahwa Nisa menggentayangi desa, membuat para warga khawatir.
Berawal dari dua orang hansip yang bertugas meronda pada suatu malam. Ketika mengelilingi kampung, mereka dihantui sosok yang mirip Nisa, sedang mengucang-ucang kaki di atas pohon jambu dekat rumahnya sendiri. Juga beberapa warga yang tak sengaja berpapasan di jalan setapak ketika beraktivitas malam hari. Mereka mendapati Nisa sadang tertawa cekikikan atau bahkan merintih penuh pilu.
Semenjak saat itu, hampir tak ada kegiatan yang dilakukan setelah matahari tenggelam. Para warga memilih untuk hidup tenang. Meskipun tak sedikit yang mengaku bahwa ada yang mengetuk pintu rumah mereka saat tengah malam.
***
Kedua remaja itu berjalan beriringan. Mereka hendak menuju rumah masing-masing, setelah melakukan kerja kelompok di kampung sebelah.
"Ayo percepat langkahmu, Adi!" ucap Hadlan dengan langkah panjangnya. Sebentar lagi maghrib, dan ia ingin cepat sampai di rumah sebelum sang gulita tiba.
"Kau takut?" balas Adi santai. Ia tak memercayai gosip yang sedang ramai dibicarakan.
Riuh angin senja yang menusuk tulang, makin membuat Hadlan bergidik. Ditambah dengan suara yang timbul dari gesekan daun bambu di sepanjang jalan membuat tengkuknya merinding.
"Kapan ibumu berangkat? Nanti dia jadi TKW dimana?" tanya Adi yang berdiri sedikit berjauhan dengan Hadlan yang memimpin di depan.
"Aku tak tahu. Nanti pak Herman yang mengurus semuanya. Dia menyalurkan ibuku dulu ke yayasan di kota, nanti kalau ada lowongan pasti ibuku akan dikirim ke luar negeri," terang Hadlan sambil memeluk diri sendiri.
"Oh."
Hening. Dua sekawan itu saling diam. Namun, tak lama kesunyian tersebut diisi oleh siulan yang berasal dari bibir Adi.
"Kau jangan bersiul, Adi!" larang Hadlan sambil mendelik tajam.
"Ternyata kau benar-benar penakut! Tenang saja, tak ada yang namanya hantu!" ledek Adi sambil terkekeh.
"Terserah kau lah, Adi!" pungkas Hadlan, lalu berlari secepat kilat. Meninggalkan Adi jauh di belakang.
Sedangkan Adi malah makin tergelak. Merasa lucu dengan sifat pengecut kawannya.
Dan akhirnya, punggung Hadlan tak terlihat lagi setelah kabut tiba-tiba turun, sedikit menghalangi jarak pandang Adi.
Langit hampir berubah menjadi hitam, perlahan menghempas warna oranye dari lemayung. Angin makin kencang berhembus, membuat pohon bambu menari-nari kian lincah. Suara binatang malam juga mulai terdengar.
Adi masih bersikap seperti biasa. Ia kembali bersiul sambil memikirkan sesuatu, "tak mungkin kakak sepupuku--Salman, tega membunuh Nisa. Dia kan sangat mencintai gadis itu."
Dan tiba-tiba, mata Adi teralih pada sekelebatan yang ditangkap matanya di depan sana. Menelusup masuk ke dalam kabut yang kian menebal.
"Hadlan?"
Tak ada jawaban. Adi pun melanjutkan perjalanan masih bersiul sesuai irama lagu dangdut kesukaannya.
Langkahnya mulai melambat ketika mendengar suara siulan yang menyahut, bukan berasal dari mulutnya. Namun, ada yang aneh dengan siulan tersebut. Bunyinya mengalun sangat sendu seolah merintih, tak sesemangat seperti siulan dangdutnya.
"Adiiiii!"
Jantung Adi seketika berdebar-debar, setelah mendengar suara lirih barusan. Ia memegangi tengkuknya yang terasa dingin, merasakan tiupan udara dingin dari belakangnya. Dan sifat pemberaninya mendadak goyah.
"Hihihi!"
Pemuda itu lalu membalik badannya, setelah mendengar sebuah ringkikan, mencoba memeriksa. Namun, tak ada siapapun. Lalu, ia kembali menghadap ke depan, dan melanjutkan langkah sedikit dipercepat.
Ia menyipitkan matanya, setelah menangkap siluet seorang gadis yang berdiri cukup jauh di depan sana.
Adi memerhatikan dari belakang, gaun yang dikenakan gadis itu berwarna putih lusuh yang tergerai hingga menyapu tanah. Rambutnya juga panjang sepunggung.
Perasaannya sedikit tak enak. Apa yang dilakukan gadis itu sendirian, menatap ke kawasan perkebunan singkong, di jam seperti ini? Akhirnya, ia pun memilih mengabaikan, dan berlalu begitu saja.
"Adi!" bentak gadis itu sambil membalikan wajah, sambil menatap tajam pada Adi.
Lutut Adi mendadak lemas, karena melihat penampakan menyeramkan di hadapannya.
Itu adalah Nisa, namun dengan wajah pucat dingin, dengan beberapa luka sayatan yang mengeluarkan darah dan nanah berbau busuk. Lehernya pun hampir terputus dari kepala. Dan bagian perutnya juga mengeluarkan darah hingga merembes ke gaun putihnya yang basah.
Adi berlari sekencang mungkin, berharap dapat segera sampai di rumah. Namun, Nisa yang melayang berhasil mendahului langkahnya.
"Adi! Hihihihi! Adi!"
Adi mengeluarkan air mata, bahkan ia merasa air kencing juga membasahi celananya. Ia hendak berteriak minta tolong namun mulutnya seolah terkunci dari dalam.
Lalu, sosok Nisa seolah turun dari langit, berhasil mencegat langkah Adi hingga pemuda itu tersungkur ke tanah.
"Adiii!" lirih Nisa menghampiri Adi.
Pemuda itu memilih menyembunyikan pandangannya dengan terus tertelungkup di tanah. Tak ingin bangkit berdiri, sebelum mengetahui bahwa Nisa telah pergi.
"Bangunlah Adi! Aku hanya ingin berbicara," lirih Nisa menciptakan suasana kian angker.
Mendadak, Adi mendapatkan kembali lagi suaranya. Ia memohon agar Nisa cepat pergi dan tak mengganggunya, "kumohon Nisa! Maafkan aku karena menyepelekanmu. Dan maafkan juga kak Salman karena telah menodai dan menghabisimu."
"Dasar bocah konyol! Salman tak mungkin menyakitiku, apalagi menodai hingga menghabisiku. Dia mencintaiku. Berdirilah! Aku yakin kamu cukup berani untuk menghadapiku."
Adi menggelengkan kepalanya tak sudi.
"Berdiri!" Kali ini Nisa membentak.
Adi terpaksa menuruti. Dengan kaki gemetarnya, ia mencoba menyeimbangkan diri dan berdiri tegap. Namun, matanya masih tertutup, enggan menatap sosok seram di hadapannya.
"Aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang dapat membuatku pergi dari dunia ini."
"A-apa?" tanya Adi tergagu.
"Beritahu semua orang, bahwa pria yang bernama Herman itu adalah orang bejat. Dia tak mengirim wanita-wanita miskin itu ke yayasan untuk di salurkan menjadi TKW di luar negeri. Namun, dia menjadikan wanita-wanita malang itu sebagai pekerja malam, wanita penghibur, pemuas nafsu."
Adi tertegun, "maksudmu?"
"Aku mati dibunuh ayahku sendiri, setelah tak sengaja mendengar pembicaraannya di telepon. Saat itu juga, aku baru mengetahui semua rahasia kelamnya. Aku hendak memberitahu warga, namun ayahku malah dengan tega menyiksaku, sebelum dia menusukku berkali-kali, lalu merobek pakaianku, dan membuangku ke waduk. Dia adalah penjahat sebenarnya, Adi! Bukan kakak sepupumu!"
"Jadi, kamu ingin aku berbiuat apa? Menyebarkan rahasia ayahmu pada warga? Tapi bagaimana mereka akan percaya jika tak ada bukti?" cerocos Adi tak mengerti.
"Siapa bilang tidak ada? Di dekat kebun singkong tempatku berdiri tadi, itu adalah lahan milik ayahku. Ayahku menguburkan mayat disana. Sehari setelah kematianku, seorang janda dari kampung sebelah datang ke rumah ayah, berniat menjadi TKW. Namun, wanita itu malah lebih dulu mengetahui rencana ayahku yang akan menjualnya ke pria hidung belang. Makanya dia dibunuh saat hendak melapor ke polisi. Dan juga, Salman selama ini tak keluar dari kampung. Dia disembunyikan di gudang dalam rumahku dekat dapur. Diikat dan tak diberi makan, hanya diberi minum dua kali sehari. Ayahku akan menyiksanya terlebih dahulu, sebelum membunuhnya, karena Salman juga mengetahui rahasia ayahku setelah aku memberitahunya melalui telepon malam itu. Dia datang untuk menjemputku, namun aku yang disiksa oleh ayah, malah menyeretnya dalam masalah ini," terang Nisa, lalu merintih dengan hati kesakitan.
Dalam ketakutannya, Adi malah merasa terenyuh dengan cerita tragis Nisa. Baiklah. Jika cerita sosok itu benar adanya, mala ia akan membicarakan hal ini terlebih dahulu pada kedua orang tuanya.
"Kamu telah mengetahui kisahku, Adi. Sampaikanlah pada semua orang! Selamatkan ibu dari sahabatmu--Hadlan. Dan satu lagi, sampaikan salam sayangku untuk Salman. Bilang padanya untuk jangan terlalu larut dalam kesedihan," pungkas Nisa, lalu menghilang bersama hembusan angin.
Sedangkan Adi langsung berlari ke rumahnya secepat mungkin. Ia segera menyampaikan pesan dari arwah Nisa. Orang tuanya pun dengan sigap mengumpulkan warga, untuk mengkonfrontasi Herman di rumah besarnya.
Para warga marah, meminta penjelasan dari Herman. Terutama para suami yang telah memberi ijin istrinya untuk menjadi TKW melalui perantara Herman. Mereka sangat merasa kecolongan. Pantas saja setelah tiga bulan, istri-istri mereka susah dihubungi dan tak ada kabar.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku tak mungkin menjual istri-istri kalian. Mungkin istri kalian belum punya biaya lebih untuk menelpon, karena ongkos telepon dari luar negeri kan lumayan mahal," elak Herman membela diri sendiri.
"Dasar pembohong!" Ucap salah seorang suami, lalu mengajak bapak-bapak lainnya untuk mengeroyok Herman.
Namun dengan segera pak Kepala Desa melerai aksi main hakim sendiri tersebut.
"Pak Herman membunuh Nisa dan janda itu. Pak Herman juga mengurung kak Salman di gudang dalam rumah, kan?" pekik Adi dengan suara gemetar.
Lalu, beberapa orang segera menerobos masuk, memeriksa ke dalam rumah besar itu. Menuju gudang yang dicurigai oleh Adi. Sedangkan yang lain menjaga dan mencengkeram Herman, agar tak lari.
Tak lama seorang bapak-bapak kembali dengan wajah panik. Ia hendak menginformasikan pada semua warga jika Salman memang berada di dalam gudang dekat dapur, dalam keadaan mengkhawatirkan. Pria itu diikat di tiang kayu, dengan mulut disumpal, dan bobot tubuh yang kurus kerempeng, karena kekurangan asupan makanan selama satu minggu. Untunglah Salman masih dapat bertahan hidup.
"Pak. Salman memang ada disana!" ucap lelaki itu pada kepala desa, dan terdengar oleh semua warga yang kembali ricuh meneriaki Herman. Mengutuknya dengan sumpah serapah.
Segera, pak Kepala Desa menelepon pihak yang berwajib. Mempercayai bahwa segala yang diucapkan Adi bukan bualan semata, karena sekarang ada bukti yang nyata. Berarti, tinggal satu lagi yang harus diperiksa. Yaitu mayat janda yang dikubur di kebun singkong. Biar nanti polisi sendiri yang memeriksanya.
Tak butuh waktu lama, polisi pun tiba di kediaman Herman. Mereka menanyai para saksi dan Salman selaku korban, lalu menuruti saran kepala desa untuk memeriksa kebun singkong.
Disana memang terdapat sebuah gundukan tanah, dan saat digali terbaring jasad seorang wanita paruh baya yang masih mengenakan pakaian lengkap, namun sudah berbau busuk. Terdapat beberapa luka tusukan senjata tajam di tubuhnya.
Akhirnya, Herman pun ditangkap untuk di adili setelah beberapa kali berontak. Para warga yang melihat, hanya dapat meredam emosi sambil menggelengkan kepala.
Selama seminggu terakhir, mereka takut akan sosok hantu Nisa, yang sebenarnya hanya ingin menyampaikan suatu pesan demi kebaikan. Namun mereka tak menyadari, jika manusia dapat bertindak lebih menyeramkan daripada hantu.