Jam 2 malam, semua santri puteri tengah lelap dalam peraduan tidurnya kecuali Fitri. Perempuan yang sedang dalam cantik-cantiknya itu tersenyum manis dalam balutan mukena biru. Adalah kebiasaan baik karena Fitri selalu bangun malam saat semua teman asramanya dibuai mimpi.
Ini kesempatan terbaik guna mengutarakan segala pinta pada yang maha menguasai hati manusia. Fitri khusuk dalam shalatnya, memperpanjang sujudnya, untuk kemudian mengakhirinya dengan salam. Usai mendirikan dua reka’at tahajjud, Fitri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tak lupa pula berdo’a sedang ia kehilangan senyumnya.
“Ya Allah, untuk kali saja izinkan aku jadi anak durhaka!” Pinta Fitri.
“Ya Allah, kenapa orang tuaku tega melakukan ini semua? Apa salah hamba?” Isak Fitri.
Setelahnya Fitri tak kuasa bicara, ia menghentikan do’a karena cukup air mata saja yang bicara. Hati Fitri diliputi sedih wajar bila kedua matanya mengurai tangis. Sajadah telah basah sebab malam ini Fitri hanya ingin menangis.
Rupanya malam kurang berkenan bila waktunya dihabiskan dengan merayakan kesedihan, juga Tuhan Yang Maha Penyayang tidak akan membiarkan Fitri bersedih seorang diri. Lewat Kuasanya, Tuhan gerakkan seseorang untuk mendamaikan suasana hati Fitri.
“Fit, udah bangun?” Sapa Anggun bangun dari tidur.
“Kok nggak bangunin aku tahajjud?” Protes Anggun menyingkap selimut.
Tahu siapa yang menyapa, Fitri buru-buru menyudahi tangis karena tidak ingin air matanya diketahui orang lain. Sebisa mungkin Fitri bersikap biasa saja meski akhirnya ketahuan juga, sebab bekas di pipi tidak dapat membohongi apa yang baru saja terjadi.
Sebetulnya Fitri hanya perlu berdamai dengan kesedihan agar beroleh ketenangan, berani bercerita agar wajah ayunya kembali ceria. Mungkin karena disibukkan dengan dirinya, Fitri sampai lupa Anggun sudah duduk di depannya.
“Fit, kamu nangis to? Nyapo nangis, cerito! Enek opo?” Cemas Anggun memegangi dagu Fitri.
“Nggak, aku nggak nangis kok. Cuma berair mata saja” Canda Fitri berusaha tersenyum.
“Itu sama dengan nangis” Jawab Anggun beralih memeluk Fitri.
Dua sahabat karib tengah hanyut dalam perasaan yang sama. Anggun turut merasakan kesedihan Fitri meski belum diberitahu sebabnya, perhatian dan peluk menenangkan setidaknya dapat sedikit mengobati. Lima menit berlalu, jarum jam memacu detiknya sementara dua sahabat karib masih duduk disana.
Asrama Khadijah lantai dua Ponpes Raudlatul Qur’an, Tanjung Anom, Nganjuk, nampak hening meski sesekali terdengar dengkuran belasan santri puteri bercampur isak tangis Fitri.
“Nggun, dosa nggak sih kalo kita durhaka sama orang tua?” Tanya Fitri menarik diri dari pelukan Anggun.
“Husss, kok ngomongnya gitu?” Sahut Anggun menenangkan.
“Soalnya... Aku... kayak bukan anaknya” Kata Fitri terbata-bata.
Pernyataan barusan tentu menyentuh perasaan Anggun sebagai perempuan dan juga teman. Ia tak habis fikir kenapa seorang Fitri yang cantik, baik perangai, lemah-lembut, santun tutur kata, bisa memikirkan sesuatu yang berlawanan dengan sifatnya?
Pantaslah bila Anggun ingin lebih tahu persoalan yang menimpa sahabat karibnya itu, sebab keingintahuan Anggun kembali menenangkan.
“Rupanya, Ratu Cantiknya Jawa Timur sedang tidak baik-baik saja. Cerita, ada masalah apa? Aku sudah kenal kamu sejak enam tahun lalu, dan ini tahun terakhir kali kita mondok disini, masak iya kamu masih meragukan persahabatan kita? Aku bakal tutup mulut!” Hibur Anggun menepuk bahu temannya.
“Nggun, masalahnya...” jeda Fitri sedikit ragu.
“Masalahnya apa?” Penasaran Anggun mengerlingkan mata.
Jeda beberapa lama. Sejenak Fitri menarik nafas, melepas sesak di dada kemudian menghilangkan ragunya.
“Masalahnya, selama aku mondok enam tahun disini, tiap kali liburan pondok, tiap kali pulang, aku selalu dilarang keluar rumah sama orangtuaku. Seharusnya Rumahku Surgaku, tapi ini nggak Nggun. Bagiku Rumahku Penjaraku” Jujur Fitri.
“Rumahku Penjaraku? Maksudnya?” Sahut Anggun mengernyitkan dahi.
“Aku dikurung, layaknya tahanan! Selangkah pun nggak boleh keluar rumah. Jangankan itu, membuka pintu saja dilarang! Kalau ada tamu yang datang, Ayah sama bundaku ngelarang buat nemuin tamu. Aku disuruh diam di kamar, aku dikunci, aku dikurung!!!. Dan yang lebih menyakitkan lagi, seluruh asisten rumah tangga akan dipecat kalau ketahuan ngajak aku jalan-jalan. Nggun, apa aku ini anaknya?” Ungkap Fitri berkaca-kaca.
“Fit, itu karena saking sayangnya Ayah-Bundamu. Mereka melakukan itu karena sayang, nggak mau puteri cantiknya diketahui orang. Asisten rumah tanggamu juga sama, mereka nggak mau tuan puteri tersengat terik matahari” Tanggap Anggun meski dalam hatinya meronta.
“Apa itu kasih sayang? Itu bukan kasih sayang Nggun, mereka merenggut kebebasanku! Mereka menyayangi sekaligus menyakiti! Aku ingin bebas berinteraksi dengan orang lain, sudah enam tahun aku putus hubungan dengan keluarga di kampung. Aku bahkan pengin ketemu kakek-nenek, pak lik- bu lik, sepupu-sepupu tapi semua terhalang karena orangtuaku. Kenapa ayah bunda tega melakukan ini semua?” Sedih Fitri meratapi diri.
Hening sesaat. Terlihat Anggun mengatupkan tangannya ke mulut sebab benar-benar terkejut atas pengakuan Fitri. Lagi-lagi sebuah pengakuan mengguncang seorang Anggun yang kini iba dan mulai berair mata.
“Fit, kenapa baru cerita sekarang? Kenapa nggak cerita di awal mondok? Ini sudah enam tahun dan aku baru tahu” Tangis Anggun tak tertahankan.
“Nggun, cukup aku yang sedih, kamu jangan!” Respon Fitri ganti menenangkan Anggun.
Kemudian, keduanya menyudahi kisah pilu malam itu. Tak elok dua perempuan cantik berteman dengan kesedihan karena bisa mengikis ayunya. Fitri meminta Anggun untuk melanjutkan tidur dan tak lagi memikirkan masalah berlarut-larut. Namun lagi-lagi teka-teki mengacaukan Fitri.
“Bentar Nggun, kalau alasannya adalah aku dilarang berinteraksi dengan orang lain, lalu kenapa aku dipondokkan? Kenapa aku dibiarkan berbaur dan berteman dengan kalian?” Fikir Fitri sebelum beranjak pergi.
“Iya ya, aku baru kepikiran. Atau jangan-jangan mereka ingin kamu aman?” Jawab Anggun sekenanya.
“Aman dari? Maksudnya aku membahayakan, emang aku apaan?” Kekeh Fitri sambil berdiri.
“Dah lah, kita pecahkan misterinya besok. Yang jelas pondok tempat teraman, tempat perempuan baik-baik yang didik untuk mengenal Tuhan” Cerdas Anggun tersenyum simpul.
“Pondokku Surgaku, selagi aku disini tiada yang berani menyakiti. Abah Yai, Bu Nyai, dan semua santri akan melindungi. Aku bisa menghirup kebebasan juga disini” Balas Fitri berseri-seri.
Tak lama, malam menghabiskan sisa waktunya. Fitri, Anggun, dan santri puteri yang lain dibuai mimpi masing-masing. Biarlah rasa bahagia saja yang menyambut terbitnya fajar, semoga terbit pula wajah-wajah berseri santri puteri bersama kehangatan yang muncul di subuh hari.
***
Bel berbunyi, suara nyaringnya membangunkan ribuan santri puteri Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an. Tak lama terdengar merdu bacaan Qur’an yang menggema di langit dunia, lantunan ayat-ayat suci itu bersumber dari masjid jami’ pondok putera dan mengudara hingga terdengar jelas di telinga santri puteri yang pondoknya berjauhan.
Pengurus puteri bagian kerohanian bergerak serentak memasuki kamar-kamar sembari memukul-mukul kentongan dan meneriakkan “Tangi... Tangi!!!”
Sesuai kata perintah, seluruh santri mau tidak mau harus menuruti meski dalam hati masih ingin bermain dalam mimpi.
Wajah-wajah lesu cepat-cepat dibasuh air wudhu dan badan harus segera digerakkan memenuhi panggilan Tuhan. Terlihat santri puteri telah cantik dalam balutan mukena, membawa peralatan shalat, mulai menuruni tangga asrama kemudian berbaris rapi dan jalan beriringan menuju masjid jami’ puteri.
Setelahnya, adzan subuh berkumandang di Masjid putera. Tampak deretan gedung rusunawa lantai lima senggang dan kosong karena ditinggalkan penghuninya kecuali asrama Khadijah dua, masih tertinggal Anggun dan Fitri disana.
“Fit, ayo berangkat. Digae mukenane, jangan malah sisiran, nanti subuhnya ketinggalan!” Suruh Anggun tergesa-gesa.
“Kita sholat disini! Mumpung sepi, aku mau cerita lagi” Pinta Fitri menyisiri rambutnya di depan cermin.
“Ya dah ta’ turuti” Jawab Anggun melihat raut muka lesu Fitri di kaca.
Dua orang teman berada di depan cermin, Fitri duduk di kursi sementara Anggun berdiri tepat dibelakangnya. Fitri tidak sedang ingin dimake-up melainkan ingin melihat dirinya, dan istilah bercermin pada diri sendiri berlaku kali ini.
“Sembari cerita aku sisirin rambutnya, gimana?” Tawar Anggun menepuk pundak Fitri.
“Boleh” Respon Fitri dengan senang hati.
Sebuah sisir telah sampai di tangan Anggun. Benar saja, ia tampak tertarik pada sisir yang bentuknya unik.
“Fit, aku baru tahu kamu nyimpen benda pusaka, ini kalau ketahuan pengurus bisa kesita!” Girang Anggun mengamati sisir di tangannya.
“Namanya, Nyi Mas Sri Pringgodeni” Aku Fitri menoleh dan terkekeh.
“Hah? Sejak kapan sisir punya nama?” Balas Anggun tertawa.
“Bunda yang ngasih nama, ini pemberian Bunda. Kayak sisir pada umumnya, cuma beda di ujung, permukaan dan gerigi-gerigi. Bentuk ujungnya kepala ular dengan mata batu delima, gerigi-gerigi sisir dari besi ada ukiran kembang melati, terus di permukaan ini kayak sisik-sisik ular. Nggun, dari awal aku pengen ngebuangnya tapi nggak bisa!” Terang Fitri mengamati detail sisir.
“Jangan dibuang, kan pemberian Bunda! Ini jadi ta’ sisirin nggak?” Tenang Anggun meski dalam fikirnya bertanya-tanya.
Perlahan Anggun mulai menyisiri Fitri. Pandangan mata fokus pada rambut hitam panjang terurai sepinggul juga pekat warnanya. Rambut adalah mahkota perempuan dan Fitri miliki rambut yang membanggakan.
“Rambutmu bagus Fit!” Puji Anggun membilah rambut temannya.
“Bagus tapi kan gatel terus! Apa mungkin banyak kutunya?” Kesal Fitri bermuka masam.
“Jangan lupa keramas kecuali pas menstruasi! Kamu kalau mandi pasti keramas terus soalnya rambutmu bagus, cantik pula” Sanjung Anggun memuji kecantikan perempuan Jawa.
“Padahal rambut ini nggak pernah ta’ keramasi, seingatku terakhir kali keramas enam tahun yang lalu. Aku juga nggak percaya, selama enam tahun ini aku nggak pernah menstruasi. Makanya aku bisa tiap hari menyentuh Al-Qur’an karena selalu suci, hafalanku 30 juz bisa cepat selesai karena alasan itu” Aku Fitri mengejutkan temannya.
Bukan main terkejutnya Anggun sampai-sampai berhenti menyisiri. Bingung, hanya itu yang tampak di raut mukanya.
“Kamu pasti bingung kan Nggun, Apalagi aku. Sebenarnya aku takut kalau terjadi apa-apa dengan diriku” Ratap Fitri ke arah kaca yang menampilkan ekspresi Anggun.
Mereka sama-sama diam, benar-benar banyak yang baru diketahui Anggun tentang sahabat karibnya itu padahal sudah saling kenal enam tahun lalu. Cukup lama keduanya membisu, Fitri meratapi diri di pantulan kaca sementara nurani Anggun terguncang. Apapun yang menimpa Fitri tetaplah harus berusaha mengerti dan peduli.
“Fit, udah coba periksa ke dokter tentang sakitmu ini? Kamu mungkin pernah jatuh sampai nggak inget peristiwa enam tahun sebelumnya, atau mungkin amnesia? Enggak pernah menstruasi mungkin juga karena penyakit, nanti periksa ya biar ta’ temenin!” Cemas Anggun mempedulikan.
“Nggak ada dokter yang bisa nyembuhin, sakitku terlalu banyak Nggun. Aku tidak pernah lupa berdo’a, memang Allah selalu memberiku sehat, tapi kenapa penyakitku selalu kumat?” Kesal Fitri memukuli kepalanya sendiri.
Segera Anggun mencegah Fitri yang memukuli kepala sendiri. Kasihan, sedih, dan rasa iba muncul dibenak Anggun selaku sahabat karibnya. Siapa yang mendengar cerita Fitri tentu tersentuh hati nurani karena penderitaan yang dirasakan tak beralasan, selang kemudian Anggun terus menenangkan.
“Fit, ceritakan sakitmu, aku ingin tahu!” Pinta Anggun kembali menyisiri.
“Selain nggak menstruasi, kepala ini rasanya kayak dipukul-pukuli. Apa aku ini banyak syetannya? Atau diguna-guna?” Cerita Fitri menahan beban di kepala.
“Maksudnya?” Sahut Anggun hati-hati menyisiri.
“Nggun, tiap kali aku berwudhu kayak nyentuh air panas! Pernah aku berusaha keramas tapi rasanya kayak disiram banyu panas. Rambutku selalu gatel, rasanya pengen ta’ botakin sekalian! Terus tiap baca qur’an, kepalaku kayak dipukul-pukul sesuatu, ada yang mukuli kepalaku tapi aku nggak tahu, aku cuma nahan sakitnya dan nggak bisa ngelawan. Nggun, maaf, aku baru berterus-terang sekarang!” Rintih Fitri menahan sakit sedari tadi.
Akhirnya air mata Anggun jatuh juga, cerita berakhir tapi tangis baru dimulai. Begitu pilunya sampai tangis Anggun tak bersuara.
“Kamu ini aneh tho Nggun? Aku yang ngerasain sakit, kamu yang nangis. Kembalikan senyummu yang hilang!” Kata Fitri melihat dari cermin.
Setelah itu Anggun tersenyum sambil menangis sedang Fitri sama nasibnya. Dari pantulan cermin terlihat dua perempuan sedang berteman dengan kesedihan. Fitri masih duduk dan mengamati wajah berair matanya di kaca, sementara Anggun yang bersama tangis masih berdiri dan menyisiri lagi.
“Nggun, aku bukan untuk ditangisi, aku maunya disisiri!” Isak Fitri menahan gatal di kepala.
Pelan-pelan Anggun membilah rambut panjang sepinggul itu, ia dengan hati-hati menjalankan sisir dari puncak kepala sampai ke bawah. Saat Anggun mulai membelah rambut bagian tengah, disitulah kesekian kalinya Anggun terperangah.
“Astaghfirullahal’adzim!!!” Teriak Anggun menjatuhkan sisirnya.
“Kenapa Nggun? Kenapa teriak?” Kaget Fitri tidak menyadari.
“Ini kan...” Putus Anggun menutup mulutnya.
“Ini apa Nggun? Ada apa sebenarnya?” Cemas Fitri ketakutan.
“Fit, ada paku di kepalamu!!!” Jerit hati Anggun.