Galuh segera mematikan rokoknya di tanah begitu ia mendengar suara roda bergesekan dengan lantai keramik lorong rumah sakit. Suaranya agak berdecit seperti roda yang sudah lama tidak diberi pelumas.
Angin malam membuat Galuh bergidik. Dia yang mulanya bediri di pinggir taman segera memasuki area lorong rumah sakit. Ia menoleh ke kanan-kiri, mencari sumber suara. Namun, tidak ada petugas di sekitar sini.
Apa ia salah dengar? Galuh menggelengkan kepalanya. Sudahlah. Galuh tidak mau ambil pusing. Mungkin ia hanya salah dengar. Yang membuatnya kesal adalah rokoknya tadi belumlah habis dan terpaksa ia matikan.
Galuh membuang napas keras. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. Menjepit rokok tersebut di antara kedua bibirnya. Sambil berjalan kembali ke taman, Galuh mengambil korek dan menyalakan rokoknya.
Galuh tahu, tidak boleh merokok di area rumah sakit. Namun, pikirannya yang kalut menunggu ibunya yang masih menjalani operasi. Asap keluardari hidung dan mulut Galuh, bersamaan dengan suara berisik roda yang didorong, kali ini lebih nyaring diiringi dengan suara petugas yang mengobrol.
Galuh menjatuhkan rokok ke tanah dan menginjaknya dengan kesal. Ia menunggu para petugas lewat sambil duduk di atas kursi batu. Namun, dari kejauhan ia tidak melihat seorang pun lewat.
Galuh kembali berjalan menuju lorong. Sesampainya di sana, sama seperti tadi, tidak ada siapapun di mana-mana. Galuh menoleh ke arah taman. Kakinya baru saja hendak melangkah kembali ke sana. Namun, lampu lorong rumah sakit tiba-tiba berkedip.
Tengkuk Galuh terasa dingin seketika. Ia mempercepat langkahnya untuk mencari keramaian. Akan tetapi, ia malah tersesat tak tahu dimana.
Galuh melihat seseorang pria berjas putih memasuki sebuah ruangan. Dia segera mengikuti orang tersebut berpikir untuk bertanya arah ke ruang tunggu ruang operasi.
Saat Galuh memasuki ruangan tersebut, tidak ada seorang pun di dalamnya. Hanya mesin-mesin yang menyala.
“Uhuk.…”
Suara batuk seoraangg pria membuat Galuh terkejut hingga membuatnya tersandung saat melangkah mundur. Galuh menoleh dan jantungnya berhenti bedegub untuk sepersekian detik saat dilihatnya sepotong kaki di dalam ember yang ia sandung.
Tanpa pikir panjang Galuh segera berlari menuju pintu keluar. Namun pintu tersebut terkunci dengan kunci otomatis.
“Sedang apa, Mas?” Suara berat seorang pria kembali membuat Galuh terkejut.
Ia menolehkan kepalanya perlahan. Berdiri seorang pria berjas putih di hadapannya dengan wajah dipenuhi kebingungan.
Sementara Galuh sibuk berfikir apakah orang dihadapannya benar-benar manusia atau tidak. Ia melirik ke arah kaki pria di hadapannya untuk memastikan kedua kaki pria tersebut berpijak ke tanah.
Kakinya berpijak ke tanah. Namun, Galuh belum benar-benar yakin. Dia pernah mendengar cerita bahwasannya, hantu tidak memiliki garis di antara hidung dan bibir bagian atas. Jadi, dengan ragu ia melirik ke arah wajah pria di depannya yang bisa saja menjadi menyeramkan seketika.
Akan tetapi, tidak seperti yang ia pikirkan. Wajah pria di hadapannya normal seperti manusia pada umumnya.
“Mas?” Suara pria di hadapan Galuh kembali menyentak Galuh dari lamunan.
“Maaf, saya kesasar. Tadinya mau ke ruang tunggu ruang operasi. Tapi malah nyasar kemari.”
Pria yang ternyata seorang laboran, segera membukakan pintu dan menujukkan arah ruangan yang Galuh maksud.
Galuh berjalan sambil melamun. Ini sudah dua jam. Ia harus segera ke nurse station ruang operasi untuk menanyakan apakah ibunya sudah selesai dioperasi atau belum.
Dengan gontai ia berjalan menuju sebuah pintu diujung lorong. Namun, sebuah bisikan wanita di telinganya membuat langkah kaki Galuh membeku.
“Jangan masuk ke sana. Kamu salah arah.”
Kali ini tidak hanya tengkuk Galuh yang merinding, tapi seluruh tubuhnya seketika terasa dingin. Tanpa pikir panjang, Galuh segera berlari menuju ruangan di depannya. Dan ia segera di sambut dengan udara yang luar biasa dingin hingga ruangan nampak berkabut.
“Sudah kubilang, bukan? Jangan masuk ke sini. Hi… hi….” Galuh kembali mendengar suara bisikan yang sama.
Ia mengedarkan matanya, dan seketika tersadar bahwa ia sedang berada di loker mayat. Dengan kaki yang sudah bergetar hebat, Galuh berusaha keluar dari ruangan tersebut.
Sesampainya di luar ruangan ia jatuh tersandung kakinya sendiri. Sampai membuatnya tersungkur di atas lantai rumah sakit yang dingin.
Galuh mengangkat kepalanya dari lantai ketika sudut matanya melihat sepasang kaki pucat di sampingnya. Apa lagi sekarang?
“Nak?” Galuh sangat hapal suara ini. Suara ibunya
Segera ia bangkit, dan melihat ibunya berdiri sambil tersenyum menenangkan.
“Bu, kok Ibu bisa ada di sini? Operasinya sudah selesai? Atau Ibu belum jadi di operasi?” Galuh yang kebingungan, memberondong ibunya dengan berbagai pertanyaan. Seketika rasa takut Galuh menguap seketika.
Ibu Galuh kembali tersenyum lalu memeluk Galuh. Galuh dapat merasakan dingin dari telapak tangan ibunya yang menepuk-nepuk punggungnya. “Sudah, Nak. Semua sudah selesai.”
Bagaimana bisa orang yang baru saja selesai operasi sudah bisa berjalan-jalan? Galuh merasa ada sesuatu yang salah. Ia melepas pelukan ibunya. “Kok bi—“
“Code blue… code blue… ruang ICU—“ Terdengar suara pengumuman dari intercom. Membuat perhatian Galuh teralihkan. Dia menatap ke arah dua petugas berbaju putih berlarian menuju ruang ICU.
Saat Galuh kembali menoleh ke arah ibunya, ibunya sudah tidak terlihat dimana pun. Galuh mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ibunya benar-benar hilang.
“Panggilan kepada keluarga Nyonya Maryam, diharapkan segera ke ruang ICU sekarang juga. Sekali lagi—“
Tanpa pikir panjang Galuh segera belari menuju ke Ruang ICU begitu nama ibunya disebutkan. Sesampainya di sana, ia mendapati fakta bahwa tadi adalah pelukan selamat tinggal dari ibunya.