CINTA = Cuma INdah wakTu pertAma.
Begitulah pandanganku pada cinta. Setidaknya, sebelum aku bertemu dengannya.
*-*-*
Aku Zwetta Jewelrya. Salah seorang siswi Sekolah Menengah Atas di Jakarta.
Dari dulu, aku tidak pernah mempercayai yang namanya cinta. Menurutku, cinta hanyalah suatu hal yang tidak berguna. Aku tidak butuh cinta, yang hanya membawa luka saja.
Silakan saja hujat, tapi aku melihat sendiri setidak berguna apa cinta itu.
Mama Papaku selalu berkata bahwa mereka saling mencintai. Tapi nyatanya? Selama enam belas tahun setelah kelahiranku, tidak pernah sekalipun aku merasakan cinta diantara mereka berdua. Cinta hanya awal saja indahnya. Waktu pacaran, indah cinta rasanya. Namun saat memasuki jenjang pernikahan, cinta hanyalah topeng untuk menutupi busuknya kebencian dua insan.
Apanya yang cinta jika suara pecahan piring yang dilempar Mama tak pernah absen dari pendengaranku?
Apanya yang cinta jika aroma parfum wanita lain selalu tercium dari kemeja Papa?
Apanya yang cinta jika bekas tamparan selalu dapat kulihat di pipi Mama?
Cinta itu omong kosong!
Jika bisa diibaratkan, hidup dan cinta itu seperti latte art tanpa gula. Manis diluar saja, pahit didalam. Cinta hanyalah krim susu yang hanya memperindah tampilan luar saja. Sedangkan hal didalamnya, tetap pahit sekalipun dengan cinta.
Pernah suatu ketika, aku sedikit percaya akan cinta setelah melihat sahabatku bahagia bersama pacarnya. Hampir setiap bersama, kedua sejoli itu bahagia. Selalu senyum yang terlukis diwajah mereka. Hingga aku kembali menemukan pahitnya cinta. Cinta itu mempermainkan! Membuat kita terbang melayang, lalu jatuh ke dasar jurang.
Ternyata, dia hanya lembut awalnya! Senyumnya hanya semu belaka.
Sahabatku, lagi-lagi karena cinta, mendapat luka.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak pernah percaya yang namanya cinta.
Hingga aku bertemu dengannya.
Dia, Bintang Utara..
Dia bukan laki-laki tampan idola para kaum hawa.
Dia juga tidak menarik perhatian karena kepintarannya.
Dia hanyalah dia. Bintang Utaraku, penunjuk arahku.
Pertemuanku dengannya tidak ada yang istimewa. Bahkan menurutku, itu sedikit memalukan.
Saat itu, aku sedang terburu-buru hingga tersandung batu. Membuatku jatuh dengan buku berceceran disampingku. Aku menggerutu, menyalahkan batu mengapa perlu muncul saat aku buru-buru. Disaat itulah aku bertemu dengannya.
“Jangan menggerutu terus. Sebentar lagi telat, mari kubantu.”
Ya, kalian benar. Dia menjulurkan tangannya guna membantuku. Saat itu, aku hanya mengangguk saja. Tak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Sudah kubilang kan aku tidak percaya cinta?
“Terima kasih,” ucapku lalu kembali berlari setelah sedikit melirik penolongku.
Setelah itu, selama beberapa bulan, aku tidak pernah bertemu dengannya hingga aku mengetahui namanya secara tidak sengaja ketika kelasnya sedang olahraga di saat aku hendak pergi membasuh tanganku.
“Hei, kita ketemu lagi.”
Secara tiba-tiba, dirinya muncul di sampingku. Aku hanya mengangguk tak acuh.
“Aku Bintang Utara, kalau kamu?” tanyanya saat melihatku mengangguk.
“Zwetta Jewelrya.”
Dia mengangguk seraya mengerutkan kening, “Nama yang indah, Zwetta,” ucapnya yang lagi-lagi kubalas dengan anggukan.
Tak lagi mendengar suaraku, dia lantas tersenyum, “Kita akan kembali bertemu, sampai jumpa!”
Aku hanya memutar bola mataku malas. Trik pendekatanmu, tidak akan berpengaruh sama sekali terhadapku.
*-*-*
Selepas hari itu, Bintang Utara selalu mengusiliku. Menceritakan banyak hal konyol yang menurutku tidak berguna. Memberiku banyak makanan di saat jam makan. Mengikuti apa yang aku lakukan, mulai dari membaca buku di perpustakaan maupun bermain musik saat senggang.
Hal ini terjadi selama beberapa bulan hingga dia menyatakan perasaannya padaku.
“Zwetta, aku tau ini sedikit berlebihan tetapi aku benar-benar menyukaimu. Tidak. Bukan suka melainkan cinta. Pertama kali aku bertatapan denganmu, netramu membuatku kaku, membuatku bersemu dan jantungku terpacu. Jadi, maukah kamu menjadi pacarku?”
Itu kata-kata yang dia ucapkan padaku.
Kau pikir aku akan baper?
Sayangnya, tersentuh pun tidak walau hanya sedikit. Aku hanya menganggap ucapannya sebagai angin lalu.
“Dengar, aku tidak mempercayai sesuatu yang berbau romantis seperti cinta. Aku yakin perasaanmu hanya sensasi sesaat saja. Jadi lupakan niatmu menjadikanku pacarmu.”
Tidak berperasaan? Memang!
Tapi aku tidak peduli. Kenyataan memang selalu lebih pahit dari ekspetasi. Lagipun, aku tidak sudi berurusan dengan cinta. Menanam cinta hanya akan bertumbuh menjadi luka, bukan bahagia.
Setelah aku membalas seperti itu, dia hanya diam termenung, lalu pergi tanpa berkata apapun.
Aku yang tidak peduli dengan reaksinya hanya mengendikkan bahu tak acuh seraya berlalu dari tempat itu.
Seminggu berlalu. Bintang Utara tidak lagi mengikutiku. Hari-hariku kembali tenang. Tak ada lagi dia yang selalu menjahiliku. Kupikir ini akan bertahan untuk selamanya hingga aku lulus SMA, tapi ternyata tebakanku salah.
Dia dengan tiba-tiba menarik pergelangan tanganku menuju suatu tempat sepi.
“Selama seminggu ini, aku selalu berpikir mengapa kau menolakku? Mengapa kau tidak mempercayai cinta? Bukankah cinta hal yang indah?” ucapnya tanpa basa basi. Dia terdiam sejenak.
“Lalu aku tersadar. Semua orang memiliki ketidaksukaannya dan itu selalu beralasan. Mungkin kau memiliki suatu trauma akan cinta sehingga kau memilih menutup hatimu. Tapi apakah kau percaya jika suatu hal di dunia ini selalu memiliki sisi buruk dan baik?”
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa cintaku padamu hanya akan membawa kebahagiaan, tetapi aku bisa berjanji bahwa aku akan berusaha membuatmu bahagia dengan cintaku. Membuatmu mengakui bahwa cinta tidak selalu berakhir luka dan duka.”
Sebenarnya, aku masih tidak mempercayainya. Jadi kukatakan jika cinta yang diidam-idamkannya akan berbunga padaku tidak akan pernah terjadi. Hidupku hanyalah dan akan selalu secangkir kopi hitam pahit.
Dia masih bersikukuh akan membuatku merasakan cinta. Menambahkan krim manis sekaligus gula di cangkir kopiku. Aku lantas menyerah. Biarkan saja dia mencoba hingga lelah.
“Namaku Bintang Utara dan aku akan mewujudkan artinya! Menjadi penunjuk arahmu, membawamu kepada kebahagiaan dengan cinta. Walau tidak mudah dan memerlukan waktu lama, tapi aku tidak akan menyerah!”
Kau tau? Setelah dia berkata demikian, dia benar-benar membuktikannya.
Setiap hari, dia memberikanku perhatian sederhana yang tulus. Bukan aku yang mudah tersentuh, tapi itu memang sangat jelas terlihat. Dia bahkan tidak pernah marah ketika aku membentaknya dan mengatakan bahwa dirinya begitu menyebalkan.
Dia selalu memberikan makanan kesukaanku setiap hari ditambah sticky note bertuliskan ‘Semangat menjalani hari ini My Jewel'.
Ku bilang bahwa perhatiannya menggelikan tapi dia tidak peduli dan selalu melakukannya setiap pagi hingga aku terbiasa.
Dia selalu membantuku jika aku menemui kesulitan. Dia bahkan tidak ragu membelikan sesuatu yang begitu wanita. Di saat laki-laki lain malu melakukannya, dia tidak sama sekali!
Aku melunak. Aku benar-benar tersentuh dia tidak bosan satu tahun mengejarku. Bahkan tidak bermain dengan gadis lain.
Dia memang Bintang Utara. Penunjuk arahku, yang tidak pernah tenggelam sekalipun langit berawan.
Dia menuntunku. Mengenalkanku sisi lain dari cinta yang selama ini kubenci.
Dia bagai gula dan krim putih dalam kopi hitamku, yang mempermanis bukan hanya di luar saja.
“Bagaimana? Kau sudah percaya sisi lain cinta?”
“Ya, sedikit.”
“Kalau begitu, kamu harus menjadi pacarku.”
“Hm”