Ketika aku sedang berjalan di dalam sebuah rumah tanpa adanya penerangan sedikitpun, namun anehnya selalu ada sedikit cahaya biru yang menyelimuti sekitarnya.
"Loh ibu kenapa disini?", tanyaku pada seorang wanita berumur 40 tahun.
"Iya nak ibu memang ada disini", jawabnya pelan.
Saat itu aku mencoba memegang telapak tangannya yang ternyata cukup dingin.
"Maaf bu, apakah ibu sudah meninggal?", tanyaku dengan penuh keberanian.
Entah ada angin apa aku menanyakan hal tersebut, terkadang aku hanya ingin memastikan saja.
"Iya nak ibu sudah meninggal", jawabnya lagi.
"Ibu sudah berapa lama disini?", tanyaku yang semakin penasaran
"Sudah sangat lama sekali", jawabnya meyakinkan.
Seketika itu juga aku langsung memaksa terbangun dari dalam mimpi tidurku. Jantungku cukup berdegup kencang atas kejadian tersebut.
"Mengapa genggaman itu masih terasa nyata ketika aku bangun? Rasa dinginnya juga, kenapa aku ini? Apa aku halusinasi?", pikirku yang kebingungan.
"Tapi siapa wanita tadi yang di mimpiku? Bahkan aku sama sekali tidak bisa lihat wajahnya dengan jelas karena terlalu gelap", ujar ku semakin kebingungan menelaah semuanya.
☆☆☆
Namaku adalah Debba, aku seorang mahasiswi yang sangat menyukai hal-hal berbau tentang mistis. Namun aku anggap itu hanya hobi dan obsesiku terhadap orang-orang yang memiliki kemampuan khusus dibidang supranatural.
Sudah dari setahun yang lalu aku selalu memimpikan hal-hal aneh di luar nalar. Bahkan terkadang tak bisa ku jelaskan sendiri.
Aku hanya bisa menceritakan semua mimpi kepada teman circle ku, yang memang mereka sudah tahan banting dengan segala curhatan mimpiku yang cukup aneh.
"Guys, aku masa kemarin mimpi wanita berumur 40 tahun, tapi dia katanya udah meninggal", ujarku kepada teman-temanku.
"Hah siapa?", tanya Mela penasaran.
"Aku gak tau pasti sih, soalnya keadaannya juga gelap", jawabku.
"Coba tanya mama kamu deh Deb", timpal Safeera.
"Bener tuh", celetuk Nayatri.
"Hufft nanti aku coba tanyain deh", jawabku sambil menghela nafas.
Memang mimpiku terkadang sangat sulit di jelaskan. Tak jarang orang menganggap ku aneh, bahkan ada yang menyarankan aku untuk di ruqyah.
Tapi sebenarnya aku hanya merasa ingin di dengarkan saja, dan berbagi cerita agar kelak aku tidak terlalu takut lagi dengan mimpi itu.
Ketika aku sampai rumah, aku langsung melangkahkan kaki kearah ruang keluarga. Biasanya mama dan nenek ku sedang bersantai disana.
"Maa", panggilku.
"Kenapa?", tanya mama.
"Debba mau cerita. Masa Debba mimpi", ujarku yang sedikit ragu.
"Mimpi apa?", tanya nenek.
Kemudian aku ceritakan semua dari awal sampai akhir tentang mimpi itu pada Mama dan Nenek ku.
"Jangan-jangan itu mertua kamu kali", jelas Nenek yang berbicara pada Mama.
"Emang ciri-cirinya gimana?", tanya Mama padaku.
"Emm Debba sih gak liat orang nya karena gelap", jawabku.
"Makanya kamu lain kali sebelum tidur baca doa dulu", celetuk nenek.
"Hadeh sebenernya mau berdoa atau tidak itu gak terlalu berpengaruh. Buktinya aku masih tetap saja seperti ini", batinku kesal.
Lain dimulut lain dihati, aku tetap saja mengatakan "Ya" pada nenek ku.
Malam Harinya...
"Siapapun kalian tolong jangan ganggu aku lewat mimpi ya. Udah malem soalnya", ujarku sambil melihat sekeliling ruangan kamar.
Aku terbiasa berbicara seperti itu setiap malam dikarenakan perkataan tersebut lumayan ampuh untuk tidak membuat ku bermimpi aneh.
Bagiku bermimpi di malam hari feelnya cukup berbeda dan sedikit lebih mencekam keadaannya dibanding bermimpi pada siang hari.
☆☆☆
Kebetulan hari ini aku tidak ada kelas. Aku bisa sedikit leluasa untuk melanjutkan tidurku hari ini. Meskipun teman circle ku mengajak untuk nongki di luar, namun aku lebih memilih rebahan dirumah.
Ketika sedang asik memandangi layar handphone menonton channel youtubenya Filo Sebastian sang idolaku, tiba-tiba aku ketiduran dan bermimpi lagi.
Aku sedang menyusuri jalan yang tak lain itu adalah gang rumah ku sendiri. Keadaan dalam mimpi itu seperti siang hari tanpa adanya matahari. Mungkin bisa di katakan seperti mendung tapi dengan pencahayaan yang sedikit aneh.
"Kenapa semua rumah di gang aku terlihat seram sekali", batinku sambil terus melangkah perlahan demi perlahan.
Aku hanya bisa melihat rumah dengan keadaan yang sedikit suram tanpa penghuni. Namun ada salah satu rumah yang di mana di depannya seperti ada pakaian era tahun 90an.
"Hah kok banyak celana cutbray dan kemeja yang di gantung di teras rumahnya? Warna warni banget lagi", tanyaku dalam hati.
Tak lama aku memperhatikan bentuk rumahku yang mungkin sedikit berbeda dengan aslinya.
"Rumah ku kenapa auranya beda gitu dan jauh tampak lebih besar", pikirku.
Namun aku tetap melanjutkan langkahku. Tetapi aku berhenti di suatu rumah karena terkejut melihat sosok yang aneh sekali. Sosok itu mondar-mandir di depan teras rumah tersebut.
Ciri fisiknya sosok yang kulihat itu berkulit tipis berkerut, kulitnya berwarna mint gloss, bertubuh kurus, berkepala botak, bentuk kepalanya tak beraturan(tidak seperti manusia pada umumnya), berjalan lambat, dan seluruh matanya berwarna hitam pekat.
"Kok penampilannya aneh. Waduh jangan-jangan itu jin", pikirku sekilas ketika melihatnya.
Ketika sedang kuperhatikan dengan seksama, sosok itu langsung balik menatap ku perlahan.
Tapi pas aku sadar bahwa sosok itu menatapku juga, aku langsung membuang muka karena tak ingin keberadaanku di curigai olehnya.
"Oh iya jangan tatap matanya nanti ketahuan. Pura-pura gak liat dan jalan aja kedepan", batinku.
Aku juga tidak mengerti mengapa setiap bermimpi aku selalu reflek berfikiran seperti itu. Tapi aku memang selalu takut jika aku tidak bisa kembali.
Kemudian aku berjalan kembali dan tiba-tiba aku bertemu dengan pria berjumlah 3 orang. Penampilan mereka seperti manusia pada umumnya. Namun aku tidak ingat jelas wajah mereka. Yang kutahu hanya mereka seumuran denganku.
"Eh kamu mau ikut kita gak? Kita mau nyari boneka nih", ujar si pria pertama tersebut.
Sedangkan aku hanya terdiam bingung tak menjawab.
"Kamu tak perlu takut pada kita. Nanti kita anterin pulang kok", ucap si pria kedua.
"Ayo kita cari bonekanya", timpal si pria ketiga.
Tanpa sadar langkah kaki ku pun mengikuti mereka menuju keujung gang. Sebenarnya jika di dunia nyata itu adalah perempatan, tapi entah kenapa itu menjadi sebuah bangunan bertingkat kecil, ala rumah jepang.
"ughh tangga dan pintunya cukup kecil untuk badanku", keluh ku.
"Udah belum sih kalian?", tanyaku.
Namun mereka bertiga hanya sibuk mencari boneka yang aku saja tidak tau untuk apa boneka itu.
"Coba cari dikamar itu", ujar si pria itu pada temannya.
Kemudian boneka tersebut terlihat di kamar yang berada di tengah, tanpa perabotan. Boneka tersebut seperti boneka mainan anak kecil biasa, dan boneka itu bersender ke dinding.
"Aduh kayaknya udah terlalu jauh deh. Aku harus buru-buru pulang dan bangun lagi", batinku.
Aku mencoba untuk bangun, namun yang terjadi aku malah rep-repan/ketindihan. Tapi aneh sekali ketika sedang rep-repan/ketindihan, aku melihat sosok tiga pria itu berdiri di dekat lemariku.
"Hah apakah mereka bener-bener nganterin aku?", tanyaku bingung sekaligus takut.
Lebih kagetnya lagi ternyata aku baru tidur selama 45 menit, aku pikir perjalanan tadi cukup lama dan melelahkan sehingga membutuhkan waktu yang banyak. Tapi ternyata tidak.
Setelah kesadaranku pulih seutuhnya, aku langsung menemui mama ke kamarnya.
"Mama debba mimpi lagi", ucapku sedikit lebih takut.
"Mimpi apa lagi?", tanya mama.
Dan aku ceritakan lagi semua kejadian di mimpi tersebut. Bahkan itu sudah berulang untuk kesekian kalinya.
Aku merasa takut, bingung, aneh, dan ingin menyendiri memikirkan itu semua. Karena aku tau bahwa mimpi ini mempunyai sisi lain yang tidak aku ketahui.
Untung saja mama memiliki seorang teman bernama Icha. Tante Icha ini merupakan paranormal versi aliran putih, karena ia mendapatkan itu semua berkat kegigihannya terhadap dzikir dan bershalawat.
Malam pun tiba...
Tante Icha yang sengaja di undang oleh mama ku, untuk melihat maksud dari mimpi-mimpiku yang sudah mulai cukup mengganggu.
"Anak kamu indigo nih", ujar tante Icha dengan entengnya ke mama.
Aku mendengarnya hanya gemetaran, seperti tidak terima tentang pengakuan dari mulut seorang paranormal.
"Dan kamu Debba, ternyata kamu punya sosok pendamping juga rupanya", kata Tante Icha.
"Hah?!", aku semakin terkaget.
"Iyaa sosoknya keturunan dari Belanda", ucapnya lagi.
"Udah berapa lama ada di Debba?", tanya mama pada Tante Icha.
"Hmm dari kecil katanya", jawab Tante Icha.
"Terus mimpi-mimpi yang Debba alami itu?", tanyaku penasaran namun tetap takut.
"Itu sebagian memang nyata, kamu masuk ke alamnya mereka, dan kedepannya kamu yang akan mengetahui sendiri apa maksud dari mimpi-mimpimu", jelas Tante Icha.
Aku hanya tertegun mendengar penjelasan itu. Memang aku selalu berfikir betapa enaknya menjadi anak indigo. Tapi aku tidak siap jika harus menjadi anak indigo.
Ya memang sewaktu kecil melihat hal-hal ghaib itu sudah biasa. Tapi ketika mulai memasuki usia remaja, aku sudah tidak bisa melihat seperti itu lagi. Dan aku sangat tidak ingin hal itu terjadi ketika aku dewasa.
"Tapi nanti seiring berjalannya waktu, semua keahlianmu menjadi anak indigo akan terbuka sendiri", jelasnya lagi.
"Hah? Gamau tante takut", jawabku yang semakin ketakutan.
"Kenapa takut? Ini udah jadi takdirmu", jelas Tante Icha.
Setelah semua penjelasan yang aku dengar langsung, aku merasa seperti ketakutan. Rasanya aku ingin menyangkal untuk tidak menjadi anak indigo. Apalagi untuk melihat makhluk ghaib seperti waktu kecil.
"Jadi selama ini aku tidak halu dan gila?", batinku.
Hari-hari aku lewati dengan penuh khawatir dibayang-bayang menjadi seorang anak indigo, tapi aku tetap berusaha untuk menjadi manusia normal lainnya.
Meskipun mimpi-mimpi itu terus datang, aku masih sedikit belum terbiasa. Apalagi keanehan satu persatu pun mulai bermunculan. Akankah aku bisa melewati ini semua?
◇◇◇ Bersambung ◇◇◇