Kaisar adalah anggota unggulan Tohpati Intelligent Service (TIS) yang mampu meringkus lusinan teroris hanya dalam satu aksi. Merasa jenuh dengan kesehariannya, Kai memalsukan kematiannya dan berhasil meninggalkan TIS untuk bisa hidup normal sebagai seorang kepala keluarga, juga menggapai impiannya menjadi seorang ayah dan bahagia memiliki keluarga kecil.
Setelah 10 tahun hidup bebas tanpa naungan TIS, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Regina yang menjadi istri sekaligus ibu bagi anaknya. Regina adalah anggota Toughgvrl Club yang merupakan kumpulan wanita tangguh yang menguasai lebih dari 10 jenis bela diri. Club ini sangat rahasia. Mereka biasa beraksi dengan keahliannya untuk menolong warga sipil yang lemah secara diam - diam. Dengan keahlian yang Reg miliki, ia telah berhasil membantu lusinan keluarga yang ditindas oleh para preman yang kejam.
Dengan keahlian yang mereka miliki, Kai dan Reg sama sekali tidak mengetahui latar belakang mereka masing - masing. Reg mengira suaminya hanya seorang pria biasa begitupun sebaliknya. Saat ini Kai hanya bekerja sebagai kurir dan Reg hanya menjadi ibu rumah tangga biasa.
"Bugh ! Bugh ! Bugh !. Bangun sayang ! Dasar pemalas ! Kenapa kau sulit sekali bangun pagi?."
"Aaaargh sakit. Pelankan tanganmu !."
"Cepat mandi !."
Ceklek !
"Luna ! Cepat pergi sarapan !."
"Yes mommy."
Hari itu seperti hari biasa, aktivitas di pagi hari yang selalu terjadi. Tugasnya membangunkan anak dan suaminya,menyiapkan sarapan dan persiapan lainnya. Setelah semua siap Luna berangkat ke sekolah bersamaan dengan ayahnya bekerja seperti biasa.
Hari ini Kai mendapat tugas mengirimkan beberapa paket di rute area barat. Ia mulai memindahkan paket - paket tersebut kedalam truknya. Setelah semua paket masuk, ia mulai berjalan mengantarkan paketnya satu persatu ke alamat penerima.
Waktu semakin larut dan sampailah pada alamat terakhir. Dengan semangat ia turun dari truknya dan membawakan paket tersebut. Letak alamatnya didalam gang sempit dan harus menaiki tangga yang cukup tinggi untuk sampai ke bangunannya. Ia berjalan pelan sembari memperhatikan sekeliling dan betapa takjubnya ketika ia melihat bangunan yang sangat megah tersembunyi didalam gang yang sempit dan lumayan kumuh. Ia menekan bel yang ada di tembok bangunan tersebut dan keluarlah sang pemilik rumah.
"Ka-kau !"
Kai terkejut melihat pria yang tengah membukakan pintu untuknya. Ia segera menjatuhkan paket tersebut dan berlari meninggalkan bangunan itu begitu saja. Beberapa pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan senjata mengejarnya namun beruntung ia berhasil menghindar.
Sepanjang perjalanan ia berpikir sangat keras mengingat ingat siapa pria yang tak asing baginya itu. Ia sangat sulit mengenalinya karena separuh wajah pria itu dipenuhi bekas luka bakar. Hingga ia menemukan satu nama.
"Jarwo? Ahh tidak mungkin, harusnya dia sudah mati bersamaan dengan bom yang aku ledakkan di markasnya."
Jarwo adalah target operasinya dulu ketika ia masih menjadi anggota TIS. Ia adalah ketua sindikat narkoba terbesar di wilayah itu. Waktu itu Kai berhasil menghabisi seluruh anggota sindikat narkoba tersebut hingga markasnya rata dengan tanah.
Kai pulang dengan raut wajah yang tampak lesu. Ia berusaha menutupinya namun tetap saja terlihat kekhawatirannya. Bukan dirinya yang ia khawatirkan, melainkan keluarga kecilnya. Dia tahu betul bahwa Jarwo pasti akan mencari tahu semua tentang dirinya untuk balas dendam. Ditambah lagi ia sekarang sudah tidak berada dalam naungan TIS lagi yang artinya ia harus bekerja dan melindungi keluarganya dari penjahat besar itu seorang diri.
"Kau benar - benar tidak akan pergi bekerja hari ini ?." Kai hanya menggelengkan kepalanya tanpa menyahuti pertanyaan istrinya.
"Suhu badanmu sama sekali tidak panas. Awas saja kalau bulan ini kita kekurangan uang untuk bayar tagihan."
"Ayah aku akan memesan taksi online hari ini !."
"Baiklah,pulangnya ayah akan menjemputmu!." Luna berlalu begitu saja menuju pintu keluar hendak meninggalkan kedua orang tuanya.
"Hey hey hey ! Dengar kata ayah ? Jangan pulang sendirian ! Tunggu ayah." Kai mengencangkan suaranya karena Luna tak menghiraukan perkataannya.
"Iyaaaa. Aku tidak congek ayah."
Brak !
"Dasar anak nakal !"
Kai melanjutkan sarapan sambil mendengarkan ocehan sang istri. Hingga tiba - tiba ia mendengar suara panggilan dari ponselnya.
"Kaiiiiii. Tolong aku ! Aku belum mau mati..." Terdengar suara pria paruh baya yang tak asing baginya tengah ketakutan,ia adalah manager ditempatnya bekerja.
"Pak manager ? Apa yang terjadi ?."
"Hahaha Kaisar ? Apa kabar ? Masih ingat denganku? Kudengar kau memiliki gadis kecil, bolehkah aku berkenalan dengannya? Hahaha."
Kai panik bukan main saat pria itu menutup panggilan telponnya secara sepihak. Ia bergegas menjemput anaknya ke sekolah.
"Sayang aku harus pergi menjemput Luna. Kau tetaplah dirumah jangan pergi kemanapun hingga aku dan Luna kembali !."
Regina hanya mengangguk bingung karena tidak tau apa yang terjadi. Dia pikir itu bukanlah masalah besar karena Luna memang sering diganggu oleh teman - teman sekolahnya dan Kai selalu datang untuk menyelesaikannya.
Benar saja,saat sampai disekolah Luna tengah ditarik paksa oleh beberapa pria berbaju serba hitam hingga membuat para guru dan murid yang menyaksikannya ketakutan lantaran mereka membawa senjata. Kai segera berlari menyelamatkan Luna dan melawan pria - pria itu satu persatu. Tanpa membutuhkan waktu lama, Kai berhasil melumpuhkan mereka seorang diri. Semua guru dan murid pun bertepuk tangan secara bersamaan melihat aksi Kai. Luna yang selama ini menjadi korban bully oleh teman - temannya pun tersenyum bangga melihat aksi ayahnya. Ia juga tidak menyangka bahwa ayah yang selama ini terlihat lemah didepan orang lain bahkan didepan ibunya sendiri berhasil mengalahkan segerombolan pria seram dengan mudah.
"Ayo cepat kita pulang !."
"Ayah. Apa kau benar ayahku."
Kai bergegas membawa Luna pulang kerumah untuk menemui Regina. Namun betapa terkejutnya mereka ketika melihat seisi rumahnya telah hancur berantakan. Pikirannya tak karuan, ia takut terjadi apa - apa pada istri tercintanya.
Dengan sangat terpaksa Kai pun akhirnya menghubungi Dars salah seorang rekan lamanya yang masih berada di TIS untuk membantunya. Ia tak punya pilihan lain karena ini menyangkut keselamatan keluarganya. Karena anggota Jarwo yang begitu banyak, tentu saja Kai akan kuwalahan menghadapinya seorang diri tanpa bantuan profesional.
Drrrt. Drrrrt. Drrrt ia segera meraih ponselnya.
"Tenanglah, istri cantikmu aman bersama kami. Datanglah tepat waktu karena setiap menitnya berharga. Jika kau terlambat satu menit saja maka jari istrimu akan ku potong berlaku kelipatannya Hahahaha."
"Sial !."
Kai berlari menuju dapur dan membuka salah satu pintu kitchen set. Luna pun terkejut melihat ternyata disitu ada ruang rahasia yang berisi perlengkapan senjata. Kai segera membalutkan rompi anti peluru di tubuhnya dan juga tubuh Luna.
Ia melajukan mobilnya menuju markas Jarwo yang pernah ia datangi sebelumnya saat mengirim paket. Ia turun dari mobilnya dan memegang erat tangan Luna. Ia masuk kedalam bangunan tersebut yang didalamnya telah menunggu Jarwo beserta puluhan anggotanya dan juga Regina yang menjadi tawanan.
"Sayaaaaang ! Lunaaaaa !."
"Ibuuuuuu !."
"Aku mohon ampuni suamiku, kau lihat kan betapa kasihannya dia. Kau salah orang, apa salah suamiku? Tolong lepaskan kami !."
"Hahaha suamimu belom pernah memberitahumu ya ? Dia adalah agen terbaik Tohpati Intelligent service."
"Apa ? Tidak mungkin ! Kau salah orang."
"Dia hanya pria lemah yang bekerja sebagai kurir. Gajinya pun hanya sedikit. Aku mohon kasihanilah kami."
Dubruk Dubruk Dubruk !
Dars dan pasukannya tengah masuk dan mengepung tempat itu. Namun dengan sigap anggota Jarwo menembakkan pelurunya kearah beberapa anggota TIS hingga mati seketika.
"Aku memintamu untuk datang sendiri Kai ! Maaf aku membunuh mereka. Hahaha bukankah dulu kalian menghabisi semua anggotaku ? Itu belum seberapa."
"Lepaskan istriku ! Aku yang bersalah,bawalah aku bersama kalian !."
Jarwo melepaskan Regina dan mendorongnya ke depan menuju suami dan anaknya. Keluarga itu terlihat saling berpelukan satu sama lain dan menangis.
"Habisi mereka !." Jari telunjuk Jarwo mengarah pada Kai dan Dars. Anggota TIS yang dulu menghabisinya.
"Tidaaaaaak !"
Bugh
"Jangan sakiti suamiku."
Regina terlihat melayangkan tendangan tepat di wajah Jarwo hingga membuatnya jatuh seketika dan berhasil membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut tercengang dibuatnya.
"Sayang ?."
"Siapapun yang berani menyakiti suamiku,hadapilah aku !." Regina siap menyerang anak buah Jarwo. Ia pun berhasil mengalahkan beberapa pria yang menyerangnya. Dars,Kai dan juga Luna sangat terkejut dan membulatkan kedua bola mata mereka dengan sempurna melihat aksi Regina yang sangat luar biasa.
"Kalian tidak ada rencana membantuku? Hey anggota terbaik TIS?."
Perkataan Regina membuyarkan tatapan Kai dan Dars yang sedari tadi memperhatikan aksi Regina. Mereka bertiga segera melawan puluhan anggota Jarwo hingga habis tanpa sisa secara bersamaan.
Jarwo memohon ampunan dibawah kaki Kai dengan tubuh yang sudah dipenuhi luka. Dars segera menyerahkannya pada anak buahnya untuk segera dibawa kekantor polisi.
"Apa maksudmu memalsukan kematianmu ?."
"Sayang kau belajar berkelahi dari mana ?."
"Kenapa kau membawa keluargamu kedalam bahaya? dasar suami pemalas !."
"Ayah,ibu ? Apa benar kalian orang tuaku ?."
Akhirnya mereka terlibat dalam pertanyaan pertanyaan sulit satu sama lain.
Selesai.