Ramadhani nama gadis cantik yang bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik udang di kota Medan.
Kebiasaan nya yang sering dari pagi pulang malam, tergantung dari shifnya membuat Rama begitu rajin saat bekerja.
Hidup sebagai orang biasa butuh uang untuk menghidupi kedua anaknya. Ya, Rama seorang janda beranak dua.
Awal cerita saat ia pulang malam ketika ia memasuki shift siang pulang pukul sebelas malam. Saat itu ia harus pulang berjalan kaki seorang diri.
Rumahnya dengan jalan raya sangatlah jauh. Rumah Rama jauh masuk kedalam, melewati pohon bambu dan juga pohon rambutan.
"Ma, kamu berani pulang sendiri? Nggak takut? Bukannya rumah mu jauh masuk ke dalam ya?" tanya Tina rekan kerja Rama di pabrik.
Raam tersenyum, "Nggak lah! aku tuh udah biasa pulang malam-malam. Jadi ya.. udah biasa aja gitu!" sahut Rama santai.
Tina menatap Rama dengan lekat. "Kamu yakin? Bukannya di daerah tempat tinggal mu itu rawan yang begituan ya?" selidik Tina.
"Yakinlah! Emang kamu, Penakut!" sahutnya sembari tersenyum mengejek kepada Tina.
"Kau ya! Di kasi tau malah tak percaya! Ya sudah! Awas saja kamu kalau cerita nanti di pabrik, ku timpuk pakai sepatu boot tau rasa kamu!" ketus Tina.
Rama tertawa saja. Saat ini mereka masih di dalam bus karyawan. Mereka pergi dan pulang menggunakan bus pabrik yang memang di sediakan khusus untuk menjemput dan mengantar pulang para pekerja nya.
Raam diam-diam membenarkan apa kata Tina tadi. Untuk sesaat ia melamunkan seorang tetangga nya Nek Misa namanya.
Saat itu masih sore jam empat sore. Belum terlalu sore. Hanya saja baru selesai adzan ashar di mushola dekat mereka.
Nenek Misa sore itu sedang mengantar makanan untuk diberikan ke mesjid. Karena di tempat mereka mengadakan acara Maulid Nabi Muhammad Saw.
Dalam rangka merayakan acara itu, setiap rumah masing-masing di pungut satu bungkus nasi. Untuk dibagikan para warga yang akan mengikuti acara maulid nabi di mesjid nan jauh dari rumah mereka.
Selepas adzan Nenek Misa segera mengantar kan nasi itu di tempat yang sudah di tentukan. Mereka terus berjalan ke tempat itu melewati pohon rambutan yang terkenal angker di tempat mereka.
Nenek Misa dan tetangga yang lain segera mengantarkan nasi itu ke tempat tujuan. Setelah selesai mereka kembali pulang.
Melewati lagi pohon rambutan yang terkenal angker itu. Saat itu Nenek Misa masih bercakap-cakap dengan tetangga nya sambil berjalan pelan.
Tanpa di duga kaki Nenek Misa tersandung akar Rambutan itu hingga jatuh. Namun aneh nya, Nenek Misa tidak jatuh di tempat.
Namun Nenek Misa jatuh terjungkal ke depan hingga tiga meter jauhnya. Nenek Misa dan tetangga itu terkejut.
"Astagfirullah.. Aduhh..." pekik Nenek Misa.
"Astagfirullah Cu! Hati-hati!" tegur tetangga Nenek Misa.
"Ya Allah.. sakit sekali lututku. Kok bisa ya aku hingga terjungkal begitu jauh dari akar itu? Seharusnya kan, aku terjatuh nya disana? Lalu, kenapa hingga aku terbang kesini?" tanya mau pada tetangga Nenek Misa.
Ingin tertawa sebenarnya tetangga Nenek Misa ini. Tapi takut, jika Nenek Misa ini malu nantinya. Jadilah ia diam saja.
Belum lagi, di bawah pohon itu bulu kuduknya berdiri. Suhu di belakang tubuhnya tiba-tiba menjadi dingin.
Ia merinding seketika. Tetangga Nenek Rian mengusap tengkuknya buang terasa merinding. Bulu romanya berdiri.
Ia memikirkan hal yang aneh saat berada dibawah pohon rambutan itu. "Apakah penunggu pohon rambutan ini yang mendorong Ucu Misa tadi ya? Masa' sih? Bukankah ini masih siang? Masih jaman emapt sore pula. Hiiii.. kenapa pula ini bulu kuduk berdiri? Pulang ah!" gumam nya aemabri mendekati Nenek Misa yang sedang terduduk mengusap kedua lututnya.
"Ma! Rama!! Kita sudah sampai, ayo turun! Kamu mau, balik ke pabrik lagi?" celutuk Tina merasa kesal kepada Rama.
Rama terkejut. Ia terkejut mendengar ucapan Tina baru saja. Rama tersadar dari lamunannya tentang cerita nenek Misa dua Minggu yang lalu saat ia bertandang ke rumah tetangga nya itu.
"Eh? Iya! Ayo kita turun!" Sahutnya setelah sadar jika Tina tadi menegurnya.
Setelah turun dari bus, kini mereka berdua terus berjalan menyusuri jalan setapak masuk ke dalam lokasi rumah mereka.
Raam berjalan seperti orang bingung. Tina yang melihatnya keheranan. "Kamu kenapa Ma?"
"Hah? Enggak.. hanya saja.. benar apa yang kamu katakan. Kalau.. di bawah pohon rambutan itu.. seram!" lirih Tama begitu pelan di ujung kalimat nya.
Tiba menoleh dan berhenti melangkah saat dirinya sudah tiba di depan rumahnya. "Apa sebaiknya kamu menginap dirumah ku? Aku jadi khawatir melepasmu. Belum lagi waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kamu disini saja ya? Baik pagi-pagi sekali kita berangkat sekolah bersama. Ya?" bujuk Tina.
Tama terdiam. Ia memikirkan kedua anaknya yang di tinggal bersama neneknya. "Tak usah lah Na. Aku pulang saja. Kasihan kedua anakku dirumah. Pastilah besok pagi mereka bertanya kemana aku semalam Kenapa tidak pulang?"
" Tapi aku khawatir dengan mu.." lirih Tina.
Tama tersenyum. "Tak apa Na. Aku pulang ya? sampai jumpa besok pagi." Ucapnya, setelah itu Rama bergegas pulang kerumahnya.
Tina menatap kepergian Rama dengan rasa khawatir. Namun, ia tidak bisa menahan Rama karena benarapa yang dikatakan oleh nya jika kedua anaknya pastilah mencari nya besok pagi saat bangun tidur.
Tama terus berjalan dengan tenang. Walau hati diserang rasa gundah, namun ia tetap melangkah kan kakinya untuk pulang kerumahnya.
Tiba di bawah pohon rambutan itu, Rama sudah merasakan sesuatu yang aneh disana. Namun ia tetap berjalan dengan tenang.
Ketika tiba di bawah pohon rambutan itu, tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Bulu halusnya berdiri.
Ia mengusap tengkuknya beberapa kali. Ingin menoleh, tapi ia tau jika sekarang ia sedang berada di kawasan anker yang terkesan horor bagi tetangga nya.
Sebenarnya Rama ini tidaklah penakut orangnya. Entah kenapa tiba-tiba saja rasa takut itu muncul di hatinya.
Rama terus berjalan dengan sesekali bergumam kecil. "Kok merinding ya? Biasanya kan enggak? Kenapa pula malam ini jadi sepi begini? Biasanya Ayah Maulana pastialh selalu pulang malam? Kenapa pula ia tidak muncul? Hadeeuuhhhh.. mana ni udara semakin dingin lagi." gumam Rama svil berjalan.
Ia terus berjalan dengta lurus kedepan. Memandang sesuatu yang rimbun disana. "Apa itu? Hitam? Siapa pula pakai baju hitam malam-malam begini? Apa jangan-jangan.. Ayah Maulana? Ah mana mungkin! Ini kan malam Jum'at?" celutuk ya pada diri sendiri.
Kaki Rama terhenti tiba-tiba. Ia ingin lari tapi tak bisa. Seperti terpaku di tanah saat mengingat Jiak malam itu adalah mmalasm Jum'at.
Kakinya bergetar. Jantungnya berdegup kencang seperti ingin keluar rasanya. Berulang kali ia berusaha lari, tetap saja tidak bisa.
Sedangkan sesuatu yang hitam itu semakin mendekati nya. Rama. semakin panas dingin. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Astagfirullah! Ternyata malam ini malam Jum'at! Aku lupa! Ingin lari, tapi kaki ku tertanam disini. Haduuhh... itu apa lagi yang bergelantungan disitu? Aku harus apa ya Allah..." lirihnya dengan air mata yang sudah bercucuran.
Tiba-tiba saja kakinya itu bisa diangkat. Secepat kilat Rama berlari hingga kerumah nya. Tiba dirumah nya ia menoleh ke belakang.
Deg!
"Ternyata si hitam itu mengikuti ku! Ya Allah.. selamat aku dari jin itu.. Mak!!!" pekik Rama memanggil Mak nya.
Mak nya yang terkejut pun dengan segera membuka pintu. "Kenapa kamu?"
" Tutup pintunya Mak! Jin hitam penunggu pohon rambutan itu mengikuti ku! Begitu juga Nyi Kunti! Mereka sengaja menunjukkan nya pada ku! Aku mau bersih-bersih dulu Mak. Setelah nya tidur!" Sahut nya.
Dengan segera Mak nya ramaenutup pintu. Sekilas mengenai benda ia melihat jika sosok yang di sebutkan oleh Rama tadi memang kah mengikutinya.
Dan kebetulan sekali di depan rumah Rama juga ada pohon rambutan nya. Jadilah dia makhluk tak kasat mata itu nangkring di sana.
Setelah kejadian itu, Rama tidak lagi pulang malam sendirian. Rama pulang pastialh dengan adik tirinya yang kebetulan bekerja di tempat yang sama dengan nya.
Uusit punya usut, ternyata Adik tiri Rama ini juga pernah mengalami hal serupa. Ia di ikuti olehNyi Kunti saat pulang kerja malam Minggu kemarin.
Padahal masih jam sembilan malam. Lagi, adik tiri Rama yang perirmpuan juga mengalami hal yang sama.
Ia juga di ganggu pada saat Maghrib mengangkat jemuran kakak iparnya. Dia di kejutkan oleh siar orang mendengus keras.
Saat dilihat orangnya tidak ada. Dan bertepatan dengan itu, Ia melihat sesuatu yang putih melayang terbang ke atas baru saja keluar dari pohon bunga melati ya di depan rumah.
Saking takutnya dia, ia menjerit memanggil Mak nya. Begitu juga dengan Rama. Ia juga melihat sosok yang sama melewati atap rumahnya.
Dengan segera ia menutup pintu.
Semenjak kejadian hari itu, semakin banyak kejadian-kejadian yang aneh menyusul. Ayah Maulana pun sama.
Ia melihat seperti bayangan ular sedang melintas. Saat ingin dilindas buangan ular itu tidak ada. Jadilah Ayah Maulana menarik pedla gas hingga Mak Maulana yang duduk di belakang hampir jatuh terjunkan ke belakang dengan keadaan motor yang terus berjalan.
Tak lama setelah itu, Mak Lana juga mengalaminya. Ia di tunjukkan dengan NYI Kunti bergelantungan di pohon rambutan itu.
Sesekali suara cekikikan nya terdengar, hingga membuat Mak Lana ketakutan. Namun ia tidak berlari.
Malah ia mendekati pohon itu. Dan ketika di dekati, tidak ada siapa-siapa di sana. Jadilah Mak Maulana seperti orang bingung.
Ia tau jika itu NYI Kunti, tapi sengaja mendatangi nya. ingin tau, apakah nyai Kunti itu ingin berhadapan dengan nya langsung. Begitu pikirnya.
Semakin hari semakin horor saja itu Pujon rambutan. Buahnya yang banyak dan manis. Belum lagi pohonnya semakin rimbun membuat pohon itu terkesan angker ketika melewati nya.
Desas desus perihal penunggu pohon itu sampai hingga ke telinganya si pemilik. Tau jika itu akan mengundang bahaya bagi orang lain, maka ia berniat ingin menebang pohon itu.
Dan ya, satu tahun kemudian pohon itu di tebang. Dan tidak ada lagi pohon rambutan yang lebat buah serta rindang pohonnya.
Namun, pemilik ladang itu malah menggantikan nya dengan menanam pohon pisang. Malah bertambah seram lagi jadinya.
Ternyata, di depan pohon rambutan itu ada kuburan tua yang tidak ada lagi nisannya. Konon katanya, setiap kali malam Jum'at sang pemilik kuburan tua itu selalu datang dan duduk di pohon rambutan itu.
Namun setelah pohon itu di tebang, semua itu kembali aman. Tapi hanya sementara. Setelah pohon pisang itu tumbuh besar, malah bertambah gelapkan ladang itu.
Walaupun di depan ladang itu ada rumah, tetap saja. Sudah terkesan horor dari dulunya tetap menjadi horor.
Bagi tetangga yang sudah biasa mereka tidak peduli lagi dengan penampakan itu.
Ditebang pohon rambutan tapi ditanam kembali pohon pisang!
Balik lagi ke asal mula. Hadeuhhh..
** Cerpen ini kisah nyata di tempat othor ya. Othor sendiri yang menjadi saksinya. **