Malam Jum'at Kliwon
Rafael Dimitri seorang pemuda tampan nan penuh kharismatik, dan saat ini dia sedang bersiap-siap untuk pergi menemui kekasihnya yang bernama Sekar Ayu.
Ya, malam ini mereka berdua berjanji untuk bertemu di sebuah restoran pinggir jalan yang cukup viral di sebuah aplikasi sosmed. Dan katanya menu makan di restoran itu juga sangatlah enak dengan harga yang cukup terjangkau.
Setelah selesai bersiap-siap, kemudian Rafael melangkah perlahan menuju kamar ibunya untuk meminta izin.
Dengan sekali ketukan pintu, ibu Rafael langsung menyahut dan mempersilahkan anaknya untuk masuk.
Rafael pun masuk ke dalam kamar ibunya. Namun setelah dirinya masuk, Ia cukup kaget melihat sosok pahlawannya sedang berbaring lemas di atas tempat tidur.
"Ibu kenapa?" tanya Rafael seraya berhambur menghampiri ibunya yang berbaring lemas di atas dipan.
"Ibu tidak apa-apa nak? mungkin ibu sedang kecapean," ucap Romlah sambil menyunggingkan senyuman.
"Benar, ibu tidak apa-apa?" tanya Rafael memastikan.
"Iya Nak, ibu tidak apa-apa," ucapnya disertai senyuman.
Kemudian Romlah melihat penampilan anaknya dari atas sampai bawah.
"Sangat Rapi," batin Romlah sambil mengerutkan kening. Dengan rasa penasaran yang membuncah, kemudian Romlah menanyakan pada Rafael, untuk apa dia berpakaian rapi seperti itu.
Rafael tersenyum.
Kemudian dia menjelaskan pada ibunya, bahwa malam ini Ia akan bertemu dengan perempuan idamannya yang bernama Sekar Ayu, untuk melakukan makan malam Romantis di sebuah restoran pinggir jalan yang berada tepat di ujung kampung.
Romlah mengernyit. Lalu dia mengatakan pada anaknya Rafael, bahwa ini bukanlah malam Minggu melainkan malam Jum'at Kliwon.
Bahkan saat ini sedang bulan purnama, dimana semua para mahluk tak kasat mata sedang berkeliaran bebas di luar sana.
Rafael menggenggam lembut tangan ibunya, lalu dia mengusapnya dengan lembut. Sambil menyakinkan ibunya bahwa di jaman modern seperti sekarang ini sudah tidak ada lagi hal tahayul seperti itu.
"Ibu tau 'kan, dari dulu aku memang tidak percaya dengan hal seperti itu," ucap Rafael akhirnya.
Bu Romlah tampak tidak senang dengan ucapan anaknya. Namun, walaupun demikian Ia kembali mengingatkan pada Rafael agar tidak pergi keluar rumah malam ini.
"Sayang, sekali lagi dengarkan perkataan ibu, jangan keluar rumah malam ini, bukankah masih ada kesempatan di lain hari, apa lagi besok malam itu adalah malam Minggu, di situ saja kalian berdua bertemu," jelas Bu Romlah. Berharap anaknya Rafael mengerti dengan kecemasan yang membuncah di dalam benaknya.
Rafael terdiam sesaat, memikirkan ucapan ibunya. Dan sejurus kemudian terngiang di dalam pikirannya wajah sedih kekasih hatinya Sekar, jika makan malam romantis yang mereka rencanakan sejak seminggu yang lalu akan dibatalkan dengan alasan yang tidak jelas.
Rafael menarik lembut tangannya dari genggaman ibunya, kemudian dia berdiri.
"Maafkan aku ibu, aku dan Sekar akan tetap melanjutkan makan malam itu, karena aku tidak ingin melihat raut kesedihan di wajah Sekar, jika makan malam ini batal," ujar Rafael lembut. Lalu dia menatap sayu raut kekecewaan yang tergambar jelas di wajah ibunya.
"Sekali lagi maafkan aku ibu," batin Rafael.
Bu Romlah terdiam, karena dia tidak tau lagi bagaimana cara membujuk Rafael agar tidak keluar rumah malam ini.
Dengan pasrah, akhirnya Romlah pun membiarkan anak semata wayangnya itu keluar rumah, dengan catatan Rifki tidak boleh melewati pemakaman umum yang berada di bawah pohon beringin yang ada di tengah kampung.
Rafael mengeryit, lalu dia menanyakan alasan mengapa ibunya tidak memperbolehkan dirinya untuk melewati pemakaman tersebut?
"Pokoknya tidak boleh," ucap Bu Romlah dengan sedikit berteriak.
Rafael seketika mendongak menatap wajah ibunya, lalu dia menanyakan sekali lagi kenapa dirinya tidak boleh melewati pemakaman itu.
"Kalau ibu bilang tidak boleh, ya tidak boleh," ujar Bu Romlah dengan penuh tekanan.
Rafael menarik nafas dalam, Ia tau betul dengan sikap ibunya yang tidak mau dibantah sedikitpun.
"Baiklah Bu," ujar Rafael pasrah. Dengan begitu, perdebatan itu akan berakhir. Sebab, kalau diteruskan sampai pagi pun akan terus berlanjut, bisa-bisa dirinya tidak jadi melakukan makan malam romantis bersama dengan Sekar.
Romlah tersenyum. Lalu dia menyodorkan tangannya pada Rafael.
Rafael yang mengerti dengan isyarat ibunya, kemudian dia mendekat dan langsung meraih punggung tangan ibunya, lalu dia mengecupnya dengan penuh kasih.
"Rafael, pamit Bu."
Romlah tersenyum, lalu dia mengusap lembut rambut Rafael.
"Iya Nak, hati-hati dijalan."
Setelah mendapat izin dari ibu tercinta, kemudian Rafael melangkah perlahan keluar dari dalam kamar ibunya.
Namun baru saja Rafael berada di ambang pintu, tiba-tiba ponsel yang berada di saku celananya berdering, dan ternyata itu adalah panggilan dari sang kekasih hati. "Sekar."
Rafael buru-buru melangkah keluar dari dalam rumah, karena takut Ibunya mendengar pembicaraan mereka.
"Hallo," jawab Rafael, setelah Ia berada di luar rumah.
Sekar langsung mengoceh tak karuan, setelah panggilannya terhubung dengan Rafael. Sebab, sudah hampir satu setengah jam dirinya menunggu kedatangan Rafael di depan rumah.
Bahkan orang tuanya juga sudah menyuruhnya untuk segera tidur karena Rafael tak kunjung datang menjemputnya.
"Iya...iya, maafkan aku karena membuatmu menunggu terlalu lama," ujar Rafael. Lalu dia merogoh kantong celana dan mengeluarkan kunci motor metik miliknya.
"Pokoknya aku tidak mau tau, kalau kamu tidak sampai dalam waktu Lima menit, maka makan malam ini akan aku batalkan," ujar Sekar sambil mematikan sambungan Ponselnya.
Rafael kalang kabut kala mendengar ancaman Sekar, lalu dia dengan secepat kilat melajukan motor metiknya. Dan tanpa peduli Iapun akhirnya melewati pemakaman umum yang diperingatkan oleh ibunya tadi.
"Huh…. akhirnya dalam waktu Lima menit aku sampai juga di rumah Sekar, untung ada jalan pintas," ujar Rafael sembari turun dari motor, lalu dia berjalan tergesa menghampiri Sekar yang tampak cemberut.
"Sudah dong sayang, jangan cemberut lagi, kan mas sudah sampai," ujar Rafael sambil meraih tangan Sekar.
Namun Sekar langsung menepis tangan Rafael dengan secepat kilat. Karena dirinya masih terlampau kesal dengan keterlambatan Rafael.
Melihat reaksi kekesalan berlebih yang ditunjukkan oleh sang kekasih, kemudian Rafael mengeluarkan jurus gombalan maut yang ia miliki.
Hingga akhirnya, Sekar pun luluh dan memaafkan keterlambatan Rafael.
"Sekali lagi jangan di ulangi ya mas, karena aku tidak suka," celetuk Sekar sambil menoel dada bidang Rafael yang di barengi dengan cengengesan manja Sekar.
"Iya...iya, maafkan mas," ujar Rafael.
Lalu dia meraih lembut jari-jemari Sekar, kemudian dia meletakkan di dada bidang miliknya.
"Peluk yang erat," ujar Rafael. Kemudian dia melajukan motor metiknya dengan perlahan.
Dalam keheningan malam, motor matic itu terus melaju, hingga akhirnya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu pun kini sudah sampai di tempat tujuan mereka.
Dengan senyum mengembang, sepasang kekasih yang dimabuk asmara itu pun turun dari motor sambil bergandengan tangan menuju restoran.
Sesampainya di dalam restoran, Rafael mengarahkan pandangan ke sudut demi sudut.
Hingga akhirnya sepasang netranya tertuju pada sebuah kursi yang berada di pojok ruangan.
"Sayang, kita duduk di pojok sana saja, yuk…!" tunjuk Rafael pada kursi yang agak jauh dari keramaian dan tempatnya juga tampak sepi. Mungkin, karena malam ini adalah malam Jum'at Kliwon. Hingga para pengunjung yang datang ke restoran itu tidak terlalu ramai seperti biasanya.
Sekar mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud oleh Rafael.
Baru saja Rafael dan Sekar mendudukkan bokongnya tepat di atas kursi, pramusaji pun langsung datang menghampiri sambil meletakkan buku menu di hadapan keduanya.
Rafael menatap kearah Sekar yang tampak serius memilih menu makan yang berada di hadapannya. Hingga membuat dirinya tersenyum miris, karena Rafael tau sang pujaan hati sedang memilih makanan yang paling murah diantara jejeran semua menu.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu lama memilih menu makanannya, kasihan pelayan terlalu lama menunggu," ujar Rafael.
Sekar tersenyum, lalu dia memberitahukan kepada pelayan restoran itu makanan apa saja yang dia pesan.
Setelah mencatat pesanan Sekar, kemudian pelayan itu pergi untuk menyiapkannya.
Rafael dan Sekar berbincang-bincang sebentar sambil menunggu pesanan mereka datang.
Namun saat berbincang-bincang dengan Sekar tiba-tiba penglihatan Rafael memudar. Ia merasa seolah ada perempuan lain di dekatnya selain Sekar. Dan perempuan itu sedang melambaikan tangan sambil tersenyum manis kearahnya.
Buru-buru Rifki mengucek mata, dan memastikan penglihatannya barusan.
Namun anehnya dia tidak menemukan siapapun di dekatnya selain sang kekasih hati Sekar.
"Apa aku hanya berhalusinasi? tapi tidak mungkin, aku tadi melihatnya dengan jelas," batin Rafael.
Kemudian dia mengusap tengkuk lehernya yang terasa semakin meremang.
Sedangkan Sekar yang melihat gelagat aneh dari sang kekasih, kemudian dia mengulurkan tangan untuk menggenggam jari-jemari Rafael.
"Ada apa sayang? apa kau baik-baik saja? dan sejak tadi aku perhatikan gelagat mu sedikit aneh, apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Sekar.
"Aku tidak apa-apa sayang," jawab Rafael kemudian dia tersenyum untuk menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Sekar yang merasa tidak puas dengan jawaban Rafael, kemudian dia kembali memastikan apakah sang kekasih hati baik-baik saja.
Namun, jawaban Rafael tetap sama, dan mengatakan pada Sekar kalau dirinya baik-baik saja.
Tidak berselang lama, pesanan mereka pun datang. Kemudian pasangan kekasih itupun akhirnya melakukan makan malam romantis bersama.
Namun, pada saat spaghetti milik Rafael tinggal sesuap lagi dan hendak menyendokkan kedalam mulut. Tiba-tiba dia melihat spaghetti itu berubah menjadi cacing tanah dan saat ini sedang menari-nari di atas piring dan sendok yang dia gunakan.
Dengan refleks Rafael membanting piring dan sendok yang berada di tangannya ke sembarang arah. Hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.
Dengan rasa jijik yang menjalar di sekujur tubuh, kemudian Rafael berusaha memuntahkan isi perutnya.
"Huek...huek…," Rafael terus berusaha memuntahkan spaghetti itu dari dalam perutnya.
Namun pasta yang berbentuk silinder tipis itu tak keluar sedikitpun, bahkan sekarang bola matanya sudah memerah karena berusaha mengeluarkan spaghetti dari dalam perutnya dengan paksa.
Sekar yang melihat sang kekasih sedang kesulitan kemudian dia membantunya dengan memijat tengkuk leher Rafael, sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Kamu kenapa tiba-tiba membuang spaghetti itu, memangnya ada yang aneh?" tanya Sekar mulai menelisik wajah sang kekasih.
Sedangkan yang ditanya hanya diam saja, mana mungkin Rafael menceritakan pada Sekar kalau spaghetti miliknya berubah menjadi cacing tanah yang sangat menjijikkan. Bisa-bisa dirinya disebut orang gila.
Sekar yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaan nya, kemudian dia berdecak kesal.
Hingga beberapa menit berlalu, Rafael pun mengajak Sekar untuk pulang.
"Ayo kita pulang, sepertinya hari sudah semakin larut," ucap Rafael kemudian dia melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan lalu dia menarik nafas dalam.
"Jam dua belas," batin Rafael.
Sedangkan Sekar yang diajak pulang, ia hanya memanyunkan bibir beberapa senti ke depan, ada sedikit rasa kesal yang menjalar di lubuk hati, karena sebenarnya dia masih ingin berlama-lama di kafe itu.
"Baiklah, lain kali kalau datang berkunjung ke mari aku tidak mau malam-malam, waktunya mepet, belum juga sempat melakukan hal romantis, eh...kamu sudah mengajak aku pulang," Sekar pun mengoceh panjang lebar.
Sedangkan Rafael hanya mampu mengusap dada melihat tingkah laku sang kekasih.
Setelah membayar pesanan mereka, akhirnya pasangan kekasih itupun melangkah keluar meninggalkan kafe, dan langsung berjalan menuju motor matic milik Rafael yang terparkir di halaman.
"Jangan manyun begitu dong sayang, kan kita besok-besok masih bisa datang ke sini," ucap Rafael sambil mencubit pipi mulus Sekar dengan manja.
"Iya... iya, kamu janji ya kita akan kembali lagi ke sini," ucap Sekar.
Rifki tersenyum, lalu dia mengecup kening Sekar.
"Iya, aku janji," ujarnya kemudian.
*****
Setelah mengantarkan sang kekasih pulang kerumahnya, kemudian Rafael kembali melewati pemakaman umum. Padahal sang ibunda tadi sudah mengingatkan agar Rafael tidak melewati pemakaman itu.
Namun, karena itu adalah satu-satunya jalan pintas agar dia cepat sampai ke rumah, tanpa pikir panjang Rafael pun kembali melewati pemakaman itu.
"Ah... persetan dengan malam Jum'at Kliwon, di jaman modern seperti ini mana ada mitos seperti itu," ujar Rafael.
Kemudian dia melajukan motor matic miliknya, tanpa mempedulikan pemakaman umum yang sudah tampak dipenuhi oleh asap tebal.
Semakin dalam Rafael melajukan motor matic miliknya, semakin tebal pula asap itu. Bahkan Rafael sulit untuk melihat jalan yang harus dia lalui. Alhasil Rafael hanya berputar-putar di daerah pemakaman itu.
"Sial…! kenapa sejak tadi aku kembali ke tempat ini lagi," ujar Rafael sembari menepikan motor matic miliknya.
Lalu dia turun dari motor dengan perasaan sedikit cemas, pasalnya dia kembali mengingat perkataan ibunya yang mengatakan kalau malam ini adalah malam Jum'at Kliwon.
Dengan perasaan dag,dig,dug. Rafael pun berjalan perlahan meninggalkan kawasan pemakaman itu dengan jalan kaki.
Tap...tap..tap.
Namun, baru saja Rafael melangkahkan kakinya beberapa meter, tiba-tiba saja dia mendengar suara merdu seorang perempuan, Rafael pun menghentikan langkahnya sejenak dan mencari sumber suara.
Rafael melirik ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak melihat siapapun di sekitarnya.
Kosong… dan suara itu pun kembali tak terdengar.
"Mungkin aku hanya berhalusinasi," ujar Rafael sembari mengusap wajah kasar. Kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya.
Namun baru saja dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara itu terdengar kembali, dan kali ini suara merdu bak artis internasional itupun bergema memecah kesunyian malam.
Rafael kembali berhenti, kemudian dia celingak-celinguk mencari orang yang begitu pandai bernyanyi itu.
Karena tidak sabar, kemudian Rafael tanpa sengaja menginjak makam seorang wanita yang sudah berusia puluhan tahun.
Di lain tempat
Karena Rafael sudah menginjak makamnya, tiba-tiba wajah keriput itu berubah menjadi cantik dan siapa pun yang melihat dia pasti akan langsung terpikat dengan kecantikan yang ia miliki.
"Hi...hi...hi. Akhirnya sejak seratus tahun aku menunggu dengan sabar, akhirnya aku kembali menemukan mangsa," ucapnya di sertai cekikikan yang memekakkan telinga.
*****
Tap….
Rafael berhenti, karena melihat sosok wanita memakai gaun malam yang sangat indah. Rambut pirangnya yang dibiarkan terurai begitu saja, menambah daya tarik tersendiri bagi kaum Adam yang melihatnya.
Rafael tersenyum mengembang, lalu dia berjalan mendekat kearah wanita cantik itu.
Ya, wanita cantik itu adalah pemilik suara merdu bak artis internasional tersebut, dan dia pulalah pemilik makam yang barusan Rafael injak tanpa sengaja.
Tap…
Rafael meletakkan tangannya pada pundak wanita itu dengan sangat lembut.
Sedangkan wanita itu, iapun menoleh ke arah Rafael sembari tersenyum menggoda.
Rafael tersentak, begitu melihat wajah wanita yang berada di hadapannya. Lalu dia mundur beberapa langkah kebelakang.
"Bukankah, wajah perempuan itu sangat mirip dengan wanita yang aku lihat tadi di kafe," batin Rafael terus melangkah mundur.
Namun berbeda dengan wanita itu, dia hanya tersenyum manis saat melihat tingkah Rafael yang menurutnya sangat menggemaskan.
Dengan tersenyum begitu menggoda, kemudian dia berjalan anggun menuju Rafael.
"Berhenti," ujar wanita cantik itu dengan nada lembut.
Mendengar hal itu, kemudian Rafael menghentikan langkahnya, namun dia masih tetap dalam mode waspada. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Wanita cantik itu tersenyum, kala melihat Rafael tunduk pada ucapnya.
Dengan kembali mengayunkan telapak kakinya, kemudian dia mendekat ke arah Rafael.
"Tolong aku Tuan muda, aku sedang tersesat, dan sejak tadi aku berusaha keluar dari sini, namun usahaku selalu saja gagal," ujar wanita itu manja.
Rafael terhenyak ketika mendengar pengakuan wanita itu, kemudian dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena merasakan nasib mereka hampir sama.
"Nama anda siapa Nona? dan kenapa anda bisa berada di sini malam-malam begini?"
"Namaku Yasmin, dan nama anda siapa?" kemudian Yasmin mengulurkan tangan pada Rafael.
"Namaku Rafael," kedua insan yang saling berbeda alam itupun saling berjabat tangan.
Yasmin tersenyum menggoda, kala Rafael menggenggam tangannya.
"Mangsa yang gagah dan perkasa," batin Yasmin kemudian.
Namun saat Rafael menggenggam tangan Yasmin, ia merasa seolah memegang Es. Dingin... itulah yang dia rasakan, bahkan bulu kuduknya sampai meremang.
"Hih…!"
Kemudian Rafael melepas genggaman tangannya dari Yasmin.
"Ada apa? apa kamu merasa ada yang aneh?" tanya Yasmin yang mengetahui gelagat dari Rafael.
"Iya, aku merasa bulu kudukku meremang saat berdekatan denganmu," ucap Rafael jujur.
Yasmin tersenyum.
"Itu hanya perasaanmu saja, memangnya aku ini hantu," ujar Yasmin.
Rafael menelisik wajah Yasmin dari ujung rambut sampai kaki. Dan bola mata Rafael langsung membulat sempurna, kala melihat telapak kaki Yasmin tidak menginjak tanah.
"Ka-kau….?" tunjuk Rafael pada Yasmin dengan terbata, lalu dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Yasmin tersenyum menyeringai… Kemudian dia tertawa cekikikan.
"Hi...hi...hi…!"
Dalam waktu yang bersamaan penampilan Yasmine, tiba-tiba berubah menjadi acak-acakan.
Rambutnya gimbal dan pakaian seksinya berubah menjadi gomblang dipenuhi oleh darah.
Rafael terus saja melangkah mundur.
Sedangkan Yasmin, kini tubuhnya melayang di udara mengitari Rafael.
"Mau kabur kemana kamu?" ujar Yasmin sambil tersenyum menyeringai.
Kemudian dia mendekat ke arah Rafael dan langsung mencekik leher Rafael dengan sekuat tenaga.
Hingga tak butuh waktu lama, kini tubuh Rafael lemas tak berdaya.
"Hi...hi...hi."
Tawa Yasmin terus menggema memekak kesunyian malam, saat melihat mangsanya sudah terkapar tak bernyawa.
Kini Yasmin pun mencabik-cabik tubuh Rafael, lalu dia meminum darah Rafael dengan lahap.