Fahmi(POV)
umroh ini telah usai namun entah mengapa pikiran ini semakin kacau diri ini lunglai seperti ada bagian yang diambil oleh seseorang. dan benar saja,hati ini telah diambil oleh perempuan itu.pikiranku juga dipenuhi olehnya.perempuan berparas cantik dengan bulu mata lentik"askara". aku teringat pertemuan pertama dengannya saat menangis di pesawat. sedangkan diriku sangat lemah dengan tangisan perempuan. tangisannya tak kunjung berhenti sehingga membuatku ingin tahu apa yang menyebabkannya menangis. namun aku hanya berani menyodorkan sapu tangan yang ditolak olehnya tanpa menoleh sedikitpun padaku. aku tertegun, ternyata di Indonesia ada juga wanita yang memiliki sifat seperti wanita Tarim itulah pertama kali aku mengaguminya.
{HOTEL ZAM ZAM TOWER}
aku keluar kamar untuk membeli sesuatu di bawah, tak disangka aku melihat perempuan cantik itu lagi. pandangan kami bertemu namun tiba-tiba perempuan itu berbalik arah dan berjalan dengan cepat. spontan aku mengernyitkan dahi melihat mau ke mana dia? bukannya di sana ada tembok?'dan benar saja tak lama kemudian dia membentur tembok dan berteriak sehingga membuatku tersenyum. aku meninggalkannya seraya menggeleng-gelengkan kepala,'perempuan jaim tapi aneh'ucapku dalam hati. aku bertemu lagi dengannya di kasir saat uang yang dibawanya tidak cukup untuk membayar, entah apa yang membuatku membantunya, mungkin itu hanyalah rasa kemanusiaan.
{MASJIDIL HARAM}
aku melihat perempuan cantik itu lagi dia sedang menangis sambil mendorong kursi roda, entarlah di antara banyaknya orang yang menangis aku hanya tertarik padanya. aku mengikutinya dari belakang kemudian memberikan sapu tangan padanya saat ia sibuk mengusap air matanya aku mengambil alih kursir roda. aku mendorong kursi roda itu karena melihat raut lelah di wajahnya. ternyata orang yang duduk di kursi roda itu adalah neneknya, dia memintaku untuk membawa askara mencium Hajar Aswad awalnya hati ini menolak permintaan nenek namun entah kenapa raga ini malah melakukan yang sebaliknya seakan-akan ini memang takdir yang ditetapkan oleh Tuhan, aku berjalan membiarkannya mengikutiku dari belakang. aku menyodorkan sorbanku padanya namun dia hanya diam tak menerimanya. percayalah saat ini aku seperti sedang melihat bidadari bahkan lebih cantik dan anggun daripada bidadari, aku langsung menyadarkan lamunanku dan mengambil tangannya dengan tetap menjaga jarak diantara kami, aku mengikat tangannya dengan ujung surban sambil tetap memegang ujung yang satunya, aku melakukan hal ini agar kami tidak terpisah, namun beberapa saat kemudian dia hilang ditelan kerumunan Badui berbadan besar. aku bingung mencarinya, aku takut terjadi apa-apa padanya, entahlah aku merasa punya tanggung jawab terhadapnya. beberapa saat kemudian aku melihat badan mungilnya berada di depan Hajar Aswad, tanpa berfikir panjang aku langsung menjaganya dengan badanku khawatir dia didorong oleh orang lain. askara menarik bajuku dan memintaku untuk mundur karena aku telah menghalangi orang-orang yang hendak mencium Hajar Aswad, namun aku tetap mengeratkan peganganku. entah mengapa aku merasa harus menjaganya. ketika aku menoleh dia tengah terdiam menatapku. aku langsung memintanya keluar dari kerumunan. aku marah karena dia menghilang begitu saja, aku marah bukan karena lelah, namun aku mengkhawatirkan keselamatannya. ya Rabb... sungguh melihatnya selamat membuatku ingin memeluknya, itulah sebabnya aku pergi tanpa berkata apa-apa.
{MAKKAH AL_MUKARRAMAH}
saat aku beranjak akan pulang tiba-tiba ada suara perempuan mengucapkan salam. aku tahu suara ini milik Askara. aku langsung beranjak pergi karena takut tak bisa menjaga pandangan, namun tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuatku kaget bukan main,"apakah kamu mau menjadi imamku?"aku berusaha bersikap tenang karena aku laki-laki yang sudah sepatutnya memiliki sifat kewibawaan, kemudian dia melanjutkan perkataannya yang membuatku mengerti bahwa dia hanya memintaku menjadi imam sholat subuhnya.ya, saat ini aku menjadi imamnya aku melakukan sholat Sunnah mutlak sedangkan dia sholat subuh. sholat seperti ini diperbolehkan apabila dalam keadaan darurat . aku sengaja memperpanjang sujudku, berdoa kepadaNYA untuk diberikan kekuatan iman pada sosok wanita yang saat ini menjadi makmumku."Ya Rabb.. aku takut ini hanya nafsu yang datangnya dari setan karena tak jarang aku mengambil fotonya secara diam-diam, Ya Rabb berikan aku petunjuk-MU.Amin!".selepas sholat aku menoleh padanya,"Ya tuhan percayalah dalam balutan mukenah putih itu dia bagaikan bidadari yang memang engkau ciptakan sebagai penyejuk hati"aku kembali mengalihkan pandangan dan berdoa sengaja aku memakai bahasa Arab Suqiyah agar dia tak memahaminya dan benar saja, dia mengamini semua doaku sampai selesai. padahal diantara doaku adalah menjadikannya sebagai jodohku, aku tersenyum tipis mendengar aminnya,"askara kenapa kamu lucu sekali?"gumamku dalam hati
{MADINAH MUNAWWARAH}
aku mendapat kursi istimewa karena Paman memintaku untuk menjadi pemandu travel. entah ini hanya kebetulan atau memang takdir aku melihat perempuan cantik itu kebingungan melihat lutut neneknya yang kembali terasa sakit. aku pun memberikan tempat dudukku pada neneknya karena di sana lebih nyaman dan luas. aku memilih duduk di samping jendela karena aku pikir askara akan lebih mudah membantu neneknya. ketika sekarang berada di sampingku aku merasa setan mendekatiku, aku berusaha mengusirnya dengan melalar hafalan quranku. namun tiba-tiba perempuan cantik itu meminta tolong untuk mengambilkan hpnya. aku menoleh dan saat itulah kekuatan imanku runtuh seketika, aku terlena memandang kecantikannya hingga aku sadar bahwa ia sedang meminta tolong padaku. aku melihat hp-nya dan hendak mengambilnya, namun saat aku melepas chargernya layar HP itu hidup dan tampaklah foto bidadari cantik berkerudung putih tengah memakai mahkota. aku tak bisa mengambilnya karena menurutku memegang foto perempuan itu sama halnya dengan memegangnya secara langsung. tanpa pikir panjang, aku mengalihkan pandangan dari HP takut setan kembali menggodaku. melihat penolakan dariku bidadari itu hendak berdiri mengambil hp-nya sendiri, namun tiba-tiba kami melewati jalan bebatuan sehingga membuatnya terjatuh. saat itulah aku sangat marah pada diriku sendiri karena telah membuatnya terluka."Ya Allah biarkanlah aku berjanji, aku akan menjaganya disisa umroh ini, jika di saat-saat ini terjadi suatu pada bidadari maka aku rela menanggung apapun hukumanmu", saat sampai di masjid Quba aku tak melihat Askara, aku meneliti semua jamaah. namun, tak ada askara di antara mereka, dan benar saja ternyata ia tertinggal di belakang, aku melihatnya tengah memegang tangannya yang terluka. mungkinkah dia kesakitan?', aku langsung menghampirinya dan mengambil alih kursi roda darinya, karena aku tak akan membiarkannya tersakiti untuk kedua kalinya Dan inilah janjiku pada Allah, Tuhan semesta alam.
{MASJID QUBA}
saat ini adalah saat terakhirku menjaganya karena besok kami akan pulang ke Indonesia. aku memutuskan memberinya buku berjudul"berusaha mencintai nabi"sebagai kenang-kenangan. namun buku itu tertinggal di bus sehingga membuatku harus mengambilnya. aku berlari kembali ke masjid khawatir jamaah umroh telah berpencar. keberuntungan masih berpihak padaku. ketika aku kembali ke masjid mereka tengah bersiap-siap mengambil gambar bersama, aku pun langsung menemui askara. aku berlari menghampirinya dan memberikan buku itu padanya. dia hanya diam dan menatapku dengan bingung. dalam buku itu sengaja aku sisipkan kertas yang bertuliskan ungkapan perasaanku padanya. setelah itu aku berusaha menghindari pertemuan dengannya bahkan saat di pesawat sekalipun. aku khawatir dia telah membaca kertas itu.
TENTANG ASKARA (POV)
ya..... perempuan itulah yang membuatku seperti ini"Ya Allah aku ingin meralat janjiku yang hanya ingin menjaganya di sisa waktu umrohku karena sekarang aku ingin menjaganya sampai akhir hidupku. ya Allah aku ingin cinta ini bukan hanya sekedar dorongan nafsu, aku ingin mengubahnya menjadi sebuah ibadah terhadap-MU". aku mengakhiri doaku dan memutuskan untuk menemui ayah guna mengutarakan keinginanku. aku ingin menjadikannya sebagai bidadari dunia dan akhiratku. aku menceritakan semua tentang askara dan keinginanku pada ayah. betapa bahagianya aku ketika beliau menyetujui bahkan beliau langsung menghubungi Paman agar melihat data jamaah umroh bulan lalu untuk mencari tahu tentang askara. aku kembali ke kamar dengan hati yang sangat bahagia. tiba-tiba ayah mengetuk pintu kamarku memberi kabar yang membuat detak jantung ku seakan berhenti, beliau mengatakan bahwa tidak ada jamaah umroh yang bernama askara bahkan pada bulan-bulan sebelumnya. aku sempat tidak percaya dan memutuskan pergi ke perusahaan untuk mengeceknya sendiri, namun hasilnya tetap nihil. aku pun tetap tak menemukan namanya dalam data-data itu"Ya Rabb.... jika engkau tak menakdirkannya untukku lantas mengapa engkau membiarkan aku bertemu dengannya? kenapa engkau membiarkan aku menjaganya hingga membuatku mencintainya?". aku berusaha menguatkan hatiku dan percaya bahwa takdir Tuhan akan indah pada waktunya.
ASKARA (POV)
setelah melakukan umroh Abah menyuruhku kembali ke pondok setelah 8 hari di rumah. di tengah perjalanan kembali ke pondok Abah memintaku untuk tidak kembali terlebih dahulu. Abah menyuruhku menginap di hotel selama 3 hari. entah apa yang beliau ketika aku bertanya beliau hanya menjawab"biar nanti Abah bisa ikut anterin kamu"ucapnya sedikit ganjal, tapi memang benar karena tiga hari ini Abah banyak acara di luar kota. tak sampai di situ Abah juga memintaku untuk ganti nomor dan tidak memperbolehkanku berteman dengan siapapun selain keluargaku. awalnya aku merasa aneh, tapi ketika aku menanyakan pada Abah beliau hanya menjawab"kan askara sudah umroh, jadi harus lebih hati-hati dalam bergaul agar tidak jatuh dalam lubang yang sama"ucap Abah memang benar karena tak jarang aku melakukan suatu yang salah karena terpengaruh oleh teman. malam itu setelah sholat isya'aku membuka aplikasi WA dan menemukan chat dari nomor yang tidak aku kenal.
"^ASSALAMUALAIKUM^"aku mengernyitkan dahi merasa aneh karena nomor ini baru aku beli tadi sore dan aku tidak memberikannya pada siapapun kecuali Abah. aku membalasnya "^WAALAIKUM SALAM^"tak harus menunggu lama untuk dibaca karena dia sedang online. anehnya pesanku hanya di read saja tanpa dibalas dan itu membuatku tambah penasaran. aku melihat foto profilnya di sana ada foto perempuan berjubah hitam berkerudung syar'i sedang berdiri menatap Ka'bah. foto itu diambil dari samping sehingga hidungnya terlihat mancung. tunggu!!! foto itu seperti diriku, baju dan kerudung yang ia pakai sama seperti milikku. tapi aku langsung membuang pikiran itu ketika melihat foto itu sangat bagus dalam pengambilannya. sedangkan umroh kemarin aku sama sekali tidak melakukan foto kecuali foto bersama jamaah travel. berbicara travel, aku jadi teringat Fahmi, bagaimana ya kabarnya? apakah dia berubah menjadi dingin seperti biasanya? apakah dia masih di Madinah? ataukah sudah pulang?.. astagfirullah.... kenapa aku memikirkan orang yang bukan mahram ku? aku langsung memperbanyak istighfar Dan meletakkan handphone ku. dan aku memutuskan untuk mengabaikan nomor asing tersebut.
*(wahai, kau adalah bulan yang indah. bahkan aku rela menjadi bintang-bintang agar aku bisa dekat dengan mu. namun, percayalah aku akan berjuang menjadi matahari untukmu*)
keesokan pagi ketika aku membuka HP, aku kembali menemukan pesan dari orang asing tersebut, dengan kata-kata yang sama sekali tak dapat kupahami. aku mengerutkan dahi setelah membacanya, siapa yang dia maksud bulan? mungkinkah diriku? namun siapakah orang ini?.
(Afwan, anda siapa? maaf saya tidak mengenal Anda, mungkin anda salah nomer.)
Dia online, namun dia lagi lagi hanya melihatnya saja kemudian offline,"ini orang siapa sih? aneh amat". omel ku seraya melempar HP ke kasur, kemudian aq beranjak untuk makan pagi. malam harinya aku berdiri di lobi hotel menatap bintang-bintang, sudah 2 hari aku di hotel dan besok adalah hari aku kembali ke pondok. aku diam karena memang tidak ada yang bisa aku lakukan, hingga tiba-tiba hp ku berdering tanda ada pesan masuk, lagi lagi nomor asing itu mengirim pesan padaku, yang tak kalah anehnya dari yang kemarin.
(*jika cacing saja bisa memberikan manfaat nya untuk membahagiakan tumbuh-tumbuhan .maka percayalah aku akan memeras diriku agar kemanfaatannya bisa membahagiakanmu*)
aku sudah tak sabar dengannya, dan untuk kesekian kalinya dia hanya melihat saja kemudian offline."ini orang apa apaan sih? ngirim pesan yang aneh-aneh giliran dibales cuman di-read doang". umamku gregetan, seakan-akan orang yang di seberang bisa mendengarnya. bersamaan dengan itu Abah menghubungiku meminta agar aku beristirahat karena besok beliau akan ke sini pagi-pagi sekali,aku menuruti permintaannya untuk tidur.
keesokan harinya setelah aku melakukan sholatt Dhuha, pintu kamarku diketok oleh seseorang dan benar saat aku membukanya ternyata itu Abah dan umi yang sudah berpakaian rapi."assalamualaikum nduk.."ucap Abah."waalaikumsalam.."jawabku, seraya menyalami mereka berdua."sampun ringkesan ta? tanya umi padaku"sampun mi"."Oalah yo wis ayo mlebu sek, Abah tak ngomong sesuatu kale askara". seraya masuk ke kamar yang diikuti oleh umi, kemudian duduk di kasur. aku duduk di bawah sebagai rasa takzim pada mereka."nduk askara nurut kan nggeh teng Abah?. ucap Abah memulai pembicaraan."nggeh bah"jawabku tetap dalam keadaan menunduk."Alhamdulillah lek ngoten Abah sampun istikhoroh, hasil nggeh apik gawe askara. ngeten nduk, pas Niko waktu pean karep Balek, guse Abah nelpon. beliau nangleti pean, beliau ngendiko kate jaluk pean gawe putrane jenenge Muhammad Faisal larene mondok teng Tarim, Yaman Hadramaut, Abah sudah istikharah makanya Abah yakin insya Allah Muhammad Faisal mampu bimbing askara ke jalan Allah. ucap Abah menjelaskan padaku. tapi aku merasa perkataan Abah seakan-akan hanya bayang-bayang di pikiranku."gusnya Abah ke rumah pas waktu pean baru keluar gerbang rumah mau balik pondok, beliau meminta akadnya disegerakan soalnya putranya masih mau budal Tarim ya sudah pas itu juga Abah ngangkatin pean di rumah, maaf ya Abah bareng bilang sekarang"mendengar kata terakhir beliau tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya."askara sekarang balik ke pondok dulu nanti bulan sya'ban Abah jemput untuk resepsi di rumah tanggal 17"ucap Abah mengakhiri ceritanya. bersama dengan itu umi turun dari kasur dan memelukku. "nggak papa insya Allah... sakinah"ucap umiku sambil mengelus kepalaku. air mataku tak kunjung berhenti, sengaja aku tumpahkan semua perasaanku dalam pelukannya."ya Allah..... mungkinkah ini nyata? lantas kenapa engkau baru melakukannya? saat hati ini mulai condong terhadap seseorang, apakah ini karena kerancanganku? karena aku telah mencintainya dalam diamku."Fahmi..maafkan aku, aku tak bisa menyebut namamu dalam doaku, karena mulai saat ini Muhammad lah yang kusebut di sujud terakhirku."selama perjalanan balik ke pondok aku hanya diam yang kulakukan hanya menatap buku pemberian Fahmi dan entahlah aku selalu merasa nyaman saat mendekapnya" ya Allah... dosakah aku jika tetap memikirkan nya? namun aku tak bisa apa-apa, cinta ini telah tumbuh. aku tak kuat mencabut rasa itu dengan secepat itu". aku tersadar ketika umi berkata padaku."tumben yang dipegang buku biasanya kalau balik ke pondok yang dipegang di tangannya hp"sindir beliau padaku. baru saja aku akan menjawab, tapi tiba-tiba Abah menyela pembicaraan kami."oh iya nduk gak ono wong sing ngecat pean ta?. tanya Abah dari kursi depan."wonten bah, tapi askara mboten kenal". jawabku pelan seraya membuang pandangan ke arah yang lain. namun tiba-tiba Abah dan umi tertawa sehingga membuatku kebingungan"yoiku bojone pean nduk..."beliau sing minta pean ganti nomor, sing profile wong wedok iku lho"ucap Abah menahan tawa. aku berdecak mendengar perkataan Abah. kenapa dia tidak bilang kalau dia suamiku berarti selama ini dugaanku benar. bahwa yang dimaksud bulan dalam kata-kata itu adalah aku."agih ndelok hp-ne be'e bojone pean ngirim pesan mane" titah Abah padaku. aku mengambil hp sebagai jawaban untuk beliau. dan benar saja di sana ada pemberitahuan pesan masuk dari seseorang yang tidak lain adalah Muhammad Faisal(suamiku)
mendapat pesan seperti itu rasanya aku ingin menangis dan marah padanya, namun aku teringat bahwa surgaku ada padanya ,oleh karenanya ,aku tidak berani menjawab
aku sudah kembali ke pondok, namun statusku bukan lagi santri akan tapi istri. tidak ada yang tahu tentang pernikahanku, sengaja aku merahasiakannya dari mereka. teman-temanku menyambut dengan baik apalagi mawar yang selalu heboh, di sini mereka terkenal dengan pojokan lovers karena mereka selalu ada di paling pojok, mungkin karena tempat itu nyaman dibuat tidur. suatu hari aku sedang duduk bersama Ovi dan Aira, mereka memintaku bercerita tentang perjalanan umrohku. saat itulah aku teringat kalau aku belum membaca buku pemberian Fahmi. aku langsung beranjak pergi ke kamar dan meninggalkan mereka dalam kebingungan. aku pun mengambil buku lantas membacanya dan tiba-tiba terdapat kertas terjatuh dari buku itu. betapa kagetnya aku, saat tahu kalau itu adalah surat dari Fahmi. aku menangis membaca surat itu, aku takut Fahmi akan kecewa jika menemukanku telah bersuami"ya Allah, haruskah aku marah pada Abah karena telah menikahkanku dengan putra kyainya, atau aku harus marah pada Fahmi karena dia terlambat datang ke rumah. mungkin aku yang salah karena telah melabuhkan hati pada tempat yang salah. aku tak bisa menahan air mataku yang terus-menerus mengalir. berulang kali Aira menanyaiku dengan khawatir, tapi aku tetap tak menjawabnya karena saat ini aku hanya ingin menangis dan menangis
################################
jika kau ingin bertanya tentang perasaanku, maka ketahuilah aku juga tak tahu apa yang aku rasakan saat ini. aku menatap tanganku yang penuh dengan mahendi dan se bucket bunga yang tergenggam. saat ini aku tengah duduk di singgasana dengan gaun putih yang cantik dan mewah, di kepalaku ada mahkota yang anggun dan mempesona. benar sekarang adalah hari pertemuanku dengannya, sesaat kemudian aku melihat semua orang berdiri aku mendengar dari salah satu mereka bahwa pengantin pria telah datang. set itulah tiba-tiba suara Hadrah dibunyikan........................
dengar lantunan sholawat itu aku merasa tak memiliki kekuatan, hati yang perih itulah yang kurasakan. aku berdiri untuk menyambutnya namun aku belum berani untuk menatap wajahnya, hingga aku melihat orang bersepatu hitam berjalan ke arahku, aku tahu siapa yang berjalan di atas karpet merah itu. dia adalah Muhammad Faisal, pengantin pria dalam acara ini. aku menguatkan hatiku agar berani mengulurkan tangan untuk menyalaminya, tak kusangka air mataku menetes membasahi tangannya, aku masih terdiam dan memejamkan mata tiba-tiba aku merasakan dia mengangkat daguku pelan kemudian mencium keningku. bersamaan dengan itu air mataku kembali menetes untuk yang sekian kalinya. aku memberanikan diri membuka mata dan betapa kagetnya aku saat aku tau bahwa orang yang berdiri di depanku adalah Fahmi. aku kaget bukan main,"siapa dirimu?"tanyaku padanya memastikan bahwa yang kulihat saat ini hanyalah bayangannya. dia tersenyum manis padaku seraya berkata"aku Muhammad Faisal Fahmi yang saat ini telah sah menjadi suamimu Fatimah Zahra"
FAHMI (POV)
sepulang dari perusahaan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua kandungku di daerah Malang. sejak kedatanganku dari umroh, aku memang tinggal di Surabaya dengan pamanku yang selalu aku panggil ayah. ketika aku telah sampai di kota apel tersebut aku melihat ayah tengah mengajar para santri sehingga membuatku teringat bahwa sebentar lagi aku harus kembali ke Tarim. seharusnya aku bahagia karena aku akan bertemu lagi dengan kota seribu wali, namun entah kenapa banget aku akan kembali membuat pikiran ini semakin terpenuhi oleh askara' ya Rabb.. saya yakin takdirMU tak akan kemana.. Abah menyudahi pengajiannya saat melihat mobil Pajero memasuki gerbang mungkin beliau sudah tahu kalau yang datang adalah aku. setelah kami menyalaminya kami duduk di ruang tamu dan tiba-tiba Abah menanyai tentang askara aku tak tahu bagaimana beliau bisa tahu, mungkin ayah sudah menceritakan semuanya aku kembali menjelaskan pada Abah tentang pertemuanku dengan askara dan juga keinginanku untuk meminangnya.
"ya wis le... duduk jodoh ne sampeyan paling.."ucap Abah setelah mendengar ceritaku yang menemukan askara dalam data-data jamaah umroh,"yo iku le... mangkane istikharah sek engko' tak ewangi"ucap Abah melanjutkan seakan-akan paham kalau aku belum melakukan istikharah. film itu juga aku langsung melakukan sholat istikharah, dan mendapati mimpi yang sangat aneh.
besoknya ketika aku hendak menyampaikannya pada Abah beliau malah lebih dulu bercerita padaku." tadi malam Abah istikharah di mimpinya Abah namanya sampeyan ganti jadi Muhammad Faisal bukan Fahmi lagi, di mimpinya Abah sampeyan itu baca sholawat fatimiyah"mendengar kata fatimiyah aku langsung berkata pada Abah"Abah kulo mambengi mimpi diparingi buku kali Mbah yai bukune apik, ukirane dugi emas, pas kulo buka isine niku tulisan fatimatuzzahra"belum aku menyelesaikan ceritaku, tiba-tiba Abah menyela,"yoiku paling le, jenenge jeneng dowone askara. sana telepon ayahnya minta tolong lihatin datanya fatimatuzzahra"suruh beliau padaku. tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menelpon ayah dan minta tolong agar beliau bersedia untuk mencari tahu tentang data fatimatuzzahra. tak disangka, ayah langsung mampu menemukan data yang kuinginkan, dan benar saja, data tersebut adalah milik askara yang kebetulan dia adalah putri dari alumni ponpes yang diasuh oleh Abah. data tersebut membuat aku semakin yakin bahwa takdir Tuhan tak akan kemana. oleh karena itu, di hari ini juga aku duduk bersamanya, tanpa harus ada surban yang menjadi penghalang diantara kita berdua.
ASKARA (POV)
benar saja, ternyata Fahmi adalah suamiku. aku sangat bahagia lantaran dia adalah nama indah yang selalu aku diskusikan dengan Rabb ku di setiap sujud panjangku.tapi, ada perasaan kesal dalam diriku, karena dia telah berhasil mengelabui ku dengan tidak mengakui bahwa dia adalah orang yang nantinya akan bertanding denganku."oke, tunggu saja pembalasanku malam nanti". ucapku geram dalam hati. kemudian pandanganku tak sengaja melihat seseorang yang tengah duduk di sampingku. namun, di sinilah cobaanku, karena memiliki suami yang dingin dan cuek sepertinya, selama kami berada di atas pelaminan, dia sama sekali tidak mengajakku berbicara, bahkan kami tidak berpegangan tangan kecuali saat fotografer yang memintanya, hanya sekali dia berbicara padaku"minum?"ucapnya singkat seraya menyodorkan minuman botol kepadaku. aku mengangguk ,mengiyakannya, namun bukannya membukakannya dia malah memberikan botol itu kepadaku, bahkan dia tidak mengambilkan untukku sedotan yang memudahkanku untuk minum. bisa dibayangkan bagaimana aku meminumnya?. aku berdecak malas sambil meletakkan botol minuman itu di sampingku."awas kamu ya.... nggak aku jawabi lek ngomong".. amukku, semakin gregetan dengan sikap cueknya. entahlah bagaimana rasa bosan yang akan selalu aku rasakan ketika aku bersamanya. mungkin setelah pernikahan ini aku akan mengaktifkan Google agar aku memiliki teman untuk diajak bicara. setelah makan malam bersama kami selesai, kami memutuskan kembali ke kamar untuk mandi. aku duduk di kasur, sedangkan dia memilih untuk memposisikan dirinya di sofa. tak ada yang memulai pembicaraan di antara kita berdua, aku melihatnya yang tengah sibuk memainkan benda pipih di tangannya."Monggo jenengan siram Riyen". ucapku mulai pembicaraan. namun yang diajak bicara hanya diam, ya sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu."kamu saja yang mandi duluan! sepertinya kamu sudah tidak betah dengan riasan itu". jawabnya yang tak lagi menggunakan bahasa halus seperti tadi"jangan, bedak ini susah dihilangin, lagi pula aku juga mau keramas. nanti kamu jadi nunggu lama". tolakku panjang lebar dengan menggunakan bahasa yang sama sepertinya. setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya aku mengalah dan pergi mandi terlebih dahulu dengan perasaan kesalku padanya. selepas mandi aku memutuskan untuk duduk di depan meja rias, menunggu beliau yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, aku sudah tak sabar untuk mengontrolgasinya dengan berbagai pertanyaan ku . ketika dia keluar dari kamar mandi, aku langsung balik badan dan menatapnya intens. kemudian dia melihatku lewat pantulan kaca lemari."ada apa?". ucapnya lirih." kenapa kamu nggak ngerti kalau kamu itu FAHMI?" tanyaku padanya, memulai introgasi "namanya ajha surprise"jawabnya tenang, sehingga membuatku berdecak karena tak puas atas jawabannya . aku mulai mengerutkan bibirku karena rasa kesalku padanya yang semakin bertambah. dia mulai mendekat kepadaku dan berkata"tersenyumlah kau lebih cantik saat tersenyum".
"aku selalu yakin skenario Tuhan jauh lebih indah dari ekspektasi yang kita bayangkan. dan saat ini aku telah sampai saat di mana aku merasakan betapa indahnya skenario yang telah dituliskan untukku" .....