Saat terbangun beralaskan rumput di pinggiran hutan belantara, Eliza mencari pedesaan terdekat untuk beristirahat disana beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanannya. Entah mengapa dia terjebak di dunia fantasi setelah sebuah kecelakaan saat dia mencoba membuat bahan percobaan di laboratorium. Saat itu dia mencoba menguji artefak sebuah jam pasir kuno yang dia temukan dipinggiran sungai saat mencari sesuatu bersama rekan-rekannya. Saat dia meneteskan cairan penguji usia jam pasir tiba-tiba ledakan besar muncul pas disaat tetesan cairan itu mengenai kaca jam pasir.
"Dorrr....." Suara gema kencang menimbulkan kobaran api yang membakar seluruh gedung laboratorium.
"Aaaahhhh........" Teriaknya saat tubuh mungilnya melayang.
Dia terjatuh lemas akibat hantaman meja yang melayang mengenai tubuhnya. Tubuhnya pun membentur tembok dibelakangnya. Terhempas jauh.
"Apa yang terjadi." Saat terbangun dia sudah ada di dunia lain. Memakai pakaian seperti di kerajaan-kerajaan kuno pada masanya.
"Dimana ini." Batinnya
"Apa aku masih hidup." Dia mencoba berpikir.
Saat melihat tangannya memegang jam pasir kuno, dia teringat kejadian di laboratorium tempo hari.
"Bukankan aku ada di laboratorium, kenapa aku bisa ada disini."
"Ini bukan mimpi." Timpalnya
Dia mencoba mencubit lengannya."Au..!!!" Sakit." Terasa begitu nyata batinnya.
"Kenapa gelap sekali disini." Dia terbangun saat masih gelap. Malam belum berlalu hanya dihiasi sinar rembulan dan bintang bertaburan mengelilinginya (kunang-kunang).
"Bagaimana caranya untuk aku kembali ke duniaku." Batinnya
Eliza pun terus berjalan menyusuri gelapnya malam. Ditubuhnya dikelilingi kunang-kunang yang bercahaya terang seolah-olah memberinya penerangan jalan. Diujung mata memandang dia menemukan sebuah gua kecil tak berpenghuni.
"Apa ada orang didalam." Eliza mencoba memanggil untuk memastikan keadaan.
"Untunglah disini tidak ada orang."
Eliza pun membaringkan tubuhnya yang lelah di atas batu gua. Udara didalam gua cukup hangat tidak seperti diluar tadi.
Waktu berlalu cukup lama, entah apa yang terjadi. Malam tak kunjung usai, rasanya malam begitu panjang. Saat Eliza terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling masih nampak petang. Tak ada secuil mentari pun yang nampak dipermukaan langit, bintang yang tadinya menghiasinya pun pudar. Eliza masih bingung dengan ke adaan di sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini." Batinnya sambil berjalan memegangi jam pasir.
Dia menyusuri aliran sungai dari hulu ke hilir, ada sebongkah batu besar mungkin sebesar mobil. Eliza mendekati batu itu,
"Ahhh!!!!!" Teriakannya kencang hingga membuat beberapa burung berterbangan. Dia melihat beberapa tengkorak manusia berserakan.
Dengan wajah pucat dia mencoba berdiri walaupun kakinya gemetaran. Tak sengaja jam pasir yang ada ditangan tergelincir dan jatuh terbalik.
Seketika itu pun waktu berganti siang perlahan, saat menatap langit ...
"Apa ini??" Pekiknya
Matanya tertuju ke arah jam pasir, dia berjalan menuju jam pasir dan mengangkatnya. Eliza mencoba membalikan jam pasir kuno itu, mendadak siang berganti malam. Dia mencobanya beberapa kali.
"Hah." Matanya masih bertanya-tanya, namun mulutnya terbuka dan sedikit tersenyum takjub.
Eliza terus berjalan, dia mulai melihat jalan kecil dan menyusurinya. Tak lama kemudian dia sampai disebuah Padang rumput yang luas, di sana dia bisa melihat pemukiman penduduk dari atas bukit.
Sungguh ramai penduduk disana. Eliza berjalan-jalan di keramaian. Dia tak sadar bahwa pakaiannya berbeda dari orang-orang disana, Eliza mulai khawatir namun orang-orang di sana sudah terbiasa. Eliza mencoba mendekati salah satu pengemis disudut kota dan bertanya.
"Permisi." Ucapnya
"Apa yang ingin kamu cari disini? Disini tidak ada apa-apa! Tidak ada barang berharga atau harta Karun." Ucapnya dingin.
"Kenapa kamu tidak merasa heran dengan penampilan ku." Ucap Eliza bingung, di tambah lagi dengan ucapan laki-laki sebaya dengannya itu.
"Sudah banyak orang-orang yang memakai pakaian sepertimu, kenapa saya harus bingung."
"Dimana kamu melihat mereka?" Ucap Eliza penasaran
"Mereka menuju perbukitan naga hitam, disana memang tidak ada naga. Tapi disana dikabarkan banyak tulang-tulang naga yang berharga." Ucapnya
"Namun resikonya terlalu tinggi." Timpalnya
"Apa kamu bisa membantuku?"
"Saya menolak walaupun kau menawarkan harga tertinggi untukku. Nyawaku lebih berharga dari pada keinginanmu. Pergi kau dari sini!"
Eliza meninggalkan pengemis itu dan mencoba mencari informasi di toko kuno yang dia lihat disepanjang jalan. Eliza memasuki sebuah toko dan disana dia membeli sebuah peta letak gunung naga hitam. Sejenak Eliza berfikir. Apa mungkin dia bisa bertemu dengan orang-orang yang datang dari dunianya dan bisa kembali lagi ke dunia asalnya jika dia bisa bertemu orang-orang itu.
Eliza melakukan perjalanan ke sana sendiri. Saat dia merasa lelah, dia membalikan jam pasir untuk mengubah malam. Saat dia merasa cukup dia merubah lagi menjadi siang. Begitulah seterusnya.
Sesampainya di buku naga, bukit itu memang nampak seperti tubuh naga berlekak-lekuk. Eliza melihat beberapa mayat yang berbau busuk mengenakan pakaian yang sama dengannya.
Eliza masih terus menaiki gunung itu dengan kemampuannya sendiri, sesampainya di atas perbukitan. Dia melihat beberapa orang yang tengah sekarang. Eliza mendekati mereka dan berusaha bertanya apa yang telah terjadi pada mereka.
"Apa kalian baik-baik saja?" Ucap Eliza
"Cepat pergilah dari tempat ini, tempat ini sangat berbahaya!" Ucap salah satu rekan mereka dengan wajah lesu bibir pucat memegangi perutnya yang seperti tertusuk benda tajam.
"Apa maksudnya." Ucap Eliza semakin kebingungan
"Disini buka tempat untuk mencari pintu pulang atau tempat mencari har...ta Ka...run." Ucapnya terbata-bata
"Apa?" Eliza memegangi tangan perempuan muda itu
"Cepat pergi!" Teriaknya
"Selamatkan dirimu sendiri, penduduk itu menipu kita. Ini adalah tempat persembahan para monster." Ucapnya membuat Eliza terjungkal kebelakang karena kaget.
Eliza mencoba berlari menyusuri jalanan menjauh dari mereka. Dia mendengar teriakan perempuan itu dan auman monster yang sangat kencang, hingga membuatnya merinding.
Monster itu memiliki penglihatan tajam dimalam hari, dia melihat Eliza berlari dan mengejarnya. Tentu saja Eliza berlari hingga terjatu, dia lupa menggunakan jam pasir yang ada ditangannya untuk mengubah waktu.
Jam pasir itu terguling dan terbalik hingga mengubah malam menjadi siang, karna silau matahari. Monster itu kembali ke puncak bukit naga hitam dan kembali ke dalam gua.
Syukurlah Eliza selamat.
Perempuan tadi menyuruhnya mengganti pakaiannya dan berbaur dengan penduduk lokal supaya mereka tidak curiga dan menjadikannya timpal. Pantas saja pengemis itu menolak membantunya tempo hari.
Jadi itu alasannya dia takut dengan tempat itu. Bukit naga hitam.