Yuna menoleh ke arah samping, menatap seseorang yang duduk di sampingnya seraya menatap ke depan seolah tidak punya tujuan apa pun. Gadis itu menatap penuh dengan pertanyaan.
"Kau dari mana? Dimana asalmu? Namamu? Setidaknya tau nama kedua orang tuamu saja segera. Lelaki itu juga tidak berbicara kepadanya.
Lelaki itu hanya diam, wajah pucat yang mendominasi membuat Yuna merasa ada yang lain. Hanya saja Yuna yakin jika lelaki itu tidak sakit, dia tampak baik-baik saja dengan wajah pucat dan juga bibir alaminya itu. Jujur saja, Yuna mengakui jika lelaki yang dia temui tadi sore memang tampan.
Tapi sekarang ingat, kalau lelaki itu baru saja kehilangan arah. Dia tersesat di tempat seharusnya tidak ia kunjungi saat ini.
"Namaku..." Yuna menunggu jawaban selanjutnya. Namun, lelaki itu malah menoleh ke arahnya dan kemudian menatap mata bulat itu dengan dalam. Seperti mencari sesuatu.
"Aku tidak tau siapa namaku-"
"Yang benar saja! Kau tidak tau namamu bagaimana aku bisa menolongmu?! Astaga, ya tuhan berikan aku kesabaran ekstra." Yuna mengusap dadanya mengumpulkan kesabaran yang masih tersisa.
Bagaimana bisa dia tidak tau namanya sendiri? Konyol sekali. Yuna membuang nafas panjang begitu kasar dan keras, ia menatap tajam ke arah lelaki itu.
"Jangan berbohong, kau pasti punya nama. Tidak mungkin tidak punya bukan? Ayo, katakan siapa namamu?"
"Aku sudah bilang aku tidak punya nama, aku lupa. Aku tidak berbohong kepadamu, aku bersungguh-sungguh lupa siapa aku." Ucapnya dengan tatapan sendu, lupa dengan dirinya sendiri.
Dia bahkan tidak tau tempat apa sekarang ia berada. Sungguh, semua itu berlangsung begitu saja. Lelaki itu bahkan terus berjalan mencoba bertanya kepada orang-orang. Namun, seolah tidak ada yang melihatnya. Ia diabaikan oleh semua orang padahal dirinya mau mencari jalan pulang sana. Mencoba mengingat apa yang terjadi, justru kepalanya berujung sakit luar biasa.
Tidak tau apa pun. Ia menemukan gadis itu sedang duduk di pinggir jembatan tepi pantai, merasa ada harapan ia menghampiri dan ia bersyukur jika gadis itu tidak mengabaikan dirinya seperti yang lain. Percaya atau tidak, jujur saja semua terasa aneh untuk dirinya sendiri.
"Lalu? Kau tinggal di mana selama ini?" Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Menunduk dan mencoba berpikir, ia melakukan apa selama ini selain bertanya kepada semua orang yang lewat di depan matanya.
Yuna membuang nafas lagi, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari pantai. Setengah perjalanan ia menuju ke rumah, ia merasa jika dirinya tidak sendirian seperti di awal ia menuju ke pantai.
Lantas Yuna menoleh ke belakang dan menemukan lelaki itu berada di sana. Berada tepat di belakangnya dengan jarak 1 meter, mungkin? Gadis itu mendengus kesal.
"Jangan ikuti aku, pulang sana!" Lelaki itu hanya diam menatap Yuna, tatapan penuh harapan seolah ia ingin terus berada di samping Yuna. Tidak mau sendiri lagi.
"Apa boleh aku ikut denganmu saja? Aku tidak punya siapa-siapa, semua orang mengabaikan aku." Yuna menghadap ke belakang, ia tidak mengerti apa isi kepala lelaki itu? Bagaimana bisa dia ikut dengan Yuna tanpa harus berpikir yang lain? Resiko mungkin saja.
"Aku perempuan asal kau tau-"
"Aku tau, aku bisa melihatmu."
"Kau tidak memikirkan sesuatu yang lebih? Kita ini beda ya, maksudku. Kelamin kita beda, jika saja kita tinggal bersama apa kata orang di sekitar sini? Otakmu dangkal atau bagaimana?" Lelaki itu hanya diam saja, ia juga tidak tahu akan hal itu dan lagi pula ia tidak tahu harus pergi kemana lagi.
"Aku tidak akan melakukan apa pun, aku bersumpah akan itu. Hanya kamu yang menganggap aku di sini."
Yuna menatap dan berpikir lagi, melihat keadaan lelaki di depannya membuatnya iba. Tidak punya siapa-siapa, tidak punya tempat tinggal dan hidup tanpa tujuan. Ia berpikir saja, tidak ada salahnya membantu lelaki itu hanya untuk sementara waktu saja. Benar bukan? Yuna itu gadis yang baik tidak galak seperti yang orang-orang katakan tentang dirinya.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat! Jangan melakukan hal-hal diluar batasanmu. Jika kau melanggar, maka aku tidak akan segan untuk mengusirmu." Lelaki itu tersenyum dan mengangguk senang. Dia tersenyum manis menunjukan deretan gigi putih dan bagian berbentuk seperti gigi kelinci.
"Menggemaskan sekali." Suara hati Yuna tanpa sadar ketika melihat lelaki itu. Sadar akan apa yang dipikirkan mulai tidak nyambung, menggelengkan kepalanya membuang pikiran itu dan segera pulang ke rumah. Tidak memperdulikan lelaki itu yang mengikutinya dari belakang.
𓃹 𓃹 𓃹
Tepat dipukul 8 malam. Yuna memasak makanan, sedangkan lelaki itu berdiri seraya memperhatikan gerak gerik Yuna sepanjang waktu. Gadis itu yang merasa di awasi lantas menoleh ke arah belakang dan menemukan lelaki itu menatap dirinya dengan tatapan polosnya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Lelaki itu menggelengkan kepalanya dan membalik badannya ke arah belakang. Mungkin saja ia merasa lancang karena sudah menatap Yuna sejak tadi sore. Ingat, dari sore sampai sekarang lelaki itu tidak bosan menatap gadis itu.
Yuna hanya melirik saja dan kembali memasak makan malam. Tidak begitu lama makan malam selesai dia buat dan disajikan di meja makan, mengundang lelaki itu untuk duduk di kursi dan makan bersamanya.
Sudah sekian lama tidak pernah makan bersama, di tambah lagi kehadiran lelaki asing itu. Membuat suasana lain di dalam rumahnya itu, Yuna merasa suasana rumah jauh lebih sejuk. Itu sungguh, Yuna tidak mengada-ngada.
"Makan, jangan dilihat saja. Aku memasak dengan tenaga bukan dengan tiupan udara." Lelaki itu mengangguk penuh perasaan gugup setengah mati.
Ia tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing selain bertanya-tanya saja, berhubung memang hanya Yuna yang menganggapnya ada. Mungkin ini adalah suasana yang berbeda.
"Kau serius tidak punya nama?"
"Iya, aku tidak punya nama." Yuna menatap penuh tatapan selidik. Tidak ada kebohongan di matanya yang bulat itu, bahkan untuk sekarang tidak ada raut wajah yang mencurigakan.
"Lalu bagaimana aku bisa memanggilmu? Kau tidak punya nama."
"Aku juga tidak tau, aku bingung."
"Johan. Bagaimana dengan nama itu? Tidak buruk bukan?" Lelaki itu mengangguk dan tersenyum, nama itu tidak buruk bahkan terdengar bagus.
"Itu bagus."
"Baiklah, mulai sekarang namamu adalah Johan. Aku akan membantumu pulang. Tapi tidak sekarang, aku harap kau bisa di ajak kerjasama selama aku mencari identitas aslimu." Johan mengangguk lucu dengan nasi yang memenuhi mulutnya. Itu tampak lucu di mata Yuna, membuat gadis itu tersenyum gemas.
"Setelah itu kau bisa tidur di kamar sebelah dengan kamarku. Jika ada sesuatu bilang saja kepadaku."
"Baiklah, Terima kasih."
𓃹 𓃹 𓃹
Tepat pukul 11 malam. Yuna yang tertidur pulas tidak sadar jika selimutnya di tarik secara perlahan, mulai membuatnya terasa terusik. Meskipun begitu gadis itu tidak mau membuka matanya karena terlalu lelah untuk sekedar mengedipkan matanya. Tangannya menarik selimut itu kembali untuk menutupi badannya. Namun, di luar dugaan jika selimut itu seperti ditarik balik.
Pintu kamar terbuka secara perlahan tanpa sosok di sana. Tidak ada siapa pun, kecuali dua cahaya yang seperti berbentuk mata seseorang hanya saja memiliki warna cerah berwarna biru terang.
Menyorot penuh kemarahan yang tidak dapat dirasakan sama sekali. Sorotan mata itu membuat sosok aneh di bawah ranjang, yang menarik selimut Yuna menghilang seketika. Bagaikan asap hitam yang tertiup angin, sorotan mata biru itu pun seolah mulai lenyap seiring dengan deruh nafas Yuna yang terdengar tenang di dalam tidurnya.
Pintu kembali tertutup perlahan tanpa menghasilkan suara keras.
𓃹 𓃹 𓃹
"Pelajaran hari ini selesai, terima kasih atas antusias kalian semua. Saya pamit dan sampai jumpa di hari berikutnya." Semua murid membereskan alat belajar mereka dan berhamburan keluar kelas dengan begitu rusuhnya.
Sedangkan Yuna hanya berdiam diri sejak tadi. Ia hanya menatap ke arah luar jendela, tampak lapangan luas memperlihatkan pemandangan dari luar kelas. Pepohonan yang rindang, bersamaan dengan banyaknya mahasiswa yang berlalu lalang. Ada juga yang bermain di lapangan, entah itu basket atau sekedar berlarian saja.
Sampai tanpa di sengaja kedua netra gadis itu menatap ke arah sosok gadis berpakaian seperti mahasiswa hanya saja tampak sedikit lusuh dan juga pakaiannya bukan seperti model jaman sekarang. Seperti pakaian era 90.
Yuna awalnya tidak memperdulikan jika perempuan itu menatapnya, lagi pula dia punya mata. Jadi suka-suka dia saja. Tetapi, semakin lama Yuna makin tidak nyaman dengan tatapan perempuan itu yang terus saja menatapnya dengan tatapan tajam.
Memang Yuna punya salah apa dengannya? Tidak ada? Yuna bahkan tidak pernah melihat perempuan itu berada di sekitar kampus. Baru kali ini Yuna melihat mahasiswa itu, entah dia mahasiswa atau hanya seseorang yang berkunjung ke kampusnya.
Merasa sudah tidak ada yang bagus. Yuna beranjak dari tempat duduknya dan kemudian keluar dari kelas itu. Berjalan menelusuri lorong kampus yang tentu saja ramai, tidak begitu banyak orang setidaknya beberapa bisa menemani Yuna berjalan di area itu tanpa takut akan sendirian.
"Siapa perempuan tadi? Aku baru saja melihatnya, wajahnya tampak asing. Dia anak baru?" Yuna terus memikirkan perempuan yang baru saja dia lihat, dan tanpa ia tahu beberapa mahasiswi berada di depannya. Menatap dengan tatapan tidak suka.
"Hey, tunggu dulu kawan. Kau mau kemana? Terburu-buru sekali kelihatannya." Yuna berhenti melangkah karena terpaksa, di depannya benar-benar membuatnya berhenti.
"Bukan urusanmu."
"Wow, tatapan yang sangat menyeramkan. Apa hari ini kau melihat hantu lagi? Atau sesuatu yang tidak bisa kami lihat? Hahaha." Entah apa yang mereka tertawakan akan perkataan mereka sendiri. Yuna bahkan tidak menemukan sebuah kalimat yang lucu di sana.
"Jika tidak ada keperluan lebih baik menyingkir, ini bukan jalan nenek moyangmu." Yuna melanjutkan langkahnya, tidak memperdulikan orang lain. Gadis itu hanya sudah merasa lelah dengan sekitarnya.
"Lihat dia, sombong sekali."
"Biarkan saja, dia akan mendapatkan pelajaran karena kesombongannya itu." Tidak ada yang menyukai Yuna. Termasuk gerombolan mahasiswi tadi.
𓃹 𓃹 𓃹
Pulang tengah malam adalah sebuah rutinitas, begitu banyak yang harus dikerjakan selain berbaring di atas ranjang tanpa melakukan apa-apa. Yuna menyetir motornya, menuju ke rumah tentu saja. Ia berusaha menghilangkan sebuah pikiran yang seharusnya tidak dia pikirkan, terkesan sangat tidak penting dan juga mengganggu.
"Siapa perempuan tadi? Aku bahkan tidak pernah melihatnya selama aku berada di kampus." Gerutunya, meskipun matanya fokus ke depan. Tetapi, pikirannya tidak fokus dengan jalanan yang berada di depannya.
Sampai secara tiba-tiba sosok perempuan berjalan menghalangi jalannya, tentu saja Yuna membanting setir agar tidak menabrak sosok perempuan itu. Namun, sama saja Yuna hampir saja terjatuh. Posisinya masih berada di jalanan yang begitu sepi, tidak memungkinkan untuk seorang perempuan berjalan sendirian di tengah jalan malam-malam begini.
Tidak begitu beberapa lama Yuna harus mengumpulkan tenaganya. Gadis itu menoleh ke segala arah dan tidak menemukan siapa pun kecuali dirinya sendiri berada di sana. Entah kenapa mendadak ia merinding, dengan segera ia memposisikan motornya tegak dan segera menancapkan gas, lalu segera pergi dari sana. Belum saja Yuna menghidupkan motornya lagi, sebuah truk besar sudah berada di belakangnya.
Yuna gelagapan dan secara mengejutkan motornya melaju kencang mendahului truk besar tadi, meminggirkan motornya di pinggir jalan, itu niat awalnya. Tetapi, sepertinya keberuntungan tidak berpihak kepadanya membuat Yuna harus terjatuh. Kaki kirinya yang tertindih motor besar miliknya sendiri.
"Sial! Kenapa harus jatuh? Stt." Yuna mau tidak mau harus berdiri sendiri, dan kembali berdiri.
"Ada yang aneh di sini, atau aku yang aneh di sini?"
Yuna mengusap lengannya yang terasa sakit, dan celananya robek. Tidak begitu besar, tapi itu menunjukan pahanya terluka, keluar darah dari sana membuatnya meringis kesakitan.
Gadis itu mengambil motornya dan hendak menaiki kendaraannya lagi. Dan kemudian pergi dari sana, meninggalkan kaca spionnya yang patah di tempat kejadian.
Tidak begitu lama Yuna menempuh perjalanan seraya menahan sakit di kakinya, untung saja Yuna memakai sepatu agak tinggi menutupi mata kakinya. Jika saja tidak, mungkin saja Yuna akan kesulitan di jalan tadi.
Sesampainya di rumah, gadis itu langsung masuk ke dalam area rumah miliknya. Dan di depan sudah ada Johan yang menunggunya, lelaki itu langsung berdiri ketika melihat kehadiran Yuna yang memasuki area rumah.
Tetapi, ada yang aneh dengan Yuna. Gadis itu berjalan dengan tidak stabil, tidak sengaja pandangannya ke arah celana yang sobeknya lumayan besar dan terlihat luka yang menganga besar juga di sana. Motor yang ditumpangi oleh Yuna juga licet, dengan satu kaca spion yang hilang entah kemana.
"Kau tidak apa? Biar aku bantu." Johan mencoba membantu Yuna, tapi gadis itu malah menolak untuk di tolongi. Johan juga terdiam dan mengikuti Yuna dari belakang, memastikan jika Yuna tidak kenapa-napa sampai dalam rumah.
"Gantilah pakaianmu dulu, aku akan obati lukamu." Johan mengganti alih menaruh tas Yuna, gadis itu hanya diam dan kemudian masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tidak seimbang.
Johan hanya berdiri memegang tas itu, sebuah hawa lain yang tidak pernah ia rasakan pun datang membuat lelaki itu menoleh ke arah bagian pintu depan. Pintu terbuka sendiri, padahal tidak ada angin yang bisa membuka pintu itu. Pintu itu berat, mustahil bisa di dorong angin.
Tatapan mata tajam itu seketika membuat pintu tersebut tertutup dengan sendirinya. Dan tak beberapa lama kemudian Yuna keluar dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda, masih dengan luka-luka di tubuhnya. Johan berjalan ke arah gadis itu dan membantunya duduk di sofa, membantunya untuk duduk dengan nyaman.
"Aku akan mengambil air hangat dan obatnya." Yuna hanya mengangguk untuk menjawab perkataan Johan tadi.
Ia berdiam diri dan memikirkan kejadian yang baru saja dirinya alami. Tidak masuk akal, sangat-sangat membuat Yuna kebingungan setengah mati.
Secara tanpa di duga suara jendela terbanting membuat gadis itu melonjak kaget, melihat ke segala arah yang terlihat sepi. Walaupun Yuna tau jika di dalam rumah juga ada Johan yang tengah memasak air panas untuk dirinya.
Prak!
"Siapa itu?! Johan?" Secara reflek Yuna menyebut nama lelaki itu, gadis itu mulai ketakutan bersamaan dengan suara-suara aneh yang terasa mengikuti.
"Johan!"
"Kau akan celaka, Yuna. Kau akan celaka!" Suara itu semakin kencang, suara yang seolah berteriak tepat di telinga Yuna. Gadis itu menutup telinganya dengan kencang, rapat dan tidak mau mendengar apa pun. Kakinya yang terasa sakit sebelumnya seolah kalah dengan rasa takutnya.
"Johan! Johan!"
"Ada apa?" Johan berlari membawa obat dan sedikit hampir tersandung karena terburu-buru. Tempat air hangat ia taruh di meja dan melempar obatnya secara reflek.
Lelaki itu memegang kedua tangan Yuna yang menutupi telinganya sendiri, mencoba menenangkan gadis itu. Tetapi, rasanya tidak berhasil sama sekali. Johan pun menarik gadis yang jauh lebih mungil darinya itu masuk ke dalam pelukannya, tidak ada cara lain. Tubuh Yuna terasa gemetaran dan telapak tangan yang dingin, gadis itu ketakutan.
"Tenang, tenanglah. Aku ada di sini, jangan takut." Yuna menutup matanya rapat-rapat, ia bahkan tanpa ragu membalas pelukan Johan begitu erat.
"Jangan pergi ke mana-mana, aku takut. Tadi ada suara teriak di telingaku."
"Tenanglah, ada aku. Kau tidak perlu takut, mari aku obati lukamu dulu, darahnya tidak akan berhenti jika tidak di obati." Yuna melepaskan pelukannya, tangannya masih gemetaran.
Johan merasa iba melihat Yuna yang seperti ini, lelaki itu mengusap kening gadis itu dengan pelan menghapus keringat yang membanjiri di sana. Seperti tujuan awalnya tadi, Johan mengobati luka Yuna. Membersihkan luka itu dengan air hangat, dengan perlahan tentu saja.
"Stt! Sakit-"
"Maafkan aku, aku akan pelan-pelan." Yuna menahan suara teriakannya, luka yang begitu perih meskipun sudah di obati dengan perlahan.
Tidak begitu lama, seperti tidak terasa saja jika Johan sudah selesai mengobati dirinya. Ketika baru saja Johan hendak beranjak dari sana berniat mengembalikan apa yang dia ambil. Yuna sudah menahan tangannya.
"Jangan pergi, aku takut." Johan tersenyum tipis, ia mengusap kepala Yuna dengan lembut dan menggelengkan kepalanya.
"Sebentar saja, di sana. Tidak jauh dari sini, aku akan kembali." Yuna terus mengikuti Johan, arah pandangnya tidak lepas dari Johan.
Sampai lelaki itu kembali dan menggendong Yuna ke tempat tidurnya. Bermalam sehari tidak ada masalah selama Yuna tidak ketakutan seperti tadi, lagi pula Johan harus memastikan banyak hal. Ada yang tidak beres.
𓃹 𓃹 𓃹
Keesokan harinya, terasa aneh sekaligus berat. Mendadak saja badannya memar semua, bukan hanya sekedar memar saja. Dadanya juga terasa sakit dan kepalanya pusing bukan main.
Tidak melihat keberadaan Johan pagi ini, entah kemana lelaki itu pergi sekarang Yuna tidak tahu sama sekali. Padahal semalam Johan menemaninya tidur sampai terlelap, atau mungkin dia kembali ke kamar karena ngantuk?
"Johan, kau dimana?" Lukanya tidak kunjung sembuh, memar semakin banyak setiap saat. Sudah terlewat 1 bulan Yuna hanya berbaring di atas ranjang atau di gendong oleh Johan untuk pergi ke suatu tempat, itu pun tidak jauh-jauh dari rumah.
"Johan." Yuna memposisikan dirinya duduk dan terus memanggil nama lelaki itu. Hawanya sudah mulai panas dingin terasa tidak nyaman. Yuna mulai ketakutan, ia terus di hantui perasaan takut selama ini.
"Johan! kau diman-" Entah cairan dari mana, cairan seperti jatuh dari atas menetes tepat di atas kepala gadis itu. Yuna mendadak ketakutan, ia menunduk dan melihat cairan itu berwarna merah kental menodai selimut tebalnya.
Yuna dengan penuh keberaniannya, badannya gemetaran dan tidak yakin harus melakukan ini. Ia lantas mendongak secara perlahan dan sampai di saat ia bisa melihat ada sosok tepat di atas kepalanya sendiri, dan saat itu juga.
"AAAAAAAA!! JOHAN!!"
"AAAAAAHHHHKKKKKK!!!!!"
𓃹 𓃹 𓃹
Yuna seketika terbangun, dan membuat Johan terkejut dengan kesadaran Yuna yang begitu tiba-tiba. Yuna menoleh ke arah Johan dan memeluk lelaki itu dengan begitu erat, lagi-lagi Johan merasakan tubuh gadis mungil itu gemetaran. Ia hanya diam, mengusap punggung gadis itu dan memeluknya dengan hangat.
"Tenang, aku di sini."
"Tadi ada-"
"Tidak perlu di ingat-ingat jika kau takut." Yuna memeluk erat Johan tanpa ada niat melepaskan dekapannya itu. Tubuhnya gemetaran dan keringat dingin memperlihatkan betapa takutnya Yuna saat ini. Tidak pernah mengalami hal yang se-mengerikan ini sebelumnya.
Jelas sekali Yuna melihat semuanya, dari darah yang menetesi tepat di kepalanya dan melihat wajah sosok yang begitu mengerikan. Yuna tidak ingin mengingat semua itu, hanya saja otaknya menolak lupa. Wajah hancur dengan mulut menganga lebar membuatnya ketakutan, darah menetes dari mulutnya, bola mata yang melotot seolah penuh dengan dendam, suara jeritan melengking seolah sulit dilupakan.
"Minumlah dulu, badanmu demam lagi."
"Tapi yang tadi-"
"Jangan di ingat, kau sedang demam. Itu hanya mimpi buruk saja, Na." Yuna berpikir lagi, ia melihat selimutnya putih bersih tidak ada bercak darah seperti apa yang dia lihat. Benar apa kata Johan, semua itu hanya sebuah mimpi buruk.
Yuna meraih gelas yang Johan berikan kepadanya. Meminum air putih sampai habis. Namun, tanpa di sangka bayangan melewati kaca gelas membuatnya tersedak.
"Uhuk!"
"Yuna!" Yuna tersedak, air masuk ke hidungnya membuat air menetes melewati lubang hidungnya bersamaan dengan, belatung dan darah?
"AAAHHKK!!" Johan lantas memeluk Yuna dengan erat, menyembunyikan wajah itu di dekapannya.
"Jangan dilihat, jangan dilihat."
"Hiks hiks, ada belatungnya-"
"Tutup matamu sekarang, aku mohon." Johan menarik selimut itu dan membuangnya ke sembarang arah. Memeluk Yuna dengan erat, mengusap punggung sempit itu dengan pelan untuk menenangkannya.
Sosok yang Yuna lihat, ada tepat di depan kamar Yuna. Johan melihat, hanya saja tidak mau membicarakan semua itu. Keadaan gadis itu kian memburuk, sepertinya firasat Johan selama ini benar. Yuna di santet.
"Aku akan melakukan apa saja, asalkan kau baik-baik saja. Akan aku cari orangnya." Yuna tidak akan mendengar apa yang Johan katakan tadi, gadis itu sudah terlelap.
Di sisi lain, seseorang tengah memegang sebuah boneka yang entah boneka apa itu. Hanya saja di sana di tusuk jarum, tepat di seluruh tubuh. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan, dan membayangkan jika musuhnya pasti tengah kesakitan sekarang.
"Salah siapa sombong, rasakan ini." Dia menusuk lagi, tepat di bagian dada yang padahal sudah penuh dengan jarum di sana.
" UHUK! " Yuna kembali memuntahkan darah secara tidak sadar, darah membanjiri gadis malang itu dengan sosok menakutkan yang tengah menertawakannya.
𓃹 𓃹 𓃹
"Hahahahaha, rasakan itu Yuna. Kau selalu saja merebut apa yang aku miliki, sekarang giliran kau yang perlahan menghilang dari dunia ini."
"Akan aku buat kau yang menghilang dari dunia ini."
Perempuan itu langsung menoleh ke asal suara, tidak menemukan siapa pun. Ia berusaha mengabaikan suara ancaman tadi yang terasa nyata, ketika ia kembali ingin menatap ke arah boneka yang dia pegang.
"Aaaaaaa!!!" Dia justru melempar benda itu, bukan sebuah benda melainkan sebuah jantung yang masih berdetak yang sebelumnya berada di tangannya.
Perempuan itu terkejut, menatap kedua telapak tangannya yang berlumuran darah berwarna gelap membuatnya berteriak ketakutan dan mencoba keluar dari ruangan itu. Lilin yang awalnya hidup, satu persatu padam.
Bersamaan dengan angin yang entah dari mana datangnya, yang membuat keadaan ruangan seketika berantakan. Menghempas tubuh gadis itu ke dinding dan semua benda tajam berterbangan ke arahnya, tepat di bagian lehernya menancap pisau yang panjang. Darah menetes, mengalir dari dinding membuat matanya membelalak.
"Kau yang mati, bukan Yuna." Perempuan itu melotot, ketika melihat sosok lelaki dengan pakaian putih lusuh. Bahkan suara injakan air dan bau air laut yang mendominasi.
"Aku akan mengantarmu sampai ke neraka, sekarang."