Siang itu Rasti terpaksa mendatangi kamar majikannya. Untuk kesekian kali perawat yang mengasuhnya tiba-tiba mengundurkan diri hingga membuat wanita itu kembali harus merawatnya. Ini bukan kali pertama perawat pribadi Farida mengundurkan diri. Wajar saja siapapun pasti akan mengundurkan diri jika selalu mendapatkan teror dan hal-hal mistis selama merawat wanita itu.
Farida Indrati adalah seorang wanita berusia enam puluh tahun, ia sudah terbaring sakit selama kurang lebih dua tahun lamanya.
Wanita itu sudah seperti mayat hidup yang tidak bisa melakukan apapun dan hanya terbaring lemah di ranjangnya.
Kedua anak-anaknya tinggal di luar negeri sehingga hanya bisa membayar perawat untuk mengurus ibunya. Sedangkan suaminya lebih memilih tinggal di panti jompo daripada menemani istrinya.
Hanya Rasti yang menjadi satu-satunya keluarga Farida yang masih setia merawatnya. Ia sudah bekerja di rumah itu selama dua puluh tahun, hingga Farida menganggapnya seperti anak sendiri.
Rasti bergegas mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk dan membawanya ke kamar Farida.
Entah kenapa meskipun ia sudah puluhan tahun tinggal di rumah tersebut, tetap saja Rasti masih merasa merinding saat memasuki kamar majikannya itu.
*Krieett
Seketika hawa panas menyeruak saat pintu kamar terbuka. Ia perlahan masuk sembari bola matanya berputar menatap sekeliling kamar yang terasa begitu angker.
Farida langsung menatap tajam wanita itu , membuat Rasti ketakutan dan hampir saja menumpahkan makanan yang ada ditangannya. Jantungnya berdetak kencang saat melihat wajah pucat dengan sorot mata menyeramkan majikannya.
Mata Farida yang melotot dengan wajah pucatnya membuat Rasti seakan melihat mahluk halus bukan Farida majikannya.
"Astaghfirullah," ucap wanita itu segera beristighfar
Rasti segera menghampiri wanita itu dan mengusap lembut rambutnya.
" Maaf jika aku terlambat mengantarkan makan siangmu. Sekarang saatnya makan siang dan minum obat Bu," ucap Rasti kemudian meninggikan bantal Farida agar wanita itu bisa duduk bersandar menikmati makanannya.
Ia kemudian memasang celemek agar baju wanita itu tidak kotor terkena makanan.
"Sekarang buka mulutnya yuk, aaaa!" ucap Rasti membujuk wanita itu
Farida membuka mulutnya dan mulai mengunyah makanannya.
Saat Rasti kembali menyuapinya lagi, Farida langsung menggelengkan kepalanya.
"Ibu sudah kenyang?"
Farida mengangguk dan Rasti pun segera memberikan segelas air putih untuknya.
Ia memberikan beberapa pil kepadanya dan membantunya memasukkan obat-obatan itu ke mulut majikannya.
Setelah semuanya selesai, Rasti segera membereskan tempat tidur Farida dan membaringkan tubuh wanita itu ke kembali.
Farida tiba-tiba menarik lengan Rasti saat hendak meninggalkannya.
"Ada apa Ibu, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rasti begitu sopan
Farida kemudian memberikan secarik kertas kepada wanita itu.
"Tolong belikan semuanya di pasar, jangan lupa hubungi nomor itu, suruh dia datang ke rumah nanti malam," ucap Farida
"Baik," Jawab Rasti mengangguk
Wanita itu langsung bergegas keluar dan menuju ke pasar tradisional untuk membelikan pesanan majikannya.
Setibanya di pasar Rasti langsung menuju ke sebuah kedai yang menjual berbagai keperluan orang mati.
Kini tinggal satu barang yang belum ia beli, wanita itu sudah mengelilingi seluruh pasar tapi ia tidak bisa mendapatkan kembang kantil pesanan sang majikan.
"Bagaimana ini, dari ke tujuh bunga hanya kembang kantil yang tidak ada, apa bisa di ganti dengan bunga lainnya?" ucap wanita itu bermonolog
"Jangan pernah menggantinya atau kau akan celaka," ucap seseorang lelaki asing membuat Rasti langsung terkejut mendengarnya
"Baik kalau begitu," jawab Rasti segera menenteng tas belanjaannya dan bergegas pergi
Saat ia menoleh kebelakang tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang, tentu saja hal itu membuat Rasti ketakutan dan segera berlari meninggalkan tempat tersebut.
Setibanya di rumah tak lupa ia menghubungi nomor telepon yang diberikan oleh Farida padanya.
"Halo, ada yang bisa saya bantu," ucap seseorang dengan suara berat dan logat khas jawa yang begitu medok
"Maaf Bapak, saya hanya menyampaikan pesan majikan Saya Bu Farida, beliau mengundang bapak untuk datang ke rumahnya malam ini," jawab Rasti
"Farida, katakan padanya aku tidak bisa datang. Dia harus menyelesaikan sendiri urusannya dan aku tidak bisa membantunya," jawab lelaki itu langsung menutup telponnya
"Tapi pak... halo...halo!"
*Tut..tut...tut!!
Rasti hanya bisa mendengus kesal saat lelaki itu mengakhiri panggilan.
Ia kemudian segera naik ke kamar Farida dan memberikan semua pesanannya.
Ia juga menyampaikan jika pesanannya kurang satu.
"Hanya Bunga Kantil yang tidak ada, aku sudah berusaha mencarinya berkeliling pasar tapi tak menemukan bunga itu,"
Seketika mata Farida langsung melotot dan melempar apa saja benda yang ada di mejanya kearah Rasti.
"Dasar bodoh, pergi!!" seru wanita itu dengan tatapan nyalang membuat Rasti begitu ketakutan dan berlari meninggalkan kamar itu
Saat magrib menjelang seperti biasa Rasti mendengar suara teriakan majikannya.
Wanita itu berteriak kesakitan dan meraung-raung meminta tolong padanya. Namun Rasti tak berani keluar kamar untuk menolongnya.
Ia justru menutup telinganya dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Rasti... Rasti...."
Mendengar suara Farida memanggil namanya membuat Rasti perlahan membuka selimutnya.
Ia begitu terkejut saat melihat wanita itu duduk di tepi ranjangnya.
"Ibu, bagaimana kau bisa ke kamar ku?" tanya wanita itu ketakutan,
Farida membalikkan badannya membuat Rasti berteriak histeris saat melihat wajah menyeramkan wanita itu.
"Arrghhh!!" seru wanita itu kemudian melompat dari ranjangnya berusaha meninggalkan Farida
Namun wanita itu langsung menarik bajunya hingga membuat Rasti semakin ketakutan dan terus berteriak minta tolong.
"Tolong aku Rasti, jangan pergi!" ucap Farida membuat Rasti semakin berteriak ketakutan
"Pergi, jangan ganggu aku!!" serunya
Tiba-tiba wanita itu terbangun dan mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Syukurlah hanya mimpi,"
Rasti kemudian bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Ia buru-buru keluar dari toilet saat kembali mendengar suara teriakan Farida yang meraung-raung kesakitan.
Rasti kemudian menuju ke dapur mengambil segelas air putih dan meneguknya. Entah kenapa tiba-tiba ia mendengar suara berisik di dalam gudang.
"Kenapa berisik sekali," ucap wanita itu penasaran
Ia perlahan mendekati ruangan itu,
Suara itu terdengar begitu jelas saat ia menempelkan telinganya di pintu gudang. Karena penasaran ia berinisiatif untuk membuka pintu ruangan itu. Namun ia dikagetkan saat seseorang tiba-tiba menarik bahunya, saat hendak membuka pintu gudang itu.
"Huft, Bapak... mengagetkan saja. Kenapa tidak bilang kalau mau datang," ucap Rasti mengusap dadanya yang masih berdebar-debar karena rasa takut yang menderanya.
"Jangan pernah membuka gudang itu atau kita semua akan mati," ucap Sunarto menghela nafas
"Baik, maaf saya hanya penasaran tadi,"
"Sebaiknya segera cari perawat baru untuk Farida, kalau bisa sebelum malam jumat," ucap lelaki itu
"Baik, saya akan coba cari di agen biar cepat dapat,"
"Hmmm,"
Lelaki itu kemudian meninggalkan Rasti dan menuju ke kamar istrinya.
Rasti melihat lelaki itu sedang berbicara kepada istrinya. Namun ia tak berani menguping apa yang mereka bicarakan. Jujur saja Rasti lebih takut kepada Sunarto daripada Farida yang terlihat seperti mayat hidup.
Keesokkan harinya, Rasti segera pergi ke sebuah agen penyalur asisten rumah tangga. Ia langsung menemui sang pemilik dan meminta seorang ART untuk merawat majikannya.
"Wah kebetulan sekali, kami tidak memiliki pegawai yang kompeten untuk merawat manula, semua perawat sudah dikirim kemarin, jadi kami minta maaf," ucap pemilik Agen
"Wah sayang sekali, dari pagi saya sudah berkeliling ke agen-agen penyalur ART tapi tidak satupun agen yang memiliki perawat," keluh Rasti
Seorang gadis muda datang menyajikan segelas teh hangat untuk keduanya.
"Silakan di minum Jeng Ras," ucap pemilik Agen
Rasti menatap lekat gadis itu.
"Siapa dia??" tanyanya kepada pemilik Agen
"Dia Siti, kebetulan ia baru datang dari kampung, dan berniat mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, karena ia belum memiliki pengalaman kerja aku tidak berani memberikannya padamu," jawab Pemilik Agen
"Tidak masalah, aku tidak butuh perawat yang berpengalaman, aku bisa melatihnya jadi jangan khawatir. Kau bisa kan memberikan dia untukku, please!" ucap Rasti sedikit memaksa
"Maaf Ras, aku tidak bisa. Cari saja di agen lain, aku yakin kau pasti akan menemukannya,"
"Tapi aku sangat membutuhkannya sekarang," ucap Rasti langsung bersimpuh di kaki wanita itu
Mau tidak mau Pemilik Agen memanggil gadis kecil itu dan bertanya padanya, bersedia atau tidak merawat manula yang sakit.
"Iya aku mau," jawab gadis itu tanpa berpikir panjang
Pemilik Agen begitu terkejut mendengar jawaban gadis itu.
"Apa kau yakin??"
"Tentu saja, lagipula aku sudah terbiasa merawat nenekku yang sakit jadi tidak masalah,"
Pemilik Agen hanya menghela nafas saat melepas kepergian gadis itu.
Sore itu juga Rasti langsung mengajak gadis kecil itu ke kediaman majikannya.
Siti langsung merasakan aura mistis saat Rasti membuka gerbang rumah itu.
Meskipun ia hanya orang awan tapi ia bisa merasakan jika rumah itu sangat angker.
Ia bahkan melihat sosok Lelaki tinggi besar saat memasuki kamar Farida.
Ia tak berani memperlihatkan rasa takutnya karena ia tidak mau Rasti ketakutan saat ia memberitahunya.
Gadis itu melangkah perlahan sambil mencoba membaca ayat-ayat suci saat memasuki kamar itu.
"Ini kamar Bu Farida, tugas kamu hanya memberinya makan, minum obat dan menyeka serta mengganti pakaiannya, selebihnya tidak perlu," ucap Rasti memberikan pengarahan
Siti terus menatap kearah jendela membuat Rasti langsung membalikkan tubuh gadis itu karena merasa diacuhkan.
"Kalau diajak ngomong itu ya mbok nyaut atau tatap matanya, bukan malah melengos," ucap Rasti kesal
"Maaf, aku hanya berusaha mengusir mahluk itu!" jawab Siti menunjuk ke sudut ruangan,
Tentu saja Rasti langsung memegang tangan gadis itu setelah mendengar ucapannya.
"Jangan mengada-ada," bisiknya sambil melirik kearah Farida yang mulai membelalakkan matanya
"Aku tidak bohong," jawab Siti kemudian mengalihkan pandangannya
Ia kemudian mendekati Farida, dan memegang tangannya.
Entah kenapa seketika Farida langsung tertidur saat gadis itu menyentuh tangannya.
Melihat hal itu Rasti segera mengajak gadis itu keluar dari kamar Farida.
"Apa benar kau melihat sesuatu di kamar itu?" tanya Rasti
"Iya, ada sosok mahluk tinggi besar di kamar itu, aku begitu takut hingga berusaha membaca apapun yang aku bisa," jawab gadis itu
Rasti kemudian menenangkan gadis itu, dan mengatakan jika yang dilihatnya hanya ilusi.
Ia Kemudian mengantar gadis itu ke kamarnya, tidak lupa ia memberitahu gadis itu untuk tidak membuka gudang, apapun yang terjadi.
Tidak lupa Rasti segera menghubungi Sunarto untuk memberitahukan kepadanya kalau ia sudah mendapatkan perawat yang akan merawat Farida.
Sore itu Sunarto pulang ke rumah, ia segera menuju kamar Farida dan melarang gadis itu saat akan menyeka tubuhnya,
"Biar aku saja yang melakukannya, ini hari pertama kamu kerja bukan, sebaiknya kamu istirahat saja, biar aku yang akan menyeka istriku untuk terakhir kalinya," jawab lelaki itu.
"Baik," Siti langsung keluar dan kembali ke kamarnya
Saat mendengar adzan magrib berkumandang gadis itu langsung mengambil air wudhu untuk sholat magrib.
Entah kenapa, Farida yang biasanya berteriak kesakitan saat magrib menjelang, malam itu ia terlihat tenang. Tak ada suara jeritannya membuat Rasti penasaran.
Saat Siti sedang sholat sesosok bayangan hitam mencoba mengganggunya, tentu saja hal tersebut membuat Siti langsung memejamkan matanya agar ia lebih khusu.
"Assalamualaikum warahmatullah,"
Saat membuka matanya Siti begitu terkejut melihat sosok mengerikan didepannya.
"Aarrrgghh!!" gadis itu langsung berteriak ketakutan dan mencoba berlari meninggalkan kamar itu,
Ia mencoba mengetuk pintu kamar Rasti, namun wanita itu tak mau membukakan pintu untuknya meskipun tahu jika gadis itu terus menggedor-gedor pintu kamarnya.
*Dor, dor, dor!!
"Buka pintunya, tolong buka pintunya!!" seru gadis itu begitu ketakutan
Rasti berusaha mengabaikan suara itu meskipun nuraninya begitu ingin menolong gadis itu.
Jangan pernah keluar dari kamar mu apapun yang terjadi, jika kau ingin selamat
Ucapan Sunarto terus terngiang di telinganya hingga membuat wanita itu tak berani membukakan pintu untuk Siti.
"Maafkan aku nduk, aku juga masih ingin hidup agar bisa menafkahi kedua putriku," ucapnya lirih
"Aarrrgghh!!!" suara teriakan terdengar begitu keras hingga membuat gendang telinga Rasti begitu sakit mendengarnya.
Tiba-tiba, suasana menjadi hening, tak terdengar lagi suara Siti berteriak apalagi menggedor-gedor pintu.
Rasti yang penasaran perlahan membuka pintu kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.
"Tidak ada siapapun disini??"
Rasa penasaran membuat Rasti berjalan menuju ke kamar Siti. Karena tidak menemukan apapun di kamar itu, ia kembali mencari gadis itu ke kamar Farida. Ia semakin terkejut saat tidak melihat Farida di kamar itu.
"Kemana mereka??"
Tiba-tiba terdengar suara gamelan membuat Rasti mengernyitkan keningnya. Suaranya yang makin terdengar jelas membuat wanita itu mengikuti sumber bunyi gamelan itu.
Ia menghentikan langkahnya tepat di depan gudang. Seperti seorang yang terhipnotis dengan alunan lembut gamelan ia membuka pintu gudang itu.
Seketika ia terpaku melihat Farida tengah menari mengikuti alunan musik gamelan,
"Syukurlah sekarang kau sudah sembuh Ibu," ucap wanita itu tersenyum melihat Farida yang masih meliuk-liukkan tubuhnya,
Tiba-tiba Farida berhenti menari saat mendengar ucapannya, ia kemudian membalikkan badannya kearah Farida.
Rasti langsung berteriak keras saat melihat wajah menyeramkan Farida, saat ia berusaha berlari Farida langsung mencekiknya membuat wanita itu kesulitan bernafas.
Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran membuat Farida langsung melepaskan cekikannya dan berusaha menyerang Siti yang sedang membaca ayat Suci.
Sunarto seketika datang dan menarik lengan Farida, "Kita harus segera pergi dari rumah ini!"
"Tapi bagaimana dengan anak itu?" tanya Rasti
"Kita tidak bisa menolongnya, kau harusnya sudah tahu saat gagal mendapatkan sesaji yang diminta oleh wanita itu," jawab Sunarto
"Sekarang terserah padamu, kau mau menjadi tumbal Mahluk itu atau pergi menyelamatkan dirimu sendiri," imbuhnya bergegas pergi meninggalkan rumah itu