Jika ada seseorang yang membuangmu seperti sampah, ketahuilah akan ada seseorang yang mengambilmu seperti berlian
-Ali bin Abi Thalib
**
Mobil berwarna hitam terlihat sudah terparkir mengisi kekosongan halaman rumah nenek, ya itu dia, gadis cantik bernama Zaskia Veranda. ia disambut begitu hangat oleh para tamu keluarga yang sudah lebih dulu hadir tak terkecuali Rafael Putra yang membawa sang keponakan bernama Shakeel.
Vera masuk dengan bibir yang selalu menampilkan senyuman, tak pernah terlihat raut wajah kesedihan darinya, jikalau bersedih pun ia tau batasan dan lebih memilih untuk menyembuyikan semuanya.
"Hello everybody, im coming" ia datang dengan memutar mutar gantungan kunci mobil pada jari telunjuknya nya.
"Assalamualaikum Verr, biasain sapa salam dulu sebelum masuk" Lidya sebagai seorang ibu datang menyambut Vera.
Vera menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Hehee sorry ma kebablasan, lagian Vera, e-eh ini anak siapa?" belum selesai ia berbicara ia sudah gagal fokus pada salah satu anak kecil lelaki yang sedang asik membuka bungkus coklat.
"Coba kamu liat belakang" Vera menoleh melihat kebelakang dan mendapati Rafa yang sedari tadi memperhatikan keduanya.
"Itu keponakannya Rafa namanya Shakeel, kalian ngobrol dulu gih" ujar Lidya meninggalkan Vera.
Sesaat mereka saling berbincang dengan berbagai hal random, mereka memang sudah saling mengenal cukup lama tapi terhalang oleh jarak serta waktu yang tidak menakdirkan mereka untuk bertemu lebih awal.
Shakeel datang dengan membawa bungkus coklat yang kosong dengan raut wajah cemberut.
"Om rapaa coklat Cakil jatuhh, itu tu disitu" tunjuknya dengan gaya bicara yang cadel
Vera beranjak dari kursi yang ia duduki dan berjongkok menghadap Shakeel
"Duh coklat shakeel jatuh ya, ini ni kakak ganti coklat yang baru, kamu mau?" Vera mengeluarkan sebatang coklat yang ia simpan didalam tas miliknya.
"Boleh kak?" tanya Vera menoleh menatap Rafa dan ia mengangguk setuju.
Vera tersenyum dan memberikan coklat nya untuk Shakeel.
"Nih, tapi Shakeel janji, Shakeel harus sikat gigi udah ini, oke?" Vera mengeluarkan jari kelingking nya untuk ditautkan bersamaan dengan jari kelingking Shakeel
"Iyaa ontyy Cakil janji, makacii onty cantik" ucapnya memamerkan giginya yang cuma terhitung tiga buah tampak depan.
Vera menatap Shakeel tak percaya dengan sebutan 'onty' yang dilontarkan untuknya, Rafa hanya tertawa melihat reaksi Vera, usia dini seperti Shakeel memang dikatakan sedang asik berbicara apa yang sering ia dengar.
**
Disaat Vera pulang pun, Rafa meminta Vera untuk melangsungkan video call dikarenakan Shakeel yang terus terusan meminta nya untuk menelpon sang onty.
Bahkan Handphone milik Rafa pun Shakeel yang menguasai, Vera siap membuka telinganya mendengarkan ocehan Shakeel yang terlanjur nyaman dengan kehadirannya.
Sampai akhirnya Shakeel tak sengaja mengatakan "Kenapa onty gak cama cama om Rapa aja bial Cakil bisa main cama onty teyus" Vera hanya diam bingung menanggapi pertanyaan bocah satu ini.
"Shakeel makan dulu sinii gih" teriak seorang yang merupakan Rafa karna ia tau bahwa sang keponakan mulai tak bisa menjaga kata kata.
Rafa meminta maaf jika keponakan nya membuat dirinya tak nyaman, tapi itu tak membuat Vera risih, ia malah senang bisa berkomunikasi dengan Shakeel.
*
'Sabar ya nak, calon aunty mu lagi om seleksi' caption yang tertera pada salah satu story sosmed milik Rafa.
Vera tak ingin salah paham dan berpikir sangat jauh dari peradaban manusia.
namun ia tetap menganggap Shakeel adalah sebuah keponakan dikarenakan ia dan Rafa merupakan saudara jauh.
Hari berganti bulan, Vera masih berkomunikasi baik dengan Rafa bahkan mereka sering bertemu bersama dengan shakeel yang semakin menggemaskan.
"Ver, Shakeel suka banget sama kamu, gimana kalau kita pacaran biar Shakeel seneng kita makin Deket"
What?!, Vera mematung mendengar kalimat yang Rafa ucapkan
"Vera punya prinsip buat gak bakal pacaran kak" hanya itu yang bisa ia jawab sejujurnya.
"Yaudah kalo gitu kita nikah"
Haha yang benar saja, mereka berdua masih memiliki ikatan keluarga walau tak tau darimana silsilah nya.
"Tapi kita masih keluarga, lagian Vera belum mau nikah kak, toh Vera masih dua pulu-"
"Kakak bisa tunggu 3 taun kedepan" seakan tidak ada penolakan, Vera hanya mampu diam tanpa menjawab.
Dua bulan berikutnya, Rafa mulai jarang memulai komunikasi dengan Vera, lain halnya dengan Shakeel yang terus terusan mengatakan merindukan suara aunty nya. Tapi Vera tak mempermasalahkan itu, ia juga belum ada hubungan dengan Rafa. Hanya sesekali mereka berkomunikasi
dan saat tiga tahun berikutnya, Vera masih setia menunggu Rafa, walau ia tak terlalu menaruh harapan lebih. Rafa dikabarkan akan meminang seorang gadis dan Vera berharap bahwa itu dia, dan dilangsungkan pada Minggu ini.
*
malam dengan langit yang bertaburan bintang menambah kesan istimewa untuk acara apapun.
Para tamu keluarga pun sudah berkumpul untuk melihat siapa yang akan Rafa pinang, Vera terlihat tenang dan duduk di tengah para keluarga.
"Sebelumnya maaf dan terima kasih untuk Vera, maaf karna sudah pernah menaruh perasaan walau sedikit dan terima kasih karna sudah menjaga Shakeel. Rafa juga mohon doa restu dari keluarga karna Rafa akan meminang gadis pilihan Rafa yaitu Audira Arminanda anak dari bapak Revanando"
Vera hanya bisa tersenyum pedih mendengar Kalimat yang Rafa lontarkan menggunakan mic itu, ia menoleh kearah Audira yang tersenyum merekah yang disandingkan disebelah Rafa hari itu.
Shakeel pun dapat merasakan apa yang aunty nya rasakan, ia tak bisa berbuat apapun jika bukanlah Vera yang Rafa mau.
Keluarga yang mengetahui kedekatan Rafa dan Vera semua menoleh kearahnya yang sedang menundukkan kepalanya sesekali menengadahkan keatas.