Ia mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Tubuhnya lemas dan punggung tangannya masih bertempelkan selang infus, sedang tubuhnya dibalur dengan pakaian rumah sakit.
Sebenarnya ini yang keberapa kali, sih, dia tidur di ranjang ruangan bernuansa putih ini? Ah, ia sudah tak ingat lagi, kepalanya terlalu sakit hanya untuk sekedar mengingat hal remeh itu. Gadis yang kerap disapa Alin itu harusnya sudah biasa dengan bau khas obat-obatan yang menusuk indra penciumannya. Tapi kenapa juga ia selalu tak siap dengan ini, bayang-bayang kematian selalu saja muncul paling awal dibenaknya.
"Alin? Kamu udah bangun, sayang?" Alin menoleh ke samping, mendapati Sang Bunda yang menatapnya sayu namun masih tetap memperlihatkan lengkung bulan sabitnya. Tak ada lagi pendar kebahagiaan di matanya, tergantikan oleh kesedihan, kekhawatiran, dan ketakutan yang berkecamuk menjadi satu. Alin tersenyum lemah.
"Mau minum?" Tawar Bunda Kirana disambut anggukan oleh Alin. Kirana membantu Alin duduk, menopang punggungnya dan dengan segera ia ambil gelas air minum di nakas. Setelah menyesap beberapa teguk air, Kirana kembali memposisikan Alin seperti semula, tidak mungkin ia membiarkan anak bungsunya berlama-lama duduk sementara tubuhnya masih lemah. "Masih mual?" tanya Bunda Kirana.
Alin menggeleng, "Sedikit," ucapnya diakhiri senyum tipis.
Pintu kamar rumah sakit itu terbuka, membuat keduanya mengalihkan perhatian ke benda putih yang terbuat dari kayu. Terlihat sosok pemuda tinggi nan tampan muncul setelah pintu terbuka sempurna. "Halo, Bunda. Uhh, adek Abang tersayang." Ujarnya seraya mencubit pipi adiknya yang mulai tirus itu.
"Sakit, Bang," ucap Alin lemah.
"Ndra, kamu itu dateng-dateng bikin rusuh aja," tutur Sang Bunda sementara yang dibicarakan hanya tersenyum tak berdosa.
"Gimana kemonya?" tanya Chandra setelah mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Lancar, pasti bentar lagi Alin sembuh," ucap Bunda Kirana tersenyum sembari mengelus lembut kepala anak gadisnya.
Leukimia Mieloblastik Akut yang diderita gadis bernama lengkap Mayleen Keeva Fariza itu membuatnya hanya bisa berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Walaupun tidak banyak, ia yakin pasti ada harapan untuknya.
Tuhan selalu bersamanya, 'kan? Bersama orang-orang yang memohon dan berharap padanya. Memang, tak ada jaminan harapan kecilnya ini terkabul. Tapi jika bukan dengan Tuhan, pada siapa lagi dia akan meminta, pada siapa lagi dia akan memasrahkan hidupnya. Bukankah kita selalu diajarkan untuk selalu memohon dan meminta pada Sang Maha Kuasa? Sekalipun itu sesuatu yang mustahil.
Kau tahu, apa yang membuat jiwa gadis itu enggan meninggalkan raganya? Masih setia bergelut dengan kesakitan ditemani ranjang pesakitan. Kau tahu, bagaimana hancurnya hati saat melihat seseorang menangis tersedu-sedu karena dirimu? Terlebih lagi dia adalah orang yang telah merawatmu selama kau hidup di dunia. Memberimu kasih sayang tiada batas, memberimu perhatian tiada kata lelah. Kau tahu betapa sakitnya itu? Semuanya hancur, sakit, lebih sakit daripada yang dirasakannya saat menjalani kemoterapi yang selama satu tahun terakhir ini rutin ia jalani.
Walaupun munafik kalau Mayleen mengatakan dia tidak lelah setelah pergulatan panjangnya melawan dirinya sendiri. Tapi rasa itu kalah ketika melihat Sang Bunda menangis tersedu-sedu meratapi nasib putri bungsunya. Sebesar apa, sih, dosanya hingga Tuhan memberinya ujian penghapus dosa semenyakitkan ini?
Pernah suatu waktu Alin mendapati Bunda Kirana menangis sendirian saat dia tengah melewati pintu kamar Ayah dan Bundanya itu.
"Bunda nangis?" Tanya Mayleen setelah dirinya berada di dalam kamar, mendekat ke sisi ranjang dimana Bunda Kirana duduk. Dan dengan segera Bunda Kirana menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. "Dasar! Sudah jelas-jelas nangis, pakai ditanya. Omonganmu salah Alin!" Alin merutuki sendiri ucapannya dalam hati, kok tiba-tiba dia jadi bodoh begini, sih?
"Nggak, Bunda nggak nangis kok."
"Bun ..." ada jeda sebelum Mayleen melanjutkan kalimatnya. "Bunda percayakan sama Mayleen?" Bunda Kirana menatap anaknya iba. Bagaimana bisa Putrinya ini sangat tegar. Memang, sebagai Ibu dia harusnya bisa menguatkan Alin. Tapi hati Ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya menderita sakit yang tak main-main seperti ini. "Mayleen pasti sembuh, apapun itu pasti Mayleen sembuh," ucap Mayleen mantap sembari menatap netra coklat Bundanya.
Manusia memang berencana, Tuhan jugalah yang menentukan. Itu 'kan yang seharusnya ditanamkan pada setiap insan yang memiliki nyawa. Jika kita memohon sesuatu dan Tuhan mengabulkan, kita harus bersyukur. Tetapi jika kita memohon sesuatu dan Tuhan tidak mengabulkannya, kita harus lebih bersyukur. Karena rencana Tuhan adalah sebaik-baiknya rencana. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Harusnya hal itulah yang ditanamkan pada keluarga kecil ini ketika mendapati kabar yang sungguh tak pernah ingin mereka dengar. "Maaf, kami sudah berusaha sebisa mungkin. Tetapi sepertinya Tuhan lebih sayang dengan Putri Anda." Itu adalah kata-kata terakhir yang didengar Bunda Kirana sebelum semuanya menjadi gelap.
Setiap perjuangan tidak ada yang sia-sia. Termasuk perjuangan Mayleen melawan penyakitnya yang beberapa lalu dideritanya. Beberapa lalu, karena kini dia sudah tak sakit lagi. Walaupun berat, tapi ini takdir yang sudah digariskan Tuhan sejak dirinya masih berada dikandungan Sang Bunda.
"Bun ... Alin bersukur punya Bunda kayak Bunda, punya Ayah kayak Ayah, punya Abang kayak Bang Chandra, walaupun nyebelin tapi nggak papa, Alin tetep sayang, kok." Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang Mayleen ucapkan sebelum tidur. Tidur selamanya hingga tak bangun lagi.
***
Malam itu, tepat satu bulan setelah kepergian Alin. Bunda Kirana mencoba masuk ke kamar mendiang Putrinya. Mencoba menghirup aroma Alin yang masih tertinggal. Lalu duduk di kursi meja belajar dekat jendela. Ia membuka laci, mendapati sebuah surat yang terbungkus pita merah muda.
Bunda ...
Ayah ...
Bang Chandra ...
Kalau kalian nemu surat ini, berarti Alin udah kalah. Maafin Alin, ya, Bun, Yah, Abang. Alin nggak bisa jadi juara untuk yang satu ini. Alin udah ngingkarin janji Alin buat bisa sembuh. Alin sayaaaanggg banget sama semuanya.
Khusus untuk Bunda, jangan sering nagisin Alin ya, Bun. Nanti Alin ikut sedih, Alin bisa lihat loh dari surga. Makasih udah mau ngerawat Alin sampai segede gini. Makasih buat semua pengorbanan Bunda. Alin sayang Bunda.
Mayleen tunggu di surga ya :)
Mayleen Keeva Fariza
Tetesan air mata membasahi lembaran surat yang ditulis oleh Alin. Tak disangka, bahwa Alin sempat menuliskan ini, sudah mempersiapkan hal ini. Alin hanya ingin semuanya tetap bahagia walaupun tanpa dirinya. Semuanya harus berjalan semestinya walaupun tanpa dirinya. Semuanya harus seperti sedia kala. HARUS!
***