"Ma, biar aku sama Papa aja yang angkat barang nya. Mama duduk aja di dalam sama Adek." Ucap Alea, sambil mengangkat barang-barang yang masih di dalam mobil.
"Iya sayang, kamu duduk aja di dalam. Entar kalo tiba-tiba si Adek rewel kan gawat." Ucap Alex.
"Iya-iya, kalian berdua ni bawel deh." Jawab Elen.
Mereka bertiga pun tertawa layak nya keluarga bahagia yang baru saja pindah ke rumah baru.
Keluarga kecil Alex baru saja pindah ke rumah baru mereka, karena dirinya berhasil menyelesaikan proyek besar di kantor nya.
"Wah rumah nya bagus ya Ma, Pa?" Ucap Alea yang terkagum melihat rumah tersebut.
"Iya, sepertinya ini rumah bangunan Belanda ya Pa?" Tanya Elen.
"Iya sayang, rumah ini termasuk murah loh makanya Papa ambil." Jelas Alex.
"Ayok Kak cepat kita beresin ini, biar nanti bisa tidur enak." Ucap Alex lagi.
"Oke Pa! Mama jangan angkat-angkat ya!" Perintah Alea pada Elen.
"Iya sayang iya."
Alea dan Papa nya pun sibuk mondar-mandir menyusuni barang yang telah mereka turunkan dari mobil sebelum nya.
Sedangkan Elen dan putri kecil nya Clara yang berusia 3 tahun tengah berjalan menyusuri setiap sudut rumah tersebut.
"Amaa.... ntuu (Mama itu)." Ucap Clara yang tidak jelas sambil menuju ke salah satu ruangan yang pintu nya terbuka sedikit.
Dengan spontan mata Elen pun mengikuti arah yang di tunjuk oleh putri kecil nya tersebut.
Ia sipit kan mata nya memastikan apa ada sesuatu yang dilihat oleh sang putri bungsu nya. Tetapi nihil, tidak ada apapun di ruangan tersebut.
"Apa? Adek lihat apa?"
Clara pun tanpa menjawab menggandeng telunjuk Elen dengan tangan mungil nya, dan mengajak nya pergi dari tempat tersebut.
"Kenapa sama anak ini?" Batin Elen.
Beberapa jam kemudian:
Alea meregangkan tangan nya ke atas, dan menyandarkan tubuh nya di punggung sofa tempat ia, dan keluarga nya duduk.
"Ea... ain yuk! (Alea main yuk!)." Ucap Clara yang kini telah berdiri di hadapan Alea dengan wajah imut nya.
"Ea Ea, Kakak Clar Kakak..." Tegas Alea.
"Akak! (Kakak)." Ucap Clara sambil memanyunkan bibir mungil nya.
Dengan gemas Alea pun segera mengangkat Adik kecil nya tersebut ke pangkuan nya, dan menciumi pipi gembul nya tersebut.
"Ain... yuk! (Main yuk!)." Ucap Clara lagi.
"Gak mau, Kakak capek Clar, besok aja ya." Jawab Alea.
Clara pun mendorong tubuh Alea agar ia bisa turun dari pangkuan sang Kakak, dan berlari sambil menangis ke arah Elen.
"Huaaa....Huaaa....Huuaa!!!!"
"Lah kok nanges??" Ucap Alex.
Alea dan Elen pun tertawa mendengar ucapan Alex.
"Sudah-sudah anak ini udah ngantuk. Ayok kita tiduran, sekarang sudah jam setengah 12 malam." Ucap Elen.
Alea dan Alex pun menyetujui nya, dan mereka pun pergi ke kamar masing-masing.
____________________
KAMAR ALEA:
Pukul 00:23 pm.
Tok...Tok...Tok...
Sayup-sayup Alea membuka mata nya, dan menggosok-gosok kedua mata nya dengan tangan.
Ia mengernyitkan dahi nya sambil menatap pintu kamar nya yang terus-terusan di ketuk oleh seseorang.
Alea pun bangun, dan duduk di pinggir kasur nya sebelum membuka pintu tersebut. Ia lirik jam dinding di kamar dan menunjukkan pukul 00:23 malam.
"Siapa si malam-malam gini?" Ucap Alea, sambil berjalan membuka pintu kamar.
Ceklek!
Pintu pun terbuka, betapa terkejut nya Alea saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu kamar nya.
"Clara?!" Ucap Alea.
"Kamu ngapain disini? gimana cara nya kamu keluar kamar?" Tanya Alea.
Tanpa menjawab pertanyaan Alea, Clara pun berlari masuk ke dalam kamar Alea sambil membawa boneka di dalam pelukan nya.
"Clara kembali ke kamar, nanti Mama nyariin loh." Jelas Alea yang masi berdiri di depan pintu.
Clara yang telah duduk di lantai sambil bermain dan tertawa pun tiba-tiba menoleh pelan ke arah Alea dengan tatapan dingin dan datar.
"Ga.. au (Gak mau)." Ucap nya singkat.
Alea menarik nafas nya panjang, sambil menutup pintu kamar nya tersebut dan berjalan ke arah kasur.
"Yasudah, sini bobo sama Kakak aja." Ajak Alea yang telah duduk di pinggir kasur nya.
Clara hanya diam dan bermain boneka nya sambil tertawa ceria.
Alea yang merasa lelah pun tidak memusingkan hal tersebut. Ia merebahkan tubuh nya di kasur sambil menyelimuti dirinya.
"Nanti kalau ngantuk bangunin Kakak ya, biar Kakak angkat ke kasur." Ucap Alea.
Clara pun hanya mengangguk dan masih asik bermain.
"Lagian pintu kamar juga udah aku kunci kok." Batin Alea sambil memejamkan mata nya.
Alea yang sangking lelah nya pun langsung tertidur kembali. semenit, dua menit, tiba-tiba saja Clara memberhentikan mainan nya, dan menoleh secara perlahan ke arah Alea dengan tatapan dingin nya.
____________________
Keesokkan Harinya:
Di Meja Makan:
Alea berlari dari kamar nya dan dengan cepat menuju ke arah meja makan dengan wajah panik nya.
"Mama! Clara, Clara diman.."
Perkataan nya terhenti saat dirinya melihat Adik semata wayang nya tengah duduk dengan polos nya sambil memakan makanan nya di meja makan.
"Apasih Kak, pagi-pagi udah teriak-teriak aja?" Tanya Elen yang tengah menyantap sarapan nya.
"Loh kok Clara bisa disini?" Tanya Alea kembali sambil menarik kursi makan nya.
"Apa maksud mu Kak?" Tanya Alex.
Alea mengernyitkan dahi nya sambil menatap Clara yang sedang makan.
"Tadi malam Clara ngetuk pintu kamar aku Ma, Pa. Terus aku suruh masuk ke dalam kamar ku karena dia gak mau balik ke kamar Mama sama Papa. Terus ku ajak lah dia tidur, tapi dia gak mau masih asik main sama boneka nya. Ya terus aku tinggal tidur deh. Soalnya aku pikir bakal aman, karena pintu kamar ku sudah aku kunci. Tapi pagi tadi aku bangun tiba-tiba Clara gak ada, ya aku panik dong Ma, Pa." Jelas Alea.
Alex dan Elen pun saling bertatapan karena bingung setelah mendengar cerita putri sulung nya.
"Kamu kecapean kali Kak, makanya mimpi di datangin Adek mu." Jawab Alex yang menenangkan anak nya.
"Iya, orang si Adek tadi malam jelas-jelas tidur bareng Mama sama Papa kok, pintu kamar juga tadi malam Mama kunci. Terus tadi pagi pas Mama bangun duluan si Adek juga masih tidur di kamar Mama." Jelas Elen.
Alea menggaruk tengkuk nya karena bingung dengan apa yang terjadi.
"Sudah, itu karena kamu kecapean aja. Gak perlu di pikirin Kak." Ucap Alex.
Alea mengangguk, dan mulai memakan sarapan nya yang sudah disediakan oleh sang Mama di atas meja makan.
"Kakak sekolah mau bareng Papa atau gimana?" Tanya Alex.
"Gak usah Pa, Aku berangkat sendiri aja naik ojek. Soalnya aku juga belum siap-siap." Jawab Alea.
"Yasudah, ini uang buat naik ojek nya. Hati-hati ya berangkat sekolah nya. Kalau gitu Papa berangkat kerja dulu." Ucap Alex.
Mereka bertiga pun bergantian mencium tangan Alex, dan Elen pun berdiri mengantar suami nya ke depan rumah untuk pergi bekerja.
"Tapi tadi malam bukan kayak mimpi." Batin Alea.
____________________
SMA 23:
Pukul 09:30
Alea memandangi halaman sekolah nya melewati jendela kelas nya.
"Alea!" Kejut Lili sahabat nya.
"Astaga, Lili! gue kaget tau!" Ucap Alea yang terlihat kesal.
Lili pun tertawa karena berhasil membuat Alea terkejut.
"Lo gak ke kantin?" Tanya Lili.
"Gak, gue gak laper." Jawab Alea.
Lili mengernyitkan dahi nya dan menatap Alea dengan sangat dekat.
Dengan cepat Alea pun menyudul kepala Lili dengan telunjuk nya, hingga membuat kepala nya terpental kebelakang.
"Apaan si lo Li!"
"Habis nya dari tadi gue liat lo murung aja, gak kayak biasa nya." Jelas Lili sambil memegang jidat nya.
Alea terdiam dan masih memandangi halaman sekolah nya melalui jendela kelas.
"Lo kenapa?" Tanya Lili.
Alea pun berbalik memandang Lili dengan tatapan serius, hingga membuat Lili pun menahan tawa nya.
"Sial lo! ah gak jadi lah gue cerita!" Ucap Alea yang semakin kesal.
"Bwahaha ya habis nya, lo sok-sokan serius, gak cocok tau!" Ejek Lili.
"Oke-oke lo mau cerita apa?" Tanya Lili yang kini berubah serius.
Alea yang melihat Lili mulai serius pun membuat nya menceritakan apa yang telah terjadi pada nya tadi malam.
........
"Bener si kata nyokap sama bokap lo, kayak nya lo cuman kecapekan Al." Jawab Lili.
"Tapi itu kayak nyata Li."
"Em... hayuuuk Alea!!" Ucap Lili sambil menunjuk ke arah Alea.
"Jangan-jangan itu penghuni rumah lo yang sebelum nya." Lanjut nya lagi.
"Apaan si lo, gak lucu tau!"
Lili pun tertawa terbahak-bahak setelah menjahili Alea sejak tadi.
____________________
Pukul 16:00
Alea pun tiba di rumah nya. Sesampai nya ia di halaman rumah, Alea pun melihat sang Mama sedang asik mengobrol dengan tetangga sebelah rumah nya.
Alea berjalan mendekati Elen, samar-samar ia mendengar tetangga tersebut tengah membicarakan rumah yang sedang ia tinggali.
"Kira-kira sudah 5 tahunan kosong sih buk. Makanya pas saya di kabarin tetangga sekitar rumah ini akan dihuni orang, saya cukup kaget dan bersyukur. Kaget karena ada yang mau nempatin setelah 5 tahun kosong, dan bersyukur karena rumah ini gak kosong lagi." Ucap tetangga tersebut.
"Tapi kan buk, orang-orang sini kadang suka lihat penampakan orang Belanda di rumah Ibu ini." Lanjut nya lagi.
"Ma.."
Panggilan Alea yang secara tiba-tiba cukup mengagetkan Elen dan tetangga yang berbicara dengan nya.
"Kakak? udah pulang." Tanya Elen.
Alea hanya mengangguk pelan, sambil menatap tetangga yang tengah berbicara pada Mama nya.
"Oh iya, kenalin ini Buk Hera tetangga sebelah kita. Buk Hera kenalin ini anak pertama saya nama nya Alea." Ucap Elen.
"Aaa... Cantik banget ya anak nya, sama kayak Mama nya."
Elen pun menjawab dengan tawa kecil nya, sedangkan Alea hanya terdiam mencerna cerita yang ia dengar dari Buk Hera tadi.
"Adek mana Ma?" Tanya Alea.
"Oh iya, Mama lupa Adek ada di dalam tadi lagi main."
"Yasudah Buk, saya pamit masuk dulu ya." Ucap Elen.
"Oh iya Buk silahkan." Jawab Hera.
Elen dan Alea pun melangkah pergi meninggalkan Buk Hera yang masih berdiri menatap punggung mereka berdua.
"Anak itu mirip sekali sama yang selalu dilihat di rumah ini." Gumam Hera.
__________________
Di dalam rumah:
Sejam kemudian:
Alea dan Elen pun tengah duduk di ruang Tv sambil menunggu Alex pulang dari kantor nya.
Alea menatap Clara yang sejak tadi tengah asik bermain sendiri dan selalu berlari sambil membawa boneka di pelukan nya.
"Clara, jangan lari-lari Nak nanti jatuh loh." Ucap Elen.
"Ain.. ma (Main Ma)." Jawab Clara sambil menunjuk ke arah belakang nya.
"Anak kecil selalu punya teman imajinasi nya." Gumam Elen.
"Ma.." Panggil Alea.
"Hm?"
Alea pun bangun dari tidur nya dan duduk menghadap Elen yang sedang berbaring sambil menonton acara Tv.
"Emang bener ya kalau rumah ini ada penampakkan nya." Tanya Alea.
"Kata siapa?" Jawab Elen seadanya.
"Lah kan kata Buk Hera tadi."
"Ngada-ngada aja itu. Lagian Mama lihat Buk Hera itu orang nya juga gak mau kalah sama orang. Sudah jangan di pikirkan." Ucap Elen.
"Mama ini gak nyambung lo, orang bahas penampakan malah orang yang gak mau kalah, apaan toh." Jawab Alea kesal.
Alea pun berdiri dan berjalan menuju dapur nya. Sesampai nya ia di dapur, Alea pun segera mengambil piring dan berjalan mengambil nasi.
Alea pun memberhentikan tangan nya yang sedang memegang centong serta nasi di atas nya, saat Clara berada di belakang nya sambil tertawa.
"Ayuk... ejar ala..ayuk (Ayuk kejar Clara, Ayuk)." Ucap Clara sambil mengayun-ayunkan salah satu tangan nya seakan mengajak seseorang bermain.
"Clar! kamu main sama siapa sih?!" Bentak Alea.
Clara pun menoleh ke arah Alea dengan tatapan tidak senang.
"Akak... eman ala.. adi malah.. ama akak... alena akak entak ala (Kakak teman Clara jadi marah sama Kakak karena Kakak bentak Clara)"
Melihat wajah sang adik berubah serius seperti itu membuat Alea ketakutan dan berlari meninggalkan Clara di dapur sendirian.
"Mama!!!" Teriak Alea.
"Apasih Kak, teriak-teriak gitu?!" Tanya Elen yang kesal.
"Clara nakutin aku, katanya dia lagi main sama teman nya. Terus pas aku bentak dia, kata nya teman dia marah."
Elen yang mendengar cerita anak nya tersebut pun tertawa sambil menepuk pelan pundak Alea.
"Kamu tu ada-ada aja. Sudah ah hantu terus yang kamu pikirin." Ucap Elen.
Kejadian sore tersebut pun berlalu, sejam dua jam telah mereka lewati. Hari pun tak terasa sudah menunjukkan pukul 23:00. Elen menyuruh mereka semua untuk bergegas pergi menuju kamar untuk istirahat tidur.
Tik..tik...tik...
Suasana mulai sunyi, hanya terdengar dentingan jam mengisi seluruh ruangan.
Ceklek! Kriieeett.
Suara pintu kamar pun terdengar, suara langkah kaki anak kecil pun begitu jelas memasuki kamar Alea yang pulas tertidur.
"Akak...(Kakak)." Ucap Clara yang tengah menggoyang-goyangkan tubuh Alea.
Dengan mata yang susah terbuka, Alea pun mengintip dengan sebelah mata nya, dan mendapati Calar telah berdiri di samping tempat tidur nya.
"Clara kamu kok disini lagi, terus pintu..."
Belum sempat Alea menyelesaikan perkataan nya, tiba-tiba saja Clara menunjuk ke arah belakang Alea dengan tatapan marah.
"Di bakang Akak.. (Di belakang Kakak)"
Alea spontan menolah ke arah belakang nya dan mengernyitkan dahi nya.
"Apa? Siapa yang ada di belakang Kakak?" Tanya Alea.
"Ia.. mototin Akak.. ata nya itam mua.. (Dia melototin Kakak, mata nya hitam semua)"
Alea pun langsung terbangun dari tempat tidur nya dan langsung menggendong Clara.
Clara pun masih menunjuk-nunjuk di tempat yang sama dengan ekspresi marah nya.
"Angan anggu Akak ala! pelgi! amu pelgi! (Jangan ganggu Kakak Clara! pergi! kamu pergi!)" Teriak Clara.
Alea tanpa berkata-kata pun langsung berlari menuju kamar Mama dan Papa nya.
tok..tok..tok...tok...
"Mama, Papa!" Teriak Ala.
"Akak... ia ikut elus, ia iyatin akak elus (Kakak dia ikut terus, dia ngeliatin Kakak terus)"
Alea yang mendengar itu pun langsung menggedor pintu kamar Mama Papa nya semakin kencang.
Ceklek!
"Apasih Kak? udah malam lo ini. Clara? kenapa Adek bisa sama Kakak?" Tanya Elen.
Tanpa menjawab perkataan Elen, Alea pun menerobos masuk ke dalam kamar sambil memeluk Clara dengan sangat erat.
"Tutup! tutup pintu nya Ma!!" Bentak Alea.
Elen pun dengan panik menutup pintu tersebut dan mengunci nya.
"Ada apa Kak?" Tanya Alex yang sudah duduk di samping Alea, sambil mengambil Clara dari pelukan Alea.
Alea menangis tersedu-sedu, sambil menceritakan apa yang baru saja terjadi pada nya.
Setelah ia selesai bercerita, Elen pun memeluk putri nya tersebut sambil mengusap lembut punggung nya.
"Sudah-sudah tenang ya ada Mama sama Papa. Sekarang tidur ya." Ucap Elen.
____________________
Keesokkan pagi nya:
"Ma, Papa berangkat kerja dulu ya." Bisik Alex sambil mencium kening istri nya yang masih setengah sadar karena mengantuk.
"Loh Papa udah mau berangkat?" Tanya Elen sambil menggosok kedua mata nya.
"Iya, anak-ank masih tidur. Aku pamitan lewat telepon aja nanti." Ucap Alex.
"Yasudah hati-hati ya sayang."
Alex pun melangkah kan kaki nya untuk keluar dari kamar. Saat dirinya hendak memakai sepatu keja nya, tiba-tiba saja ia pun memberhentikan aktivitas tersebut dan berlari kembali ke kamar setelah mendengar teriakkan istri nya.
"Sayang!!"
"Sayang cepat kesini!!!"
Alex pun terdiam di depan pintu kamar nya, melihat Elen tengah terduduk di sekitar kedua anak mereka.
"Alea, sama Clara kenapa ini? kenapa wajah nya pucat banget, badan nya dingin sayang!" Teriakan histeris yang terdengar dari mulut Elen.
Tanpa berkata-kata, Alex pun segera mengangkat Alea dan menyuruh Elen menggendong Clara untuk segera memasuki mobil.
"Cepat kita harus ke rumah sakit sekarang!" Tegas Alex.
Saat Alex dan Elen berjalan keluar rumah, Buk Hera yang sedang menyapu halaman pun dengan cepat menghampiri mereka.
"Buk! Buk Elen ada apa ini?" Tanya Hera yang ikut panik.
"Gak tau buk, tiba-tiba anak saya dua-dua nya pucat dan dingin badan nya, ini mau saya bawa ke rumah sakit xxx." Jelas Elen.
"Sayang cepat!!!" Bentak Alex.
"Permisi ya buk."
"Oh iya buk Elen."
Elen dan suami nya pun dengan cepat mengendarai mobil mereka. Sedangkan Buk Hera masih termenung menatapi mobil mereka yang perlahan mulai menjauh.
"Apa hal yang lalu akan terulang kembali?" Gumam Hera.
"Tidak!"
Hera pun dengan cepat berlari menuju rumah nya.
____________________
Rumah Sakit:
Beberapa saat berlalu, setelah dokter dan perawat menangani Alea dan Clara, mereka pun tidak mengetahui apa penyebab kedua anak Elen dan Alex mengalami hal tersebut. Karena dari hasil pemeriksaan semua nya normal dan baik-baik saja.
Alex dan Elen yang mendengar penjelasan dokter pun sangat syok dan khawatir dengan keadaan kedua putri mereka.
"Buk Elen!"
Elen dengan spontan menolehkan kepala nya ke arah sumber suara.
"Buk Hera?"
"Buk Elen, saya bawa orang pintar yang mengerti dengan keadaan kedua anak Ibu saat ini." Jelas Buk Hera.
Alex mengernyitkan dahi nya, ia merasa kesal dengan perkataan Hera, bagi nya kondisi anak mereka bukanlah lelucon yang harus disembuhkan oleh orang seperti itu.
"Maaf Pak, Bapak boleh tidak percaya dengan saya, tapi saya mohon untuk menyembuhkan anak Bapak. Karena jika tidak di tangani sekarang..."
"Kalian berdua akan kehilangan anak kalian." Ucap Pak Heru, orang pintar tersebut.
Alex terdiam, dan mengikuti Pak Heru yang melangkah ke arah tempat Alea dan Clara terbaring.
Pak Heru pun berdiri di tak jauh dari ranjang Alea dan Clara. Ia memejamkan kedua mata nya sambil membacakan sesuatu yang hanya dirinya yang mengerti.
Tak lama dari Pak Heru membacakan sesuatu tersebut, tiba-tiba saja kedua mata Clara pun terbuka, dan Pak Heru pun dengan hati-hati juga membuka kedua mata nya.
"Siapa kamu?" Tanya Pak Heru dengan tiba-tiba.
"Kkkkk"
"Aku teman nya, Kkkkk (Logat belanda)"
"Kamu bukan teman nya, alam kalian berbeda." Ucap Heru.
"Kkk.. tapi.. dia suka.. berteman.. dengan saya."
"Apa kamu yang membuat mereka seperti ini?" Tanya Heru kembali.
"Kkk... Ya... itu aku..."
"Kenapa?" Tanya Heru, yang kini berjalan ke arah Clara.
"Kare..na... dia tidak ingin bermain.. dengan saya.."
"Lalu... Kakak ini... karena.. dia memarahi teman saya.. nada nya.. terlalu tinggi..."
"Benarkah hanya itu?" Tanya Heru.
"Kkk...."
"Bukan karena Kakak ini seperti orang yang membunuh mu dulu?" Tanya Heru.
Clara yang semula cekikikan pun tiba-tiba terdiam dan menunduk. Kini wajah nya telah tertutup rambut nya.
"Benar... aku tidak menyukai nya..."
"Kenapa?" Tanya Heru.
"KARENA DIA PANTAS MATI!!!!" Clara pun teriak, heru dengan cepat memegang kepala nya dan membacakan sesuatu yang keluar dari mulut nya.
"Kkkk... Wanita... yang mirip... dengan nya... terus menghalangi ku!!"
"Kamu mau pergi sendiri, atau aku bantu dengan cara kasar?" Ucap Heru yang terus menyentuh kepala Clara.
"Kkkk......Aaaaa!!!! Aaaa!!!! tidak!!!!"
"Panggil! Panggilah Alea, dan suruh dia membawa Clara dari sana! cepat!" Teriak Heru.
Alex, Elen, dan Buk Hera pun berteriak memanggil Alea seperti perintah pak Heru.
"Kkkk...."
"Mereka... tidak akan... bisa keluar..Kkkk..."
"Jangan dengarkan dia, terus lah memanggil nya agar mereka tidak salah jalan!" Teriak Heru.
____________________
Di alam lain:
"Akak...akut (Kakak takut)"
Clara terus memeluk Alea di sudut ruangan asing, hingga mereka mendengar suara yang tidak asing terus menerus memanggil dirinya.
"Alea! Clara, kemari Nak! Alea sadarlah dan bawa Adik mu pergi dari tempat itu!"
"Ikuti suara kami Nak jika kamu mendengar nya!"
Alea dengan cepat menggendong Adik nya, dan berlari mengikuti suara tersebut.
"Kamu.. tidak akan.. bisa keluar.."
Sesosok wanita Jepang yang mirip dengan Alea tiba-tiba saja berdiri di hadapan nya.
"Siapa kamu?!" Tanya Alea.
"Ikuti saya.."
Wanita itu pun berjalan dengan anggun untuk menunjukkan jalan pulang untuk Alea dan Clara.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, wanita itu pun berhenti, dan menunjuk ke arah suara tersebut.
"Disana, sedikit lagi... cepat.. berlarilah sebelum dia kembali." Ucap wanita itu.
Tanpa banyak bertanya, Alea dengan erat memeluk Clara dan berlari ke arah suara yang telah di tunjukkan wanita tersebut.
"Jangan menoleh.."
Kalimat terakhir yang ia dengar dari wanita tersebut.
tak..tak...tak...takk..
Hanya suara langkah kaki yang terdengar di keheningan mereka.
Saat tengah berlari tiba-tiba saja Alea melihat dua cahaya yang bersebelahan. Ia diam sejenak dan tidak mengerti apa maksud kedua cahaya tersebut.
"Nak, dengarkan suara saya. Kamu masuk ke cahaya kanan dan Adik mu cahaya yang sebelah kiri." Ucap Pak Heru.
Alea yang mendengar arahan tersebut lun menurunkan Clara dan menyuruh nya untuk masuk ke cahaya tersebut.
"Dek, kamu masuk ke cahaya yang itu ya."
Clara mengangguk dan berlari ke arah cahaya yang telah di tunjukkan Alea pada nya.
Sedangkan Alea harus memastikan Clara telah memasuki cahaya itu, hingga tiba-tiba ia mendengar suara kembali..
"Alea Adik mu telah kembali, kamu cepat berlari karena anak Belanda itu telah kembali ke tempat itu!" Teriak Pak Heru.
Alea pun dengan cepat berlari ke arah cahaya yang tersisa untuk nya, dan langkah nya pun terhenti saat salah satu kaki nya ada yang memegangi.
Alea menoleh ke arah kaki nya tersebut, betapa terkejut nya dirinya saat melihat seorang anak lelaki Belanda dengan wajah hang hancur tengah memegangi Kaki nya.
"Kami...harus menemaniku...disini...menggantikan.. Adikmu... Kkkk"
"Lepas! Lepasin!!!" Teriak Alea.
Alea terus memberontak, dan tiba-tiba tubuh nya bergerak tak sesuai apa yang ia mau.
"Kkk...ikuti aku.."
"Menjauhlah dari cahaya itu.."
Alea oun melangkahkan kaki nya untuk menjauh dari cahaya tersebut, dan tiba-tiba ia mendengar suara tak asing tersebut.
"Tidak.. lawanlah dia ...dengan niatmu ...untuk kembali ke alam mu.." Ucap wanita Jepang itu yang tiba-tiba saja muncul di belakang nya.
"Hendrick... lepaskanlah wanita ini... jangan jadikan dia korban sepertiku..." Ucap wanita tersebut.
"Tidak... karena dia... juga mirip dengan.. wanita jelek itu..."
"Cukup... cukup aku.. yang menjadi.. mainan mu.." Jelas wanita tersebut.
Perlahan Alea pun dapat menggerakkan tubuh nya kembali. Ia melihat ada kesempatan untuk nya berlari.
___________________
Dunia Nyata:
"Alea sadar Nak! Alea!!"
"Akak!!! (Kakak!!!)"
Semua mengelilingi Alea, yang mana badan nya semakin dingin dari sebelum nya.
Dan seketika...
Mata Alea terbuka dengan nafas yang menggebu-gebu seperti seseorang yang kelelahan.
"Alea!! akhirnya!"
Alex, Elen, dan Clara pun dengan cepat memeluk Alea sambil menangis tersedu-sedu.
____________________
Beberapa saat kemudian:
"Apa yang sebenar nya terjadi Pak?" Tanya Alex pada Pak Heru.
Pak Heru pun menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi pada Alea dan juga Clara.
"Seperti yang Pak Alex ketahui tadi dari arwah anak itu yang merasuki Clara."
"Dia adalah anak laki-laki belanda campuran Jepang. Ayah nya berdarah Belanda dan Ibu nya berdarah Jepang."
"Awal nya kehidupan keluarga mereka sangat bahagia. tapi semua itu berubah ketika tentara Jepang mulai membantai para rakyat Belanda. Dia yang termasuk salah satu petinggi penting di negara nya pun, pergi meninggalkan anak dan Istri nya yang memiliki darah Jepang tersebut, dan menikah lagi."
"Bagi nya, Istri dan anak nya itu akan membawa petaka buruk dalam kehidupan nya."
"Sedangkan Istri nya yang telah ia tinggalkan begitu saja membuat mental nya terguncang, saat dirinya melihat anak laki-laki nya yang mirip dengan sang Ayah, disaat itu pula rasa benci dan amarah nya mulai memuncak, dan tak jarang dirinya memukuli anak nya tersebut."
"Hingga pada puncak nya..."
____________________
"Tidak..tidak Mama! Maaf kan...Aku.."
"Kamu.. kami anak membawa petaka di pernikahan ku dengan suamiku!!"
BRUGHHH!!!
DOORR!!!
____________________
"Anak itu dibunuh oleh Mama nya sendiri dengan cara kepalanya di benturkan ke tembok, dan di tembak." Jelas Heru.
"Dari situ, ia sangat membenci wanita yang mirip dengan Mama nya, dan akan membawa setiap orang yang mirip dengan Mama nya tersebut." Lanjut Heru.
Semua orang pun terdiam mendengar penjelasan dari Pak Heru tersebut.
"Apa itu juga salah satu penyebab saya di tahan di dunia nya?" Tanya Alea.
"Benar."
____________________
Keesokkan Hari nya:
Mereka pun keluar dari rumah sakit, dan bergegas memasuki mobil.
"Pa, apa kita akan kembali ke rumah itu?" Tanya Alea.
Alex mengendarai mobil nya dengan pelan, sambil memperbaiki kaca dalam mobil nya.
"Tidak, kita hari ini akan menginap di hotel dan akan mencari rumah baru." Jelas Alex.