Di sebuah kamar bercat putih kusam nampak beberapa orang sedang berkerumun di sekitar ranjang besar dimana terdapat sesosok tubuh wanita paruh baya yang berteriak dan menangis.
Rintihannya membuat siapapun tak tega dan berlinang air mata.
sementara di sekitar spray yang awalnya berwarna putih, kini sudah penuh dengan bercak darah, bahkan banyak yang di pakai wanita itu cuma tak luput dari cipratan darah what yang keluar dari mulut wanit paruh baya itu.
Wanita yang malang itu bernama Siti, seorang wanita paruh baya berusia menjelang tujuh puluh tahun. tubuhnya yang dulunya berisi kini hanya tinggal kulit dan tulang di sertai luka yang mengerikan pada kulit tubuh wanita itu.
Lukanya mengeluarkan bau amis dan busuk luar biasa dengan nanah bercampur darah yang menetes di spray itu.
Kamar itu di penuhi anak serta suaminya yang terlihat sangat khawatir dengan mata sembab karena kebanyakan menangis
Sementara suasana di luar rumah tan kalah ramai.
banyak para tetangga yang berkumpul karena tak tega dan iba melihat penderitaan Siti.
mereka berkumpul di luar rumah, melakukan pembacaan Al-Quran secara bersama-sama.
Kondisi ini sudah berlangsung dua bulan yang lalu, namun belakangan ini kondisi Siti makin memprihatinkan.
Pak Kurdi suami wanita itu hanya bisa meneteskan air mata tanpa sadar, wajahnya murah dan terlihat sedih,.begitu pula anak-anak serta menantu laki-lakinya memegangi tangan dan kaki Siti karena wanita itu seperti orang gila memberontak, berteriak dan melukai diri sendiri.
"Lepaskan, kalian akan ku bunuh, lepaskaaaaaaaaannnn
Gataaaalllll aaaa gatal, aku mau menggaruk" teriak Siti
namun suaranya Siti seperti bukan dirinya, parau dengan sorot mata nyalang dan menakutkan.
Itu seperti bukan ibu mereka tapi ada sesuatu yang menguasainya.
Hal itu terulang setiap adzan maghrib berkumandang sampai menjelang subuh Siti baru bisa tenang dan tertidur.
terkadang bisa diajak komunikasi saat siang hari.
"Keluar dari tubuh wanita itu" ucap seorang pria paruh baya bersorban putih sambil melafalkan ayat suci Al-Quran.
Pria itu bernama.Abdullah
"Aku tak akan keluar sebelum wanita ini mati" jawab Siti, tepatnya jin kafir yang di kirim untuk mencelakai Situ
"Apa salah wanita ini?? kau jin sesat" ucap pria itu terus melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an
"Aaaaaa panassss kau sialan, aku akan datang lagi untuk mengambil nyawa wanita sombong ini" teriak wanita malang itu lalu tak sadarkan diri.
"Alhamdulillah" ucap semua orang
Kurdi langsung mengucap hamdalah, ini pertama kalinya istrinya tak terlalu lama tersiksa.
Entah sudah berapa kali mereka memanggil orang untuk mengobati penyakit Siti.
Dari dokter sampai dokter spesialis bahkan hasil ronsen dan darah tak menunjukkan Siti menderita penyakit apapun
Tapi Siti terus muntah darah dan ini yang terparah, dari tubuhnya keluar nanah yang sangat bau. seperti sampah bangkai tikus
Bahkan pihak keluarga sampai harus menempatkan pengharum udara dan kamper di setiap sudut ruangan agar para tetangga dan sanak saudara yang menjenguk bisa melihat kondisi Siti.
tapi nyatanya bau menyengat itu mengalahkan pengharum ruangan yang ada di ruangan itu.
Setelah dokter tidak mempan, pihak keluarga memutuskan memanggil orang pintar.
Sudah banyak orang pintar, paranormal dari segala penjuru daerah mereka datangkan dan hasilnya nihil. kondisi Siti malah makin parah saja.
Bahkan ada dua orang pintar yang mereka panggil sampai muntah darah di tempat saat mengobati Siti membuat pihak keluarga di merasa ngeri dan merasa kesedihan mendalam serta putus asa.
Sore ini pak RT membawa saudaranya yang merupakan guru agama di pesantren, untuk membantu mengobati Bu Siti.
"Pak ustad bagaimana istri saya???
"Hmmm, melihat kondisi istri bapak, bapak harus banyak istighfar dan berserah diri pada Allah.
Dalam tubuh istri bapak sudah dikirim Jin kafir untuk mencelakainya. ini sudah sedikit terlambat, melihat kondisi istri bapak.
Sebaiknya bapak harus siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun.
Saya tidak bisa membantu, hanya Allah SWT yang maha atas segalanya.
pasrahkan dan dekatkan diri pada Allah, karena DIA LAH YANG MAHA PENOLONG"
"Maksud pak ustad??? , istri saya...." Kurdi tak mampu berkata apa-apa, hatinya hancur mendengarnya
"Sebaiknya bapak memohon ampun atas segala kekhilafan dan kesalahan baik sengaja maupun tidak. Perbanyak membaca tahmid, takbir, tasbih dan sholat malam
Mohon petunjuk dan perlindungan Allah SWT"
"Baik pak ustad,"
"Berikan minum ini setelah istri bapak siuman, jangan lupa mengucap Bismillahirohmanirohim bismilahi tawakaltu alallahi walahaula wala quwwata illa billahil aliyil adzim"
"Pesan pak ustad akan saya laksanakan"ucap Kurdi lirih
"Pa, jika bapak pernah menyinggung seorang, secara tak sengaja, sebaiknya bapak minta maaf segera mungkin.
mungkin dengan begitu ornag itu mau melepaskan guna-guna pada istri bapak" ucap pak Abdullah
"Apa maksud pak ustad istri saya...."
"Saya tak mengatakan itu, namun kita sebagai manusia dalam hubungannya sebagai sesama mahluk hidup, kadang sering melakukan khilaf tanpa kita sadari
Bapak renungkan dan kembali ingat-ingat kejadian sebelum istri bapak sakit,
Kalau begitu saya permisi" ucap ustad Abdullah pamit pulang
Sepanjang jalan ia terus mengucapkan istighfar, dan memohon perlindungan Allah.
Setelah kepergian pak ustad Abdullah, anak-anak nya menghampiri bapak mereka.
Si sulung Kamal, menghampiri Kurdi mewakili saudara nya
"Bagaiman dengan ibu pak??? Kamal gak tega lihat ibu terus menderita begini.
Dan kulitnya....
mengeluarkan belatung kini" ucap Kamar dengan suara parau
Kurdi menutup matanya, hatinya hancur, melihat wanita yang telah menantinya selama tiga puluh tahun itu terbaring tak berdaya dengan kondisi yang mengenaskan.
"Kita sholat isya berjamaah, bapak butuh waktu sendiri" ucap Kurdi lalu meninggalkan anak-anknya mengambil wudhu dan bersiap sholat.
Anak-anaknya hanya mengikuti dengan patuh.
mereka lalu sholat berjamaah di ikuti witir
Setelah selesai Kurdi meminta anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga, sementara salah satu dari mereka menjaga Siti di kamar
"Pak ustad meminta kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dan perbanyak sholat malam dan membaca Al-Quran dan mengucapkan tahmid, tahlil dan takbir. bisikkan ibumu di kupingnya agar ia tak tergoda hasutan setan.
Disini bapak mewakili ibu kalian meminta maaf sedalam-dalamnya jika kami sebagai orang tua memiliki kesalahan baik perkataan maupun perbuatan.
Terutama pada kamu Nur" ucap Kurdi yang ingat jika seminggu sebelum istrinya sakit, mereka berselisih paham dengan nur, istri anak kedua mereka Kamil.
"Nur gak memasukkan dalam hati pak, marah kalian itu nasihat buat nur, karena kalian juga ornagtua" ucap Nur terisak.
Bukan maksud Kurdi menuduh nur, ia hany ingin tulus meminta maaf.
"Apa kau yang membuat ibu Kami seperti ini nur??" tanya putri bungsu Kurdi salah paham
"Mila, jaga ucapanmu, bapak tak pernah bilang nur pelakunya. Jangan menuduh orang, nanti jatuhnya fitnah" teriak Kurdi
"Iya Mil, kakak yakin nur bukan seperti itu"ucap Kamil membela istrinya
"Tapi...." Mila maish menatap Nur benci
"Cukup. Bapak mengumpulkan kalian agar kalian bisa meringkan pikiran bapak, bukan saling adu omongan"
"Pa, anu...." istri Kamal terlihat ragu.
Ia teringat sesuatu tapi juga takut suudzon pada orang
"Maa....." Kamal memperingati istrinya membuat Lala langsung menunduk diam.
"Kita bergantian menjaga ibu, aku dan Lala akan menjaga malam ini, sebaiknya kalian kembali ke rumah kalian masing-masing dan bersiap untuk besok bergantian menjaga"
"Baik kak" ucap ketiga adiknya patuh.
Setelah itu ketiga anak Kurdi kembali ke rumah mereka yang letaknya berdekatan dengan rumah utama yang di tinggali Kurdi dan istrinya.
Sementara rumah Kamal berada di sebelah kanan persis rumah Kurdi.
"Semua orang sudah kembali, apa yang ingin kau katakan nak?" tanya Kurdi pada anak dan menantunya
"Bapak ingat pada hari Minggu empat bulan yang lalu, tepatnya saat bapak sakit gigi???" tanya Lala ada mertuanya.
ia memberi jeda ucapanya agar ornagtua itu mengingat kejadian waktu itu.
"Bapak memarahi Bu rumi, yang sedang membuang sampah"
"Owh itu karena dia tak menempatkan sampahnya di tempat sampah, dia menaruh di pinggir bak sampah. Ibumu hanya mengatakan....
Flash Back
"Eh Bu rumi, buang sampah ya???"
"Iya, ia lah masa buang uang" ucap Bu rumi judes
"Maaf Bu, buangnya di masukkan saja, kami yang rumahnya dekat suka repot membersihkan dan baunya itu loh" ucap Siti sopan
"Kalau gak mau ya jangan punya rumah dekat tempat sampah!!!!
Begitu resikonya kalau punya rumah dekat tempat penampungan sampah" saut Bu Rumi sewot
"Maksud saya..."
"Udah-udah kamu sengaja kan ?? jangan mentang-mentang saya janda dan miskin kamu hina sembarangan ya"sanggah Bu Rumi memotong ucapan Siti.
"Bu maaf saya gak menghina"... ucap Siti menitikkan air mata
"Eh Bu rumi, istri saya cuma bilang sampahnya buang ke dalam bak sampah.
kenapa ibu jadi sewot???
apa tangan ibu patah sampai masukin aja ke bak sampah gak bisa??" tanya Kurdi yang mendengar keributan dan terpancing emosi.
Giginya yang berdenyut serta kepalanya yang berat dan terasa sakit membuat emosinya tak terkendali
"Dasar tua bangkitan, kalau ngomong di jaga ya" teriak Bu Rumi tak terima dengan perkataan Kurdi
"Loe yang gak punya otak, apa loe mau badan loe gue urug pake sampah???" maki Kurdi penuh emosi
"Dasar sombong, suatu saat kalian baru tahu rasa"ancam Bu Rumi
"Gue kaya sombong wajar, lagian suruh buang sampah aja ribet bener, kalau gak bisa buang yang bener, sampahnya simpan aja dalam rumah"
"Sombong bener loe, loe akan jatuh miskin karena omongan loe" ucap Rumi makin emosi
"Sudah Bu rumi, saya minta maaf kalau ibu dan bapak mertua saya menyinggung ibu" ucap Lalaememgahi
"Denger la, saya kasihan sama kamu ya, punya mertua laki tapi mulutnya bawel suka ngomel.
Saya gak akan maafin mereka"ucap Bu Rumi menatap penuh kebencian ke arah Kurdi
"Maa, ayo pulang" ucap anak sulung Bu Rumi yang di beri tahu jika Bu Rumi sedang bertengkar dengan Kurdi dan istrinya
"Lihat Fajar orang-orang yang menghina mama"ucap Rumi mengadu ada putranya
"Maaaa.... malu sama tetangga.
Ayo kita pulang, please" ucap fajar memohon
"Tunggu saja kau bandot tua" ucap Bu rumi sebelum ia pergi di bawa paksa putra sulungnya
"Dasar janda gila" maki Kurdi lalu masuk ke dalam kamar.
Sementara Siti tertegun dengan air mata terus menetes di pipinya.
Ya, Siti sosok wanita yang ramah dan lemah lembut, berbanding terbalik dengan sifat suaminya yang galak, suka marah .
Ia merasa bersalah pada bu Rumi karena dirinya suaminya memaki Bu Rumi dengan kata-kata pedas.
"Ya Allah ampuni suamiku" ucap Bu Siti menitikkan air mata, lalu ia masuk menyusul suaminya.
Bu Siti menasihati suaminya karena berkata kasar pada Rumi, namun Kurdi makin mencak-mencak, kini Siti yang jadi pelampiasan kekesalannya, ia menaruh Siti habis-habisan sementara Siti hanya diam menunduk.
Seminggu berselang setelah kejadian, Lala tak pernah melihat Bu Rumi membuang sampah.
letak rumahnya yang berada persis di sebelah mertuanya memungkinkan ia melihat jika Bu Rumi membuang sampah, hingga.....
Suatu malam, Lala tanpa sengaja ke dapur dan mendengar seseorang bergumam.
Gumamannya seperti mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jawa halus.
Walau Lala orang Jawa, ia tak pandai berbahasa Jawa.
Sore itu baru lepas adzhan magrib.
Lala baru ingat jika Malam itu malam Jumat Kliwon, bertepatan dengan Kamal yang bekerja sebagai security dan mendapat shift malam, sehingga Lala tak berani membuka pintu dapur dan melihat siapa yang berada di belakang rumah mertuanya.
Saat ia menuju teras rumahnya untuk memasukkan sepeda si bungsu, ia melihat Bu Rumi yang membawa plastik kresek hitam dengan pakaian serba hitam
"Bu Rumi dari mana??"
"Masuklah nak, ini sudah malam
bahaya di luar malam-malam" ucap Bu rumi lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Lala, sekejap bulu kuduk Lala berdiri, ia merasa merinding dan segera masuk, mengunci pintu rumahnya dan tidur dengan pikiran melayang
Flash Back Off
"Apa kau yakin??? tanya Kamal tak mau istrinya asal menuduh
"Yakin gak yakin mas, sebaiknya kita minta maaf pada Bu Rumi.
Ucapan bapak waktu itu juga...."
"Bapak tahu, bapak keterlaluan.
Besok bapak akan bertamu ke rumahnya dan minta maaf" ucap Kurdi.
Setelah kepergian putra dan menantunya, Kurdi terus berfikir keras.
Ia sudah mengatakan hal yang membuat bu Rumi sakit hati.
"Panaaaaaaaaassssss, sakittttt, panassssssssssss" teriak Siti dengan memilukan.
Kurdi langsung berlari ke kamarnya dan melihat istrinya sedang menggaruk kulitnya yang penuh nanah, hingga tulang tangannya terlihat, darah mengalir dari luka itu
"Bu istighfar Bu" ucap Kurdi memeluk istrinya
"Panassssss, ini panaaasssss, panas sekali pak.
Ibu gak kuat, bau.... bau busuk" teriak Siti menggila,.ia berteriak meronta, mencakar wajah dan tangannya hingga luka di tangan, kaki dan tubuhnya terkoyak.
Bahkan wajah Siti yang tadinya ayu, kini seperti zombi karena ia terus cakar
"Panggil pak ustad segera" teriak Kurdi panik
"Tapi pak, ini sudah jam satu malam"
"Segeraaaa" ucap Kurdi yang ketakutan melihat Siti makin parah
Selang setengah jam kemudian pak ustad Abdullah datang ia segera melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Siti melotot beringas hingga bola matanya seakan-akan ingin keluar dari rongga matanya
"Kau terlambat, kau terlambat" ucap suara serak dari mulut Siti
"Dasar Jin laknat, ku mau keluar atau ku bakar dengan ayat Allah???"
"Hahaha, terbalas, dendam terbalas hanya salah orang.
Dendam terbalas" ucap Siti.
Pak ustad terus melantunkan ayat suci Al-Quran hingga akhirnya Siti tenang dan kembali tak sadarkan diri
"Besok segera anda bersirahturahmi pada tetangga bapak, pada siapa bapak dan ibu pernah buat salah.
Ini harus segera" ucap pak ustad Abdullah melihat kondisi Siti yang makin lemah
"Baik pak ustad"
"Saya akan tetap berada di sini malam ini" ucap pak ustad lalu ia meminta pak Kurdi menyiapkan sajadah , Pak ustad melakukan wirid hingga subuh.
ia sholat di masjid dan pulang.
Tepat setelah pak Ustad pulang, di jalan ia mendapat telepon dari Kamal, putra pertama Siti dan Kurdi yang mengabarkan jika ibu nya menghembuskan nafas terakhirnya.
Sebelum Siti menghembuskan nafas, ia meracau memanggil nama Bu Rumi.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. sesungguhnya Allah melaknat manusia yang bersekutu dengan setan dan jin. kebencian manusia kepada manusia yang lain membuat manusia itu gelap mata dan mengabdikan diri pada setan. naudzubillah Suman naudzubillah.
Pak ustad Abdullah kembali ke kediaman Kurdi dan melihat mayat Siti.
Siti meninggal dengan mata melotot lebar, seolah tak rela sukmanya terpisah dari raga.
perlahan luka bernanah Situ hilang.
wajahnya berganti kulit, dan ia pergi dengan tersenyum
"Subhanallah, Allahu Akbar" ucap pelayat yang datang melihat kejadian itu.
Kepergian Siti membawa luka terdalam bagi suami,.anak, serta menantunya.
mereka kehilangan sosok penyabar dan pengayom.
Kecurigaan keluarga Kurdi semakin besar tak kala Rumi,.wanita yang mereka curigai tak datang untuk melayat.
Namun Lala di kejauhan melihat Rumi yang menatap kediaman mertuanya dengan senyum yang sulit di gambarkan.
Lala merinding melihatnya.
Setahun kemudian
Semua orang sudah melupakan kematian Siti,.hanya keluarga yang masih terlihat terpukul dengan kepergian Siti.
Siti merupakan anak bungsu dari pemilik sebuah yayasan,.ibundanya adalah seorang ustazah terkenal.
walau di usia senjanya ustazah Khadijah masih sering di minta sebagai penceramah.
Siang itu ia sedang mengisi taklim di yayasan yang di pimpinnya.
tema taklimnya adalah perbuatan syirik.
Entah mengapa Rumi yang saat itu ada dalam taklim tersebut merasa tersinggung dan langsung meninggalkan taklim dengan wajah marah.
Ia melirik ke arah Khadijah dengan pandangan penuh dendam.
Lala yang melihat itu langsung merinding.
Ia sangat takut nenek nya dari pihak suami menjadi korban kekejaman guna-guna Rumi selanjutnya.
Lala memendam sendiri kejadian itu.
Sejak itu ia sakit-sakitan dan tak pernah keluar rumah, Ia di liputi ketakutan dan terbayang-bayang tatapan Rumi saat meninggalkan majelis taklim hari itu.
tatapan yang sama saat ia bertengkar dengan mertuanya yang berujung pada kematian.
Hingga saat kondisinya membaik, ia mendengar Khadijah di larikan ke rumah sakit karena terdapat benjolan di kakinya.
Awalnya Lala mengira itu penyakit yang wajar,.namun sudah dua bulan bukan membaik malah parah.
Dokter di semua rumah alit yang di kunjungi angkat tangan, mereka menyerah karena tak mengetahui penyebab penyakit wanita tua itu.
Dan kembali membuat Lala yakin jika itu guna-guna yang dikirim.
Pasalnya hasil pemeriksaan Khadijah tak menunjukkan penyakit apapun
Lala memberanikan diri mengunjungi Khadijah, niatnya ingin menjenguk namun rupanya ia kembali harus melihat sesuatu yang aneh.
wanita tua itu perut nya makin membesar dan dari Luk di kakinya mengeluarkan ulat sebesar kacang kulit,
"Sesak,.aku tak bisa nafas" teriaknya dengan suara tercekat.
Semua anak dan cucunya berkumpul berusaha membantu.
namun walau sudah di beri oksigen, minyak oles dan di urut-urut dadanya, Khadijah terus berteriak-teriak.
Ia memukul dan menarik rambutnya, hingga rambut itu tanggal dan menampilkan kulit kepala yang terkelupas berdarah karena Khadijah menariknya dengan paksa
"Astagfirullah, ya Allah lindungi kami dari sihir dan guna-guna" gumam Lala dalam hati menatap ngeri
"Sesak, berat, sakit, tak bisa nafas" gumanya dengan suara tercekat.
menyesakkan dada.
Bahkan untuk semua orang suara Khadijah menggambarkannya.
mereka seakan ikut merasakan sakit dan sesak yang di gambarkan Khadijah
Yang lebih menyeramkan, ulat yang keluar dari lukanya seakan memakan jaringan yang yang terluka hingga kaki Khadijah tinggal tulang.
"Mas,.kita panggil pak ustad Abdullah" bisik Lala pada Kamal
"Nenek gak mau kita syirik" balas.kamal.berbisik
"Mas, kita bukan syirik.
Pak ustad hanya membantu nenek berdoa.
kita bukan percaya pak ustad yang menyembuhkan. tapi kita percaya pada Allah mas" ucap Lala, karena pada dasarnya Khadijah adalah seorang ustazah, tentu ia hapal Al-Quran dan beberapa doa.
Namun semenjak sakit Lala perhatikan nenek itu seakan lupa dan hanya merintih kesakitan.
seperti hal nya situ, penyakit Khadijah akan kambuh parah menjelang Maghrib hingga adzan subuh baru ia bisa tertidur
Lala lalu menarik suaminya ke belakang kediaman Khadijah dan mulai mengatakan apa yang mengganjal hatinya.
Dari kejadian di taklim sampai tanda-tanda yang di alami Khadijah.
Lala takut semuanya terlambat dan......
"Baik aku akan memanggil
ustad Abdullah" ucap Kamal akhirnya setuju.
Keesokan harinya pak ustad Abdullah datang.
beliau mendengar dari saudaranya tentang cerita Lala dan bergegas datang dengan travel.
subuh selesai Sholat, beliau langsung meluncur
Siang harinya pa ustad tiba di rumah pak RT.
Kamal dan istrinya segera menemui beliau dan mulai menceritakan semuanya.
Pak ustad Abdullah hanya mengangguk sambil mengelus janggut putihnya, sesekali terdengar ia beristighfar
"Jadi begitu pak ustad, kami meminta tolong pak ustad membimbing nenek kami agar tidak sesat.
Karena biasanya saat manusia sakit, setan datang dan ingin menyesatkan umatnya, sehingga banyak yang...." Kamal tak sanggup melanjutkan ucapannya
"Saya mengerti.
Kalian pulang dan beritahu pihak keluarga, karena kita perlu persetujuan mereka.
ingat rahasiakan dari orang luar, hanya pihak keluarga yang tahu"
"Baik pak ustad, kalau begitu kami permisi.
Assalamu'alaikum "
"Wa'alaikum salam" jawab pak RT dan pak ustad Abdullah serentak
Setelah Kamal dan istrinya pergi, Abdullah dan pak RT meneruskan pembicaraan mereka
"Apa sudah aman tak ada gangguan jin lagi???" tanya Abdullah menyeruput kopinya
"Maksud om di kediaman Kurdi???"tanya Pak RT Udin
"Ya, apa jin sesat itu masih menggangu keluarga malang itu???"
"Sudah enggak.
setelah Bu Siti meninggal, setiap habis Maghrib terdengar suara rintihan dan tangis memilukan yang mirip suara Bu Situ hingga sebulan lebih.
Lala yang datang ke sini dan memberitahu saya, karena pihak keluarga pak Kurdi tak perduli.
mereka justru menuduh tetangga mengada-ada, walau pihak keluarga mereka mendengar sendiri, mereka bersikap seolah tak terjadi apapun"
"Nauzubillah cara setan dan iblis menggoda manusia" ucap ustad Abdullah
"Apa yang harus kita lakukan om?"
"Menunggu" ucap Abdullah sambil tangannya tak henti-hentinya berdzikir
"Om, apa tidak ada cara untuk menghentikan ulah wanita itu???" tanya Udin pada ustad Abdullah
"Maksud mu mengembalikan guna-guna yang ia kirim????"
"Hehe seperti itulah" ucap Udin menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Apa bedanya kita dengan dia.
Sesungguhnya Allah maha tahu dan maha adil.
Allah sebaik-baiknya pemberi keadilan"
Udin hanya mengangguk.
ia tak bisa berkata apa-apa atau om nya akan meminta abi nya memasukkan Udin kembali ke pesantren karena ia masih belum paham tentang Islam.
"Persiapkan dirimu, kita ba'da Maghrib akan menuju ke rumah ustazah Khadijah"
"Baik om," ucap Udin lalu Abdullah bangkit mengambil wudhu lalu ia sholat dan dzikir hingga waktu ashar datang, ia sholat dan melanjutkan makan setelah itu kembali dzikir di kamar yang di sediakan oleh Udin.
Udin berharap ini terakhir kalinya janda beranak tiga itu membunuh dengan cara keji.
walau tak bisa di buktikan, namun dari tingkah laku dan tindak tanduk wanita itu. ia sangat yakin.
Terlebih dari kediaman janda itu tercium bau kemenyan dan kembang tujuh rupa yang kental
rumahnya pun gelap gulita, minim pencahayaan pada malam hari.
menurut putra bungsunya yang berteman dengan anak bungsunya, Udin mendapat informasi bahwa ibu anak itu memiliki satu ruangan yang siapapun tidak boleh buka, tak terkecuali anaknya sekalipun.
"Berhenti menduga-duga, siapapun pelakunya, ia sudah bersekutu dan memuja setan.
Allah akan menunjukkan dan menghancurkannya.
sesungguhnya azab Allah teramat pedih" ucap Abdullah yang melihat keponakanya sedang melamun.
"Kita akan kerumah ustad khadijah.
bawa air yang ku bacakan dengan asma Allah di kamar, sebentar lagi akan ada yang datang" ucap ustad Abdullah memejamkan mata.
Seperti perkataan beliau, tak perlu menunggu sepuluh menit.
Kamal datang dengan pamannya yang merupakan anak bungsu Khadijah, Karim.
"Assalamu'alaikum pa ustad"
"Wa'alaikum salam, tunggu sebentar" ucap Abdullah mengambil wudhu lalu tak lama kemudian ia sudah kembali.
Mereka langsung menuju kediaman Khadijah.
"Astaghfirullahaladzim" ucap Abdullah saat mereka tiba di depan rumah Khadijah.
entah apa yang Abdullah lihat, ia lalu memerintahkan Kamal menyiramkan air di sekeliling rumah Khadijah.
Ustad Abdullah terlihat membaca doa.
"Bismillahirohmanirohim",
setelah itu ustad Abdullah menghentakkan kakinya tiga kali
"Ayo masuk" ajak ustad Abdullah diikuti Karim dan Udin.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam" ucap semua orang yang ada dalam rumah
mereka langsung membersihkan abdullah dan Udin masuk, Abdullah langsung meminta mereka mengantarnya menuju kamar Khadijah.
"Udin, tolong minta orang di luar membaca Al-Quran, aku akan mencoba menolong dengan bantuan Allah" ucap ustad Abdullah yang di balas anggukan Udin.
ia melihat pemandangan yang sangat menyayat hati, walau Udin bukan sanak keluarga Khadijah, ia merasa sedih melihat kondisi Khadijah.
"Assalamu'alaikum " sapa Abdullah
"Wa'alaikum salam" ucap Khadijah dengan suara serak seolah kehabisan nafas
"Apa ustazah bisa mendengar suara saya??? tak perlu menjawab, ustazah cukup mengangguk" ucap Abdullah melihat wanita itu kewalahan berbicara.
Wanita itu muntah, namun hanya air saja yang keluar.
tapi yang aneh adalah jumlah air yang keluar, itu seperti keluar dari keran air, dua ember air keruh keluar dari mulut Khadijah
"Astaghfirullah, kejam, kejam" ucap Abdullah lirih.
Tak alam kemudian terdengar suara asing dari mulut Khadijah, seperti mendesis.
"Pssssssssttttt kau manusia berani menggangguku"
"Jin laknat, keluar kau dari tubuh wanita itu"
"Hahaha aku tak akan keluar, dia tumbal yang di berikan majikan untukku psssssttttttt"
"Mau keluar atau ku bakar????"
"Pstttttt hahahaha" bukan takut jin kafir itu tertawa terbahak-bahak.
Abdullah mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Udin dan ketiga anak Khadijah memegangi kaki dan tangan orangtuanya.
"Kau sialan selalu menggangu" maki jin dalam tubuh wanita itu.
kembali wanita itu muntah
Air nya lebih keruh dari due ember sebelumnya dan kini disertai darah.
"Sialan tua Bangka sialan" maki jin itu marah.
Namun Abdullah tak terganggu, ia terus mengalunkan Yat suci Al-Qur'an sambil memegang kepala Khadijah.
Bisikan istighfar di telinganya kanan dan kiri"
dan kalian berdua, dzikir dalam hati" ucap Abdullah memberi perintah.
Setengah jam kemudian terdengar suara melengking ke sakitan, wanita itu menggelepar seperti ayam yang dipotong lehernya, lalu muntah darah dan berteriak makin histeris setelah itu ia pingsan.
Abdullah membakar jin itu karena kejam dan tak mau keluar.
Kini ia memegang perut Khadijah yang besar, kembali terdengar Abdullah beristighfar beberapa kali.
"Apa di rumah ini ada sumur???"
"Gak ada pak ustad"
"Ada" ucap anak tertua ustazah Khadijah
"Ya, aku ingat di rumah ini dulu ada sumur" timpal adiknya ingat masa kecilnya
"Di belakang, di halaman belakang ada sumur tua yang tak terpakai.
tapi sudah di tutup" ucap Anak tertua Khadijah
"Gali dan cari boneka yang di bungkus kain Kaffa .
jika sebelum besok siang ba'da Zuhur ketemu, ustazah akan baik-baik saja, tapi...."
"Kita cari sekarang" ucap Karin bangkit, ia marah mengetahui ada orang yang mengirim guna-guna pada uminya.
"Jangan sekarang, sumur itu mengeluarkan gas dan berbahaya.
kita harus hati-hati"
"Tapi...."
"Hidup mati manusia, Allah sudah menentukan.
Kita hanya berusaha, hasilnya serahkan pada Allah" ucap ustad Abdullah.
Ustad Abdullah memilih tetap berada di rumah tersebut.
ia yakin wanita itu akan mengirimkan jin lain untuk menuntaskan dendamnya.
organ dalam wanita malang itu sudah di penuhi air dan hitam. Abdullah terlambat datang.
Lagi-lagi ia tak bisa berbuat banyak.
Benar dugaan Abdullah, malam itu wanita itu mengirim Khadijah dengan guna-guna lain.
diatas genting rumah terdengar ledakan-ledakan dan api berkobar yang hanya bisa di lihat oleh Abdullah dan beberapa orang yang memiliki kelebihan.
lantunan ayat suci terus berkumandang, memberi dinding pelindung bagi semua orang yang ada dalam rumah tersebut.
Khadijah muntah kembali, beberapa benda ayang tajam seharusnya ada keluar dari dalam mulutnya disertai air berwarna hitam dan keruh.
"Tuntun beliau mengucapkan syahadat" ucap Abdullah melihat nafas Khadijah di ujung hidung.
Seluruh keluarga menangis, mereka menangis histeris
"Bantu dengan doa dan tuntun terus dengan kalimat syahadat" ucap Abdullah.
Satu jam sebelum wafat, Khadijah muntah tak henti.
namun ia sudah bisa mengucap istighfar dan terus mengucapkan kalimat syahadat hingga pada ember ke tiga ia sudah tak muntah, air hitam keluar dari mulutnya pada ember ke tiga.
bau busuk menyengat memenuhi ruangan.
"Umi mooo...mohon maaf pa..da kalian semua,uhuk uhuk
ja...ngan mem... ben.....ci siapa ....pun karena bahwasanya...nya iiiiini uhuk uhuk uhuk", Khadijah muntah darah kental
"Bahwasannya ke.....hendak Allah u....untuk menghapus do....sa do...sa umi.
tempatkan umi di sebelah kuburan si.... Siti.
asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" Khadijah wafat dengan senyum menghias bibirnya.
Luka di kakinya pun tak lagi keluar belatung, padahal sebelum meninggal mahluk menjijikan itu terlihat bergeliat dan memakan luka Khadijah
"Umiiiiiiiiiiiiiiiii"
"innalillahi wa inna ilaihi rojiun" ucapan semua orang di
liputi rasa sedih karena kehilangan.
Ustad Abdullah tak kembali, ia tetap di rumah itu hingga subuh, sholat lalu pukul sembilan pagi jenazah ustazah Khadijah di kebumikan.
Para pelayat tak henti-hentinya beristigfar dan menyebut asma Allah, dari tubuh ustadzah Khadijah tercium wangi.
padahal sebelum nya saat ia sakit bau busuk menyengat yang menemaninya.
Bahkan para pembawa keranda mayat merasa langkah mereka terasa ringan seolah membawa kapas.
Padahal tubuh ustad khadijah masih tergolong berisi walau sudah lebih kurus dari biasanya.
"ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR.
SESUNGGUHNYA ENGKAU AKAN MEMULIAKAN HAMBA MU YANG BERTAQWA PADAMU HINGGA AKHIR HAYATNYA, SUBHANALLAH". UCAP USTAD ABDULLAH.
Setelah pemakaman, pihak keluarga memilih untuk membongkar sumur tua dan menemukan di alam sana ada boneka jerami yang di bungkus dengan kain kafan, di tusuk oleh jarum di bagian lehernya, perut. dan seekor ular melingkar dari kaki sampai leher boneka itu.
Ustad Abdullah langsung membakar seraya berdoa pada Allah.
Sementara di tempat lain
Di sebuah kamar pengap dan gelap hanya di temani cahaya lilin, seorang wanita paruh baya muntah darah beberapa kali.
Wanita itu tersenyum menyeramkan.
Setelah itu ia merapihkan tempat itu dan keluar dari kamar tersebut.
"Apa mama puas sekarang??????" tanya anak sulungnya saat Rumi baru saja keluar
"Apa maksudmu nak???"
"Bu Khadijah meninggal, itu pasti ulah mama kan???"
"kau memfitnah mama" ucap Rumi melotot pada putranya
"Ma, hentikan ma...
istighfar ma, sudah banyak nyawa melayang karena ulah mama"
"Anak tak tahu diri, jangan pernah kau mengajari aku.
aku ibumu.
Aku hanya mempertahankan harga diriku.
Mereka menghinaku karena aku janda. dan miskin.
mereka bersikap seolah mereka benar sendiri dan bisa menghina orang lain" ucap Rumi membenarkan tindakannya
"Aku tahu mama adalah mamaku, aku menyayangi mama dan tak ingin mama terus berkubang dosa. Mereka tidak pernah menghina status mama.
Mama yang selalu berfikiran buruk dan langsung melampiaskan semua emosi mama.
mama mendengarkan bisikan setan!!!...."
"Persetan, apa kau pikir aku percaya dengan Tuhan??? Dimana dia saat aku di jual sebagai pelacur??? dimana dia saat papa mu yang bodoh itu meninggalkan kita???. Dimana dia saat kau dan adikmu kelaparan dan tak punya apa-apa???
aku, aku yang berusaha sendiri.
Mereka selalu membantuku menyingkirkan orang yang jahat padaku!!!" teriak Rumi dengan berderai air mata mengingat masa lalunya yang kelam, sekelam malam.
"Papa pergi karena mama tak pernah sadar, mama sudah menempuh jalan sesat.
please ma istighfar dan kembali ke jalan Allah"
Plak
Sebuah tamparan kencang mendarat di wajah Fajar, sudut bibirnya berdarah
"Bukan mama merenung, mama malah mengirim guna-guna pada papa hingga......
Apa kau tahu bagaimana perasanku ma???
Aku sakit, sedih dan benci" ucap fajar memukul dadanya sendiri.
Saat suami Rumi pergi, Rumi sangat sakit hati.
pria itu menikahinya dan mengatakan tak perduli darimana ia berasal.
pria itu menikahinya yang membawa dua anak dan berjanji akan sehidup semati, tapi pada akhir ia di tinggalkan, hingga sebuah surat cerai datang.
membuat dunia Runi hancur.
Ia di ceritakan dengan membawa tiga orang anak.
bagaimana ia bisa menata hidupnya lagi, bagaimana ia bisa menghidupi anak-anaknya yang kala itu masih kecil dan butuh cinta papa ya.
Rumi dendam kesumat pada suaminya.
ia tak percaya lagi pada pria dan berguru pada gurunya, mempelajari ilmu hitam dan mengirim suaminya guna-guna santet lowo Ireng.
membuat mantan suaminya kecelakaan dan meninggal di tempat.
"Jangan mama pikir aku tak tahu apa yang mama lakukan pada papa
mama mengirimnya santet.
Aku menyayangi papa seperti papaku sendiri ma. tapi mama merenggut nyawanya secara paksa.
Apa mama tidak takut dosa??? taubat ma...
demi aku, demi anak-anakmu.
sampai kapan kau seperti ini ma?????" tanya fajar frustasi. ia menangis mencurahkan perasaannya yng selama ini terpendam.
Rumi mematung, ia kehabisan kata-kata.
Ia pikir fajar tak tahu, nyatanya.
"Maafkan mama Fajar" ucap Rumi lirih.
"Jika mama terus seperti ini, aku akan pergi"ucap fajar langsung pergi.
Rumi yang panik langsung mengejar fajar, namun putranya sudah pergi.
Dengan panik Rumi berlari kesana-kemari mencari keberadaan putranya, namun bayangan fajar seolah hilang di telan bumi.
Rumi menangis, menjerit histeris.
ia sangat menyayangi fajar lebih dari anaknya yang lain, karena fajar adalah anak buah cintanya dengan mantan kekasihnya sebelum ia di jual orangtuanya sendiri dan mengandung adik fajar yang tak jelas siapa ayahnya.
Rumi di bawa ke klinik terdekat oleh seorang tetangga yang melihatnya pingsan.
Ia lalu di antar pulang saat Rumi sudah sadarkan diri.
Sejak kepergian Fajar, jiwa Rumi terguncang, ia kerap susah tidur dan terus menangis mengingat putra sulungnya itu.
Fadil putra keduanya yang sangat ia benci, merawat Rumi dengan penuh kasih sayang.
hingga tiga bulan berlalu, kondisi kesehatan Rumi menurun karena depresi atas kepergian putranya.
Fadik mencari keberadaan kakaknya dan meminta fajar kembali.
Ia juga ingin meminta restu pada mamanya karena ia ingin menikahi Surti, seorang office girls yang bekerja di perusahaannya.
Status sosial yang rendah membuat Rumi memandang rendah Surti, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain merestui mereka.
hingga akhirnya Surti dan fajar menikah.
tiga bulan setelah pernikahan mereka, Surti hamil.
Kehamilan anak pertama membuat Fajar sungguh bahagia.
Ia juga melihat mamanya sudah banyak berubah dan berfikir jika mamanya bisa menerima Surti.
Namun fajar tak pernah tahu, jika di dalam tubuh hati Runi, ia membenci Surti, sangat membenci wanita kampung itu yang di nilai udah merebut semua perhatian dan cinta putranya.
Diam-diam Rumi mengirim guna-guna untuk membuat anak dalam kandungan Surti mati.
ia melakukanya secara sembunyi-sembunyi.
tepat saat kandungan Surti tiga bulan ia keguguran
dan begitu seterusnya sampai anak fajar yang ketiga.
saat usia kandungan Surti menginjak delapan bulan, tiba-tiba anak dalam kandungan Surti meninggal dengan luka lembab di lehernya.
Rumi mengirimnya gun-guna.
anak dalam kandungan Surti ia jadikan tumbal.
Akhirnya karena kasian pada kakaknya, Fadlan memberitahukan kecurigaannya pada kakaknya fajar. mereka lalu memeriksa bilik kamar yang tak boleh di buka. dan menemukan foto Surti di sana.
Fajar mengamuk, ia mengira selama ini mamanya susha insyaf dan bertobat.
rupanya mamanya tidak akan pernah insyaf karena jauh di lubuk hati mamanya ia tak pernah salah.
dalam hati Rumi apa yang ia lakukan salah benar dan demi kebaikan anak dan dirinya.
Fajar meraung, ia menghancurkan sesajen Yanga candi kamar kecil itu.
membawa istri dan adik bungsunya pergid Ari rumah itu.
sementara Fadil memilih tinggal, ia tak bisa meninggalkan mamanya karena ia sangat menyayangi Rumi, walaupun sering di pukul, di bentak dan tak pernah dianggap.
Fadik dengan tulus menyayangi Rumi.
Satu jam kemudian Rumi kembali dari pasar, ia terkejut saat ingin memberi buah yang ia beli ke rumah fajar, rumah itu kosong. Bahkan barang-barang fajar tak ada.
Ia berlari ke rumah nya dan mendapati si bungsu juga tak ada.
Hanya ada Fadil yang sedang membereskan kekacauan yang di buat Fajar
"Dia sudah pergi ma, dia pergi dengan Fadlan dan kak Surti" ucap fadil tanpa menoleh
"Apa yang kau katakan pada kakakmu???
Apa??? Apa kau sengaja membuat fajar pergi????" tanya Rumi histeris memukul Fadil yang tetap diam tak membalas ataupun melindungi dirinya
Melihat Fadil yang malang jadi bulan-bulanan Rumi, tetangga Rumi datang dan melerai
Istrinya memberi Runi sebuah surat yang di tulis oleh Fajar dan di titipkan pada Mereka
"Ma...
terima kasih mama sudah melahirkan aku dan Fadik serta Fadlan.
Selamanya mama adalah mamaku dan aku menaruh hormat pada mama.
Tapi hari ini aku memutuskan kergi dari mama karena mama lagi dan lagi melakukan hal yang sama.
Aku mengira mama akan sadar dan bertaubat.
rupanya selama ini mama sudah menipuku.
mama berpura-pura taubat, dan mengguna-guna istriku sampai anak kami meninggal tiga kali.
Tega...
mama sungguh tega.
Apa mama tak tahu bagaimana perasaanku???
Apa mama tak sedih mama membunuh cucu mama sendiri.
Lebih baik aku tak memiliki ornagtua yang berhati iblis.
Mama janda pemuja setan.
Aku malu memiliki mama seperti mama.
Jangan pernah cari aku dan Fadlan.
aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dan adikku.
Maafkan anakmu yang tak berbakti ini
Fajar
Rumi menangis sejadi-jadinya, ia meraung dan menarik rambutnya frustasi, ia tak perduli banyak mata yang menatapnya, ya walau Rumi jahat, mereka juga kasihan.
Mereka mengerti bagaimana rasanya di tinggal pergi oleh anak sendiri.
Rumi akhirnya pingsan tak sadarkan diri karena tak bisa menerima kenyataan
Dua jam Rumi pingsan, saat terbangun ia berlari ke rumah kecil yang ia buat untuk putra kesayangannya.
ia melihat box rotan yang fajar persiapkan untuk putri kecilnya, beberapa boneka binatang berjejer di meja serta pakaian calon putri kecil fajar yang rapih tergelatak.
mereka baru menguburkan putri mereka duabhari lalu sehingga semua barang calon putri mereka masih teronggok rapih di sana.
Rumi merasa dadanya sesak.
ia tiba-tiba berlari ke jalanan, berteriak memanggil fajar sambil menangis.
Hingga tanpa ia ketahui, sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi melaju dan menghantam tubuhnya dengan kencang
Rumi terpental jatuh. tubuhnya menghantam pembatas jalan dan wajahnya hancur karena teseret aspal.
ia terdiam tak berkutik.
tak ada seorangpun yang berani menolong wanita itu.
hingga pihak berwajib dan ambulance datang langsung membawa Rumi ke rumah sakit.
Seornag tetangga yang melihat kecelakaan tunggal itu langsung memberitahu Fadil, mereka segera menuju rumah sakit dimana Rumi di bawa.
Rumi menjalani operasi.
walau seluruh bagian tubuhnya hancur, ia masih selamat.
yang terparah adalah wajahnya, nyaris tak dikenali
Janda anak tiga yang cantik itu kini seperti mummi, hidup tanpa kulit, hanya tulang dan bola mata yang menonjol, itu pun hanya sebelah, sementara sebelahnya lagi rusak parah
Rumi terbaring di tempat tidur setelah menjalani operasi panjang.
Ia mengalami patah kaki, tangan, leher, bahkan tulang belakang.
dokter yang menangani tak percaya bahwa Rumi masih bisa hidup dengan kondisi yang amat sangat mengenaskan.
"Fajar, fajar" gumam Rumi lirih.
Fadik merasa hatinya hancur.
ia tak tega melihat kondisi mamanya DNA berusaha membujuk fajar untuk menemui mama mereka.
Fajar tetap bersikukuh tak mau menjenguk, walau dalam hatinya menangis.
mamanya tega mengguna-guna istrinya hingga....
Dua bulan berlalu, kondisi Rumi tetap sama, ia kadang berteriak ketakutan dan bergumam menyebut nama orang-orang yang pernah ia celakai.
terkadang ia berteriak dan menunjuk-nunjuk seolah melihat sesuatu.
Hingga akhirnya Fadil menemui kakak iparnya dan menceritakan kondisi Rumi.
Surti yang tak tahu terkejut ia menangkis histeris mengetahui apa yang menimpa mertuanya itu.
walau Surti sempat membenci Rumi, tapi ia menyayangi Rumi seperti ornagtua kandungnya sendiri.
terlebih ia tahu bagaiman susahnya Rumi membesarkan anak-anaknya.
Surti sudah memaafkan Rumi
ia meminta suaminya menemui Rumi, ia sudah memaafkan perbuatan mertuanya.
mereka akhirnya menuju rumah sakit.
melihat kondisi Rumi fajar bersimpuh sambil menangis.
ia merasa sangat berdosa.
Karena dia Rumi berlari seperti orang gila di jalan
mengenai supir truk, Fajar dan Fadil memutuskan tak akan menuntut karena semua murni kesalahan mama mereka, namun proses hukum tetap berjalan, hanya saja Karena keluarga tak menuntut hukuman akan lebih ringan.
Rumi yang mendengar suara fajar sangat bahagia.
ia ingin memeluk fajar, namun tak bisa.
suaranya tercekat di tenggorokan.
ia merasa nafasnya sulit hingga hanya terdengar suara seperti orang ngorok.
Rumi di siksa menjelang ajalnya hingga dua Minggu nafas di tenggorokan namun tak kunjung juga menemui ajalnya.
seluruh keluarga sangat sedih melihat kondisi Rumi yang amat menyedihkan.
Hingga akhirnya Fajar melaksanakan sholat tahajud dan berdoa selama dua Minggu belakang ini.
ia mengikhlaskan mamanya pergi dan memohonkan ampunan untuk segala dosa yang pernah dilakukan mamanya semasa hidup.
juga memaafkan mamanya atas perbuatan mamanya pada calon anaknya.
setelah selesai sholat, fajar melanjutkan kegiatannya membacakan ayat suci Al-Quran hingga pagi hari.
setelah itu ia merasa sangat mengantuk dan tertidur pulas.
Tanpa Fajar ketahui, saat ia tertidur., terbuai dalam mimpi karena kelelahan, malaikat nyawa mencabut mamanya dengan cara yang amat menyakitkan.
lidah Rumi menjulur keluar dengan mata melotot besar dan tangan Rumi Menggenggam erat menunjukkan betapa sakitnya saat nyawanya di tarik dari raga.
Saat Fadil datang untuk giliran menjaga ia terkejut dan langsung membangunkan Fajar.
tubuh mama mereka sudah kaku.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun" ucap fajar dan Fadil dengan air mata berderai.
"Mama akhirnya tak merasakan sakit lagi.
semoga segala dosa mama semasa hidup di ampuni oleh Allah"
"Amiiin"
Sore harinya pemakaman Rumi berlangsung, Tak banyak yang datang dalam pemakaman nya.
tubuh Rumi mengeluarkan bau busuk menyengat, bahkan darah terus keluar dari kain kafannya.
akhirnya ustad yang memimpin pemakaman memerintahkan Rumi segera di kubur, namun saat dimasukkan ke liang lahat, kuburan Rumi di penuhi darah campur nanah.
Fajar, fadil dan Fadlan menangis melihat kejadian itu.
mereka lalu memutuskan mengambil wudhu dan berdoa dengan khusuk.
Air mata menetes mengiringi doa mereka.
"Ya Allah, Engkau maha pengasih dan pengampun.
Hamba mohon permudahkan pemakaman ibu hamba dan ampunilah segala dosa-dosanya" dia ketiganya.
Lalu pemakaman di lanjutkan
Rumi meninggal dengan cara yang tragis dan hina akibat perbuatannya semasa hidup nya
Allah akan meninggikan derajat manusia yang bertaqwa dan berjalan di jalan Allah
Sesungguhnya Allah maha pengasih lagi penyayang
Tamat