Di sebuah desa terpencil, di Jepang, ada kultus ilegal yang berkembang cukup pesat di sana. Kultus tersebut mengharuskan ada persembahan khusus di saat desa mereka mengalami kekeringan dan kelaparan.
Seperti di tahun itu, pimpinan kultus yang menyembah Lucifer (Raja Iblis) berkata bahwa ia mendapatkan bisikan rohani dan menunjuk anak gadis yang masih berumur lima belas tahun yang masih suci, bernama Hana sebagai "Yang Terpilih" untuk dinikahkan dengan Lucifer, dengan cara punggung anak gadis "Yang Terpilih" harus digambari simbol pentagram lalu kedua tangannya diikat dan dimasukkan ke dalam nyala api dalam keadaan hidup-hidup sampai ia mati terbakar dalam nyala api itu.
Persembahan seperti itu harus segera dilakukan agar desa mereka yang mengalami kekeringan dan kelaparan di tahun itu, terbebas dari penderitaan.
Anak gadis yang bernama Hana Hiruka itu tersentak kaget dan langsung menyemburkan protes, "Kenapa saya? Ada banyak anak gadis yang masih suci di sini, tapi kenapa saya yang terpilih? Saya tidak mau! Saya belum ingin mati!"
Ibu dari anak itu langsung membungkam mulut anak gadisnya sambil berteriak, "Kami sekeluarga setuju! Kami akan korbankan anak kami ini sebagai pengantinnya Lucifer Yang Maha Agung. Kami sekeluarga merasa tersanjung dan diberkati karena anak gadis kamu menjadi yang terpilih"
Hana Hiruka memegang boneka kesayangannya dengan kedua alis terangkat ke atas dan keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Dia bergumam sambil memegang erat boneka pemberian kakaknya di hari ulangtahunnya, kemarin, "Kak, selamatkan aku!"
Doa panjang umur yang dipanjatkan oleh keluarganya kemarin, sia-sia karena keesokan harinya, ia akan dilempar hidup-hidup ke dalam nyala api.
Kakak laki-lakinya Hana yang bernama Eno, tidak berani melancarkan protes. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya dan mengabaikan Hana.
Hana menoleh ke Kakaknya dengan menghunus tatapan tajam dan menangis deras saat empat orang pria mencekoki dia dengan anggur beralkohol tinggi, lalu meniarapkan dia di meja altar untuk digambari punggungnya menggunakan pisau yang biasa digunakan untuk memotong tulang sapi. Dia kecewa karena kakak laki-laki yang sangat ia sayangi, mengabaikan dia dan tidak berjuang membebaskannya.
"Aaatrghhhhhhh!!!!!!! Sakiiitttt! Lepaskan!!!!!!! Sakit sekali!!! Toloooongggggg!!!!!!" Hana terus meronta, melolong kesakitan dan menangis deras saat pisau besar itu menusuk tajam punggungnya dan terus bergerak untuk menorehkan gambar pentagram.
Pandangan Hana kemudian tertuju ke kedua bola mata boneka kesayangannya dan terus tertuju di sana sampai gambar pentagram di punggungnya selesai. Hana dipaksa bangun dan berdiri tegak di saat kepalanya terasa sangat pening dan punggungnya terasa sangat perih dan nyeri.
Punggung Hana kemudian dipasang sayap yang terbuat dari bulu gagak hitam dan di kepalanya dipasang mahkota yang juga terbuat dari bulu gagak hitam. Lalu kedua tangannya diikat erat. Kedua pria kekar masih memegangi tubuhnya dengan erat sambil menunggu pimpinan kultus aliran sesat itu menyelesaikan sebuah doa, "Inilah pengantin yang sudah Anda tunggu-tunggu Lucifer Yang Maha Agung. Dengan darah kami dilahirkan dan dengan darah kami mati. Terimalah persembahan kami dan bebaskan kami dari penderitaan kekeringan dan kelaparan, amin"
Hana terus berteriak kencang, "Jangan aku!!!!!! Lepaskan aku!!!!!!! Aku masih ingin hidup!!!! Papaaaaa!!!!! Mamaaaaaaa!!!! Kakaaakkkk!" Selamatkan aku, aku mohon!!!!!!"
Namun, semuanya mengabaikan teriakannya Hana Hiruka.
Begitu kata amin diucapkan, kedua pria kekar yang memegang kedua tubuh Hana langsung melemparkan Hana ke dalam tuku api besar yang menyala-nyala.
Hana terus menggeliat dan terus berteriak kesakitan di dalam nyala api itu sampai ia hangus terbakar menjadi abu.
Dan tanpa diketahui oleh siapapun asap hitam melesat masuk ke dalam boneka kesayangannya Hana Hiruka.
Keluarganya Hana kemudian ditemukan bunuh diri Satu bulan setelah Hana dikorbankan. Desa mereka masih dilanda kekeringan dan kelaparan dan semua anggota kultus sesat itu mengatakan kalau Hana bukan gadis suci itulah yang membuat pengorbanan Hana tidak membuahkan hasil seperti yang mereka inginkan. Karena malu, akhirnya seluruh keluarganya Hana bunuh diri.
Sepuluh tahun kemudian. Seorang ibu muda mengikuti lomba naik gunung. Ibu muda itu mengincar hadiah utama berupa uang tunai sebanyak lima ratus juta rupiah dan sebuah vila tipe 45 berlantai dua bergaya minimalis. Ibu muda itu memiliki seorang putri yang masih berumur tujuh tahun. Putrinya mengalami trauma setelah selamat dari kecelakaan maut di jalan raya yang merenggut nyawa suaminya. Di dalam kecelakaan maut tersebut, suaminya meninggal seketika itu juga dan putrinya selamat. Namun, putrinya mengalami trauma psikologis. Putri cantiknya, tidak mau berbicara lagi.
Ibu muda itu bernama Dewi Henizer dan putri semata wayangnya itu bernama Ayu Henizer.
Dewi yang hanyalah seorang ibu rumah tangga, menjadi kalang kabut mencari pekerjaan setelah suaminya meninggal. Dia akhirnya memperoleh pekerjaan di sebuah restoran dan hanya menjadi buruh cuci dengan gaji yang tidak begitu besar.
Uang peninggalan suaminya habis untuk biaya pengobatan dan terapinya Ayu. Dewi juga harus meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini ia tempati tiga bulan lagi karena ia, sudah tidak mampu lagi membayar uang kontrakan.
Untuk itulah, Dewi memutuskan ikut lomba naik gunung. Kalau memang, ia akan dapatkan rumah dan uang yang sangat banyak.
Dewi menitipkan putri semata wayangnya di pos penjagaan dan ia mengelus rambut putrinya sebelum memulai pendakiannya, "Doakan Mama menang, ya?!"
Ayu menganggukkan kepalanya.
Dewi memulai pendakiannya dengan penuh semangat. Dia memiliki saingan yang cukup banyak dan dari sekian banyaknya peserta lomba. Peserta wanita hanya ada sepuluh orang termasuk Dewi Henizer.
Dewi berhasil masuk peringkat lima besar di pos kelima. "Masih kurang tiga pos lagi. Aku harus lebih semangat lagi" Dewi menyemangati dirinya sendiri sambil terus mendaki tanpa kenal kata lelah.
Dewi berbelok mengikuti tanda panah dan dua puluh menit kemudian, ia mendengar suara tangisan. Tangisan itu sangat memilukan. Dewi tanpa sadar melangkah ke arah suara tangis itu dan seketika mematung. Dewi menemukan sebuah boneka Jepang berkimono, berambut pendek, berkulit pucat dan sangat cantik
Dewi memungut boneka Jepang itu sambil bergumam, "Apa anak yang menangis tadi mencari boneka ini? Tapi, kenapa sekarang suara tangisan itu, malah menghilang?" Saat Dewi mengedarkan pandangan ke segala arah, ia merasakan aura di sekitar tempat itu dingin
Dewi lalu menatap lekat kedua bola mata boneka Jepang itu dan dia tersentak kaget saat ada tangan dingin sedingin es batu tiba-tiba berada di atas punggung tangannya. Dewi sontak mengangkat wajahnya untuk memandang ke depan dan ia seketika mematung saat melihat ada seorang gadis remaja cantik berdiri di depannya.
Gadis remaja itu berkata ke Dewi, "Kamu tersesat cukup jauh. Aku akan mengantarmu ke tempat tujuan kamu lebih cepat dari yang lainnya. Kamu inginkan hadiah utama, kan? Aku akan wujudkan keinginan kamu. Tapi, kamu harus mau merawat bonekaku ini" Tangan dingin itu menarik tangan Dewi.
"Tunggu!" Dewi menarik tangannya dari genggaman tangan wanita itu.
Gadis remaja itu mengentikan langkahnya dan menoleh ke Dewi, untuk bertanya, "Kenapa?"
"Kamu siapa?" Tanya Dewi.
Gadis remaja itu hanya berkata, "Mau pulang dan memenangkan hadiahnya, kan?"
Dewi menelisik wajah cantik yang tirus, rambut hitam sebahu, tubuh proporsional, gadis remaja yang sangat menarik. Namun, Dewi tidak melihat pijar kehidupan di kedua bola mata wanita itu.
Dewi seketika merinding. Bulu kuduknya berdiri tanpa dikomando Desir aneh merayapi hati saat tangan dingin itu kembali menggenggam tangannya dan menariknya.
Dewi sontak memejamkan mata saat ia merasakan dirinya seolah terbang bukannya berjalan dan dalam hitungan detik, ia sudah tiba di pos terakhir. Dewi tertegun dan sambil mendekap boneka Jepang yang ia temukan, ia menatap bendera di depan matanya. Jika ia menarik bendera itu dan mengibarkannya, maka dia adalah juaranya dan dia akan memenangkan hadiah utama.
Gadis cantik itu melepaskan tangan Dewi dan berkata, "Aku sudah membantu kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Maka kamu harus tepati janji kamu untuk merawat bonekaku dengan baik. Sekarang cabut benderanya dan kibarkan, cepat!"
Dewi sontak mencabut bendera itu dan mengibarkannya. Bunyi sirene langsung terdengar bergaung nyaring dan pengeras suara langsung menggelegar menyuarakan, "Kita sudah temukan juaranya!"
Dewi memekik puas dan tertawa senang. Ia lalu berputar badan untuk mengucapkan terima kasih ke gadis muda yang menolongnya. Namun, gadis muda itu telah hilang.
Dewi bergumam, "Kenapa dia bisa menghilang dengan sangat cepat? Ah, sudahlah. Aku hanya harus merawat boneka ini, kan, untuk balas budi? Maka aku akan merawatnya"
Dewi kemudian tinggal di sekitar pegunungan itu dan dia merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa memiliki rumah sendiri tanpa harus mengontrak lagi dan dia memiliki banyak uang untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya pengobatan putri tunggalnya. Dewi hanya memakai uang hasil kemenangannya sebanyak delapan puluh juta rupiah untuk membeli mobil pickup dan memakai uang sebanyak seratus juta rupiah untuk membeli benih sayuran, buah dan beberapa bunga hias seperti mawar. Dia memutuskan untuk berkebun dan mencoba untuk berbisnis sayuran, buah, dan bunga.
Tiga hari kemudian, Dewi tersentak kaget dan seketika memutar badan untuk melihat Ayu, saat ia mendengar suara Ayu, "Mama, mana piring dan gelas untuk Hana Hiruka?"
"Ka......kamu bisa ber.....bersuara lagi? Mak....maksud Mama, ka......kamu, berbicara lagi" Dewi sontak berlari mendekati Ayu dan memeluk Ayu dengan sangat erat. Dewi lalu berkata dengan menitikkan air mata, "Sayangku, betapa Mama sangat merindukan suara merdu kamu. Terima kasih mau mengeluarkan suara lagi, Sayang"
Ayu menarik diri dari pelukan mamanya dan berkata, "Mana gelas dan piring untuk Hana Hiruka?"
Dewi sontak menautkan alisnya, "Hana Hiruka? Siapa Hana Hiruka?"
"Boneka yang Mama kasih ke Ayu, namanya Hana Hiruka" Sahut Ayu.
"Oooooo" Dewi tersenyum lebar lalu berkata, "Kenapa kamu kasih nama Jepang untuk boneka itu? Walaupun iya, sih, boneka itu berkimono. Tapi, dia, kan, tinggal sama kita. Kenapa nggak kamu kasih nama, Suci, Cinta, atau........."
"Karena itu memang namanya" Sahut Ayu dengan cepat.
"Darimana kamu tahu kalau itu adalah nama aslinya?" Dewi kembali menautkan alisnya.
"Dia sendiri yang bilang" Ucap Ayu dengan wajah datar dan polos.
Dewi merapatkan bibirnya dan setelah menghela napas panjang, ia berkata, "Oke. Yang penting kamu sudah sembuh dan mau ngomong lagi. Mama bebaskan kamu berimajinasi"
Ayu tampak mendengus dan kembali berkata, "Ma, Hana Hiruka menunggu piring dan gelasnya"
"Ah, oke. Baik" Dewi lalu menaruh piring dan gelas di depan boneka Jepang sambil berkata, "Ini piring dan gelas kamu. Terima kasih sudah membuat Ayu berbicara lagi dan terima kasih untuk kemenangan yang aku dapatkan"
Dewi mengelus pucuk kepala boneka Jepang itu dan Ayu langsung menyemburkan protes, "Ma, Hana Hiruka tidak suka kepalanya di sentuh"
"Oke. Mama nggak akan sentuh lagi kepalanya Hana Hiruka" Dewi tersenyum lebar ke Ayu sambil mengangkat tangannya dari atas pucuk kepala bonekanya Ayu.
"Mama lupa. Tapi, kalau lupa juga nggak masalah, kan? Mama sudah bilang kalau dia hanyalah boneka. Dia benda mati dan tidak bisa makan ataupun minum. Dan Mama mau nanya, kalau kamu sayang sama boneka itu, kenapa semalam, kamu tinggalkan boneka itu di meja makan?"
"Aku tidak tinggalkan Hana Hiruka di meja makan. Aku dan Hana Hiruka tidur bareng sampai pagi" Sahut Ayu.
"Kenapa kamu sekarang belajar untuk berbohong?" Dewi berkacak pinggang di depan Ayu.
Ayu menatap Mamanya dan berkata, "Aku nggak bohong, Ma"
Dewi menelisik wajah dan bola mata Ayu dan dia tidak menemukan kebohongan di sana. Lalu, Dewi berkata ke Ayu, "Sudahlah. Maafkan, Mama. Mama pasti ngantuk berat semalam. Jadi, Mama berhalusinasi"
Ayu lalu mendekap bonekanya dan berjalan menuju ke ruang tengah.
Dewi memasukkan cetakan cupcake ke dalam oven dan mencuci semua perabot makan yang kotor.
Beberapa menit kemudian, Dewi berjalan ke ruang tengah, Dewi tersenyum saat ia melihat Ayu tengah menonton kartun Jepang di ruang keluarga. Mama muda yang masih terlihat sangat cantik itu, duduk di samping Ayu dan bertanya, "Kamu suka kartun Jepang ternyata. Mama kira, kamu hanya suka melihat Paus dan Lumba-lumba"
Ayu menoleh ke Mamanya dan berkata "Hana Hiruka yang suka. Aku cuma menemaninya nonton"
Dewi menautkan kedua alisnya lalu ia mengelus rambut putrinya dan berkata, "Kamu sayang banget sama Hana Hiruka, ya?"
Ayu menganggukkan kepalanya, lalu berkata, "Karena hanya dia temanku saat ini"
"Mama akan ke kota sebentar untuk mengambil koper kita yang masih ada di rumahnya Om Kenzo. Mama nggak bisa meninggalkan kamu sendirian di rumah. Kamu ikut Mama sebentar, ya?"
"Hana Hiruka pengen ikut. Kalau Hana Hiruka ikut, aku juga ikut" Sahut Ayu.
"Oke. Hana Hiruka boleh ikut" Sahut Dewi dengan senyum lebarnya.
Dua jam kemudian, Dewi sampai di rumahnya Kenzo. Kenzo adalah sahabatnya semasa SMA. Kenzo menaruh hati pada Dewi, namun Dewi akhirnya memilih papanya Ayu.
Kenzo masih terus menyimpan cintanya untuk Dewi. Bahkan, saat suami Dewi meninggal karena kecelakaan mobil, Kenzo langsung memutuskan pacarnya yang sudah ia pacari selama lima tahun. Kenzo ingin mengejar Dewi kembali.
Kenzo adalah seorang dosen. Dia mengajar Arkeologi. Saat ia melihat Ayu menggendong sebuah boneka Jepang, Kenzo yang juga adalah seorang indigo, merasakan aura negatif di boneka itu. Kenzo terus menatap bonekanya Ayu.
Kenzo melihat Ayu dan bonekanya. Ia kemudian berjongkok di depan Ayu dan sambil mengusap kepala Ayu, ia bertanya, "Boneka kamu cantik banget. Ini boneka mahal dan langka. Darimana kamu dapatkan boneka ini?"
Hana Hiruka yang tidak menyukai Kenzo yang terus menatapnya curiga, berbisik ke Ayu, "Dia pria jahat yang ingin merebut Mama kamu dari kamu. Jauhi dia! Jangan biarkan dia mendekati Mama kamu lagi! Kalau kamu biarkan ia dekati Mama kamu, dia akan bawa pergi Mama kamu dari kamu"
Ayu langsung melangkah mundur ke belakang dan berkata, "Jangan dekati Mama lagi, Om!"
Kenzo tersentak kaget dan sontak bangkit berdiri. Ia menoleh ke Dewi dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ayu sudah mau berbicara lagi. Semua berkat Hana Hiruka"
"Siapa Hana Hiruka?" Tanya Kenzo.
"Boneka yang didekap Ayu. Namanya Hana Hiruka" Sahut Dewi.
Kenzo tertegun. Ia merasa pernah membaca nama Hana Hiruka.Tapi, ia lupa di mana ia pernah membaca nama itu. Saat ia menoleh kembali ke tempat Ayu berdiri, karena ia ingin menelisik lebih lama wajah bonekanya Ayu, Ayu sudah masuk ke dalam mobil.
Dewi menepuk pundaknya Kenzo, "Maafkan sikap dan perkataannya Ayu ke kamu"
"Nggak papa. Dia masih anak-anak. Aku paham, kok. Hati-hati di jalan" Kenzo menepuk pundaknya Ayu.
Sepeninggalnya Dewi, Kenzo langsung berlari masuk ke dalam rumahnya dan segera menuju ke meja kerjanya. Dia menyalakan laptop dan mencari nama Hana Hiruka. Kenzo terperanjat kaget saat ia membaca penemuannya. Hana Hiruka adalah gadis terpilih untuk menjadi pengantinnya Raja Iblis Lucifer yang dipercayai dan disembah oleh kultus sesat di salah satu tempat terpencil di Jepang. Hana Hiruka dibakar hidup-hidup. Kenzo terhenyak di kursinya saat ia melihat foto Hana Hiruka mendekap boneka yang sama dengan yang didekap oleh Ayu. Kenzo langsung bergumam, "Pantas saja aku merasakan aura negatif di boneka itu. Aku harus telpon Dewi soal temuanku ini"
"Nomer yang Anda tuju tidak aktif" Suara itu bergaung di telinganya Kenzo. Kenzo langsung menarik telepon genggam dari daun telinganya dan sambil berlari menuju ke mobilnya, dia terus mencoba menghubungi ponselnya Dewi.
Kenzo mengumpat kesal dan dia melempar ponselnya ke jok samping sambil berkata, "Semoga aku belum terlambat memperingatkan Dewi dan Ayu soal boneka itu" Kenzo menekan lebih dalam pedal gas.
Namun, seolah dihalangi oleh sesuatu yang bisa ia rasakan jahat, namun tidak bisa ia lihat, mobil Kenzo mengalami Han kempes sebanyak dua kali. Dan mengalami mogok sebanyak dua kali pula padahal mobilnya adalah mobil baru super canggih dan bensinnya pun penuh. Kenzo meraup wajah tampannya dan bersandar.di pintu mobil untuk merokok sebentar. Dia butuh menjernihkan pikirannya sejenak sebelum ia melanjutkan perjalanannya.
Setelah menghabiskan satu puntung rokok dan menginjak puntung rokok di atas aspal, Kenzo masuk kembali ke dalam mobil. Tiba-tiba sekujur tubuh Kenzo merinding dan refleks ia menatap rear-mirror vision. Di cermin itu, ia melihat bonekanya Ayu duduk di jok belakang dengan seringai mengerikan. Kenzo langsung menoleh ke belakang dan Brak!!!! Terdengar suara keras dan Kenzo jatuh pingsan saat mobilnya menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan.
Dewi sampai kembali di ruang minimalisnya yang ada di daerah perkebunan tepat jam tujuh malam. Dia menggendong Ayu yang ketiduran dan dia lupa membawa bonekanya Ayu. Dewi juga lupa mengambil ponselnya yang dia isi baterenya di mobil.
Dewi menutup pintu mobil dan menguncinya. Lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggendong Ayu. Setelah merebahkan Ayu di kamar. Dewi melangkah ke kamarnya. Dia meletakkan tas selempangnya di atas kasur dan pergi mandi.
Dewi keluar dari dalam kamar mandi dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Kelelahan yang luar biasa, membuat Dewi ketiduran.
Dewi dibangunkan di tengah malam dengan bunyi dering ponsel milik almarhum suaminya. Dewi tanpa sadar mengumpat, "Ah, sial! Siapa yang menganggu tidurku malam-malam begini?"
"Halo? Siapa ini?" Dewi mengangkat panggilan masuk di telepon genggamnya milik almarhum suaminya.
"Kenapa Mama tinggalkan Hana Hiruka di mobil? Hana Hiruka kedinginan, nih, Ma. Kenapa Mama tega sekali?" suara anak gadis yang merdu menyusup masuk ke telinganya Dewi.
Dewi terkejut dan refleks bangkit berdiri untuk berlari ke pekarangan depan rumahnya. Dia langsung membuka pintu mobil dan seketika Dewi mematung. Dia melihat bonekanya Ayu memegang telepon genggamnya. Sekujur tubuh Dewi merinding dan keringat dingin menetes di pelipisnya.
Boneka itu tiba-tiba memutar kepala dan menoleh.
Dewi pingsan.
Sepuluh menit kemudian, Dewi bangun dengan sendirinya. Dia bangkit berdiri dan langsung melongok ke dalam mobil. Saat ia tidak menemukan bonekanya Ayu di dalam mobil, Dewi berlari kencang masuk ke dalam rumah.
Dewi sontak berteriak kencang, "Ayu!!!!!!!"
Dewi melongo dan lagi-lagi hanya bisa mematung saat ia melihat Bonekanya Ayu ada di sofa ruang tamu.
Dan saat tidak ada sahutan dari putri cantiknya, Dewi refleks melotot ke bonekanya Ayu dan berteriak, "Kau sembunyikan Ayu di mana?! Katakan!!!!! Di mana Putriku!!!!!!!"
Dewi terkesiap kaget dan sontak mundur ke belakang beberapa langkah saat ia melihat boneka itu menyeringai mengerikan ke arahnya.
Ayu muncul dari dapur dengan membawa cupcake. Dia menatap mamanya dan berkata, "Kenapa Mama membentak Hana Hiruka? Dia tidak suka dibentak, Ma"
Dewi meraup wajah lelahnya dan dia langsung menggendong Ayu sambil berkata, "Mama akan bawa kamu ke kamar tanpa Hana Hiruka. Biarkan Hana Hiruka tidur di ruang tamu mulai sekarang dan jangan bawa Hana Hiruka tidur sama kamu lagi! Dia jahat. Dia bukan boneka cantik dan dia bukan teman yang baik untukmu. Dia berbahaya. Jangan dekati dia lagi!"
Dewi membawa Ayu masuk ke dalam kamar, "Kamu tunggu Mama di sini dan........." Dewi membekap mulutnya kuat-kuat dan menatap nanar ranjangnya Ayu. Dia seketika menarik kedua alisnya ke atas dan bergidik ngeri saat ia melihat bonekanya Ayu ada di atas ranjang. Padahal, lima menit yang lalu, Boneka itu masih ada di ruang tamu. Jarak kamar dan ruang tamu cukup jauh. Pintu kamar juga tertutup rapat, lalu bagaimana caranya boneka itu bisa berada di dalam kamar, kapan dia masuk dan darimana dia masuk? Benak Dewi terus bertanya-tanya diiringi desir aneh di hatinya, hawa dingin menyeruak, seakan Dewi berada di dalam lemari es, dan akhirnya Dewi kembali pingsan di depan kamarnya Ayu.
Boneka itu berteriak dan melotot, "Aku akan bunuh dia! Dia akan memisahkan kita berdua. Aku akan membunuhnya! Dia juga telah mengkhianati aku. Aku udah baik dan berikan semua yang ia inginkan Tepi, dia tidak mau merawatku. Aku akan bunuh dia!!!!!!! Aaaarghhhhh!!!!!!!" Boneka itu menggeram mengerikan
Ayu langsung menoleh ke bonekanya dan berteriak kencang"Jangan bunuh Mama! Bawa saja aku ke manapun kamu pergi! Aku bersedia jadi teman abadi kamu, asalkan kamu mau melepaskan Mama. Tolong! Jangan bunuh Mama!"
Boneka Jepang itu menyeringai senang dan berkata, "Baiklah. Aku akan ajak kamu ke sebuah tempat yang indah dan selamanya kita akan menjadi teman abadi. Nggak akan ada yang akan memisahkan kita. Gendong aku sekarang juga!"
Ayu menggendong bonekanya dan berjalan keluar.
Tepat di pekarangan rumah, Kenzo langsung menghadang langakh Ayu, "Stop! Kamu mau ke mana? Di mana Mama kamu?"
"Aku mau pergi dengan Hana Hiruka. Aku sudah berjanji akan menjadi teman abadinya. Mama ada di dalam, Om" Sahut Ayu.
"Lemparkan boneka itu ke Om! Kamu harus jaga Mama kamu. Masuklah ke dalam rumah dan temani Mama kamu. Om yang akan jadi teman abadi Hana Hiruka. Percaya sama Om. Om sayang banget sama kamu dan Mama kamu" Kenzo tersenyum ke Ayu.
Ayu melemparkan bonekanya ke Kenzo dan dia berlari masuk ke dalam rumah.
Bonekanya Ayu tiba-tiba memanjangkan rambutnya yang pendek dan menampakkan bola mata hitam kelam di depan Kenzo. Kenzo tersentak kaget dan langsung melempar boneka itu ke tanah.
Kenzo segera berputar badan dan berlari sekencang-kencangnya, sambil sesekali menoleh ke belakang ketika boneka menyeramkan itu melangkah perlahan ke arahnya dengan suara sepatu yang terbuat dari kayu khas Jepang, "Klotak, Klotak, Klotak!"
Kenzo terus berlari semakin kencang dan tanpa arah ketika menoleh ke belakang melihat boneka Jepang menyeramkan yang terus memanjang rambutnya sampai menyentuh tanah dan menutupi muka, mempercepat langkah, lalu melesat terbang mengejarnya.
Kedua alis Kenzo terangkat ke atas, keringat menetes dari sana dan bibirnya bergetar saat ia melihat boneka itu terbang di atas kepalanya saat ia sampai di lapangan bola yang sangat luas.
Dewi berhasil menyusul Kenzo dengan mobil pickup-nya. Dewi melompat turun dari dalam mobil dan tersentak kaget saat ia melihat Ayu memukul boneka Jepang itu dengan tongkat kasti sambil berteriak, "Kamu ternyata jahat! Aku tidak mau lagi berteman denganmu!!!!!!"
Boneka itu menoleh ke Ayu penuh amarah dan melesat untuk menindih tubuh Ayu dan mencekik Ayu dengan menggunakan rambut panjangnya.
Kenzo langsung menarik boneka itu dari atas tubuhnya Ayu dan membakar ujung kimono boneka itu dengan korek api gas. Lalu, ia lemparkan boneka Jepang itu ke tengah lapangan.
Boneka Jepang itu terbakar secara perlahan dan menggeliat dengan jerit kesakitan, "Kalian semua jahat!!!! Aku hanya ingin berteman!!!!!! Kalian jahat!!!!!!!"
Kenzo menggendong Ayu dan memeluk bahunya Dewi saat boneka Jepang itu hangus terbakar.
Satu tahun kemudian, Kenzo dan Ayu bermain asyik di ruang keluarga. Kenzo dan Ayu saling menyayangi. Dan di suatu sore yang indah saat Ayu pergi mandi, Kenzo yang sudah menjadi suaminya Dewi menghentikan ciumannya di bibir Dewi saat telepon genggamnya berdering sangat nyaring.
Kenzo berniat mengabaikannya, namun Dewi
berkata dengan senyum geli, "Angkat dulu baru kita lanjutkan lagi"
Kenzo terpaksa mengangkat telepon itu, "Halo?"
"Aku akan membalas dendam. Tunggu kedatanganku, Hihihihihi" Suara anak gadis menyusup masuk ke telinga Kenzo. Seketika Kenzo mematung.