Suara suara yang sangat banyak di sekelilingku, aku merekam dengan bermodal hp kecil yang bertanda Nokia, rekaman itu panjang dan berat jika pada kamera, jadi aku rekam suara saja.
tahun ini adalah ajaran baru saat demo anak anak kelas sembilan, 9. memulai paradenya dalam mempromosikan ekstrakulikuler mereka masing masing, membuat calon anak anak kelas tujuh tahun ini tertarik masuk klub mereka.
kau mungkin memilihnya, tapi tak bisa melihat drama demo setiap tahun di berbagai sekolah. ini hanya ada di sekolahku.
aku menikmati setiap hal yang mereka lakukan, contohnya saat klub PMR yang pentas promosi. meminjam ruang kelas yang lain.
cerita bertema Bom di kelas, hingga totalitas sampai menyalakan petasan di belakang bangunannya. membuat cerita yang sangat menarik. di tahun 20xx juga kali ini bertema kecelakaan lalu lintas.
ada saja dari cerita ini yang mati, hehe..
Seminggu setelahnya, pelajaran kembali normal. Dan aku bosan.. ketika istirahat aku hanya duduk diam memperhatikan.
melihat temanku mengobrol mengenai banyak hal, keributan di kelas, sampai ada yang membahas sosial media.
aku iseng jalan jalan ke kantin dekat perpus, dan aku mampir sebentar melihat buku buku. Dari dulu aku tak pernah tertarik dengan buku, yah... apakah karena sebuah majalah horor ya aku jadi begini.. atau karena buku hidayah yang dipinjam olehku.
akh aku tidak tau.. eh tapi, saat aku melihat semua buku buku, ada buku pink bergambar anime di sana. covernya lucu dengan Tajub cinta itu bukan virus.
"Hmm kelihatan nya menarik nih.."
aku iseng membaca beberapa halamannya, dan ternyata Tajub dan isinya diluar dugaan. ku kira semua isinya tentang cinta. ternyata tidak. bab cintanya cuma sedikit. yaitu kisah Vina dan qus sidiq.
Kalau bicara soal kisah cinta begini, dari sinetron dan film pun aku sudah sering melihatnya. dan rata rata happy ending melulu. Jarang ada yang sad.
saat itu aku memang sedang naksir cowok dua orang. satu Nizar, dan satu mudi namanya. entahlah aku salting saja gitu waktu mereka berdua menatapku.
aku menemukan buku itu saat kelas 8 akhir, dan menuju kelas 9. saat di pertengahan entah kenapa buku itu malah hilang. dan menyelip.
buku itu kisahnya sedih, sampai kusalinpun dan aku baca di rumah pun. masih saja menangis melihat alurnya.
aku adalah perempuan yang menjalani kegiatan ekstrakurikuler di klub Pramuka. setiap hari Kamis dan Sabtu kami akan berangkat, hari Kamis khusus prasus yang anggotanya hanya yang mendaftar ke klub Pramuka. sedangkan hari Sabtu. Pramuka wajib. itu diwajibkan bagi semua kelas satu. Dan yang mengajar kakak senior prasus. termasuk aku.
Sayangnya aku hanyalah satu satunya kelas 9 yang bertahan hingga akhir.. semua teman temanku sudah kompak keluar dari prasus, Ade Irna, Dede setia Wati, termasuk Kiki dan Supriyadi.
Aku tidak diberi tau, tapi mungkin sudah. mungkin aku tidak ingat kapan. Aku jadi kikuk kalau mengajar sendirian. Secara aku kelas 9. dan mereka adik kelas.
Hah... sebagai wakil Pramuka setidaknya aku harus mengawasi ya kan?
hari itu Selasa tanggal xx bulan xx 2015 aku sedang duduk di tempat yang dekat dengan pintu di samping kantin guru, dan ada juluran tangan yang persis di sampingku.
saat aku membaca kisah cinta itu bukan virus, dan saat aku masih dilema dengan raca cintaku yang lagi lagi bertepuk sebelah tangan.
"Hai namaku Lutfi Andrian."
"Hmm.." Aku menjawabnya dan kembali fokus pada buku, aku tidak peduli.
Dia tiba tiba duduk, mungkin anak kelas satu.
"Nama kamu siapa." Tanya Lutfi.
"Satinih."
"Aku kelas 7 kamu kelas berapa?" Dia menggangguku tapi tetap ku jawab.
"Kelas 9."
Sebelum kalimatnya keluar lagi, salah satu temannya muncul dan menggodanya, "Cie, siapa nih.."
Lutfi bangkit dan langsung membuat temannya diam. "Sssst. kakak kelas tuh.."
Nah kali ini aku menoleh, dia lucu juga.. tidak tau ya aku kecil kecil gini adalah seniormu di sekolah. Entah kenapa saat masuk perpus suasana sangat ramai. pantas lah, teman seangkatanku tak ada yang tertarik berlama lama di antara buku buku. dan adik adik kelas 7, malah tertarik ke perpus. mungkin hanya sekedar melihat lihat. mereka kan masih baru.
seminggu yang lalu setelah demo ekstrakurikuler, mereka banyak yang tertarik dengan ruangan ini.
Aku mungkin sedang salah hari mengira perpus sedang sepi. eh malah ramai.
Keramaian justru membuat aku bosan, berada di sekeliling buku tanpa orang akan membuat aku mendapatkan waktuku sendiri.
Anak anak kelasku, yang melihatku begini pastilah tidak ingin dekat dekat denganku yang suka menyendiri. mereka menganggap itu aneh.
dan aku memang di jauhi akhir akhir ini oleh mereka.
Jujur saja aku bingung apa salahku dengan menjadi tertutup, toh aku punya alasan untuk itu. mereka tidak berhak mengatur hidup seseorang bukan?
setelah kejadian itu, hari hari berikutnya aku bertemu dengan Lutfi. 2 hari setelahnya tepatnya. Karena setelah itu aku di datangi oleh Devi kelas 7, aku kenal dengannya. bahkan kakaknya adalah temanku.
"Cie, pacaran dengan Lupi ya.."
"Lupi, siapa tuh.."
"Eeh masa pacar sendiri lupa, yang di perpustakaan tuh.."
"Haaah, oooh adik kelas itu. aku gak tau namanya. gak inget juga pernah kenal.."
Entah apa yang difikirkan Devi, bisa bisanya dia bilang aku punya pacar. Sejak kapan? kenal saja baru kok. sudah dibilang pacar..
Setelah itu entah apa yang difikirkan Devi tentang kami, istirahat berikutnya aku mau membaca buku kembali, kali ini bersiap membawa buku cadangan.
ada yang harus ku konfirmasikan kepada Anak kelas 7 itu.
"Nama kamu siapa?"
aku menulis kalimat itu, lalu meminta tolong pada anak yang ada di sebelahku. karena jarak kami terhalang olehnya. dan aku malu jika harus terang terangan memberikan kertas pertanyaan itu.
sekejap dia menjawabnya.
"Lutfi Andrian."
Dalam benakku sudah tersimpan kata itu, akan ku simpan dan ku ingat permanen.
Ada lagi yang harus ku tanyakan. aku selama kelas 9 tidak punya teman mengobrol. mungkin dia akan asyik di ajak mengobrol. kemarin saja dua hari lalu, dia terlihat lucu kan?
"Dek mau gak kamu jadi sahabat kakak?"
itu adalah kalimat yang memang pas, karna sahabat kebanyakan adalah teman untuk mengobrol.
Dan kalimat berikutnya "Yes."
Aku kaget, dia membalas dengan bahasa Inggris. Entah kenapa hari itu rasanya aku akan punya teman baru yang menyenangkan sekaligus menyesakkan.
menyesakkan karena akhir dari persahabatan kami, dan umur pertemanan kami lebih cepat dari umur jagung atau padi.
Terlalu cepat bertemu, terlalu cepat pupus.
hari ketika hal hal yang buruk datang jauh lebih cepat dari pada yang aku kira,. dan aku tidak bisa merasakannya di saat pertemuan kedua kami.
****
Hari ke tiga.
Perpustakaan.
Aku terlebih dahulu sampai, dan aku melihatnya muncul dari pintu depan, entah kenapa pipiku dan tingkahku menjadi kaku. tapi aku tak pernah sesenang ini di sekolah.
"Hai," Kali ini aku menyapa lebih dulu.
"Hai juga.." Lutfi membalas kalimat sapaanku,.
"Baca buku apa?" Tanya nya.
"Ini, buku percintaan pesantren. isinya sedih." Jawabku.
"Ooh.. eh aku boleh cerita gak?" tanya Lutfi.
"cerita apa?"
"Kemarin kemarin tuh aku liat Vidio max yang isinya sangat lucu, jadi ceritanya gini nih..
ada kuntilanak yang nakut nakutin orang di mobil bak gitu, lalu dasternya nyanku robek lah itu bajunya.. kuntilanak kan pake daster tuh."
"Hahaha.. lucu ya." Dia yang menceritakan dengan mimik lucu, kalau ceritanya sih biasa saja.
lalu di cerita berikutnya aku tak kalah tertawa. dia semakin lucu saat bercerita. aku sampai tidak tahan. dan..
"Ssssttt dilarang berisik.. ini perpustakaan." Dia adalah ibunya Kiki, ibu Kartini. kami sampai ditegur gara gara berisik.
Lalu setelahnya kami berbisik bisik cerita nya. ini pasti gara gara tawaku, jadi Lutfi ikut ikutan di tegur.
aku menyimpan mulutku. mengganti tawaku dengan tahan tawa. aku sampai meneteskan air mata karena tak tahan tertawa. itupun hanya sekedar menertawakan mimik wajah lawan bicaraku yang bercerita dengan penuh semangat.
Kalau kalian juga melihatnya pasti akan paham apa yang ku maksud.
Tahun 2022, kejadian itu sudah lama sekali, dan aku masih mengingat dengan jelas perjalananku saat bertemu denganmu.
Jodoh yang entah milik siapa di masa depan, yang merajut persahabatan dan cinta yang tidak sengaja, aku perlahan jatuh hati karena sikapmu dan keakraban saat kita bersama. itu akan selalu ku ingat dalam benak, tak harus memiliki aku tau. toh cinta ini datang tidak sengaja bukan? jadi apa salahnya melepaskanmu untuk kau melanjutkan perjalananmu..