Dahulu, di sebuah desa yang ada di tengah-tengah kota Bogor, sekitar tahun 1988, tinggallah sebuah keluarga yang berisi orang tua, dan 5 anak. Sang ayah yang bernama Rahmat, bekerja sebagai petani di desa.
Sementara sang ibu yang bernama Siti, mengurus rumah dan kelima anak laki-laki mereka.
Putra pertama mereka bernama Wayan, 18 tahun. Si kembar Asep dan Usep, 15 tahun. Kemudian Yana putra keempat mereka, 11 tahun. Dan si bungsu bernama Ayung, 7 tahun.
Masing-masing dari mereka memiliki keahlian yang dapat membantu kedua orang tuanya. Wayan membantu ayahnya bertani di sawah.
Si kembar Asep dan Usep biasa mencari kayu bakar di hutan untuk memasak di dapur. Yana pun sering membantu ibunya memasak di dapur.
Sementara Ayung, jarang melakukan apa-apa, karena anak bungsu yang masih kecil, ia jarang diberikan tugas apapun. Kalaupun diberi tugas, selalu tak pernah selesai, karena Ayung sangat pemalas. Tapi sang ibu selalu memakluminya dan terkesan memanjakan Ayung.
Setiap hari, Ayung hanya bermain-main. Namun, lama-kelamaan ia menjadi bosan karena bermain sendirian. Akhirnya, ia meminta izin kepada ibunya untuk mengikuti kakak pertamanya ke sawah bersama sang ayah juga.
Ketika di sawah, ia pun hanya diam dan memerhatikan para pekerja mengurus padi-padi. Ia juga berkali-kali mengajak ayah dan Wayan bermain tapi mereka sama-sekali tak memiliki waktu untuk bermain.
Kemudian, ia memiliki sebuah ide. Ia berjalan mengendap-endap menghampiri sebuah orang-orangan sawah yang berdiri menempel di salah satu tongkat kayu.
Ia mengambil celurit salah satu petani dan mengacak-acak padi dengan celurit tersebut. Kemudian, ia menurunkan orang-orangan sawah itu ke tanah, mendekatkan celurit itu di sebelah orang-orangan sawah.
“Tolong!! Bapak! kak Wayan!Ini ada orang-orangan sawah yang marah!" teriak Ayung dengan heboh berlari-larian kesana kemari.
Beberapa orang pekerja termasuk Pak Rahmat dan Wayan pun mulai menaruh perhatian pada anak berusia 7 tahun itu.
“Ada apa? Ada apa nak?" tanya salah satu pekerja menghampiri Ayung yang terus berlaria
“Itu, mang. Orang-orangan sawah bawa-bawa celurit," ucap Ayung sambil menunjuk ke arah orang-orangan sawah yang tergeletak di tanah dengan celurit disebelahnya.
Beberapa orang mulai menaruh perhatian mereka pada objek tersebut dan juga padi-padi yang rusak disekitar tempat orang-orangan sawah itu.
Para warga terlihat saling berpandangan dengan khawatir. Beberapa dari mereka terdengar saling berbisik.
Sementara Pak Rahmat menghampiri putra bungsunya itu dengan panik.
“Bapak,orang-orangan sawahnya ada setannya. Ayung takut," ucap Ayung dengan histeris membuat beberapa warga melangkah menjauhi tempat itu.
Salah satu dari mereka meminta untuk bubar dan pulang ke rumah masing-masing sementara perwakilan dari mereka melapor ke kepala desa. Sebagian dari mereka berbisik-bisik mengenai mitos lelembut yang mendiami sawah tersebut.
“Itu sih kayanya si Eneng kali. Kasian, udah diperkosa, terus dibunuh disini lagi,” bisik salah satu pekerja wanita sambil berjalan meninggalkan sawah dengan ngeri.
“mau bales dendam kali ya? Nakut-nakutin terus," sahut warga lainnya dengan suara yang sangat pelan.
“Sshhh!Jangan ngomong begitu, itu ada Pak Agung,” ucap yang satunya lagi sambil melemparkan pandangan ke sebelah kanan mereka, tampak seorang laki-laki paruh baya dengan topi berjalan sambil menunduk.
“Memangnya kamu betul melihat orang-orangan sawah itu bergerak merusak padi?” tanya Wayan ketika mereka tiga berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah mereka.
“Betul atuh, A’.. Ayung teh liat sendiri, bebegignya ngangkat celurit sambil ngerusak taneman. Tadi Ayung ge mau dikejar," jawab Ayung dengan sangat yakin dan percaya diri.
“Sudah-sudah.. jangan dibahas lagi," kata Pak Rahmat menengahi.
“Gimana atuh pak, kita teh belum selesai. Warga malah pada bubar," protes Wayan yang terlihat tak mempercayai adiknya itu.
“Sudahlah, Yan.. daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lebih baik kita mengalah dulu sampai Pak Kades menyelesaikannya," jawab Pak Rahmat dengan sabar.
Sejak saat itu, seluruh saudaranya di rumah menjadi terus mendatanginya untuk bertanya mengenai kejadian yang menggemparkan di sawah siang tadi.
Bukan hanya itu, ia pun menjadi perbincangan para warga desa yang juga membicarakan kejadian tersebut. Mereka masih percaya bahwa anak sekecil Ayung memang yang selalu diperlihatkan kejadian-kejadian mistis seperti itu.
Para warga pun menuntut Pak Kades untuk melakukan ritual doa di sawah tersebut agar arwah yang diduga merupakan arwah gadis cantik bernama Eneng itu tenang dan tidak mengganggu warga lagi.
Ayung senang menjadi bahan pembicaraan, ia juga senang menceritakan kebohongannya itu kepada orang-orang yang penasaran.
Namun seperti pada umumnya sebuah berita yang sering dibicarakan, lama-kelamaan warga mulai bosan dan melupakan kejadian itu karena tidak ada lagi gangguan mengerikan seperti itu.
Ayung mulai merasa bosan. Ia pun meminta untuk mengikuti saudara kembarnya mencari kayu bakar di hutan. Asep dan Usep menyetujui hal itu dan mereka bertiga pun pergi ke hutan sore itu.
“A’, tahu ga cerita di hutan ini?” tanya Ayung yang hanya memperhatikan kedua kakaknya memunguti kayu bakar.
“Emangnya ada cerita apa di sini teh? Perasaan mah ga ada apa-apa da," jawab Asep yang disetujui oleh Usep juga.
“Mang Sain cerita ke Ayung. Katanya kalau sore mau maghrib, suka ada yang jalan-jalan di sini," kata Ayung dengan suara pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Hal itu membuat kedua kakaknya terdiam untuk beberapa saat. Kemudian mereka tertawa.
“Siapa atuh yang jalan-jalan maghrib-maghrib Yung?” tanya Usep dengan nada meledek.
“Hantu orang Belanda kepala buntung," jawab Ayung sambil berbisik pelan. Kemudian, hening menyelimuti mereka untuk beberapa saat.
“Katanya, ada yang pernah liat orang Belanda tinggi nenteng kepalanya sendiri. Kalau kita pura-pura ga liat, biasanya ada bunyi.. ‘Dugg!’ keras. Jangan ditengok, itu dia ngelemparin kepalanya. Kalau kita nengok dan ngeliat, nanti kepalanya bakal ngejar kita," ucap Ayung dengan suara pelan.
Asep dan Usep terlihat mulai terpengaruh dan merasakan hawa dingin tiba-tiba saja merayap di kulit mereka.
Mereka berdua tak menyahuti Ayung dan melanjutkan aktifitas mereka mencari kayu bakar. Sementara Ayung diam-diam tertawa dibelakang mereka.
“Cepat selesaikan sebelum semakin gelap," kata Asep sambil berjalan.
Ayung diam-diam bersembunyi. Dia mengangkat sebuah batu berukuran cukup besar yang sudah ia incar dari tadi.
Dengan susah payah, Ayung melemparkan batu itu ke dekat Asep dan Usep. Strateginya berhasil, karena kedua anak itu langsung terdiam kaget dengan suara lemparan batu besar itu.
Ayung melemparkan batu satunya lagi lebih dekat ke arah Asep dan Usep, sehingga kedua anak laki-laki itu segera berlari terbirit-birit sambil berteriak ketakutan.
Sementara Ayung tertawa keras sambil menyusul kedua saudaranya itu.
Mendengar Ayung yang tertawa keras, Asep dan Usep pun berhenti kemudian berbalik melihat sang adik yang masih menertawakan mereka.
“Kalian bodoh ya. Masa sudah tua percaya saja. Mana ada kepala buntung!” ucap Ayung meledek.
Asep dan Usep yang terlihat sangat kesal pun hanya meninggalkan Ayung sendirian.
Kejadian tersebut dilaporkan kepada orang tua mereka.
“Nah, kamu juga berbohong kan soal hantu orang-orangan sawah itu?” tanya Wayan begitu mendengar cerita Asep dan Usep.
“Memang iya. Kalian saja yang gampang percaya. Gimana mungkin kalian dibodohi anak kecil," ledek Ayung tertawa keras.
“Ayung! Kamu keterlaluan!” marah Pak Rahmat ketika mendengar ucapan putra bungsunya itu.
“Habisnya kalian semua tidak ada yang bermain dengan Ayung. Ayung kesal!”
“Kamu tahu tidak? Banyak petani yang tidak dapat uang karena kegiatan bertani diliburkan karena kebohongan yang kamu lakukan? Dan lagi, ibumu jadi tidak bisa memasak karena kakak-kakakmu ketakutan lari dari hutan. Kamu merugikan banyak orang, Ayung!” omel Pak Rahmat.
“Salah mereka sendiri, kenapa gampang percaya," sahut Ayung tak mau kalah.
Pak Rahmat menarik Ayung keluar rumah, memaksa anak itu berdiri di halaman rumah mereka.
“Malam ini kamu tidur di luar saja. Sampai kamu mengakui kesalahan kamu!” ucap Pak Rahmat kemudian menutup pintunya. Bu Siti meminta Pak Rahmat untuk tidak terlalu keras kepada Ayung. Tapi Pak Rahmat menolak, karena Ayung seperti ini karena mereka terlalu memanjakan anak bungsunya itu. Ia juga memerintahkan kepada keempat anaknya yang lain untuk tidak menghampiri Ayung malam ini.
Ayung mendengus kesal dan berjalan menuju bale (dudukan atau kursi anyam di depan rumah). Ia berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke dalam rumah. Sambil berpikir, ia melihat tikus-tikus besar yang bolak-balik melewati semak-semak.
Membuat rumput-rumput yang menjulang tinggi itu bergoyang-goyang.
Kemudian, ia mendapatkan ide lagi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar desa yang sangat sepi malam ini. Ia berjalan-jalan disekitar rumah, seperti mencari sesuatu. Kemudian, ia menemukan sebuah batu. Ia melemparkan batu tersebut ke arah kandang ayam tetangganya hingga ayam-ayam itu ribut berkokok.
“Tolong! Ada babi ngepet! Tolong!”
Teriakan Ayung kali ini mampu membuat beberapa warga sekitar keluar rumah dengan panik. Mereka berlarian menuju Ayung dengan obor di tangan mereka. Begitupun dengan Pak Rahmat dan keluarganya yang keluar rumah.
Sang pemilik kandang ayam pun menengok kandang ayamnya.
“Ada babi ngepet di sana. Dia kabur ke arah hutan," jawab Ayung dengan histeris. Ia terlihat ketakutan, sementara warga mengarahkan obor mereka ke arah semak-semak yang ditunjuk Ayung. Semak-semak itu bergoyang-goyang seperti sesuatu tengah melewatinya.
“Tangkap babi ngepet itu!” teriak salah satu warga.
“Lapor kepala desa cepat!” teriak warga yang lainnya.
“Tunggu sebentar, bapak-bapak, ibu-ibu.. apa sebaiknya tidak kita periksa dulu?” usul Pak Rahmat.
Sementara mereka berdebat, dan suadara-saudaranya terlihat sibuk mendekati tempat kejadian karena penasaran, Ayung diam-diam memasuki rumahnya dan berjalan menuju kamarnya.
Ia naik ke atas tempat tidurnya yang nyaman. Tak memperdulikan orang-orang di luar sana yang masih meributkan babi ngepet.
Dengan tenang, akhirnya Ayung tertidur.
Ditengah keheningan malam, suara jangkrik mulai terdengar. Kemudian, disusul dengan suara tokek. Namun, Ayung terbangun dengan suara ketukan di penutup jendelanya yang terbuat dari kayu.
Ketukan itu terdengar terus menerus hingga membuatnya terganggu. Akhirnya, Ayung turun dari tempat tidurnya. Ia membuka jendelanya perlahan-lahan. Tak ada siapa-siapa.
Namun, ia mendengar gemerisik pada semak-semak yang bergoyang-goyang.
Terdengar lebih keras daripada seekor tikus yang lewat. Ia melihat bayangan hitam di semak-semak tersebut. Ia pikir, jika benar itu babi ngepet, maka warga kampung akan kembali heboh malam ini. Jadi, perlahan ia menaiki jendela untuk keluar dari kamarnya. Perlahan, ia berjalan mendekati semak-semak itu.
Kemudian, ketika langkahnya semakin dekat, ia sangat terkejut saat malah mendapati orang-orangan sawah yang waktu itu ia temui di sawah ayahnya. Orang-orangan sawah itu berbalik menghadap kearahnya, dengan senyum lebar dan mata melotot, sementara di tangannya, tertempel sebuah celurit.
Orang-orangan sawah itu melayang menghampiri Ayung yang terlihat sangat terkejut. Ayung segera berbalik menuju jendela kamarnya, namun tiba-tiba saja jendela kamarnya tertutup rapat. Sebuah celurit yang di lemparkan orang-orangan sawah itu menancap di bilik rumahnya. Hal itu membuat Ayung semakin ketakutan dan panik. Ia berlari menuju pintu depan rumahnya, namun dikunci.
“Bapak! Ibu! Tolong! Ada setan orang-orangan sawah!” teriak Ayung sambil menggedor-gedor pintu.
“Jangan dibukakan bu, paling-paling anak itu sedang berbohong!” sahut Pak Rahmat dari dalam rumah.
Ayung melirik ke sebelah kanan rumahnya, dan orang-orangan sawah itu masih melayang mengejarnya.
Karena tak kunjung dibukakan pintu, Ayung pun berlari tak tentu arah sambil berteriak minta tolong. Namun, kali ini tak ada seorang pun yang keluar rumah. Sementara Ayung tertatih-tatih berlari di tengah kegelapan malam.
Kemudian ia berhenti ketika ia menabrak sesuatu. Ternyata ia menabrak seseorang yang memakai jubah hitam, namun tanpa kepala. Ayung berteriak histeris dan mundur beberapa langkah, namun ia tersandung dan jatuh.
Saat terjatuh, ia baru menyadari yang membuatnya tersandung adalah sebuah kepala dengan mata melotot dan senyum yang lebar. Ayung kembali berteriak dan bangkit. Ia berlari secepat yang ia bisa.
“Khi… Khi… Khi…” suara itu terus keluar dari kepala yang melayang mengikutinya.
Ayung terus berlari hingga ia menyadari kalau ia sudah sampai di hutan.
Ia tak berani menengok ke belakang, dan tiba-tiba saja suasana berubah menjadi sangat hening. Ayung mencoba mengatur napasnya. Kemudian, ia mendengar suara-suara seperti dedaunan kering yang terinjak.
Hal yang membuatnya mematung dalam diam adalah, suara babi. Ia jelas sekali mendengar suara babi.
Dan sebelum Ayung menyadari dimana keberadaan babi tersebut, ia sudah menjerit kesakitan saat kakinya di gigit oleh babi berwarna hitam dengan ukuran besar melebihi ukuran anjing. Babi hitam itu menyeret kaki Ayung hingga terjatuh, sementara Ayung berteriak kesakitan saat babi itu mengoyak kaki kirinya hingga mengeluarkan banyak darah, mencabik-cabik daging betisnya hingga terlihat tulang.
Dengan sekuat tenaga, Ayung meronta dan mencoba menendang babi hitam tersebut. Hingga ia berhasil berdiri dengan kaki kiri yang sudah putus.
“Bapak! Ibu! Tolong Ayung!” jeritnya sambil menangis keras.
Ia semakin panik karena tubuh tanpa kepala tadi berlari ke arahnya dengan sangat cepat. Ayung menangis, hingga ia berhenti ketika melihat orang-orangan sawah yang berdiri di hadapannya.
“Khi.. Khi..khi…”
Slep! Orang-orangan sawah itu melempar celuritnya tepat mengenai kening Ayung dengan keras hingga kepala kecil anak itu terbelah dua.
“Khi.. khi… khi…”
Keesokan harinya, Pak Rahmat dan anak-anaknya pun mencari-cari keberadaan Ayung. Namun hingga seharian penuh, anak itu belum juga ditemukan. Jadi Pak Rahmat meminta bantuan Kepala Desa, kemudian Kepala Desa pun meminta para warga ikut menyebar untuk mencari anak laki-laki itu.
Sampai berhari-haripun mereka tak menemukan keberadaan Ayung. Mereka hanya menemukan sebuah orang-orangan sawah di hutan yang memakai pakaian milik Ayung yang berdarah-darah.
Sejak saat itu, warga desa tak pernah keluar rumah saat malam hari. Dan akan mengunci pintu serta jendela rumah mereka, karena biasanya orang-orangan sawah yang memakai baju Ayung itu selalu berkeliaran di malam hari sambil menjerit-jerit minta tolong, ia akan mendatangi rumah warga yang terlihat terang dengan jendela dan pintu yang terbuka.