"Allahuakbar!" aku bangun dari tidur karena lagi-lagi aku memimpikan hal yang sama.
Aku seperti di awasi dan terus di ikuti oleh sesosok wanita berpakaian merah ala jaman dulu. Pokoknya ala-ala none Betawi. Yang kerudungnya juga merah. Bukan hanya pakaian serta kerudungnya, matanya terkadang merah mengkilat. Dan setiap matanya berkilat, bulu kuduk ku langsung merinding.
Oh ya, namaku Noer. Usia ku 25 tahun. Setelah terbangun aku melihat ke arah jam di dinding dan jam di dinding masih menunjukkan pukul 03.00 WIB pagi.
Aku langsung turun dari tempat tidur, mengambil air wudhu dan sholat. Hanya itu caranya menghilangkan rasa was-was di hatiku karena terus di awasi oleh sesosok mahluk ciptaan Tuhan dalam bentuk lain itu.
Setelah sholat aku langsung mengusap wajahku, semua ini gara-gara peristiwa lima tahun yang lalu.
"Kan slalu kurasa hadir mu, antara ada dan tiada... ha... ha...!"
Brakk Brakk Brakk
"Woi, Noer buruan ngapa? lama banget genti baju doang, di tungguin tuh sama tukang ojek lu!" teriak Meli salah seorang teman ku dari luar pintu kamar mandi.
Aku langsung buru-buru membuka pintu, karena apa yang aku lakukan juga sudah selesai. Ganti baju biasa, setelah tadi kami latihan pencak silat dengan menggunakan seragam kami.
"Iya iya, haduh padahal baru juga setengah reff gue nyanyi!" ucap ku memprotes Meli yang tidak sabaran.
"Lagian kek gak ada lagu lain tahu gak, lagi itu mulu. Bosen gue denger nya!" sahut Meli sambil memberikan tas nya padaku setelah mengambil baju gantinya.
"Itu lagu lagi booming tahu gak! bocil tetangga tiga tahun aja yang di nyanyiin lagu itu!" balas ku.
"Baek Baek lu bilang sama emaknya tuh anak, bilangin ajarin aja lagu Doraemon aja. Lagian apa lu kagak pernah denger kalau kita tuh kagak boleh nyanyi di kamar mandi, ntar di kira manggil yang begituan!" ucapnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku yang penasaran langsung berdiri di depan pintu sambil bertanya pada Meli.
"Begituan apaan Mel?" tanya ku penasaran.
"Ih jangan pura-pura gak tahu deh Noer, ya begituan lah. Yang kagak kelihatan!" ucapnya lagi.
Mendadak aku yang tadinya biasa saja meskipun lagu yang aku nyanyikan cukup membuat merinding, sekarang malah jadi merinding mendengar apa yang dikatakan Meli.
Dengan cepat aku langsung mencabut handset dari telingaku dan mematikan walkman yang aku pegang.
Tapi setelah mematikan walkman aku malah mendengar suara lagu yang tadi aku nyanyikan.
Bulu kuduk ku langsung merinding. Aku makin mendekat ke arah pintu kamar mandi.
"Mel, kata lu kagak boleh nyanyi di kamar mandi. Kenapa lu malah nyanyi?" tanya ku yang ku kira Meli yang bernyanyi.
"Lu ngigo Noer, mana bisa gue nyanyi. Kalau di suruh maki-maki orang gue jago!" jawabnya dari dalam.
Aku langsung melihat ke sekeliling kamar mandi. Hanya ada dua pintu kamar mandi, yang satunya ada tulisan rusak. Gak mungkin kan ada orangnya. Aku langsung mengetuk pintu kamar mandi.
"Mel buruan Mel!" ucap ku.
Semakin lama aku mendengar suara nyanyian itu makin menjauh, ku pikir makhluk itu sudah pergi. Tapi setelah aku berbalik...
Brukk
Aku pingsan saat itu dan saat terbangun, aku sudah ada di rumah. Tapi sejak kejadian malam itu, beberapa malam tertentu, aku selalu memimpikan hal yang sama. Mendengar sesosok wanita yang tidak menginjak tanah bersenandung di sebuah hutan di dekat sungai. Tapi saat aku menjauh, dia terus mengejar. Sangat menakutkan, matanya putih semua tapi kadang berkilat merah. Saat suara nya terdengar keras aku tidak akan melihat sosoknya, tapi kalau suaranya makin pelan, itu artinya dia sedang berada di dekat mu.