“Wila, jangan tidur dijam segini”teriak sang Ibunda yang berada diambang pintu kamar putrinya. Namun seseorang yang diteriaki itu tak mendengarkannya. Lebih memilih untuk melelapkan diri dijam yang terbilang senja.
-
Seseorang pernah berkata, masuklah engkau kedalam rumahmu jika waktu senja tiba. Dan janganlah tidur diwaktu senja. Karena akan ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Namun bagi gadis bernama Wila, Ia tak mempercayai perkataan orang. Karena itu masih menjadi perkataan belum ada bukti yang jelas. Masih Fakta dan Fiksi. Jadi Ia tak bisa mempercayainya.
Wila yang sudah terlelap tidur, kini membuka matanya untuk menyambut mimpi indah yang akan didapat olehnya.
“Ini...dimana ini?”Wila mengerutkan alisnya ketika bangun dari tidurnya. Ia tahu saat ini Ia berada didalam mimpi. Namun mimpi kali ini sedikit aneh.
Ya, karena ia berdiri disebuah kamar, menghadap kearah meja belajar yang dimana ada sebuah laptop yang menyala disana.
“Ini bukan kamarku”benak Wila yang bergerak untuk melihat sekelilingnya.
Layar laptop yang menyala itu menarik perhatian Wila karena layar itu terlihat sebuah tulisan disana. Dan Wila membacanya.
(Kau ingin bermain)
Itu adalah ketikkan yang dibaca oleh Wila. Ia mengerutkan alisnya. “Apa yang bermain?”benak Wila. Karena makin dilanda kebingungan. Wila memilih untuk mengamati dan mencari tahu. Karena baru kali ini Ia bermimpi hal yang aneh begini.
Selama bermimpi, Wila selalu ingat. Ia hanya akan bermimpi tentang sesuatu yang berhubungan dengannya. Meski Ia tak mengingat keseluruhan mimpi. Tapi yang pasti mimpi itu indah untuknya.
Namun sekarang mimpi yang diharapkannya itu berbeda. Ia memutuskan untuk melangkah keluar kamar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Krek!!!
Mata Wila membelak melihat apa yang didapatinya. Kamar yang seharusnya menunjukan ruang lain seperti ruang tamu kini malah menunjukkan halaman rumah.
“Kenapa...Kenapa malah diluar rumah?”benak Wila. Membalikkan tubuhnya Wila melihat dengan mata yang lagi-lagi membelak. Karena yang dilihatnya adalah ruang tengah yang seluruh isinya terlihat rapi.
“Huh!”Wila memundurkan tubuhnya, Ia tak menyadari kalau rumah yang diinjaknya ini memiliki sebuah tangga.
“Hati-Hati”
Mendengar perkataan tersebut, Wila langsung membalikkan tubuh, dan Ia kaget ketika tubuhnya melayang untuk jatuh kebawah.
“Aghhhh!!!”Pekik Wila yang menutup mata bersiap merasakan rasa sakit. Namun beberapa detik kemudian, Ia membuka mata untuk mendapati bahwa seseorang menolong dirinya.
“Kau tak apa-apa?”tanya seorang Pria yang dimata Wila terlihat asing. “Aku tak apa-apa, mn terimakasih”ucap Wila yang membangunkan tubuhnya. Ia berdiri yang disusul langsung oleh Pria yang menolongnya.
“Ini...Kau tahu tempat ini?”tanya Wila memecahkan kesunyian diantara mereka. Pria yang menolongnya langsung menjawab “Tidak, Aku tak tahu”.
Wila mengerutkan alisnya. Keduanya melangkah secara berjarak. Wila didepan dan Pria yang menolongnya dibelakang. Tak ada yang saling bicara diantara mereka.
“Apa yang terjadi, apa aku sedang lucid dream?”benak Wila. Ia menatap kesegala arah dan mendapati bahwa segala pemukiman yang dilihatnya sama. Perumahan itu berbentuk sama dan bahkan ukuran mereka sama.
Wila tak bisa berbicara lagi, Ia terus melangkah hingga langkahnya terhenti ketika melihat sebuah benteng tinggi menjulang dengan begitu gagahnya.
“Apa ini?”Wila membalikkan tubuhnya menatap kearah Pria yang tadi menolongnya, Namun...
“Ke...Kenapa Pria itu?”Wila menatap lagi keselilingnya. Namun tanda-tanda orang yang seharusnya ada dibelakangnya menghilang begitu saja.
“Kemana Ia pergi?”guman Wila yang kembali lagi menghadap kearah benteng yang begitu kokohnya. Ia mengangkat tangan dan jari-jarinya mengumpal. Lalu diketuknya benteng itu hingga berbunyi.
“Ini, begitu keras”benak Wila. Asik memperhatikan benteng, Wila mendengar teriakkan seseorang.
“TIDAKKKKK!!!!”
Dengan cepat Wila membalikkan tubuhnya dan menatap kearah teriakkan itu berasal. Matanya membelak melihat tubuh seseorang menabrak dirinya.
Wila menutup matanya, Ia mempersiapkan diri untuk merasakan rasa sakit namun lagi-lagi matanya langsung terbuka ketika menyadari sesuatu.
Benteng yang seharusnya kuat, kini bagaikan jelly yang kenyal memantulkan tubuhnya. Mata Wila langsung penuh akan keterkejutan.
“Ah..maafkan Aku..Maafkan Aku”ucap Wanita yang menabrak Wila. Wila yang kenal akan suara itu langsung menatapnya.
“WI...Widia?”pekik Wila mengenal wanita didepannya. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya sendiri. Ia mengerutkan alisnya melihat hal ini.
“Loh....Wila?”Pekik sahabatnya juga. Mereka berdua sama-sama tak percaya dengan apa yang terjadi.
“Bagaimaan Kau bisa disini?”tanya Wila kepada Sahabatnya.
“Aku juga tak tahu, Aku lelah kerja part time, jadi tertidur didalam kamar, saat ku bangun..Aku sudah disini”jawab Widia.
Wila yang mendengarnya merasa tak salah, karena Ia tahu bahwa Sahabatnya ini memang sering tidur ketika kelelahan. Namun aneh saja kekita mereka bertemu seperti ini. Bukannya Mimpi itu akan sulit bertemu, jika bertemu pun pasti akan langsung bangun kan?.
Wila menatap kearah lain, pikiran yang tadi fokus dengan sahabatnya kini tergantikan dengan pikiran benteng yang ada didepannya.
Wila mengepalkan tanganya, Ia menghantam lagi benteng yang ada didepannya namun yang dirasakan olehnya adalah rasa sakit.
“Kenapa Wila?”tanya Widia yang melihat tingkah Wila. Wila membalikkan tubuhnya dan menatap tangannya yang memerah.
“Benteng ini, seharusnya.....”
“Waaaahhhh....menjauh..menjauh...menjauh dariku..menjauh”
Ucapan Wila terpotong ketika ia mendengar teriakkan yang lain. Wila dan Sahabatnya langsung memandang kearah suara tersebut. Lagi-lagi Wila merasakan keterkejutan.
Brakkk!!!
Dan Wila akhirnya merasakan rasa sakit dari terjatuhnya. Ia langsung membangunkan diri, dan disusul oleh yang lainnya.
“Laila?”
Ucapan Widia membuat Wila menatap kearah Wanita yang juga kaget melihat dirinya.
“Ka..Kalian?”Pekik Laila. Ia adalah sahabat Wila. Wila memiliki dua sahabat. Laila adalah orang yang suka belajar hingga sering ketiduran. Dan tak perlu bertanya alasannya disini, pasti karena ketiduran sehabis membaca buku, atau mungkin bukunya belum selesei dibaca.
“Untung lebah itu tak mengejar lagi”ucap Laila yang memilih duduk ditanah.
Wila menatap kesegala arah lagi, ia memindai sekelilingnya namun entah kenapa perasaannya dari tadi tak tenang.
“Kenapa denganmu Wila?”tanya Laila.
“Aku merasa ini aneh, kenapa kita bisa bertemu?”tanya Wila. Setelah pertanyaannya keluar, Wila memandang datar kearah dua sahabatnya.
“Kenapa Aku bisa bertanya lancar, jika ini mimpi, seharusnya Aku hanya tahu mereka sahabatku, tak perlu bertanya kenapa bisa bertemu, ini..aneh..aneh..jangan bilang aku meninggal lagi?”benak Wila.
“Wila..Wila”
Wila tersadar dari bengongnya. Ia menatap kearah Dua sahabatnya.
“Kenapa Kau bengong?”tanya mereka. “Ah tak apa kok..jadi, Apa kalian berpikir untuk keliling, Benteng ini mungkin memiliki isi yang berbahaya”ucap Wila yang membalikkan tubuhnya, menatap benteng yang masih stay dibelakangnya.
“Aku sudah berkeliling dari tadi saat lebah menyerangku, tak ada ujung dari benteng ini”ucap Laila.
“Jadi, maksudmu..Kita hanya perlu masuk..tidak Aku tak ingin”Widia langsung merinding dengan memeluk tubuhnya.
“Lalu, apa kita perlu berada disini selamanya..Aku tak ini..aku sudah mencoba bangun tapi tak bisa”Laila menunjukkan Ekspresi yang benar-benar jujur.
Wila yang mendengarnya menatap teduh, “Kita masuk saja, siapa tahu ini jalan keluarnya”ucap Wila.
Karena mendengar hal tersebut, Kedua sahabatnya pun mengikuti dirinya. Mereka berdua masuk bersama kedalam benteng yang pintu gerbangnya didorong oleh mereka.
Dan sekali lagi mata Wila membelak melihatnya. “Ini...Pintu?”Wila merasa benar-benar terjebak dalam mimpinya. Ia memutuskan untuk mundur namun...
“Ini...ini, dinding?”Wila mengendor-gedor dinding yang seharusnya jadi pintu masuk. Ia menutup matanya dan berusaha untuk membangunkan tubuh aslinya. Yah tubuh yang terbaring dengan tenang dikasur.
Wila berusaha sebisa mungkin, namun Ia benar-benar tak bisa membangunkan tubuhnya. “Kenapa..kenapa tak bisa bangun?”pekik Wila. Menatap kearah lain wajahnya langsung pucat seketika.
Karena Ia berada didalam ruangan yang dirinya sendiri pernah melihatnya.
“Ini..bukannya Kamar tadi?”
-
Wila tak berani membuka pintu, karena perasaannya sudah tak karuan. Ia memundurkan dirinya karena perasaan takutnya.
Huh~
Wila membelakkan mata dan langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang meniup tengkuknya.
“Si....Siapa?”benak Wila, Ia menutup matanya dan perlahan berniat untuk membukanya..
Bruk!!!
Wila sekali lagi merasa jantungnya akan berhenti, Ia membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Pintu yang kini didorong seseorang.
“Ibu..ibu...tolong Aku”Wila tak berteriak dialam mimpinya tapi berteriak ditubuh aslinya. Ia bisa melihat dua sisi. Antara alamnya dan alam asing baginya.
Namun teriakkan itu sia-sia karena Wila tak bisa sama sekali mengeluarkan suaranya, ia hanya mengumankan hal yang tak jelas.
Krek!!
Wila menutup mata ketika mendapati bahwa Pintu kamar asing itu terbuka didepannya. Ia tak akan bisa kabur karena hanya pintu yang bisa menjadi akses kaburnya.
“Bagaimana ini, Aku tak mendengar jejak langkahnya..Ibu bagaimana ini?”benak Wila. Ia berdoa didalam hatinya.
Greb!.
“WAHHHHHH!!!!”
Wila berteriak ketika tubuhnya disentuh. Ia tak berani membuka matanya.
“Kau...kenapa kau disini?”
Wila mendengar pertanyaan tersebut memberanikan diri membuka matanya dan melihat seorang pria yang menatap juga kepadanya.
“Kau!!”Wila menunjuk pria didepannya. Pria itu mengerutkan alisnya dengan tatapan bingung.
“Ada apa?..dan lagi Kenapa Kau disini?”tanya Pria tersebut.
Wila menjawab “Justru Aku yang bertanya, Kenapa Kau disini?”
“Aku melihatmu yang berlari lalu masuk kemari, Ku pikir Kau dibawa seseorang”
“Aku dibawa seseorang, siapa yang membawaku?”Wila yang tadinya merasa aneh kini ditambah makin aneh. Ia tak mungkin dibawa seseorang. Karena tadi ia juga sudah berpindah tempat dalam sekali kedip.
“Sudahlah, Ayo ikut Aku, kita tak seharusnya disini”ucap Pria tersebut. Ia menarik Wila keluar dari rumah dan sedikit berlari.
Wila yang ditarik dadakkan ikut berlari dan memandang sekelilingnya. Seketika semua yang ada berubah-ubah didepat matanya.
“Bagaimana bisa...kenapa perumahan ini bergerak-gerak?”tanya Wila yang menunggu jawaban orang didepannya.
Namun saat ia menatap kembali, apa yang mengenggamnya bukanlah tangan manusia, melainkan tubuh ular yang membelit ditangannya.
“AGH!!!!lepas..lepas..lepas”Wila menghempas-hempaskan tangannya agar ular yang membelit itu terlepas.
Saat sudah menyelamatkan tangannya, Wila bergegas lari kedepan dan tak memperdulikan siapa yang ditabraknya. Ia menatap dengan mata yang sudah mengalirkan benih-benih air mata.
“Ibu...Ayah”Keluh Wila yang bergegas mendekati benteng yang dilihatnya.
Ia menyentuh dinding benteng tersebut dan kemudian menatapnya dengan pandangan penuh akan ketakutan.
“Ibu..Ayah lindungi Aku”benak Wila yang kemudian melangkah masuk kedalam dan sekali lagi melihat banyak pintu yang ada dan disana ada Widia dan Laila.
“Wila...dimana saja kau...hiks...hiks...Kami mencarimu”ucap Laila yang memeluk Wila. Wila merasakan pelukkan itu nyata. Yang membuatnya makin tambah kebingungan.
“ini benar-benar mimpikan?”benak Wila. Widia menjelaskan kepada Wila bahwa mereka kehilangan Wila saat Wila membalikkan tubuhnya. Seperti teleportasi yang langsung memindahkan Wila.
Wila mengeleng tak mengerti lagi, saat ini pikirannya penuh ketakutan. Karena Ia merasa bukan disini seharusnya Ia berada.
(SELAMAT DATANG, KAU INGIN BERMAIN?)
Wila membelakkan matanya ketika mendengar pertanyaan yang begitu kuat ditelinganya. Ia langsung menatap kearah dua sahabatnya.
“Widia...Laila..Kalian dengar, seseorang mengatakan selamat da...”Wila mundur ketika melihat dua Sahabatnya memiliki sebuah tanda di dahi mereka. tanda itu berupa pedang tanpa sarung. Dilihat mirip sekali seperti tanda salip namun bukan itu. Ia berupa pedang.
“Kenapa Wila?”tanya Widia yang melihat sahabatnya mundur.
Wila berhenti melangkah dan melihat sekelilingnya, hanya ada mereka bertiga. “Wila, Ayo bergerak”ucap Laila menarik Wila. Wila ikut berlari namun matanya melihat sesuatu.
Sebuah rak kecil yang entah muncul dari mana, Ia melihat sebuah boneka yang mirip seperti bayi. Boneka itu terlihat tenang namun matanya bergerak menatap Wila.
Wila yang seharusnya sudah berlari ternyata hanya berdiam ditempat, Ia bahkan masih menatap kearah boneka yang menatapnya dan beberapa saat kemudian tersenyum kepadanya.
Wila merinding seketika ketika melihat boneka itu,entah dari mana mendapat keberanian, Wila bergegas untuk menangkap boneka yang kembali tenang dengan mata yang kembali menatap datar.
Ia menghempaskan kepala Boneka itu. karena dalam pandangannya, Ia melihat masing-masing orang mendapatkan tato pedang dijidat mereka dan entah apa maksudnya. Wila hanya bisa memastikan bahwa itu adalah bahaya yang ada.
“Boneka ini..pasti boneka ini...boneka inilah yang membawaku kesini”Wila berbicara dengan perasaan yang penuh kemarahan. Ia ingin kepala boneka tersebut hancur bahkan rasa takutnya benar-benar menghilang menjadi kemarahan.
Brak!!!
Brak!!!
Brak!!!
Wila menghantam kepala boneka itu dengan keras namun yang didapatinya adalah hal yang makin mengerikan. Genangan air berwarna merah menaiki tubuhnya seperti sebuah lintah yang menghampiri dirinya. Lalu tetesan air darah yang datang dari atas.
Wila bisa merasakan nafas orang-orang menghembus dibelakangnya. Ia masih bertekad untuk menghancurkan boneka yang didapatnya namun..
-
“WILA....WILA”Wila bangun dengan degupan jantungnya. Ia menatap Ibunya yang membangunkannya dengan wajah yang marah.
“Kenapa denganmu, Kau mengigau, Ibu sudah bilang jangan tidur disenja hari...lihat sekarang..sudah sana keluar dan menonton atau apalah..jangan biasakan tidur senja”ucap Ibu Wila yang bergegas pergi.
Wila yang duduk dikasurnya menyentuh dadanya. Ia merasakan bahwa Mimpi tadi seperti nyata. “Untung mimpi”ucap Wila yang bangun dan memilih untuk keluar kamar serta beristirahat.Ia tak menyadari bahwa seseorang memandang kepergiannya.
Hihihi
Kepala bergerak menoleh kearah pintu yang tertutup, lalu seseorang mengambil dirinya dan memeluknya.
“Kau ingin bermain?”