Rey mengecek jam tangan. Setelah bimbingan dari dosen pembimbing, Rey meluncur ke tempat yang dijanjikan satu kelompok. Sekalian berdiskusi untuk tugas lapangan dokumenter. Tubuh atletis Rey berdiri tegak di depan kafe. Chat grup terakhir, mereka sudah sampai duluan. Bunyi gemerincing lonceng pertanda pengunjung masuk, Rey disambut baik seluruh pegawai Kafe.
"Selamat datang, Tuan! Kami harap kamu betah dan datang kembali lagi. Di sini banyak suguhan makanan yang kamu inginkan. Silakan menikmatinya." Rey celingak-celinguk. Lambaian Salma langsung diterima. Rey melaju ke kursi kosong. Lebih tepatnya tidak boleh menganggu Sandy saat main.
Rey tidak bisa diam begitu saja. Seharusnya diri Rey bertindak lebih jauh jika menyangkut tentang teman-temannya. Bulu kuduk Rey meremang. Tak ada bedanya dengan kehidupan Rey sebelumnya. Mata gelap Rey melihat sekitar. Banyak sekali makhluk halus mengintai sekitar kafe tersebut.
"Rey, kenapa wajah kamu pucat? tidak enak badan?" tanya Salma sedang memeriksa keadaan suhu tubuh Rey tapi normal. Dio menggelengkan kepala tidak suka. Asri memesan paket hemat untuk lima orang. Sandy sibuk bermain game online dibandingkan kelompok belajar. Rey menggaruk tengkuknya tidak gatal. Berusaha menjawab sesuai logika.
"Salma, aku tidak sakit. Siapa yang rekomendasi tempat ini?" Salma menunjuk ke Asri -Wanita santai tidak memikirkan skripsi- itu mengalihkan pandangannya. "Kan rekomender dari tiktokers dan YouTuber. Kata mereka, di sini sudah murah, enak, pelayanan dan bangunannya bagus. Bisa berfoto ria di lantai dua."
Rey mati kutu. Di belakang mereka terdapat makhluk berkuku tajam, mata bolong, pucat, pakaian putih dan menyentuh setiap orang. Rey menarik mukanya ke samping. Setidaknya tidak bertatap mata kalau bisa. Malah Sandy mengeluarkan umpatan meski pakai earphone. Tepukan bahu membuat Rey tidak mau merespon. Makhluk tadi memberikan tes ke Rey. Aura dominan itu hampir melumpuhkan sekujur tubuh Rey.
"Mau main? Boleh ya? Aku lagi sendirian," ucap makhluk itu menyibak rambut hitam panjangnya memperlihatkan kembali muka hancur dan membisikkan kalimat sama di telinga Rey. Rey kegelian tapi sekarang saja makhluk itu tahu Rey masuk ke kategori istimewa tersebut. Mereka tahu beberapa manusia bisa melihatnya sehingga dijadikan wadah, dimanfaatkan atau sekadar berteman. Pakaian Rey mendadak basah karena keringat dingin.
Segera saja Rey membuat tulisan di kertas kecil. Membalas ajakan makhluk itu supaya Rey ditinggalkan kalau bosan. Bukan diam saja, Rey benar-benar diminati dari kalangan dunia lain. Entah kenapa Rey hatinya tidak bisa berkata tidak jika sebenarnya ada kondisi memperbolehkan untuk ikut. Rey memposisikan duduknya dengan nyaman. "Lihatlah! Dia mau masuk tuh. Aku tahu kamu suka keberadaan kami."
Tempat duduk yang dipesan Asri berdekatan dengan etalase kafe yang lebar dan dihiasi ornamen-ornamen indah mengukir sekitar, dinding terlihat epik dan kekinian untuk generasi Z. Padahal ini masih siang, seluruh gangguan yang Rey tahan tetap kukuh. Mereka berkeliaran untuk mencari orang seperti Rey. Mata Rey bergerak tidak karuan ke etalase. Makhluk lain mengeluarkan senyuman yang patah rahangnya, kedua tangan panjang dan menggaruk tanpa henti.
Mata lebar itu menusuk ke Rey. Sekali berkomunikasi maka ditandai. Begitu juga makhluk aura hitam di belakang Rey. Seakan-akan memberikan informasi saat tahu Rey sedikit terguncang. Sumpah, Rey ingin pulang tapi tidak enak dengan pandangan teman-temannya yang memandang Rey dari atas sampai bawah.
"Kamu kenapa, Bro? Dari tadi aku perhatikan kamu tidak betah di sini." Sandy melepaskan earphone, Salma khawatir dan Asri berdecak kesal tahu alasan yang diutarakan Rey. Rey senyum kikuk. Kekuatan mata batin Rey terbuka sejak kecil. Cara meladeni mereka dua pilihan yaitu anggap tidak pernah melihat atau mencari tempat sepi agar mereka mengatakan keinginan sebelum Rey berubah keputusan.
"Tenang saja. Aku belum terbiasa berkunjung ke kafe. Maybe aku anak kos-kosan jadi makan di tempat mahal sungguh keajaiban yang aku alami," balas Rey sedang menundukkan wajahnya. Pelayan pria mendelik tajam. Rey meneguk ludah paksa. Eja kalimat "Jangan beritahu ke teman kamu atau kamu mendapatkan keburukan."
Tanpa sadar, Rey mengangguk kecil. Bukan satu atau dua makhluk saja, banyak juga tidak rela karena urusannya belum selesai. Dio menghela napas. Salma membantu pelayan menata pesanan dari Asri. Sandy bad moodnya luar biasa. Dari sudut pandang lain, kemungkinan kalah dan ranknya harus dipush melulu. Seketika Rey membelalakkan matanya.
Pesanan Asri kali ini Rey tidak ada berminat sama sekali. Paket hemat itu terpajang satu meja panjang. Booking VIP Asri akan sia-sia jika mereka bisa melihat apa yang dilihat Rey. Rey memicing mata tajam. Tiba-tiba Asri tertawa cekikikan. Sengaja? Rey berdehem pelan. "Teman-teman, kalian yakin mau makan ini?" Pertanyaan risih itu digubris begitu saja. Makhluk-makhluk lainnya terpanggil.
"Aku tidak ada selera. Ada yang mau memakan bagian aku?" Dio mengacung tangannya ke atas. Piring berisi dessert, cemilan dan jus serahterima ke Dio. Kemudian Rey pergi sambil meminta maaf kepada Asri. Resep masakan mereka hampir terbongkar. Kenapa tidak? Masakan yang mereka makan semuanya tidaklah nyata. Sesajen, bangkai, darah dan potongan hewan.
Rey mengatakan ada urusan lain. Masalah dokumentasinya akan dikerjakan lima puluh persen oleh Rey. "Janji ya! Sisanya kamu, Rey. Awas saja kamu tidak ada kontribusi," celetuk Sandy mengunyah makanan tapi tidak untuk Rey. Makanan di piring Sandy kebanyakan belatung dan sesembahan lain. Rey pergi menjauh. Lebih baik menemani dua makhluk itu.
Kekuatan perut Rey tidak kuat. Pintu kafe tertutup otomatis. Kafe dilihat Rey menghilang. Para pengunjung masih terperangkap dengan promo paket hemat. Kafe itu akan muncul kembali kalau orang di dalamnya selesai nongkrong. Sudah tahu lokasi penuh tipu daya tidak mempan terhadap Rey. Rey menarik pergelangan tangan mengeluarkan tulang terkoyak itu.
"Iya, aku akan bermain bersama kalian di kuburan. Main petak umpet, mau?" tawar Rey berlari-lari kecil mengelilingi kuburan lama dan usang. Setiap pohon diberikan sesajen apapun demi menolak bala. Rey setengah peduli dan tidak, paling terpenting Rey tidak mau berurusan dengan penguasa telah lama mendiami tempat tersebut. Nama-nama nisan sukar dibaca.
"Kamu tahu dunia kami begini. Tidak disangka kami ketahuan sama kamu." Wajah Rey mendongak ke atas. Asri memainkan rambutnya di atas pohon. Sosok periang Asri masih melekat sehingga mudah membawa para manusia melewati batas antara dua dunia tersebut. Rey membuat kode tangan mengisyaratkan bahwa Rey sebagai penjaga.
Tak lama kemudian dua makhluk tadi berpencar sampai menemukan tempat persembunyian. "Aku paling membenci kalian memanfaatkannya tapi kehadiran mereka menambah energi di sini kan?" Asri turun lalu berkata, "Demi menjaga keseimbangan, kami melakukan apa saja agar kami bertahan lama."
Rey melipat tangan. Asri berubah total menuju wujud aslinya. Menyeramkan, cantik dan penuh aroma bunga pemikat. Puluhan kawanan mengerubungi Rey mulai tertarik. Rey bertindak siaga. Keris dipegang Rey keluar dari sarung berukuran sedang. "Selamat datang, Rey. Aku mau kita damai. Teman-teman dan pengunjung kami akan keluar selamat sampai jam kafe ditutup. Aku tidak mau keturunan kamu menganggu bisnis kami."
Tamat