Aku tidak tau apa yang sudah terjadi padaku beberapa waktu lalu sehingga semua badanku terasa kaku dan nyeri. Aku membuka mataku, samar-samar aku bisa melihat langit-langit ruangan tempat aku berada. Tubuhku terbaring diatas tempat tidur kayu beralas tikar berlapis. Sedikit demi sedikit penglihatan ku kembali normal. Meskipun sangat nyeri, aku tetap memaksakan badanku untuk duduk, mataku menatap ruangan ini. Dimana aku?
“Argh!” aku memegang kepala ku yang tiba-tiba nyeri.
Beberapa menit aku duduk guna mengisi tenagaku lalu aku menurunkan satu persatu kaki ku. Sambil bertumpu pada dinding kayu itu aku berjalan menuju pintu. Aku meraih simpulan tali yang menjadi gagang nya lalu menariknya perlahan, pintu terbuka dan aku langsung berjalan keluar. Tidak ada siapapun.
“Kamu sudah bangun, ndok?” aku membalik badan. Didepan ku berdiri seorang wanita tua renta berbaju kebaya hitam dan jarik coklat bermotif batik. Dia berjalan perlahan mendekat padaku membuatku reflek mundur.
“Jangan takut, ndok! Nenek bukan orang jahat."
“Maafkan saya nek, saya cuman terkejut.”
“Iya, nenek mengerti. Kamu tidur dua hari, pasti kamu lapar. Mari kita makan dulu, ndok.”
Apa?
Kenapa aku bisa tidur selama itu?
“Kenapa saya bisa tidur selama itu dan kenapa saya bisa ada disini?” aku memandang nenek itu dan ruangan ini bergantian, raut wajah nenek itu berubah sepertinya dia tidak suka dengan pertanyaanku. Mengapa?
“Kamu jangan banyak bertanya dulu, ayo kita makan. Nanti kamu lemas karena tidak makan.”
'Tok tok tok
Ada suara ketukan di pintu, mungkin saja ada tamu.
“Biar saya yang buka.” aku bergegas menuju pintu dan membuka nya.
“Mau cari siapa ya?”
“Kami mencari nek Asih, kamu cucunya nek Asih?”
“Bukan, saya cuman tamu disini. Mari silahkan masuk.”
Dua orang laki-laki setengah baya dan satu kakek tua itu duduk di kursi bambu yang tersedia diruangan ini. Aku menatap nenek yang ternyata bernama Asih itu ikut duduk bersama tamu nya.
“Ndok, sini duduk.”
“Em, maaf nek. Apa boleh saya mencari udara segar sebentar?”
“Yasudah tapi jangan terlalu jauh ya.” aku mengangguk dan berpamitan pada mereka semua. Sebenarnya aku tidak tau akan pergi kemana tapi setidaknya aku harus mencari petunjuk kenapa aku bisa ada disini.
Rumah nek Asih ada di pinggir hutan. Jarak antara rumah satu dan yang lain nya lumayan jauh. Banyak sekali pohon-pohon besar yang membuat aku merinding. Aku tidak tau jam berapa sekarang tapi sepertinya sudah menjelang sore. Udara disini sangat sejuk, kakiku terus berjalan mengikuti jalanan setapak ini. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, aku berhenti dan mengucek mataku yang terkena debu.
“Ngapain kamu disini?”
Aku mengangkat kepala ku, sejak kapan ada orang lain disini? Aku melihatnya dari atas sampai kebawah, “Siapa kamu?”
“Ngapain kamu disini?”
“Suka-suka aku dong mau apa disini. Kamu siapa?”
“Pergi! Ini bukan tempat kamu!”
‘Meong
“Aaaakk” aku melompat dan bersembunyi dibalik pemuda misterius ini. Demi apapun aku takut kucing. “Tolong usir kucing nya, aku takut..”
“Ck.”
Aku bisa bernapas lega ketika kucing itu sudah pergi. Aku menatap nya yang menatap ku seperti tak suka. Huh, kenapa dia…
“Pergi dari sini. Ini sudah bukan dunia mu."
Hah?
Apa maksudnya?
Dia kira aku hantu apa?
“Kamu salah sudah masuk ke wilayah ini, jangan jadi manusia ceroboh yang jalan-jalan saja bisa sampai kesini. Kembali ke alammu!”
“Heh! Sembarangan aja kamu, aku bukan hantu ya!” aku menatapnya garang.
Aku melirik sekitar. Astaga! Kenapa aku ada di tengah hutan?
“Kok aku ada disini? Kayaknya tadi aku enggak jalan ke hutan” aku menatapnya, dia terlihat tidak perduli. Dasar manusia batu.
“Sana pulang!”
“Anterin..”
“Kamu datang sendiri, pulang juga sendiri. Saya sibuk.” Dia meninggalkan ku. Aku langsung mengejarnya dan menarik tangan nya.
“Aku gak tau jalan pulang, serius deh. Aku juga gak tau kenapa aku bisa dirumah nek Asih, tolongin aku..” aku memelas berharap dia membantuku.
“Kamu tinggal bersama nek Asih?” aku mengangguk, “Ayo aku antar”
Alhamdulillah aku tidak jadi tersesat.
Kami sampai di depan rumah nek Asih, hari sudah petang. Rumah nek Asih sangat gelap seperti rumah hantu.
“Kok rumahnya serem sih?” aku menggosok kedua telapak tanganku karena udara semakin dingin.
“Desa ini tidak ada listrik, sudah masuk sana!”
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, beberapa detik kemudian nek Asih muncul.
“Kamu darimana aja, ndok? Nenek khawatir sekali.”
“Maaf nek tadi aku tersesat, untung saja ada dia yang menolong.”
“Kamu masuk sana. Sudah mau malam, cepat mandi dan makan ya.”
“Iya nek.”
Aku berjalan masuk meninggalkan nek Asih dan pemuda tanpa nama itu.
Astaga, aku belum bilang makasih sama dia.
Aku berbalik hendak keluar namun nek Asih sudah berdiri di depan, “Mau kemana lagi?”
“Saya lupa belum bilang makasih sama dia nek. "
“Dia sudah pergi, lebih baik kamu lekas mandi sana.”
Aku menuruti ucapan nek Asih.
---
Aku berjalan menuju tempat aku bertemu pemuda tanpa nama itu. Sudah tiga hari berlalu sejak dia mengantar ku pulang. Hari ini nek Asih sedang pergi kerumah tetangga yang sepertinya lumayan jauh dari rumah kami, aku merasa bosan dirumah sendirian. Semoga aku bisa bertemu pemuda itu.
Aku berhenti di samping pohon pinus tempat aku bertemu dengan nya namun tidak ku temukan dia disini, aku berjalan semakin masuk ke hutan, mungkin saja dia sedang mencari kayu bakar. Semakin kedalam, hutan ini semakin gelap.
Sepertinya aku tersesat, lebih baik aku kembali saja.
'Gedebuk.
“Aw,”
Sial.
Kenapa aku harus jatuh disaat seperti ini, kakiku sakit sekali. Sepertinya terkilir, sekarang bagaimana aku keluar dari hutan ini. Aku melihat telapak tanganku yang lecet dan berdarah.
“Hihihihihi…”
Cobaan apalagi ini..
“Hihihihihiiii…”
Aku harus pergi dari sini. Dengan tenaga yang tersisa aku bangkit dan mencoba berjalan keluar hutan, aku mengikuti jalanku yang sebelumnya. Aku terus berjalan tertatih meskipun kaki ku sangat sakit.
Aku melihat seseorang didepan sana, sepertinya dia ibu-ibu penduduk desa ini. Aku berjalan kearah nya, semoga dia bisa menolongku…
“Ibu, tolong bantu saya. Saya tersesat di hutan ini.” aku meraih tangan nya namun tak sengaja aku tersandung dan jatuh.
“AAAKKKKK,”
Tangan nya putus.
“Hahahahahahaaa..”
Dari bawah sini aku bisa melihat tubuhnya penuh dengan darah, rambutnya gimbal, sebelah matanya bolong dan wajah penuh luka. Secepat kilat aku bangkit dan berlari menjauhi nya tak peduli seberapa sakit kaki ku sekarang.
Semakin cepat aku berlari semakin banyak pula suara yang terdengar di telinga ku.
“IKUT AKU!”
“Aaaaakkkkk”
'Gedebuk.
“Ahk,”
“Hahahaha….”
Aku masih bisa mendengar tawa itu sebelum semuanya menjadi gelap…
---
“Eungh..”
Aku membuka mataku, pandanganku sedikit kabur. Dimana aku sekarang..
“Sudah bangun?”
Aku melirik ke sebelah kiri, disana ada pemuda tanpa nama yang sedang kucari. Hah sial, aku kembali teringat kejadian itu. Gara-gara hantu besar itu aku sampai jatuh menimpa batu.
“Kenapa kamu pingsan dihutan?”
Dia membantu ku duduk, aku memegang kening ku yang sudah terbalut kain.
“Aku cari kamu dihutan tapi aku tersesat dan ketemu sama hantu.”
“Ngapain cari saya?”
“Soalnya aku bosen dirumah, terus juga aku mau nanya sama kamu jalan pulang kerumah asliku karena aku yakin cuman kamu yang mau bantu aku pulang. Aku enggak tau kenapa bisa ada dirumah nek Asih, tiba-tiba aja aku bangun udah disana.”
“Kenapa kamu percaya sama saya?”
“Karena cuman kamu orang yang ngusir aku dan aku cuman kenal kamu sama nek Asih. Aku udah pernah nanya sama nek Asih tapi dia bilang aku tidak usah pulang, tinggal saja dirumah nya. Aku udah coba ingat jalan pulang tapi gak ada apapun yang aku ingat.”
“Ini bukan alam kamu, kami bukan sebangsa kamu. Saya juga tidak tau kenapa kamu bisa masuk ke alam ini tapi saya akan bantu kamu pulang.”
Haah…
Aku sedikit lega sekarang..
“Namaku Selina Arsala panggil aja aku Selin, umurku 16 tahun. Kamu?”
“Tegar Sugarda.”
“Kayaknya kita seumuran ya?”
“Saya lebih tua puluhan tahun dari kamu."
Astaga..
Dia kakek kakek, hahaha..
“Gak usah ditahan ketawa nya.”
“E-eh, enggak kok.”
Aku menatap wajahnya yang jengkel.
“Ekhm, maaf kek.”
Dia menatapku dengan mata melotot, wajahnya berubah semakin pucat dan retak-retak. Kenapa dia kelihatan lucu ya bukannya seram.
“Jangan panggil saya kakek, panggil Tegar aja.” aku mengangguk sambil tertawa dalam hati.
Bagiku ini lucu, wajahnya itu imut dan lumayan tampan tapi ternyata dia sudah kakek kakek...
---
Sudah dua hari aku ada dirumah Tegar dan selama itu dia merawatku dengan baik. Aku tidak tau obat apa yang dia berikan tapi tubuhku sudah baik-baik aja sekarang. Dua hari ini aku hanya diam dirumah, Tegar melarangku keluar karena katanya nek Asih sedang mencariku. Dia juga bilang kalau aku tidak boleh tertangkap nek Asih jika ingin pulang ke alam ku.
Aku tidak tau apakah aku benar karena percaya pada Tegar atau malah ini akan membuatku semakin tersesat di alam lain ini. Aku tidak tau, semoga Tegar benar-benar membantuku.
Kira-kira sudah berapa lama aku hilang di dunia ku yaa..
“Mikirin apa?”
Aku melihat Tegar yang tiba-tiba muncul membawa piring berisi makanan, dia meletakkan piring itu didepanku.
“Makan.”
“Kamu bisa gak kalau datang itu normal aja jangan muncul tiba-tiba, kalau aku jantungan gimana?”
“Paling kamu meninggal dan abadi disini.”
“Heh! Aku gak mau meninggal disini. Aku juga masih mau hidup lama, mau menikah dan punya anak.”
“Kalau gitu tinggal aja disini, kita nikah dan punya anak.”
“Jangan macam-macam kamu!”
“Hahaha, kenapa?”
“BAWA AKU PULANG!”
Kayaknya nih kakek hantu udah gila deh..
“Jangan teriak nanti ada yang dengar kamu.”
“Makanya jangan bikin aku panik dong.”
“Gitu aja panik.”
Dalam sekejap dia menghilang. Huh! Kalau saja aku tau jalan pulang aku pasti sudah kabur dari sini.
---
Hari sudah semakin larut tapi Tegar belum juga kembali. Aku menatap was-was ruangan ini, entah kenapa mataku terus saja tertarik untuk melihat ke pintu utama. Perasaan ku tidak karuan sekarang, aku khawatir pada Tegar dan juga takut kalau nek Asih menemukan ku disini.
Tegar cepat kembali…
‘Brakk
Aku terkejut melihat pintu itu terbuka dan nek Asih muncul bersama tiga laki-laki yang pernah datang kerumah nek Asih tempo hari lalu. Aku ingin berlari menuju kamarku namun kakiku tak bisa di gerakkan. Ya Tuhan tolong aku..
Ah bodohnya aku kenapa saat seperti ini aku baru ingat pada Tuhan, dasar manusia lupa diri..
“Tangkap dia!” perintah nek Asih pada ketiga laki-laki itu. Mereka bertiga mengangkat tubuhku, aku berusaha memberontak namun tenaga ku kalah dari mereka.
Mereka membawaku kembali kerumah nek Asih, dia mengurungku dikamar. Aku tau pintu itu dipalang dengan kayu, sudah tidak ada jalan untukku keluar dari tempat ini.
“BUKA PINTUNYA!”
“AKU MAU PULANG!”
“Tidak! Kamu harus tinggal disini menjadi cucuku!”
“AKU GAK MAU. BUKA PINTUNYA NEK!!”
Aku menghirup udara banyak-banyak, dadaku rasanya sangat sesak. Tubuhku juga terlalu lemas. Aku duduk bersandar di pintu, air mataku tak bisa kutahan lagi.
Hikss hikksss
Tolong aku..
Tegar..
Aku menangis berjam-jam sampai tidak terasa kalau aku tertidur.
‘BRAKK
‘Bugghh
‘Prangg
Aku tersentak kaget mendengar keributan dari luar kamarku.
“Aakk,”
Suara nek Asih, ada apa dengannya..
‘Braakkk
“Aaaaaakk” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
“Heh, jangan teriak. Ini saya."
Aku merasakan dua tangan memegang bahuku, aku menurunkan tanganku dan melihat Tegar dengan wajah paniknya. Aku reflek memeluk Tegar dan menangis sejadi-jadinya. Tegar membalas pelukanku dan mengusap punggung ku. Aku sedikit tenang.
“Kita gak punya banyak waktu, ayo pergi.” Dia menarik tanganku keluar kamar. Aku melihat beberapa remaja laki-laki bertarung dengan anak buah nek Asih, sedangkan nek Asih sendiri sudah jatuh dan di ikat. Tegar menarik tanganku keluar rumah, kami berlari secepat mungkin. Aku tidak tau dia membawaku kemana, aku menoleh ke belakang dan banyak makhluk berwujud jelek mengejar kami.
“Jangan lihat mereka, fokus kedepan."
Hutan ini terasa semakin mencekam, banyak makhluk berbagai wujud yang memandang kami. Aku harus fokus!
Semakin jauh kami dari rumah nek Asih, semakin dekat pula kami pada cahaya putih didepan kami. Aku rasa itu jalan keluarnya.
“Arrghh,” aku terjatuh dan makhluk itu menarik kakiku.
‘Bughh
Tegar menendang makhluk itu dan langsung menggendongku. Dia lanjut berlari, “Kamu harus masuk ke cahaya itu, apapun yang terjadi kamu harus keluar dari sini.”
Cahaya itu sudah didepan mata..
‘Dug
“Arghh,”
Kami terjatuh karena ada yang memukul Tegar. Aku terguling dekat dengan cahaya itu sementara Tegar sudah ditangkap oleh mereka.
“CEPAT PERGI!”
Satu perempuan berkebaya penuh darah menangkapku.
“CEPAT PERGI SELINA”
Aku menatap Tegar, air mataku kembali menetes.
“Cepat pergi! Jangan membuat usaha saya sia-sia!”
“Garr..” suaraku bergetar.
Aku tidak boleh menyerah. Perempuan tadi menyeretku namun aku langsung menarik rambut penuh belatung nya dan menendang kuat perut nya. Banyak darah dan belatung berceceran. Aku tidak perduli, aku langsung berlari menuju cahaya itu.
Sekejap aku menoleh kebelakang melihat Tegar yang tersenyum dan mengangguk tanda melepas kepergian ku.
“Terimakasih Tegar..”
Aku melompat ke cahaya.
---
AUTHOR POV
“Dokter, gimana keadaan anak saya?”
Laki-laki berjas putih itu membuka kacamata nya, menyimpan nya dalam saku. Senyum tipis terukir di wajahnya, “Anak bapak dan ibu sudah baik-baik saja. Tidak sudah khawatir, lukanya tidak parah tetapi dia dehidrasi. Kenapa dia bisa sampai dehidrasi?”
“Kami juga tidak tau dokter, anak kami sudah hilang tiga bulan dan semalam kami menemukan dia pingsan didepan rumah.”
Dokter itu mengangguk, mereka berbincang sebentar lalu sepasang suami-istri itu masuk keruangan UGD dan sang dokter kembali ke ruangan nya.
Diatas brankar itu, seorang gadis berambut hitam baru membuka matanya. Dia berkedip beberapa kali lalu memandang seluruh ruangan.
“Selina, kamu sudah bangun?”
“Mama, Papa..”
---
Tiga bulan berlalu semenjak Selina sadar. Dia sudah kembali ke tempat dimana dia seharusnya. Selina juga kembali beraktivitas seperti biasanya sebelum dia menghilang. Sampai sekarang dia masih tidak ingat kenapa dia bisa berpindah alam.
Hujan sangat deras diluar, Selina sedang duduk diatas tempat tidurnya sembari melihat hujan dari jendela kamarnya, “Tegar apa kabar ya..” dia menghembuskan napas panjang, air matanya mengalir ketika membayangkan momen nya bersama Tegar, si hantu kakek tampan.
“Saya baik-baik aja Selina.”
Selina menoleh ke kanan, “TEGAR!” dia turun dan berlari lalu memeluk hantu tampan itu dengan erat. Mereka berpelukan melepas rindu.
“Rindu sama saya?” Tegar melepas pelukan mereka.
“Enggak. Aku gak rindu kamu.”
“Haha, pembohong.”
“Ekhem,”
Selina melihat ke belakang Tegar, disana berdiri tiga remaja laki-laki yang dulu pernah membantunya dan Tegar.
“Kalian disini juga?”
“Mereka teman-teman saya yang sudah membantu kita”
“Terimakasih semuanya, berkat kalian aku kembali ke rumahku”
“Sama-sama,”
“Siapa nama kalian?”
“Saya Luky”
“Saya Arya”
“Saya Guntur”
“Kenalkan, aku Selina. Kalian semua akan menjadi temanku. Oke!”
Ketiga pemuda itu mengangguk dan tersenyum.
Mereka duduk disamping tempat tidur.
“Bagaimana kamu bisa selamat dari setan jahat itu?” tanya Selina pada Tegar.
“Mereka menyelamatkan saya sesaat setelah kamu pergi.” Kata Tegar melirik ketiga teman nya.
“Lalu kenapa kalian bisa kesini?”
“Kami ini bukan manusia jadi kami bebas kemana saja. Kami memutuskan meninggalkan desa itu dan akan tinggal disini, bersamamu dan menjadi pelindungmu.”
“Terimakasih, kalian sangat baik padaku.”
“Itu karena kamu orang baik.” Kata Luky.
Mereka terus berbincang tentang semua hal, sesekali Selina tertawa mendengar lawakan Luky, Arya dan Guntur. Mereka terus berbincang sampai malam hari. Sekarang, hari-hari Selina akan di dampingi empat hantu kakek tampan.
Seperti itulah kisah Selina yang mendapatkan teman ghaib nya..
TAMAT