"Tiap sore, kamu memang sering main ular tangga kayak gini, ya?" tanya sepupuku ketika kami sedang bermain ular tangga sambil menggerakkan pionnya. Namanya Kering, gadis tunggal sekaligus yatim piatu yang kehidupannya sesuai dengan namanya, kering, bagai tiada setitik harapan cerah yang dapat dicari lagi. Dia tinggal bersama nenek dan kakek kami di Lembang, jauh dari rumahku yang terletak di Purwakarta. Tujuan Kering mengunjungi rumahku bersama dengan kakek dan nenek adalah untuk merayakan kekeluargaan bersama, mumpung bulan ini adalah bulan Juli, jadi semua sekolah merayakan libur kenaikan kelas.
"Iya, kecuali kalau PR kami lagi numpuk, kami gak main bareng. Nggak cuma ular tangga, loh, kita juga main Ludo, kartu remi, kartu domino, dan masih banyak lagi," jawabku. Ngomong-ngomong namaku Zefa, gadis berumur 14 tahun.
Kedua adik laki-lakiku namanya Prio dan Eko. Umur mereka 12 dan 7 tahun.
"Ouh. Asik banget ya, tiap hari kalian bisa bermain bersama seperti ini," Kering menundukkan kepalanya, merasa sedih karena dia selalu merasa sendirian, kakek dan neneknya sama sekali tak berharga di matanya.
Tiba-tiba ibuku memberikan segelas teh manis panas yang dialasi nampan untuk kami berempat.
"Silahkan diminum, anak-anak," ibuku tersenyum sambil meninggalkan kami yang masih asyik bermain ular tangga.
"Terima kasih," jawab aku dan kedua sepupuku.
"Iya, terima kasih tante," jawab sepupuku.
Ibuku kembali ke dapur untuk mengambil kopi yang tadi dia buat.
"Diminum, yah," ibuku memberikan segelas kopi hitam kepada ayahku yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Terima kasih, sayang," balas ayahku.
Ibu dan ayahku sama-sama indigo alias memiliki indra keenam, dan kemampuan mereka berdua sama-sama terbuka sejak lahir. Karena persamaan itulah mereka bisa akrab, hingga akhirnya mereka jatuh cinta.
Kering menatap ayah dan ibuku.
"Andai kedua orangtuaku masih ada," Kering hampir meneteskan air matanya.
"Sabar ya, sepupuku. Anggap saja kalau paman dan bibimu adalah ayah dan ibuku sendiri. Kesempatan ini bisa kamu gunakan sepuasnya," aku berpendapat untuk menghilangkan rasa sedih Kering.
Kering pun mengangguk, tersenyum sambil menghapus air matanya yang mulai keluar. Aku berhasil menghilangkan rasa sedihnya, lagipula siapa pula yang ingin melihat Kering sedih berkepanjangan.
Tapi tanpa aku sadari, senyum milik Kering itu hanyalah senyum bahagia palsu.
"Giliran kak Kering sekarang," Prio memberikan dadu kepada Kering, giliran Prio telah selesai.
👻👻👻
2 Minggu kemudian, Kering, nenek, dan kakekku pulang ke Lembang untuk melanjutkan aktivitas mereka. Kami telah berpisah, dan harus menunggu setahun lagi agar kami bisa bersama.
Tiap kali aku bermain dengan kedua adikku, aku selalu membayangkan kalau Kering ada di sisiku seperti waktu itu.
Kering sudah aku anggap seperti adikku yang ketiga. Dia sangat...
"Apa itu benar, Yah?" ibuku sedang menelepon ayahku yang sedang sibuk di kantor. Suaranya seperti terdengar panik.
"Ibu kenapa tuh, kak?" tanya Eko sambil menunjuk ibuku.
"Gak tahu tuh. Ayo kita tanya," ajakku. Aku dan kedua adikku pun berlari menghampirinya.
Ibuku menangis keras sambil terduduk di atas kursi, dia sudah menutup sambungan teleponnya.
"Kenapa, bu?" tanyaku penasaran.
Ibu mengangkat kepalanya dan menatap kami bertiga. Air matanya masih ada.
Mulut ibuku bergetar, seolah berat untuk mengatakannya.
"Kering... bunuh diri, nak," ibuku menangis lebih keras.
Apa!
Seketika aku dan kedua adikku ikut menangis di samping ibu kami, ikut merasakan akan kepergian Kering yang baru beberapa hari lalu menginap di rumah kami.
Sungguh kejadian yang tidak terduga. Sosok yang baru saja menginap di rumahku, bermain bersama, canda tawa bersama, pergi meninggalkan raga begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Ingatan hari itu terbuka kembali, membuat rasa sedih ini semakin mendalam.
Ayah kami mengirim sebuah foto lewat pesan. Terlihat dalam foto itu ada mayat yang dibungkus kain kafan, juga bingkai foto Kering.
Ayah memang tidak bohong, Kering memang sudah meninggal.
Kini yang menjadi pertanyaan kami saat ini adalah mengapa dia mengakhiri hidupnya begitu saja?
Tapi tak lama lagi, kami berhasil mengorek jawaban atas kejadian misterius ini, dan alasan Kering melakukan semua itu terdengar sangat gila!
👻👻👻
Malam harinya, ketika kami semua telah tertidur nyenyak.
Kegelapan membungkus rumahku dan sekitarnya, tanda kalau para umat manusia memang harus beristirahat, agar memiliki semangat secerah matahari pagi.
Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku terbangun.
Aku mencium sesuatu yang terbakar.
"Mmph, bau apa ini!" aku terbangun, lalu mengajak kedua adikku untuk bangun, mencari asal bau tersebut.
"Prio, bangun!" aku membangunkan Prio.
Prio mengicip-icip matanya perlahan.
"Kenapa, kak? Eh, bau apa ini!" tanya Prio, lalu dia bangkit dari tidurnya.
"Kakak juga gak tahu nih, makanya kakak bangunin kamu. Yuk kita cari!" ajakku.
"Ayo."
Eh, tunggu dulu! Seperti ada seseorang yang menghilang dari kamar ini.
"Loh, Eko mana?" Prio menyadari kalau adik bungsu kami tidak ada di kamar ini.
"Eh, iya ya. Eko gak ada di sini!" aku baru menyadarinya!
Gawat! Di mana dia?
"EKOOOO!!!" aku dan Prio mencari Eko ke seluruh penjuru rumah, berteriak agar Eko bisa mendengar kami.
Tapi ketika aku dan Prio keluar dari kamar, Eko sudah terlihat di depan mata.
Tapi tunggu dulu!
Ternyata Eko sedang membakar seluruh mainan kami! Ternyata dari situlah asal bau terbakar tersebut.
"EKO, APA YANG KAMU LAKUKAN!" teriakku panik. Aku dan Prio langsung berlari menghampiri Eko.
"Kini kebahagiaan kalian sudah terenggut," Eko menunjukkan senyum jahatnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah mainan kami yang hangus terbakar.
Apa-apaan ini! Dia bukanlah adik bungsuku yang kami kenal.
"Adik baik-baik saja, kan?" tanya Prio sambil mengguncang-guncang tubuh Eko.
"Tidak, hihi," Eko menggelengkan kepalanya.
Astaga, dia benar-benar aneh sekali!
"AYAH, IBU!" teriak aku dan Prio untuk minta pertolongan.
Tiba-tiba kedua tangan Eko mengarah ke leher kami berdua. Seketika kami mengambang 5 cm di udara tanpa disentuh oleh Eko, seolah Eko bisa mengendalikannya dari jauh!
Aku dan Prio tidak bisa berkata apa-apa lagi, apalagi berteriak minta tolong lagi kepada ayah dan ibu kami. Leher kami terasa seperti tercekik oleh tangan Eko.
Mulut kami mengeluarkan darah secara perlahan-lahan. Batinku rasanya ingin berteriak agar Eko menghentikan semua yang dia perbuat.
Api masih membara hingga membuat mainan-mainan kami sempurna terbakar.
Mengapa Eko berubah?
Apa sebabnya?
Kumohon sadarkanlah dia.
Aku tak tahu apa yang bisa merubahnya 180 derajat.
"Bahagiaku adalah ketika melihat kalian tersiksa, dan matiiiiiii," astaga, kata-katanya terdengar seperti pembunuh asli!
Eko mengarahkan kami ke api itu, dia menggerakkan tangannya ke arah api!
Biarkan mulut ini berteriak, agar mereka tahu kalau kami dalam bahaya. Biarkan mulut ini berteriak, agar raga kami dapat mencapai keselamatan atas bantuan dari mereka.
Darah dari mulut terus mengalir. Tiada setitik rasa iba akan kami berdua yang terus meminta untuk berteriak.
Gubrak! Pintu kamar orang tuaku terbuka secara tiba-tiba. Terlihat ayah dan ibuku bergegas keluar dari kamar mereka dan menghampiri kami.
Keajaiban telah tiba!
"Ternyata itu kamu, Kering! Kami merasakan ada energi hantu di rumah ini, dan kami juga melihat jiwamu yang merasuk ke dalam tubuh anak bungsuku!" ayahku berseru tegas.
Ternyata Kering merasuki tubuh Eko, mengendalikan Eko menjadi jahat!
Tapi...
Tapi kenapa kamu melakukan ini, Kering? Bukankah kita sudah menjalani hidup bahagia selamanya? Apakah kamu mengkhianati keluarga ini?
Sebagai indigo, mereka mengetahui kata-kata mantra untuk mengusir hantu yang merasuk ke dalam tubuh manusia.
Ayah dan ibuku mengangkat tangan bersama-sama.
"Nyrasojodofosokoworodorolobho," kalimat itu memang terdengar asing, tapi itu bisa membuat Kering hampir keluar dari tubuh Eko. Eko meraung kencang, lebih tepatnya Kering yang melakukannya.
"Baaaaalajayapaqagagasava," raungan Eko semakin kencang sambil memegang kepalanya, lampu-lampu di sekitar kami berkedip cepat.
Aku dan Prio menyaksikan Eko yang meraung kencang, berusaha terlepas dari jiwa Kering yang kini tak kuat lagi karena efek mantra itu.
Beberapa detik kemudian Eko pingsan di samping api, lampu-lampu berhenti kedap-kedip. Arwah Kering sudah tidak ada lagi di dalam badannya Eko.
"Eko... Eko..." ibu berusaha membangunkan Eko yang terkulai lemah di atas lantai.
Ayah berlari menuju kamar mandi, lalu mengambil gayung berisikan air, lalu memadamkan api itu.
"DASAR PENGACAU!" teriakan Kering yang telah keluar dari tubuh Eko memenuhi satu rumah ini. Amarahnya yang besar membuat aku dan Prio bisa melihat arwah Kering.
"Kering, kamu kenapa?" aku menangis. Aku tak tahu selama ini Kering memendam suatu hal sampai-sampai dia mencelakai kami. Tapi atas hal apa dia melakukan hal ini.
"TAKDIR TIDAK ADIL! Kenapa kalian begitu beruntung? Zefa, mengapa kamu bisa memiliki 2 adik, dan mengapa kamu memiliki ayah dan ibu, sedangkan aku tidak? KENAPA AKU TIDAK TERPILIH UNTUK LAHIR DI PERUT TANTE?" amarah Kering semakin menjadi-jadi.
Kamu semua amat terkejut atas apa yang baru saja dikatakan oleh Kering.
"Rasa benciku sangatlah dalam! Aku rela bunuh diri tanpa pikir panjang, agar jiwaku bisa merasuk ke dalam tubuh salah satu dari kalian , dan memusnahkan keluarga kalian!" Ekspresi wajah kering amat mengerikan, terlihat jelas walau sekitar rumah kami gelap.
"KAMU JAHAT, KERING! AKU GAK NYANGKA KAMU PUNYA SISI JAHAT SEPERTI INI!" tangisanku semakin menjadi-jadi, begitu juga dengan Prio. Aku dan Prio sedikit menjauh dari Kering, takut Kering melakukan suatu hal yang berbahaya bagi kami.
Tapi tidak dengan ayah dan ibuku. Mereka berdua justru mendekati Kering.
"Kamu tahu, Kering? Dulu kamu terlahir kembar identik 3, sungguh anugerah karena kehamilan kembar 3 jarang terjadi. Tapi ketika ibumu baru saja mengeluarkanmu dari perut ibumu, ibumu meninggal seketika karena kehabisan darah. 2 adik kembarmu meninggal di dalam perut itu karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Karena kondisi kesehatan mereka seperti itu, otomatis kondisi kesehatanmu juga seperti itu karena masih satu kandungan. Memang terlihat seperti tidak ada harapan lagi, tapi ayahmu terus berjuang merawatmu hingga dia membuatmu sehat seperti ini. Suatu hari ayahmu meninggal karena terkena penyakit kanker, dan terpaksalah nenek dan kakekmu yang menjagamu. Ayahmu dulu bilang padaku 1 hari sebelum dia meninggal dunia, bahwa kamu adalah anak yang sangat kuat, kamu bisa mengalahkan kondisimu dulu yang tidak memungkinkan. Aku sangat ingat kejadian itu terjadi ketika kamu berusia 1 tahun 6 bulan. Jangan pernah salahkan takdir, Kering. Di dalam jalan cerita yang buruk pasti tersimpan yang baiknya juga," ayahku menjelaskan dengan panjang lebar. Ayah dan ibuku memilih memaafkan, bukan membenci.
Kering menangis setelah mendengar penjelasan itu. Dia sama sekali tak tahu sisi keberuntungan dalam hidupnya adalah ketika dia masih kecil. Dia justru lebih beruntung dariku.
"Maafkan aku," Kering meminta maaf, dan kedua orangtuaku memaafkannya.
Aku terdiam seketika. Kenapa aku langsung membencinya kalau ada hal yang namanya memaafkan?
"Di mana ayah dan ibuku sekarang?" tanya Kering lembut, amarahnya mereda, pergi melayang ke udara untuk melupakan rasa bencinya.
"Mereka sudah berada di alam yang seharusnya, Kering," ibuku juga ikutan nangis.
Kering semakin menangis mendengarnya.
"Kalau begitu, aku akan menemui ibuku. Aku akan minta maaf atas perbuatanku yang tidak seharusnya dicontoh ini," Kering meninggalkan kami yang masih berlinang air mata begitu saja, mungkin dia akan mengunjungi ke alam yang seharusnya dia kunjungi.
Gerimis mulai membasahi jalanan, tepat ketika Kering meninggalkan kami semua, seolah langit juga ikut berduka akan kepergian Kering.
Perbuatan yang dilakukan oleh Kering memang terlihat gila, rela bunuh diri agar arwahnya bisa merasuk ke Eko dan membuat hubungan keluargaku menjadi rusak. Tapi kemudian dia menyadari kalau dia sesungguhnya tak sendiri, apalagi ayahnya menyayanginya sampai ayahnya meninggal.
Aku menunggu pesan maafmu kepada ayah dan ibumu, Kering.
~ TAMAT ~