SMA Nusa Bangsa akhir-akhir ini terasa lebih mencekam. Setelah kematian misterius salah satu siswi kelas 11 bernama Jisa yang meninggal di dalam ruang kelas dengan keadaan gantung diri.
Siang itu selepas pelajaran olahraga, siswa-siswi kelas 11 dikejutkan oleh salah satu siswi di kelas mereka. Dia tergantung di langit-langit kelas dengan leher yang terikat seutas tali.
Para siswi berteriak histeris, membuat kerumunan semakin banyak berdatangan. Setiap pasang mata terbelalak menyaksikan kematian teman mereka tepat di depan mata. Pasalnya saat mereka berdatangan kaki Jisa masih bergerak-gerak kecil. Sedangkan jarinya seperti menunjuk pada salah satu diantara mereka.
Manik mata yang biasanya berbinar cerah, kini terlihat memerah dan terbuka lebar. Seolah bola mata itu hampir terlepas dari posisinya.
Dari ujung koridor, para guru berlarian dengan tergopoh-gopoh menuju ke arah murid-murid yang bergerombol dan histeris tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Bu Mia wali kelas 11.
"Jisa, Bu," sahut salah satu murid seraya menunjuk ke arah siswi yang tergantung di dalam kelas.
"Eh, gak boleh nunjuk pake jari." Temannya mengingatkan.
"Jangan percaya takhayul deh," protesnya.
"Astaga, Jisa! Innalillahi!" pekik beberapa guru yang baru datang.
"Telpon polisi!" titah kepala sekolah ikut panik seperti guru-guru yang lain.
Di kerumunan paling ujung, seorang siswa menatap tubuh Jisa yang sudah tak bernyawa dengan raut wajah sendu. Tak mengira adik kelasnya yang berisik itu akan mati secara mengenaskan seperti ini.
Rasa bersalah seketika menyerang hatinya. Mengingat beberapa hari lalu dia sudah menolak pernyataan cinta Jisa yang tersurat dalam secarik kertas. Apa Jisa bunuh diri karena diriya?
"Heksa?"
Lelaki itu menoleh mendengar namanya dipanggil.
"Ngalamun, ya? Entar kesambet loh." Boby, teman sekelasnya datang dari arah barat, menepuk pelan pundak Heksa. "Balik ke kelas, yuk? Udah gak usah terlalu dipikirin."
Boby ikut melihat ke arah pandang Heksa sejenak, sebelum menarik temannya menjauh dari TKP yang semakin riuh itu.
Tak lama sirine polisi terdengar dari halaman depan sekolah. Dimana seluruh murid dikumpulkan di sana guna mendapatkan pengarahan. Saat polisi mulai bertugas, pihak sekolah memilih untuk memulangkan seluruh siswanya.
Penyelidikan telah usai. Polisi sudah menutup kasus kematian Jisa. Tak adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, membuat polisi berspekulasi bahwa kematian siswi tersebut adalah kasus bunuh diri. Tiga hari setelah kematian siswi itu, sekolah kembali beroperasi seperti sedia kala.
Namun kejadian demi kejadian aneh mulai bermunculan. Diawali dari kesurupan masal, hingga suara-suara aneh yang datang dari langit-langit kelas. Tak hanya kelas 11 saja yang diteror, kelas lain juga kena imbasnya. Seolah sekolah tersebut sudah dikutuk. Membuat satu per satu murid takut untuk masuk sekolah.
"Serem, deh. Jisa mati penasaran keknya. Arwahnya gak tenang," bisik Mira—siswi kelas 11—pada dua temannya saat sedang menikmati jam istirahat di kantin.
"Jangan gibahin orang yang udah gak ada, ih," balas Filza bergidik ngeri.
"Tau tu Mira. Udah tau sekolah kita jadi angker. Masih aja gibahin Jisa," timpal Alina.
"Dorr!!"
"Kyaa!" pekik ketiganya bersamaan, ketika tiba-tiba dikagetkan oleh Rion dkk. Teman kelas mereka yang suka bikin onar.
Ketiganya refleks memegangi dada. Seakan menahan jantung mereka agar tidak melompat keluar dari tempatnya.
"Serius amat yang lagi ngerumpi. Ikutan dong," timbrung Rion, mendudukkan diri di seberang siswi-siswi tersebut bersama tiga temannya.
"Sialan! Kalo kita kena serangan jantung gimana?!" sarkas Mira tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Rion, Zael, Faris dan Galih tertawa keras mendapati wajah pias tiga gadis itu.
"Kalo gak selamat, ya udah mati. Gitu aja repot," celetuk Galih disela tawanya.
"Lagian kalian ngerumpi apaan sih? Serius amat," tanya Rion penasaran.
"Ngomongin arwah Jisa yang gentayangan—mmphh!" Mira dan Filza lekas membekap mulut Alina yang ceplas-ceplos.
Deg.
Keempat lelaki di sana saling melempar pandang dengan tatapan terkejut.
"Biasanya kalo arwah gentayangan gitu ada sesuatu yang belum tuntas. Iya gak sih?" Galih yang memang hobi ngerumpi mulai membuka diskusi.
Setiap pasang mata mengawasi satu dengan yang lainnya. Seolah saling mencari jawaban atas pertanyaan Galih barusan.
"Bisa jadi," sahut Zael memecah keheningan diantara mereka.
Suasana kantin sebenarnya ramai, namun jika sudah menyinggung soal Jisa, atmosfer auto berubah mencekam.
"Apa karena kak Heksa nolak dia?" Faris menimpali.
Gosip tentang Jisa yang menembak kakak kelasnya telah tersebar dari mulut ke mulut begitu cepat seperti virus. Bahkan penolakan Heksa disangkutpautkan dengan alasan Jisa gantung diri.
"Gimana kalo kita tanya Jisa langsung aja," ide Rion yang lantas mendapat tatapan jengah dari setiap pasang mata di sekitarnya.
"Kamu kalo udah gila mending berobat dulu deh," cibir Mira.
"Setuju," sambung Filza dan Alina berbarengan.
"Yang bener aja, Rion. Kita lagi serius juga," imbuh Galih seraya menyambar es teh milik Alina. Lalu meminumnya hingga habis dengan sekali sedot.
"Njir! Es teh aku tuh!" protes Alina hendak melayangkan pukulan pada Galih.
"Diem. Jangan pada berisik! Aku juga serius ini." Rion menengahi sebelum terjadi pertikaian lebih lanjut. "Kita bisa tanya langsung sama Jisa dengan cara memanggil arwahnya."
Keterkejutan tersirat pada setiap wajah di sana. Bahkan Mira sampai tak sadar Galih sudah menguasai mi ayamnya yang masih setengah mangkuk. Begitu pula dengan batagor Alina yang telah berpindah ke tangan Zael.
"Memanggil arwah?" gumam para gadis di sana.
"Gimana caranya?" Faris mulai tertarik.
Galih dan Zael memasang wajah antusias sambil menghabiskan makanan gratis mereka.
"Aku pernah lihat di internet ngundang arwah pake tembang Lingsir Wengi, mungkin kita bisa coba," papar Rion.
"Gak, ah. Takut. Aku gak mau ikutan pokoknya," cicit Alina meraih rambut panjang Mira yang tergerai untuk menutupi wajahnya.
"Jujur, aku penasaran, guys. Kayaknya Jisa gak bunuh diri deh. Aku kenal Jisa tu kayak gimana," sambung Rion. "Dia emang bucin, tapi untuk bunuh diri ... big no sih, menurutku."
Atensi kembali berporos pada Rion, si cowok usil yang hobi baca komik Detektif Conan itu terlihat begitu serius. Hal itu sukses membuat ketegangan kental terasa di sekitar mereka.
Galih sudah menandaskan mi ayam Mira hingga tetes terakhir. Sedangkan Zael terlihat susah payah menelan batagor yang ternyata sepedas omongan tetangga itu. Mana tidak ada minuman tersisa di meja. Bertambah saja penderitaannya.
"Maksudnya apaan sih, Rion? Maap otakku gak jalan," balas Mira membuka suara.
"Bukannya otak gak punya kaki, ya? Mana bisa jalan," sambar Alina polos.
"Makanya naroh otak jangan pada di pembuluh nadi. Ikut ngalir, 'kan gobloknya," sindir Faris sok pintar.
"Itu mulut bisa dikondisikan dulu gak?!" geram Mira mulai tersulut emosi.
Faris malah menjulurkan lidahnya, membuat badan Mira maju ke seberang dengan tangan berusaha meraih baju Faris.
Brak!
Semua orang terperanjat saat tiba-tiba Rion menggebrak meja. Bahkan mereka sudah menjadi tontonan beberapa pasang mata di area kantin karena kegaduhan itu.
"Aku beneran serius. Percaya apa gak, Jisa itu mati dibunuh!" berang Rion lalu pergi begitu saja dari sana dengan wajah tak acuh.
Meninggalkan teman-temannya yang kebingungan saling bertukar tatap. Beberapa telinga di kantin sempat mendengar apa yang dikatakan Rion tadi. Mereka sama bingungnya dengan enam kepala di meja itu.
"Kok Rion jadi uring-uringan gak jelas gitu?" gumam Mira.
"Aku mau pipis. Gak nahan," ujar Alina sembari menarik tangan Filza tanpa ijin.
"Aku duluan, guys!" teriak Filza pasrah dengan tarikan Alina. Sebab dia paham jika temannya satu itu memang penakut.
Alina segera memasuki salah satu bilik. Sedangkan Filza berdiri di depan wastafel guna mencuci tangannya. Sekaligus memoleskan liptint pink nomor 03 pada permukaan bibirnya, benda wajib yang selalu dia masukkan di saku baju.
"Filza, tungguin aku lho. Awas kalo ditinggal!" seru Alina dari dalam kamar mandi.
"Iya, bawel," balas Filza masih fokus pada bibirnya.
Tes ....
Setetes darah terjatuh di permukaan wastafel tepat di depan Filza. Namun gadis tersebut tak menghiraukan. Bibir merona itu masih menjadi fokus utamanya. Diambilnya ponsel di saku baju, lalu berselfi ria.
Belum sadar jika tetes darah tadi sudah menggenang memenuhi wastafel hingga luber di atas lantai. Filza menautkan alisnya saat merasa telah menginjak benda cair yang kental. Dia yakin sekali jika benda itu bukan air.
Filza menunduk. Kelopak matanya telah melebar sempurna karena sempat melihat wastafel yang dipenuhi darah. Netranya menelusuri jejak darah yang tumpah ruah hingga menyentuh sepatunya.
Debaran jantung Filza sudah tak karuan dengan nafas memburu. Tangannya yang bergetar tak sengaja menjatuhkan ponsel dalam kubangan darah di lantai. Kelopak matanya semakin lebar tatkala sosok perempuan dengan wajah tertutup rambut mulai turun dari atap kamar mandi. Sosok tersebut terbang di langit-langit disertai tawa melengking.
"A-a .... " Mengucapkan satu huruf saja terasa begitu sulit bagi Filza.
Sepasang maniknya tak lepas dari penampakan sosok gadis dengan leher bekas jeratan tali. Dimana leher gadis itu telah membusuk dan mengeluarkan bau anyir yang sekarang berdiri tepat di depan wajahnya. Mata melotot nan merah milik sosok tersebut menatap Filza penuh dendam.
Filza terus mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Tidak ada jalan keluar. Kakinya terlalu lemah untuk diajak berlari. Tak terasa tubuh Filza sudah merosot, berlutut di depan kaki Jisa.
"Mati!"
Ceklek.
"Za? Filza?" Alina melongok dari balik pintu. Pandangannya menyapu seluruh sudut kamar mandi yang ternyata sudah kosong.
"Bener-bener deh, Filza. Dibilangin jangan ditinggal juga. Gara-gara batagor super pedes tadi nih, 'kan aku jadi agak lama bongkar muatannya," cerocos Alina. Berusaha mengalihkan rasa takut dengan mengomel, sadar ternyata dia berada di kamar mandi sendirian.
"Awas aja kalo ketemu nan—eh. Ini, 'kan .... " Alina mengerutkan dahi ketika tak sengaja menginjak beda pipih berwarna hitam yang familiar. "Ponsel Filza? Ish, ceroboh banget sih tu anak. Jatuhin ponsel sembarangan. Nanti kalo hilang, nangis."
Alina buru-buru keluar dari toilet, berjalan cepat menuju kelas. Mendapati koridor yang sudah sepi membuat perasaannya diliputi kegelisahan. Teror arwah gentayangan membuat sekolahnya bak kuburan.
Alina memasuki ruang kelas dengan jumlah murid yang sudah berkurang setengahnya itu. Netranya menyapu setiap penjuru, namun tak menemukan wajah yang dia cari. Lantas gadis tersebut mendekati tempat duduk Mira yang berada di depan meja guru.
"Mir, Filza kemana? Kok belum masuk kelas?" tanyanya pada Mira.
"Loh, kok tanya aku? Bukannya tadi sama kamu ke kamar mandi?"
"Iya. Tapi pas aku keluar, Filza udah gak ada. Nih, ponselnya sampe jatuh di kamar mandi. Ceroboh banget 'kan tu anak." Alina mengeluarkan ponsel hitam dari sakunya.
Mira menoleh. "Kayak bukan Filza aja." Disambarnya benda pipih tersebut dari tangan Alina lalu memperhatikan sejenak. "Bentar lagi tu anak juga muncul," imbuhnya.
Alina mengangguk, kemudian kembali ke bangkunya yang berjarak satu bangku dari tempat duduk Mira. Sedangkan bangku kosong di depan ialah milik Filza.
Brak!
"Kyaaa!!" teriak seisi kelas, kaget.
Tidak ada hujan, tak ada angin. Pintu dan semua jendela kelas tertutup secara tiba-tiba. Membuat beberapa murid di kelas panik dan berhamburan menuju pintu. Teriakan para siswi lebih mendominasi, namun ada juga beberapa anak laki-laki masih duduk santai di tempatnya.
Mereka seperti sudah terbiasa dengan hal mistis semacam ini. Hanya ada satu siswi yang masih duduk tenang di bangku paling belakang. Sesekali dia menatap jengah pada teman-temannya yang huru-hara di depan pintu kelas.
Rion mengamati siswi di bangku belakang tersebut, lalu mendekatinya.
"Kinan," panggilannya.
Siswi yang dipanggil itu mendongak. "Apa?"
"Kamu gak takut?" Rion sudah mendudukkan bokongnya di depan Kinan.
"Takut sama apa?" tanya Kinan balik.
"Arwah Jisa, hiii .... " bisik Rion dengan suara yang dibuat menakutkan.
"Gak lah. Aku gak percaya hantu, setan, atau apalah itu. Orang mati ya mati aja. Dunia mereka udah berbeda dari dunia kita."
"Tapi Jisa, 'kan sahabatmu. Kamu gak sedih gitu?" pancing Rion.
"Sedih sih pasti. Kehilangan juga iya. Tapi apa aku harus meratapi kepergian Jisa? Aku harus sedih melulu, dan lupa bahagia gitu?"
"Ya, enggak sih." Rion mengusap tengkuknya. Merasa sudah salah memilih lawan berdebat.
"Udahlah. Aku malas kalo bahas soal Jisa mulu. Balik ke asalmu sana," usir Kinan berusaha tak peduli, tapi tatapan sendu di mata gadis itu jelas tersirat.
Rion kembali ke bangkunya dengan tatapan rumit. Kinan memang terlihat cuek, namun tak ada yang tahu seberapa sedih dirinya atas kematian Jisa, sahabat yang sudah bersamanya sejak masa SMP.
Tuk Tuk Tuk
Suara ketukan dari langit-langit kelas menambah sensasi mistis siang itu. Beberapa murid yang berada di depan pintu semakin histeris dibuatnya.
"Tolong!"
"Buka pintunya."
"Siapa saja tolong dong!"
Begitulah beberapa cicitan diantara mereka.
Mira dan Alina sudah duduk di depan bangku Rion. Keduanya sudah lelah berteriak menunggu pintu dibuka. Merasa ada yang janggal dengan terjatuhnya ponsel Filza, Mira berinisiatif menanyakan hal tersebut pada Rion.
"Password-nya apa nih?" tanya Rion tak bisa membuka ponsel Filza yang ternyata terkunci.
"134RION. Pake huruf besar semua," jawab Mira sedikit berbisik. Karena secara tak sengaja dia sudah membocorkan rahasia Filza.
"Lah, kok ada nama aku?" Rion menatapnya heran.
"Hahaha." Tawa menggelegar datang dari Zael, Faris, dan Galih yang mencuri dengar dari bangku belakang. Ketiganya langsung mendapat pukulan ringan di kepala masing-masing.
Rion sudah menoleh ke belakang dengan tatapan sinis. Ketiganya sontak menutup mulut mereka, menahan tawa. Rion kembali fokus pada ponsel Filza.
"Astaghfirullah!" teriak Rion refleks melempar ponsel itu ke atas meja.
Prak!
"Apa? Apa? Ada apa?!" Tiga cowok di belakang buru-buru mendekat pada Rion. Begitu pula dengan Mira dan Alina yang sudah melongok agar dapat melihat apa yang membuat Rion terkejut.
Bagaimana tidak terkejut? Sedangkan di layar ponsel tertera sosok dengan wajah pucat digenangi darah sedang berada dalam ruangan sempit dan gelap.
"Filza?!" pekik Alina mengenali sosok di ponsel tersebut, dengan refleks ia menutup mulut.
Ceklek.
Seluruh atensi otomatis berpusat pada pintu yang dibuka oleh bu Mia. Murid-murid yang berada di dekat pintu spontan terperanjat lalu mendekati wali kelas mereka dengan wajah ketakutan.
"Kalian ini kenapa?" tanya bu Mia heran.
"Pintunya tadi kekunci dari luar, Bu," adu salah satu dari mereka.
Bu Mia mengerutkan kening. "Tapi Ibu buka bisa kok. Gak dikunci. Kalian lihat 'kan tadi? Jangan pada cari alasan biar bisa pulang cepat."
"Tapi tadi—"
"Sudah-sudah. Duduk di tempat masing-masing. Kita mulai pelajarannya." Bu Mia cepat memotong ucapan siswa tadi. Tak ingin suasana semakin kacau. Kegiatan belajar mengajar harus tetap terlaksana.
Dengan terpaksa tiga sahabat Rion, Mira, dan Alina kembali ke bangku masing-masing dengan berbagi pertanyaan yang berkecamuk. Rion lantas menyimpan ponsel milik Filza di lacinya.
"Filza kemana?" tanya bu Mia saat berjalan menuju depan kelas seraya melihat kursi Filza yang kosong, padahal tasnya masih ada di sana.
"Gak tau, Bu. Tadinya sama saya ke toilet, tapi pas saya keluar, Filza udah gak ada," sahut Alina.
Bu Mia memijat pelipisnya. Sudah terlalu pusing dengan beberapa kejadian aneh yang menimpa tempatnya mengais rejeki.
"Ya sudah. Kita tunggu saja, nanti juga muncul anaknya." Bu Mia berusaha berpikir rasional.
****
Krieett ....
Gerbang sekolah yang engselnya sudah berkarat itu berdecit saat Rion membukanya. Setelah gerbang besi itu sedikit terbuka, dilangkahkan kakinya ke halaman sekolah dengan sedikit lari kecil.
Rion paham betul dia sudah terlambat dari jam yang ditentukan. Langkahnya dipercepat saat sampai di koridor kelas yang remang karena pencahayaan minim. Entah mengapa tiba-tiba suhu udara menjadi lebih dingin.
Dengan perasaan gusar dan hati berdebar lelaki itu buru-buru mendekati lokasi yang sudah dijanjikan. Tangannya sudah terjulur guna membuka pintu saat sampai di depan kelas 11.
Puk!
"Astaghfirullah! Pait, pait, pait .... " Rion terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Dia refleks mengatupkan tangan di depan wajah sambil merem. "Ampun. Aku masih mau hidup. Mana masih jomblo lagi."
"Hey, ini kita. Bukan demit." Suara yang cukup familiar membuat Rion membuka matanya.
"Suee kalian! Ngapain pake acara ngagetin segala?!" sembur Rion hampir saja melayangkan bogemnya pada tiga lelaki di depannya.
"Kamu dipanggilin malah ngibrit aja," omel Zael tak kalah galaknya.
"Masa? Aku gak denger."
Tiga cowok itu saling pandang. Pasalnya mereka sudah meneriaki nama Rion sejak di gerbang masuk tadi. Sebab mereka juga datang hampir bersamaan dengan Rion.
"Mira sama Alina kemana?" tanya Rion celingukan.
"Mana kita tau. Kita 'kan juga baru datang," sahut Faris. Yang diiyakan oleh Zael dan Galih.
"Ya udahlah, kita masuk dulu aja." Rion lantas fokus pada niat awal. Ia membuka pintu kelas dan masuk bersamaan dengan ketiganya.
"A-apa kita perlu lakuin ini?" tanya Galih, suaranya sedikit bergetar. Melihat penampakan kelas yang berbeda saat siang hari membuat nyalinya ciut juga.
Sempat menyesal karena mengikuti ajakan Rion memainkan permainan gilanya malam ini. Sepulang sekolah tadi, Rion mengajak mereka untuk membuktikan ucapannya dengan memanggil arwah Jisa. Sebab Rion yakin jika hilangnya Filza ada hubungannya dengan Jisa.
Keadaan kelas yang mencekam, sunyi, senyap, nan gelap seolah mendukung aksi mereka. Sejak awal Rion memang melarang untuk menyalakan lampu. Itu salah satu syarat dari pemanggilan arwah yang akan mereka lakukan.
Tak lama tiga perempuan masuk terburu-buru dari arah pintu.
"Maaf, kita terlambat," ujar Mira sambil ngos-ngosan.
Empat pasang mata yang sudah sampai di sana lebih dulu, melihat ketiganya dengan tatapan bingung.
"Kok kalian berdua bisa sama Kinan?" Rion tak tahan untuk bertanya.
"Tadi kita gak sengaja ketemu di depan," sahut Alina.
"Kalian ini mau ngapain?" tanya Kinan dengan wajah datarnya.
"Kita mau—"
"Udah, nanti kamu juga tau," sambar Rion cepat, menjeda jawaban Alina.
Rion memulai ritualnya mengingat personel sudah lengkap, meski dia sebenarnya tidak mengajak Kinan ikut serta. Tapi apa boleh buat, gadis itu sudah ada di sana.
Tujuh anak di dalam ruang gelap tersebut duduk melingkar pada salah satu meja. Rion menyalakan lilin sesuai dengan jumlah orang di sana. Beruntung dia membawa satu dus lilin yang berisi 12 batang.
Setiap orang membawa satu buah lilin. Lalu Rion mengambil papan ouija dari dalam ransel dan meletakkan di tengah meja.
"Kamu punya kayak gituan?" tanya Faris terkejut.
"Sttt! Jangan berisik." Rion buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir.
"Sekarang letakkan satu tangan kalian di papan penunjuk," titahnya kemudian yang langsung dituruti seluruh pemain. "Yang cewek nyanyiin Lingsir Wengi. Sisanya tetap konsentrasi ke arah papan," lanjut Rion.
Membuat setiap pasang mata menatap dengan terkejut. Bibir Mira sudah mulai terbuka, menyanyikan Lingsir Wengi dengan lirih. Menurutnya percuma saja jika mereka berhenti di sini, mereka sudah setengah jalan. Lagipula dia penasaran dengan keberadaan Filza sekarang ini.
Alina dan Kinan menyusul, ikut bernyanyi dengan lirih mengikuti irama tempo dari Mira. Tiba-tiba suasana semakin tegang. Udara di sekitar menjadi lebih dingin padahal semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat.
Aroma bunga menyeruak masuk ke dalam indera penciuman mereka. Nyala lilin bergerak-gerak walau tak ada angin yang menerpa. Atmosfer berubah mencekam saat sesuatu mulai merangkak turun dari langit-langit ruangan.
"Dia datang," ujar Rion seketika menghentikan nyanyian para gadis. Setiap wajah yang disinari nyala lilin itu menampilkan ketegangan.
"A-aku lihat dia," bisik Alina hampir menangis ketika melihat sosok hitam berambut panjang dengan mata menyala berdiri di pojok belakang kelas. Posisinya yang menghadap belakang sungguh tak menguntungkan.
"Silakan ajukan pertanyaan masing-masing." Suara Rion memecah keheningan.
"Aku dulu." Mira mengajukan diri. "Apa ini benar Jisa? Kamu ada di sini?"
Alat penunjuk di papan ouija bergeser seolah mempunyai keinginan bergerak, meski tak ada dari mereka yang mengendalikan. Lalu alat itu menunjukkan kata 'ya'.
Bulu kuduk seketika meremang. Beberapa diantaranya menahan nafas karena takut dan terkejut.
"K-kalo benar Jisa di sini, berapa nomor sepatu kak Heksa?" tanya Alina sambil menunduk. Tak berani mendongak sebab sosok di pojok sana menatapnya dengan tajam.
Pertanyaan itu membuat suasana tegang sedikit ternetralisir.
"Emang gak ada pertanyaan absurd lain?" celetuk Zael.
"Jisa tau betul apapun tentang kak Heksa," sahut Alina masih dengan menunduk.
Alat penunjuk bergerak ke arah angka 4 dan 2. Alina terkesiap, sebab jawaban itu benar. Berarti Jisa benar ada di sana.
"B-benar. Jisa ada di sini," lirihnya gugup.
"Giliranku," sambung Faris. "Apa kamu tau dimana Filza?"
Alat penunjuk mulai bergeser ke tulisan 'ya'.
"Apa kamu yang culik Filza?" sambar Mira tak sabar untuk bertanya.
Dan jawaban Jisa adalah 'tidak'. Membuat seisi kelas itu tercengang dan saling pandang dengan bingung.
"O-oke. Giliranku." Rion angkat bicara. "Kenapa kamu bunuh diri?"
Pertanyaan yang berkecamuk di setiap benak masing-masing akhirnya terlontar. Alat penunjuk tak bergerak dan tetap berada di tulisan 'tidak'.
Deg.
Detak jantung yang semula terpacu kini seakan berhenti berdetak. Berarti dugaan Rion saat di kantin tadi benar adanya.
"Berarti kamu dibunuh?" tanya Galih ikut penasaran.
Kali ini alat penunjuk bergerak menuju tulisan 'ya'. Lagi-lagi raut terkejut terlihat jelas pada setiap wajah yang terkena pantulan cahaya lilin yang bergerak kecil.
"U-udahan yuk? Aku takut," cicit Alina belum berani mendongakkan kepala, namun ekor matanya sempat melirik ke pojok ruangan. Dimana sosok hitam tadi sudah tidak ada di sana.
"Sabar, Alina. Bentar lagi kita tahu faktanya," tahan Rion menenangkan. "Kamu gak mau bertanya?" Diliriknya Kinan yang sedari tadi hanya terdiam.
Mendapat tatapan dari beberapa pasang mata di sana, Kinan terlihat gelisah. "A-aku .... "
"Jisa." Tak kunjung mendapat kelanjutan ucapan gadis itu, membuat Rion kembali bertanya, "Siapa yang bunuh kamu?"
Alat penunjuk bergerak dan mulai mengumpulkan beberapa huruf. Dengan menunjuk pada huruf yang pertama ialah ....
"K." Mereka yang ada di sana mulai mengeja.
"I." Beberapa pasang mata mengerjap bingung.
"N." Rion yang sejak awal mencurigai seseorang sekarang melirik tajam ke arah samping.
"A."
Lalu alat tersebut berhenti di huruf. "N."
Deg.
Jantung Mira terasa dipompa, karena dia berada tepat di samping pemilik nama yang ditunjuk oleh arwah Jisa. Suara saliva yang ditelan susah payah sempat terdengar dari suasana senyap di sana.
"L-lalu d-dimana Filza sekarang?" tanya Mira takut-takut. Sebuah anggapan tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.
Alat penunjuk mulai bergerak dan menunjuk ke arah huruf yang sama seperti tadi, yaitu K. I. N. A. N.
Sekarang setiap pasang mata sudah menjurus pada sosok gadis yang duduk santai di antara Mira dan Rion dengan tatapan tak percaya.
"Sudah kuduga," gumam Rion tak melepas tatapan tajamnya.
"Apa?" tanya Kinan seolah tak terjadi apa-apa.
"Kamu pelakunya. Kamu 'kan yang bunuh Jisa?!" tekan Rion setengah emosi.
Sedangkan yang lain hanya diam. Mereka kehabisan kata-kata karena masih syok dengan fakta ini.
"Hahahaha." Kinan tertawa keras. "Kalian percaya sama permainan bodoh ini? Mana ada arwah bisa dipanggil? Orang yang udah meninggal tuh udah beda alam, mereka gak akan mau ngurusin urusan orang yang masih hidup. Hahaha."
"K-kamu gila," lirih Rion merasa ngeri melihat ekspresi Kinan yang biasanya tenang sekarang terlihat menyeramkan.
"A-apa dia kesurupan?" celetuk Zael bergidik ngeri.
"Ya! Aku udah gila! Gila karena kamu, Rion!" pekik Kinan membuat setiap telinga di sana berdengung. Tatapan tajamnya mengarah pada Rion seolah berniat menerkamnya.
Tak!
Kinan melempar asal lilin di tangannya.
"Jangan di lempar, kita belum selesai!" bentak Rion berdiri dengan wajah pucat. "Kita bertujuh yang memanggil arwah Jisa, maka kita bertujuh juga yang harus kembaliin arwah Jisa ke alamnya. Lilin itu jalan Jisa biar bisa balik. Kalo berkurang jumlahnya maka—"
"JISA! JISA! JISA! Aku muak sama nama itu. Dia udah mati, Rion. Bisa gak sih kamu liat aku bentar aja?!" teriak Kinan seperti kesetanan.
"Terus sekarang gimana?" tanya Zael ketakutan.
Alina dan Mira tak kalah takutnya mereka saling berpelukan dengan lilin tetap dijaga menyala di genggaman masing-masing.
"Syukur lilinnya belum mati. Aku ambil dulu." Rion bergegas ke arah lemparan lilin Kinan yang hampir redup itu.
Tangannya terjulur meraih lilin yang berada di bawah meja. Sebelum lilin tersebut dicapai oleh Rion, sepatu Kinan terlebih dulu menginjak api pada lilin hingga padam.
Wushh ....
Suasana berubah lebih mencekam dari sebelumnya. Suara tawa perempuan yang datang dari setiap penjuru kelas memenuhi ruangan, membuat sakit telinga siapa saja yang mendengarnya.
"A-ayo kita keluar dari sini!" pekik Faris perasaannya mulai tidak enak.
Mendadak lilin yang berada di tangan mereka mati secara bersamaan. Hal itu membuat ruangan sontak gelap gulita tanpa penerangan.
Para gadis sudah berteriak putus asa. Sedangkan sisanya terlihat panik, sebab benda-benda dalam kelas berterbangan tak tentu arah. Faris dan Zael membantu Mira dan Alina mendekati pintu. Galih beringsut ke arah Rion yang sedang bersitegang dengan Kinan.
Kinan tak gentar meski situasi berubah tidak terkendali. Dia tetap fokus pada Rion yang sudah berdiri menghadapnya.
"Aku sudah menyingkirkan Jisa, tapi kenapa kamu tetap saja peduli dengannya?"
Galih terpaku mendengarnya. Berbanding terbalik dengan Rion yang sudah menduga dari awal. Sikap Kinan semenjak kematian Jisa sangat janggal. Dia tidak menunjukkan rasa kehilangan seperti seorang sahabat pada umumnya.
Tak pernah sekali pun Kinan terlihat peduli akan kematian Jisa. Dan yang lebih membuat kecurigaan Rion semakin besar adalah posisi Jisa saat merengang nyawa. Dia seperti ingin memberitahu sesuatu.
Berbeda dengan orang yang memang berniat bunuh diri. Jisa masih mencoba bertahan untuk hidup meski hal itu lebih menyiksanya sebelum menjemput ajal. Tangannya masih sempat bergerak membentuk simbol huruf 'H', dengan menyatukan telunjuk dan jari tengah. Sedangkan tiga jari yang lain tertekuk. Yang Rion artikan sebagai kata 'Help'. Seolah memberi clue bahwa mati bukanlah keinginannya saat itu.
"Jadi kamu beneran bunuh Jisa?" tanya Galih masih belum percaya.
"Aku gak bunuh dia. Cuma suruh dia buat bunuh diri," jawab Kinan enteng.
"Tapi untuk apa?"
"Demi dapetin perhatian Rion."
Kedua lelaki di sana terlihat saling pandang sejenak. Tak lama perhatian mereka teralih pada beberapa lilin yang tiba-tiba menyala. Ketujuh lilin di atas lantai itu menyala dan salah satunya menyambar kaki meja hingga api mulai melebar.
"Rion, kebakaran! Ayo buruan keluar." Galih sontak menarik lengan temannya.
"Selama ini aku suka sama kamu, Rion. Tapi kamu hanya melihat Jisa tanpa mau menoleh ke arahku. Membuatku geram dan ingin menyingkirkan Jisa saat itu juga."
Galih tak memperdulikan Kinan yang masih berceloteh. Berusaha menyeret Rion yang menyimak ucapan Kinan.
"Stop, Galih! Kamu mau biarin Kinan mati di sini? Setidaknya bawa dia sekalian, biar dia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya." Rion menepis tangan Galih.
"Tapi dia physco, Rion!" bentak Galih meraup kasar wajahnya.
Rion menoleh pada Kinan yang mulai berteriak histeris.
"Aku bunuh Kinan demi kamu, Rion! Aku juga yang udah bunuh Filza biar dia bisa bungkam seumur hidup!"
"Tunggu, Galih! Kinan tau sesuatu tentang Filza, apa kamu gak denger?" Rion berontak dari cengkeraman Galih yang semakin diperkuat.
"Bodoamat! Keselamatan kita lebih penting." Galih tetap pada pendirian. Membawa paksa Rion keluar dari kelas, dimana empat teman mereka sudah berteriak memanggil namanya dan Rion di luar sana.
"Jisa! Aku gak takut sama kamu! Sini kalau berani," teriak Kinan di tengah kobaran api yang kian membesar.
Dari atas langit-langit muncul sosok hitam yang menyerupai Jisa. Kinan memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas.
"Hey, arwah jadi-jadian! Kita udah beda alam, mending kamu balik ke asal sana!" hardik Kinan tanpa rasa takut sedikit pun.
Rion dan Galih sudah sampai di luar kelas. Terlihat Mira sedang menghubungi bala bantuan dengan ponselnya. Mereka sempat melihat tubuh Kinan yang terpanggang hidup-hidup dari luar jendela kelas.
Alina terduduk lemas sambil menangis tersedu-sedu. Keempat lelaki di sana ikut lesu mendengar jeritan memilukan dari dalam kelas sebelum menghilang digantikan dengan suara kobaran api.
Beberapa hari kemudian, jasad Filza ditemukan di dalam loker milik Kinan yang terkunci dari luar, dengan keadaan mengenaskan. Tangan dan kaki terikat kuat. Mulutnya disumpal dengan kain dan tubuh yang dipenuhi luka dimasukkan dalam plastik besar.
Flashback ....
Filza berlari terbirit-birit di koridor setelah arwah Jisa menampakkan wujud di hadapannya. Tak memperdulikan Alina yang masih berada di dalam sana. Rasa takut akan kematian membuatnya memilih untuk meninggalkan temannya itu.
Brugh!
"Awh," rintihnya mengelus dahi saat tak sengaja dia bertabrakan dengan Kinan yang datang dari arah berlawanan.
"Kamu ini kenapa?" tanya Kinan terlihat kesal sebab dahinya juga ikut memerah.
"J-Jisa ... Dia datang mau bunuh aku. Aku takut, apa gak sebaiknya kita mengaku saja?" Filza memegangi bahu Kinan dengan tatap gelisah.
"Kamu mau masuk penjara?"
Filza menggeleng lemah.
"Kalau begitu tutup mulutmu," imbuh Kinan menepis tangan Filza lalu melanjutkan langkahnya ke arah loker.
"Ini semua salahmu. Kamu yang punya ide buat singkirin Jisa. Aku cuma pancing dia masuk ke kelas waktu pelajaran olahraga. Dan aku bantuin kamu karena mengira kita bisa kerjasama dapetin Rion, tapi aku gak mengira kamu bakal sekeji itu." Filza mulai emosi mengungkit-ungkit kejadian kala itu.
"Kamu mencekik leher Jisa menggunakan tali sampai pingsan. Lalu merekayasa kejadian seolah itu adalah kasus bunuh diri dengan menggantung leher Jisa di langit-langit kelas," lanjut Filza sesuai apa yang dua lihat saat itu.
Wajah tersiksa Jisa sebelum meregang nyawa teringat betul dalam benaknya. Setelah melihat tubuh Jisa tergantung, Filza segera berlari ke luar kelas menyusul teman-temannya yang berada di lapangan dengan wajah pucat.
Tangan Kinan terkepal kuat mendengar Filza memaparkan kesalahannya. Dia menerjang tubuh Filza dan menikam jantung gadis itu beberapa kali dengan pisau lipat yang selalu bersemayam dalam saku roknya.
Tak sengaja Kinan menemukan plastik bekas kulkas kantin di antara tumpukan benda di gudang. Diikatnya tangan dan kaki Filza, lalu menyumpal mulutnya dengan kain lap. Kemudian lekas memasukkan tubuh tak berdaya itu ke dalam plastik sebelum lebih banyak darah berceceran di lantai.
Usai menyimpan tubuh Filza dalam loker, Kinan kembali ke kelas dengan wajah tenang seperti tak terjadi apa-apa. Bahkan senyum kemenangan sempat terukir di wajahnya.
Beberapa hari sebelum kematian Jisa ....
"Kinan." Panggilan Jisa mengalihkan perhatian Kinan dari ponselnya.
"Apa?" tangannya saat gadis ceria itu mendudukkan diri di sebelah.
"Masa tadi Rion bilang nerima aku jadi pacarnya," adu Jisa membuat Kinan terdiam di tempat. "Kapan aku nembaknya coba? Kamu 'kan tau sendiri aku sukanya sama kak Heksa. Tapi kata Rion tadi, dia dapet surat di loker. Dia yakin kalo itu dari aku." Jisa mengingat-ingat.
"Terus kamu terima dia?" Kinan merespon.
Jisa mengangguk pelan. "Aku coba jalanin dulu aja. Gak cocok ya putusin hehe."
"Enak ya jadi kamu. Gak perlu usaha keras buat dapetin sesuatu yang orang lain inginkan." Kinan tersenyum getir.
Mengingat dialah yang menaruh surat tersebut di loker Rion. Kinan yakin sudah mencantumkan namanya, tapi kenapa Rion masih mengira surat itu dari Jisa?
"Maksud kamu apa?" tanya Jisa tak paham.
"Suatu saat kamu juga bakal ngerti. Hal yang menurutmu remeh ternyata begitu berharga bagi orang lain. Rasanya nyesek saat kita udah berusaha semaksimal mungkin tapi hasilnya nol. Tapi saat orang lain niatnya cuma setengah-setengah malah dia yang berhasil."
"Itu namanya hoki."
"Coba kita lihat hoki kamu sampai dimana," sahut Kinan dengan senyum yang sulit diartikan.