Seorang gadis berdiri di pinggir jalan sambil mendengus kecil. Sesekali dia melihat jam kecil setara harga satu kilo daging ayam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Petang ini Tya tengah menunggu jemputan untuk menuju rumah teman satu kampus. Siska memintanya membantu mengerjakan tugas kuliah dan bersedia membayarnya. Mendengar akan mendapat upah, jiwa misqueen Tya sontak meronta-ronta.
Nominal sekecil apapun bagi Tya adalah rejeki. Himpitan ekonomi yang diderita membuat Tya harus ekstra menguras keringat agar bisa memenuhi kehidupannya. Terlebih dia harus membiayai kuliah sendiri.
Tin ... Tin ....
Suara klakson mengagetkan Tya. Tanpa banyak bertanya dia segera membuka pintu dan memasuki mobil mewah yang sudah berhenti tepat di hadapannya. Rasa kagum membuat dia lupa bertanya apakah dia menuju ke arah tujuan yang benar.
Mobil tersebut membawa Tya ke sebuah villa di pinggir kota. Sedangkan rumah Siska tak jauh dari tempatnya menunggu tadi. Jarak tempuh yang lumayan jauh membuat Tya tertidur dalam perjalanan.
"Nona, kita sudah sampai," ujar sang sopir sudah menghentikan laju mobilnya.
"Nona?" Sopir itu menoleh ke belakang. Lalu mendengus lirih saat menyadari penumpangnya sedang tertidur pulas. "Merepotkan saja."
Dengan berat hati sopir tersebut mengangkat tubuh ramping Tya menuju kamar yang sudah disediakan oleh majikannya.
"Pedro?" panggil seseorang pada sang sopir sebelum saat hampir menapaki tangga.
"Ya?" Pedro menoleh.
"Siapa yang kau bawa?" tanya seseorang yang berposisi sebagai tangan kanan bos mereka.
"Wanita pesanan tuan
Pria bernama Edrick itu mengamati wajah polos Tya yang tengah tertidur. Alisnya hampir tertaut. "Apa kau yakin? Dia terlihat masih sangat muda. Bahkan bajunya terlihat sopan, tidak seperti wanita yang biasa tuan Lucio pesan."
"Tapi aku menjemputnya di tempat yang sudah dijanjikan. Positif thinking saja, mungkin dia anak baru." Pedro melanjutkan langkahnya menapaki tangga hingga sampai di kamar tuannya di lantai dua.
"Semoga dugaanmu benar. Entah kenapa perasaanku tidak enak," gumam Edrick sebelum kembali ke tempatnya.
Hampir tengah malam Tya baru saja terbangun dari tidurnya. Keterkejutan merayap dalam diri tatkala menyaksikan ruangan asing saat baru saja membuka mata.
"A-aku dimana?" erangnya mengingat-ingat kenapa dirinya bisa ada di sana. "Tadi 'kan aku dijemput sopirnya Siska. Apa ini rumah Siska? Tapi kenapa dia tidak membangunkanku?
Berbagi pertanyaan berkecamuk di kepala Tya yang mulai pening. Bergegaslah dia menuju arah pintu guna memastikan bahwa dia tidak salah jemputan.
Ceklek.
Jemari Tya belum sempat menyentuh kenop pintu, namun pintu di depan sudah terlebih dulu dibuka oleh seseorang.
Tya mematung di tempat menyaksikan sosok pria tinggi tegap dengan wajah terbingkai sempurna. Bahkan dia harus mendongak agar dapat melihat mata tegas pria itu.
"M-maaf .... " Belum sempat Tya melanjutkannya untaian katanya, pria tersebut masuk begitu saja dengan tak acuh. Melewati tubuh Tya yang masih terpaku tanpa menatapnya.
"A-apa itu ayah Siska atau Om-nya?" monolog Tya tidak berani menoleh ke belakang.
"Hey!" Pria itu bersuara dengan lantang.
Sedangkan Tya masih di sana. Berdiri dengan kikuk di ambang pintu.
"Astaga! Apa mereka memberiku anak baru?" geram Lucio mendekat pada Tya lalu menarik kasar tangannya seraya menutup pintu dengan keras.
Brugh!
Lucio menghempaskan tubuh Tya di atas ranjang.
"Setidaknya kau bisa merespon panggilanku meskipun anak baru!" bentak Lucio sudah tak sabar sebab sesuatu di bawah sana mulai berulah.
"T-tunggu! Anda ini siapa?" Tya yang belum memahami situasi mulai berontak.
"Lain kali aku akan protes kalau mami Rosi memberiku barang baru seperti ini. Sialnya aku sudah tidak bisa menahan diri. Mari kita mulai." Lucio sudah mengawali ritual malamnya.
"Kyaa! Apa yang kau lakukan?! Lepas!" pekik Tya tak dihiraukan oleh Lucio.
Lucio adalah seorang CEO perusahaan ternama di kota tersebut. Namun tak ada orang luar yang tahu jika pria dewasa itu memiliki sisi gelap. Dia suka menyewa wanita dari tempat langganan untuk menemaninya setiap malam.
Hanya pekerja di rumahnya saja yang paham dengan kebiasaan bosnya. Sempat gagal dalam menjalin hubungan dengan seseorang membuat Lucio enggan mendekati wanita lain untuk berhubungan yang serius. Baginya wanita hanya sebagai pemuas setiap malam saja.
Drrtt ... Drrtt ....
Lucio terbangun karena terganggu dengan dering ponsel yang terus berbunyi. Sempat dilihatnya gadis di samping. Yang tergolek lemah hanya mengandalkan selimut guna menutupi tubuh polosnya, sebelum meraih ponsel di atas meja.
"Apa?! Kenapa menggangguku malam-malam begini? Apa kau tak paham aku sedang istirahat?!" ketus Lucio pada si penelpon.
"Tuan, sepertinya Pedro sudah salah jemput—"
Pip.
Lucio mematikan sambungan dengan geram. Dia tak suka diganggu saat jam pribadi seperti ini. Terlanjur bangun, Lucio kembali menikmati hidangan makan malamnya yang terasa lebih nikmat dibanding malam sebelumnya.
"Anak baru memang tidak ada duanya. Masih sangat segar, tapi sayangnya dia tidak bisa melayaniku dengan baik," erang Lucio disela aktivitas.
Tya nampak tak bergeming, entah tertidur atau pingsan. Yang jelas dia terlalu lelah karena meronta dan meraung. Belum lagi merasakan rasa sakit yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seolah aktivitas malam itu lebih menguras energinya dibanding berkutat dengan buku tebal di perpustakaan.
Tok Tok Tok
Hampir saja Lucio melempar benda keras ke arah pintu sebab benda kayu itu terus diketuk. Dengan enggan pria kekar tersebut beranjak dari ranjang. Sosok wanita yang menemaninya tadi malam sudah tak ada di tempat.
Namun terdengar suara air dari arah kamar mandi. Lucio yakin wanita itu sedang ada di dalam sana. Langkah lebar buru-buru Lucio kerahkan agar mencapai pintu dengan cepat. Berniat memukul kepala orang yang berani mengganggunya di pagi buta seperti ini.
Ceklek.
"Aku harap kau segera mengatakan keperluanmu sebelum bogemku mendarat di wajahmu," desis Lucio seraya mengepalkan tangannya.
"Maaf, Tuan. Ada informasi penting yang harus saya sampaikan." Edrick menunduk dalam dengan wajah gelisah.
"Katakan."
"Sepertinya Pedro sudah salah menjemput, Tuan. Tadi malam wanita pesanan Tuan datang kemari karena tak tunjung di jemput. Mami Rosi juga minta maaf sebab keterlambatan pekerjanya."
Lucio mengerutkan keningnya hingga guratan tipis tercetak jelas di wajahnya. "Maksudmu wanita yang aku pakai tadi malam bukan pekerja mami Rosi? Berarti aku sudah menodai gadis tak bersalah karena Pedro sudah salah jemput?"
"B-benar, Tuan. Itu terdengar kejam tapi begitulah kejadiannya," balas Edrick hati-hati.
"Arghh! Sialan! Suruh Pedro ke ruanganku setelah ini."
"Baik, Tuan."
Brak!
Lucio membanting pintu dengan frustasi. Ekor matanya mengarah pada pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Dilangkahkan kaki menuju tempat tersebut dengan perlahan tapi pasti. Entah kenapa rasa gugup seketika menyerang hatinya.
Padahal dia bisa saja bersikap tak acuh lalu membayar gadis itu sesuai dengan yang dia minta. Ternyata rasa kemanusiaan masih bersemayam dalam hati hingga perasaan aneh itu mendominasi dirinya.
Tok Tok
"Hey, apa kau masih ada di dalam?" tanya Lucio khawatir sebab Tya sudah terlalu lama di kamar mandi.
Ceklek.
Tak lama seorang gadis dengan rambut basah menyembul dari balik pintu. Wajahnya terlihat pucat. Jika diperhatikan lebih detail, kulit pada jemarinya nampak keriput. Tanda dia terlalu lama berada di dalam air.
Lucio membimbing Tya duduk di atas ranjang. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Pria itu paham, Tya sedang kedinginan.
"Maaf .... " lirih Lucio tak sengaja melihat bercak kemerahan di atas seprei saat menarik selimut tadi.
Gadis di sampingnya mulai menangis. Perasaan bersalah menyelimuti hati Lucio. Direngkuhnya tubuh yang bergetar kecil itu ke dalam dekapan.
"Anda pikir hanya dengan kata maaf semuanya bisa kembali seperti semula?!" bentak Tya menepis kasar tangan Lucio lalu menciptakan jarak yang signifikan diantara mereka.
Mata sembabnya membuat hati Lucio tersentuh. Tak ada satu orang pun yang berani berbuat kasar pada seorang Lucio sebelumnya. Tapi kali ini dia mengaku salah.
Lucio membuang kasar nafasnya. "Aku bersedia menikahimu."
Tya tak menyangka sesuatu yang dia anggap kesialan mampu merubah seluruh hidupnya. Status sosial langsung melejit bak roket yang baru lepas landas. Menikah dengan CEO tampan meski terpaut umur yang bisa dibilang lumayan, ternyata tak seburuk yang dia kira.
Hari itu Tya memutuskan untuk menerima Lucio sebagai calon suami sekaligus calon ayah dari anak-anaknya kelak.