07. - INDAHNYA TARIAN DALAM RINAI HUJAN -
Hari masih pagi, ketika kami tiba di sekolah. Sayup-sayup ... aku mendengar senandung merdu dan itu berasal dari toilet wanita. Aku melangkahkan kakiku menuju ke toilet diikuti oleh Cindy dan teman-teman hantunya juga Rita. Tak lama kemudian kami pun tiba dan disana Yunita duduk di atas pasak-pasak kayu penyangga atap. Dia seakan tak mempedulikan kedatangan kami, dia terus bersenandung, sementara pandangannya menatap ruangan kosong. Untuk sesaat kami terpana dengan lagu yang dinyanyikannya. Benar-benar lagu yang sendu, tapi, enak didengar oleh telinga kami. Tanpa terasa Estefanny dan Febiola ikut-ikutan memainkan alat-alat musiknya. Kami tak bisa menceritakan bagaimana indah dan merdunya lagu yang mereka mainkan.
Beberapa saat kemudian, lagu yang mereka mainkan berhenti dan Yunita mengalihkan perhatiannya ke arah kami. Tubuhnya melayang turun perlahan dan berdiri di hadapan kami, detik berikut ia membuka mulutnya dan berkata, “Lagu yang kunyanyikan tadi, Judulnya Room Of Angel. Iringan musik kalian benar-benar membuatku hanyut dan mengingatkanku pada kejadian di masa lalu. Masih segar dalam ingatanku .... siang itu hujan turun. Titik-titik airnya yang lembut menerpa wajahku. Segar sekali rasanya, dan mendadak saja tubuhku bergerak kesana-kemari. Ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, ke segala penjuru mata angin. Terkadang aku menyentakkan kakiku ke depan, ke atas, kesamping kanan atau kiri, terkadang aku menggerakkan tanganku, dan menarik tubuhku ke belakang, hujan seakan menjadi alunan musik dan cahaya kilat bagaikan lampu latar yang indah. Aku tak sadar bahwa Allan berdiri tak jauh dari tempatku menari, dia benar-benar menikmati tarianku.
Dia berkata, ‘Tarian kamu bagus dan indah sekali. Bisakah kau menari sekali lagi untukku, aku menyukai tarianmu itu,’
“Aku tak keberatan, aku rela melakukan sebanyak yang dia minta. Hingga pada suatu hari, dia ikut-ikutan menari bersamaku. Dia mengiringi tarianku, dan kami menari dalam guyuran air hujan. Aku merasa bahagia sekali saat menari bersamanya, aku tak peduli seberapa deras hujan mengguyur, kami menari, menari dan terus menari. Itu adalah salah satu dari banyak kenangan saat bersamanya. Seandainya, aku bisa memutar balik waktu, kuingin meraih kenangan itu dan takkan kulepas lagi. Akan tetapi, semuanya sudah berakhir sekarang, berakhir saat aku melihat tubuhku menggantung di salah satu dahan pohon beringin,” kata Yunita.
“Apakah kau mengenal Sophia ? Sophia Van Koef ?” tanyaku. Mendengar nama Sophia disebut-sebut, sepasang mata Yunita menerawang ke langit-langit ruangan toilet seakan hendak menembus atap. Lagi ... dia membawa kami menuju lorong waktu dimana ia masih hidup.
Sophia adalah seorang wanita cantik, puteri dari keluarga Liefderyk namun, diangkat sebagai anak oleh keluarga Van Koef. Tampaknya dia adalah salah satu alat dari keluarga Van Koef untuk merebut harta warisan Keluarga Liefderyk. Menikahkan Sophia puteri Liefderyk dengan Andrew Van Koef adalah salah satu rencana licik yang disusun oleh Alexander Van Koef. Jika Leonard Liefderyk meninggal, secara tidak langsung Andrew akan menerima hak waris sepenuhnya meski statusnya adalah menantu.
Selain rela menikah dengan Andrew, Sophia mempunyai rencana lain yakni : mendekati Allan. Sejak pertama kali bertemu dengan Allan, Sophia jatuh cinta padanya, tapi, Allan hanya menganggap Sophia sebagai adik. Semua orang punya rencana dan tujuan, semua orang boleh menggunakan segala hal demi meraih apa yang diinginkan, tapi, jika Tuhan berkehendak lain, semuanya itu sia-sia. Demikian pula halnya dengan rencana Sophia, apa yang diinginkan kandas di tengah jalan, terlebih saat kehadiran Yunita dalam keluarga Van Koef.
Setelah Allan menyatakan perasaannya pada Yunita, mereka semakin gencar mengadakan pertemuan secara diam-diam. Tapi, hubungan cinta itu tak luput dari perhatian Sophia. Wanita cantik itu benar-benar tersiksa saat melihat mereka berdua bertemu, bercanda, bercerita dan bercumbu bersama. Tapi, Sophia memilih untuk diam, sekalipun tahu bahwa tindakan mereka benar-benar tak pantas dilihat orang, mengabaikan segala adat-istiadat dan norma-norma kesusilaan serta kebudayaan yang ada di negeri ini.
“Kalian, masih terlalu muda untuk mendengar semua yang kami lakukan. Aku tahu itu adalah sebuah dosa besar ... dosa yang tak terampuni. Tapi, aku sendiri juga bodoh terlalu percaya dan berharap pada janji-janji manis yang diucapkan oleh Allan. Dia pernah berjanji padaku, untuk mengambilku sebagai isterinya,” kata Yunita.
Yunita kembali bercerita, hingga pada suatu hari, suaminya meninggal tanpa sebab yang jelas. Usia perkawinan Yunita dengan sang suami yang berlangsung lebih kurang 30 tahun harus berakhir. Inilah kesempatan bagi Yunita untuk menagih janji pada Allan, tapi, Allan selalu menghindar dengan mengatakan, “Kamu tenang saja dulu. Saya pasti menikahi kamu dan dengan demikian kita bisa merenda masa depan bersama-sama. Waktunya masih belum tepat,”
Hingga pada suatu hari, seperti biasa, Yunita dan Allan menghabiskan waktu bersama saat orang tuanya sedang keluar kota. Siang itu Allan memanggil Yunita ke kamarnya, Yunita tahu apa yang diinginkan oleh Allan. Yah, saat mereka berdua berada di dalam kamar yang terkunci rapat, mereka selalu berhubungan intim. Itu sudah terjadi berulang kali, tapi, lolos dari perhatian orang tua kecuali Sophia. Mereka memadu kasih, merekuh kepuasan dan kenikmatan dari apa yang dinamakan : CINTA. Setelah semuanya selesai, mereka berbaring bersama dalam keadaan tanpa busana.
Akan tetapi, hari itu orang tua Allan yang ada di luar kota mendadak pulang dan Sophia pun tak ada di rumah sehingga tak ada yang mengawasi apa yang dilakukan oleh Allan dan Yunita. Saat dua muda-mudi itu setengah tertidur, Yunita mendengar pintu kamar Allan diketuk orang. Tamu tak diundang itu adalah Alexander Van Koef, Ayah Allan.
Karena kesal dan tak ada jawaban, pria berusia sekitar 65 tahun itu mendobrak pintu, sepasang matanya terbelalak manakala mendapati Allan tengah tidur bersama Yunita, “Apa-apaan ini ?!” serunya dengan suara tinggi. Melihat pintu terbuka lebar dan sang Ayah berdiri dengan wajah yang merah padam, Allan tetap tenang sementara Yunita buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut, “Ma ... ma... maaf Tuan Besar,” katanya gugup sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai kamar.
“Jangan salahkan dia, Ayah. Sayalah yang bersalah, saya telah lepas kendali,” ujar Allan tetap tenang.
“Kalian berdua sudah melakukan kesalahan besar !! Dosa kalian tak terampuni !!” bentaknya sambil meraih gagang pistol yang kemudian ditodongkan ke arah Yunita, Yunita memejamkan mata. Ia pasrah dan sadar bahwa hidupnya tak lama lagi berakhir. “Dor !!!” bunyi letusan pistol terdengar cukup keras, Yunita menjerit tertahan. Tak ada luka di tubuhnya, pandangannya tertuju pada Allan yang tengah bergulat dengan Ayahnya, pistol yang digenggam oleh sang Ayah meletus berkali-kali melubangi langit-langit kamar.
“Jangan Ayah !! Jika Ayah membunuhnya, maka, Allan juga tak ingin hidup lagi,” Allan berusaha menenangkan Ayahnya yang kalap, “Yunita, kamu kenakan dulu pakaianmu, lalu keluarlah. Saya yang bertanggung jawab,” sambung Allan. Tanpa disuruh dua kali, Yunita buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari keluar. Di luar ia bertemu dengan Elizabeth Van Koef, Nyonya besar itu berdiri dan menatap penampilan Yunita yang berantakan. Ditatap seperti itu, Yunita tak kuasa menangis sejadi-jadinya, “Nyonya ... saya bersalah besar. Hari ini juga saya akan keluar dari rumah ini,” setelah itu ia berlari hendak meninggalkan rumah Keluarga Van Koef.
“Tunggu dulu. Apa yang terjadi ?” tanya Elizabeth Van Koef yang sebenarnya sudah mengerti kejadian yang menimpa Allan, Yunita dan suaminya.
Yunita menangis tersedu-sedu, ia berlutut di hadapan majikan perempuannya ini, lalu dengan terisak-isak menceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturan Yunita, Elizabeth Van Koef sebenarnya marah besar, tapi, sebisa mungkin ia tak menyembunyikan perasaannya itu sambil berkata, “Rapikan dulu penampilanmu yang berantaka itu. Setelah itu kita bicara baik-baik, jangan sekali-kali kau meninggalkan tempat ini sebelum berteemu lagi dengan saya. Sementara saya akan mencoba untuk melerai pertikaian ayah dan anak itu,” katanya sambil memberi isyarat pada Yunita untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
Perlu waktu yang cukup lama untuk mencairkan suasana yang panas itu, sementara, Yunita yang tak bisa menahan rasa malu, ia pergi meninggalkan rumah keluarga Van Koef diam-diam. Hari-hari selanjutnya, ia tak pernah lagi menginjakkan kakinya ke rumah keluarga Van Koef. Di pihak Allan, pemuda yang baru mendapatkan dirinya kembali saat putus dengan Mira dan bertemu dengan Yunita, kembali terpuruk. Terlebih lagi saat berkunjung ke rumah Yunita, ia tak mendapati wanita pujaan hatinya itu disana. Ia tidak lagi memperhatikan keadaannya, setiap hari hanya minum-minum dan melamun.
Baik Allan maupun Yunita sama-sama terpukul. Hubungan cinta mereka yang sudah dibina selama 10 tahun itu harus kandas di tengah jalan. Saat putus asa, iapun memilih menikah dengan wanita lain, sekalipun ia tak mencintai wanita itu. Di pihak Sophia, wanita itu harus rela menahan sakit hati untuk kesekian kalinya. Sophia berusaha untuk mencari keberadaan Yunita yang tak ketahuan rimbanya, dan usaha Sophia ini tak sia-sia. Waktu itu, ia berada di kawasan para werknermer (Buruh) yang kumuh. Disana ada sebuah rumah kecil, pada rumah itu ada bendera hijau dengan gambar 2 garis melintang. Orang di sekitar sana mengatakan bahwa itu adalah rumah Ki Jogorogo, ayah Yunita. Ki Jogorogo meninggal 7 hari yang lalu dan anak-anaknya sedang berkumpul. Yunita dan Keting.
Sophia bertemu dengan Yunita dan kakaknya. Ia merasa iba sekali melihat keadaan rumah itu, terlebih melihat keadaan Yunita yang kurus dan lesu.
“Bagaimana keadaanmu sekarang Yunita ?” tanya Sophia.
“Yah, seperti inilah keadaan saya sekarang. Mau apa lagi ?” jawabnya dengan nada tak bersemangat seperti yang pernah dilihat Sophia saat masih berada di rumah keluarga Van Koef.
“Saya ikut berduka atas meninggalnya Ayah kamu,” ujar Sophia prihatin.
“Terima kasih,” ujar Yunita dengan nada datar.
“Apakah kamu tak ingin kembali bekerja di rumah Keluarga Van Koef ?”
“Kau tahu sendiri, bukan ? Apa yang saya harapkan lagi disana ? Di rumah itu terlalu banyak kenangan pahit. Masih punya mukakah saya untuk kembali bekerja disana ? Pertanyaan Nona Sophia terlalu konyol,”
“Hei, bukankah kau salah seorang anggota dari Keluarga Van Koef ?” tanya seorang wanita yang duduk di sebelah kanan Yunita dengan nada ketus.
Sophia mengangguk, “Benar ? Siapa kamu ?” tanyanya.
“Aku adalah kakak Yunita, namaku Keting,” kata Keting, “Gara-gara bocah bernama Allan itu, adikku jadi seperti ini ! Bagaimana tanggung jawab kalian, ha ?! Seandainya saja tak ada kejadian itu, tak mungkin adikku jadi kusut seperti ini. Bagaimana kalian harus bertanggung jawab ?!” sambungnya.
“Kak, sudahlah ... aku rela menerimanya. Ini adalah kesalahanku sendiri,” ujar Yunita.
“Wanita tolol ! Masih saja kau membelanya,”
“Bukannya membela, kak ... dia adalah tamu kita. Maka, kita harus menerimanya dengan baik,” bela Yunita.
“Keluarga Van Koef ! Apa yang bisa diberikan kepadamu ?! Lihat dirimu sekarang ini. Gara-gara pemuda bernama Allan itu, kau seperti sepatu bau, baju robek yang dibuang oleh pemiliknya,”
“Kak... sudahlah. Perkataanmu tak enak didengar. Maafkan kakak saya Nona Sophia. Kami masih dalam keadaan berkabung atas kematian Ayah kami. Jadi, kami sembarangan bicara,”
Sophia hanya tersenyum, “Jangan sungkan. Kedatangan sayalah yang tidak tepat, sekarang juga saya mohon diri,” katanya sambil berdiri perlahan. Pada saat itulah sesuatu terjatuh dari sakunya, tentu saja pandangan Yunita dan Keting tak bisa melepaskannya, “Apa itu, Nona ?” tanya Yunita.
Sophia buru-buru memungut benda yang terjatuh dari sakunya, “Maaf. Seharusnya aku tak menjatuhkannya,” katanya.
Keting kesal, buru-buru ia merebut benda dalam genggaman Sophia dengan kasar dan ‘Krek !!” benda itu terpotong menjadi 2 bagian. Yunita bisa melihat bagian yang sobek itu. SURAT UNDANGAN. Pada surat itu tercantum sebuah nama yang cukup familiar di hati Yunita “ALLAN VAN KOEF”
Hati Yunita serasa tercabik-cabik menjadi beberapa bagian. Wajahnya merah padam. Ia merasakan adanya hawa panas menjalar dari ujung jari kakinya menuju ke setiap bagian pembuluh darah dan aliran nadi.
“TTTIIIDDDAAAKKK MMMUUUNNNGGGKKKIIINNN !!!!”
Teriakannya menggema seakan hendak merobek-robek seisi alam semesta. Bunyi hewan dan serangga malam yang mengalun merdu seketika itu terdiam. Mereka seakan ikut merasakan kepedihan hati Yunita yang sudah lama terpendam semenjak ia melngkahkan kakinya keluar dari rumah Keluarga Van Koef. Selesai berteriak, Yunita merasakan kepalanya berdenyut-denyut, sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga. Iapun roboh pingsan.
____
Beberapa hari setelah mendengar kabar itu, Yunita pergi mengunjungi rumah Sophia yang letaknya tak jauh dari rumah keluarga Van Koef. Penampilannya kini berbeda, dia tampak cantik menawan dengan gaun putih pemberian Allan sewaktu masih menjalin cinta terlarangnya. Begitu bertemu dengan Sophia, ia tersenyum manis. Ia berbicara mengenai masa lalu, ia berbicara mengenai tarian dalam rinai hujan. Sophia merasa aneh dengan perubahan sikap Yunita ini. Ia pun merasa lebih santai saat berbicara dengan Yunita, hubungan mereka bagaikan kakak-adik.
Yunita sempat menginap beberapa hari di rumah Sophia sambil membantu nona muda itu membereskan peralatan rumah tangganya, mencuci pakaiannya dan menemaninya bercerita. 1 minggu kemudian, Yunita pergi tanpa pamit, ia hanya meninggalkan sebuah amplop coklat dan sebuah surat yang berisi :
“Nona Sophia, beberapa hari belakangan ini, nona menghibur saya, membantu menemukan diri saya kembali yang sudah terpuruk.
Saya tahu, cinta tak harus memiliki sekalipun kita berjuang untuk mewujudkannya. Terus terang apapun yang telah Tuan Muda Allan perbuat pada saya ... saya rela menerimanya meski, toh akhirnya kejadiannya seperti ini. Hati saya benar-benar sakit. Kita mencintai dan menyayangi orang yang sama, kita pun sama-sama tahu bahwa apa yang kita lakukan, sia-sia belaka. Saya ingin tertawa manakala mengingatnya, saya pun menangis manakala mengingat betapa sakit hati ini melihat perlakuannya, tapi, air mata ini serasa kering.
Nah, nona jika kelak bertemu dengan Tuan Muda Allan tolong sampaikan surat bersampul coklat itu padanya. Saya tidak bisa menyerahkan surat itu sendiri manakala mengingat, betapa malunya saya di hadapan Tuan dan Nyonya Van Koef. Ijinkanlah saya meminta bantuan Nona sekali ini saja. Bisa, bukan ?
Saya akan pergi jauh, entah kapan, kembali. Tapi yang jelas kelak jika kita kembali bertemu, mudah-mudahan hubungan kita tetap seperti beberapa hari belakangan ini. Akrab bagaikan Kakak-Adik. Terima kasih atas apa yang telah Nona perbuat untuk saya belakangan ini. Dan, mohon dimaafkan jika ada perbuatan saya yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah menyinggung hati nona. Selamat tinggal, Nona ....
Tertanda
Yunita “
____
Yunita mengakhiri ceritanya, aku bisa melihat wajahnya yang murung, dan aku benar-benar merasa iba kepadanya. Aku tak tahu bagaimana caranya agar sosok itu bisa melupakan masa lalu yang manis, namun, harus berakhir dengan pahit. Aku tahu, itu adalah ingatan terdalam dan tak mungkin bisa dilupakan. Aku hanya bisa membayangkan, bagaimana jadinya, jika pengalaman Sri Menur, Sophia dan Yunita itu terjadi pada wanita-wanita lain yang masih berkelana di dunia ini. Untuk sesaat suasana di tempat itu sepi, semuanya membisu. Kini aku tahu mengapa begitu hujan turun, dia selalu menari. Aku tahu mengapa lagu yang tadi ia nyanyikan benar-benar membuat kami semua hanyut dalam setiap kata yang dinyanyikan. DIA MASIH MENGHARAPKAN APA YANG MASIH MENJADI IMPIAN DAN HARAPANNYA yang sudah pupus ditelan waktu. Tapi, yang tidak kumengerti adalah, mengapa sosok-sosok seperti mereka harus mengalami nasib yang naas, padahal setahuku, semuanya telah menjalankan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai manusia ciptaan Tuhan meski terkadang tak jarang mereka salah dalam melangkah, karena sifat manusianya yang lemah dan tak berdaya.
“Apakah kau juga tahu, bahwa suratmu tak pernah sampai di tangan Allan ?” tanya Cindy memecahkan kesunyian. Yunita mengangguk, “Sebenarnya, Sophia sudah menyampaikan suratku itu pada Allan. Tapi, pemuda itu sepertinya tak memberikan tanggapan, ia hanya murung. Maka, surat itu terpaksa dibawa kembali oleh Sophia,” jawab Yunita, “Sudahlah, biar bagaimana pun, aku rela menanggung dosa ini. Aku merasa bersalah pada semua orang. Terlebih pada almarhum suamiku, karena aku selama dia hidup tak bisa memberikan yang terbaik untuknya,”
“Saat kau masih ada di dunia ini, kau adalah seorang wanita yang tegar dalam menghadapi segala cobaan hidup,” pujiku.
“Tidak juga. Aku baru menyadari semua kesalahanku saat sudah menjadi arwah dan merenung sendirian. Dulu sewaktu masih hidup, aku menganggap apa yang dikatakan ibuku tentang tabah dan menerima adalah bohong. Terlebih lagi saat Allan mencampakkanku. Aku tidak bisa menerimanya,”
“Lalu apa hubungan ceritamu dengan kejadian yang ada di sekolah ini ?” tanyaku.
“Tentunya kau masih ingat dengan KELUARGA VAN KOEF dan KELUARGA LIEFDERYK ?! Sekalipun menurut orang 2 keluarga itu hancur oleh serbuan Tentara Nippon. Tapi, sebenarnya .... baik Keluarga Liefderyk dan Keluarga Van Koef, semuanya adalah orang-orang yang penuh dengan siasat licik dan rencana terselubung. Kau bisa melihat semuanya itu di ruang bawah tanah,” jelas Yunita.
“Ruang bawah tanah ?” tanyaku, “Dimana itu ?”
“Tempat itu tak jauh dari ruangan kelasmu,” jawab Yunita.
“Ruang kepala sekolah ?” sahut Rita, “Benarkah ruangan bawah tanah itu ada disana ?”
“Akan lebih baik apabila kalian mencari tahu sendiri kebenarannya,” jawab Yunita sambil tertawa terkikik-kikik mengerikan setelah itu melayang dan duduk di salah satu dahan pohon beringin. Saat itulah, entah bagaimana caranya, mendadak saja kami sudah berada kembali di toilet wanita. Bel tanda jam pelajaran dimulai, berbunyi nyaring, kamipun melangkah meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Yunita yang kini kembali bersenandung. Menyanyikan lagu “Room Of Angel” dengan suara merdu.
__________