06. - Sophia Liefderyk -
Hindia Belanda. Sebuah negara yang cukup indah dan luas. Penduduknya begitu padat dan aku tak bisa memahami bahasa mereka yang campur aduk. Bahasa yang benar-benar asing bagiku yang masih baru berumur 10 tahun. Tapi, semua kejadian yang terjadi pada keluargaku sebelum pindah kemari, masih bisa kuingat dengan jelas. Aku mempelajari hampir semua kebudayaan dan adat-istiadat yang berlaku di negeri ini. Semula aku dan kakak-kakakku, enggan sekali meninggalkan tanah kelahiran yang tanpa terasa mulai diambang kehancuran. Aku baru bisa merasakan, bagaimana nasib bangsa yang dijajah dengan bangsa lain. Ah, sudahlah ... kami datang ke negeri ini, hanya untuk mengadu nasib, bukannya menjajah, seperti yang dilakukan orang-orang kami yang menembakkan senapan, mencambuk ataupun membunuh orang tanpa alasan yang jelas.
Seiring dengan jalannya sang waktu, aku mulai terbiasa menggunakan bahasa-bahasa yang ada di negeri ini, aku pun tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik menurut orang tuaku, tapi, aku tahu siapa diriku. Aku tahu dengan siapa aku hidup di negara ini, aku tahu apa alasan mereka membawaku kemari. Namun, aku tak peduli pada mereka, yang penting aku bisa bertahan hidup demi untuknya.
Namaku Sophia Van Koef. Van Koef adalah nama keluarga yang mengangkatku sebagai anak angkatnya. Aku rela melakukannya, hanya untuk dia, aku rela melakukan segala-galanya hanya untuk dia bukan untuk yang lain. Aku membenci Keluarga Van Koef, aku ingin sekali membalaskan sakit hatiku pada mereka yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangga keluargaku ... seandainya dia bukan berasal dari keluarga Van Koef ... aku akan lebih berbahagia sekali.
Di buku harian ini, aku ingin menceritakan bagaimana sebenarnya Keluarga Van Koef yang di mata orang-orang sekitar tampak begitu baik, ramah dan disegani serta dihormat, akan tetapi, di mataku ... mereka adalah orang-orang yang sebaliknya. Siapapun yang berhubungan dengan Keluarga Van Koef, hendaknya berhati-hati ... dan janganlah mudah terpengaruh oleh senyum dan sikap ramahnya. Aku berkata apa adanya, salah satu korban dari sikap baik mereka adalah wanita yang bernama Yunita yang dulunya bernama Dyah Sekar Ayu Prameswati. Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya Yunita manakala mengetahui impian dan harapannya tak bisa terwujud. Sekalipun aku sebenarnya membenci Yunita yang telah merebutnya dari sisiku, namun, aku merasa iba juga mendapati nasibnya yang kurang beruntung, karena berbagai hal. Andai aku bisa bertemu lagi dengan Yunita, aku akan menemaninya kemana pun ia pergi sekalipun itu menuju alam baka. Bersamaan dengan dituliskannya buku harian ini, aku melampirkan surat dari Yunita untuk pria yang sangat ia cintai, ia kasihi dan ia rindukan siang-malam. Andai saja Allan masih hidup, buku dan surat ini akan kuberikan padanya, agar tahu ... betapa parahnya luka yang harus diterima Yunita. Betapa berat hidup yang harus dijalaninya hingga akhirnya aku bisa melihat tubuhnya tergantung pada pohon beringin yang tubuh di sekitar rumahnya.
Dulu, sewaktu belum pindah ke negeri indah ini, Keluarga Liefderyk dan Keluarga Van Koef, hidup berdampingan, rukun seperti layaknya saudara kandung. Namun, karena dari segi ekonomi Liefderyk lebih kaya dari Keluarga Van Koef, maka, Alexander Van Koef mencoba untuk menyamakan kedudukannya dengan Leonard Liefderyk. Segala cara disusun dengan rapi termasuk menikahkanku dengan putera pertamanya Andrew Van Koef. Sebenarnya, aku ingin sekali menikah dengan Allan Van Koef, sebab, sejak pertama kali aku bertemu dengannya ... aku jatuh hati padanya.
Maka dari itu, aku rela menikah dengan Andrew dan tinggal di rumah keluarga Van Koef, semuanya kulakukan adalah untuk mendekati Allan. Akan tetapi, apa yang kubayangan semuanya sirna manakala melihat Allan lebih memilih gadis pribumi bernama Mira. Saat aku bertanya pada Allan, “Mengapa kamu lebih menyukai gadis-gadis pribumi dari negeri ini daripada gadis-gadis Belanda, padahal, diantara mereka banyak sekali yang ingin menikah denganmu ?” Allan hanya menjawab, “Karena, gadis pribumi lebih pengertian dibanding gadis-gadis negeri asal kita,”
Sebuah perkataan yang benar-benar menyakitkan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk aku. Aku merasa iri dengan Mira yang telah berhasil merebut hati Allan. Maka, dengan berbagai cara aku berusaha menarik hati Allan. Tapi, semuanya sia-sia. Pendirian Allan kokoh bagaikan gunung-gunung karang yang ada di negeri ini. Pendirian Allan tak tergoyahkan, hatiku hancur manakala ia hanya menganggapku sebagai seorang adik.
Hingga pada suatu hari, tanpa sengaja, aku mendengar Nyonya Elizabeth Van Koef dan suaminya bertengkar dalam pertengkaran itu, kudengar namaku disebut-sebut, bukan hanya namaku, tapi, nama Keluargaku, Liefderyk.
“Puteri keluarga Liefderyk, Sophia ... hanyalah pion. Leonard Liefderyk kini sudah berusia lanjut dan tubuhnya tak sesehat dulu lagi, tak lama lagi, dia akan menemui ajalnya. Saat dia sudah tak ada di dunia ini, Andrew meski statusnya hanya menantu, dia pasti dapat warisan apalagi, putera-puteri Liefderyk hampir semuanya sudah tidak menginginkan warisan tersebut, mereka sudah lebih kaya daripada Ayahnya. Itulah sebabnya, Andrew kunikahkan dengan Sophia. Satu-satunya pewaris tunggal dari keluarga Liefderyk adalah Andrew Van Koef. Saat warisan itu jatuh ke tangan Andrew... apalah artinya seorang wanita yang bernama Sophia Liefderyk ?” Itulah kalimat-kalimat yang sebagian kudengar dari pertengkaran mereka. Aku tidak bisa menerima perkataan mereka, aku hendak melaporkan kejadian itu pada Ayah kandungku namun, entah mengapa mendadak saja aku berpapasan dengan Ifan, salah seorang bediende (buruh) keluarga kami.
Sejak aku menapakkan kakiku di rumah ini, anak ini selalu saja mengamati gerak-gerikku. Aku risih jadinya, tapi, aku tetap bersikap baik padanya ... menemaninya bermain ataupun berbicara. Dia baik, aku benar-benar sayang padanya, tapi, tidak hatiku. Dia adalah kakak bagiku. Maka, aku kecewa sekali manakala ia menyalah artikan perhatian dan sayangku padanya dengan artian lain. Dia menginginkanku menjadi isterinya. Tentu saja kutolak sebab, aku tak ingin hidup bersamanya sebagai isteri, aku ingin dia tetap ada sebagai kakakku.
Pernikahanku dengan Andrew juga salah satu caraku untuk menghindarinya. Aku tak bisa memberikan perhatianku ini lebih dari seorang adik yang menyayangi kakaknya. Aku tahu ia terluka, aku tahu dia kecewa dan sakit hati, tapi, apa yang harus kami lakukan ? Kukira aku tak bersalah.
Pada hari itu pula, aku merasa bahagia karena akhirnya Allan putus dengan Mira. Harapanku untuk memiliki Allan muncul lagi. Aku mendekatinya saat suamiku tidak ada, tapi, lagi-lagi aku harus kecewa, karena ia masih menganggapku sebagai adiknya. Keadaan lebih parah, manakala Yunita hadir dalam keluarga kami, 3 tahun setelah berpisah dengan Mira, Allan semakin dekat dengan Yunita. Aku tak bisa menahan sakit hatiku saat mereka sedang berduaan. Aku benar-benar merasa iri baik pada Mira maupun Yunita. Apa kurangnya diriku ini sehingga, harus kalah dengan wanita-wanita pribumi ? Aku iri manakala melihat Yunita dan Allan saling berpandangan, saling membagi senyum, saling bercerita. Andaikan Yunita itu aku... akulah yang paling bahagia di dunia ini.
Hati ini semakin sakit, airmata seakan menetes tiada henti manakala melihat ... ah, tidak hatiku sedih sekali mengingatnya.... hatiku sedih, aku benar-benar tidak bisa menceritakannya. Mataku menjadi saksi, manakala melihat mereka berada dalam satu ruangan, kamar tidur Allan. Pada daun pintu kamar itu, telinga ini mendengar bagaimana desahan nafas dan jeritan tertahan mereka karena berada dalam puncak kenikmatan yang jarang kudapatkan selama hidup bersama suamiku. Mataku menjadi saksi, dimana ketika hujan turun, kau dan Yunita menari di halaman sana, menari dengan begitu indahnya. Tarian dalam rinai hujan, itulah lambang cinta kalian yang abadi.
Aku iri, aku terpuruk, aku kalah dan aku sakit. Hingga saat ini, aku bertanya .... Adakah sesuatu di dalam diriku yang kurang di mata Allan ? Tapi, tak ada yang menjawab, pertanyaan itu berlalu begitu saja bagaikan dihembus angin malam yang dingin. Allan ... demi kebahagiaanmu, kurelakan kau merengkuh kebahagiaan dan cinta bersama Yunita. Demi cintaku padamu, aku memilih diam, memilih menelan pil pahit yang secara tak langsung kau berikan padaku. Cinta kalian berdua benar-benar besar , mungkin, di dunia ini cinta terlarang kalian lebih mulia dibanding cinta-cinta yang diperlihatkan pada orang di kursi pelaminan. CINTA YANG TERKADANG BISA MEMBUTAKAN MATA HATI KITA.
Nah, Allan ... jika kau masih diperkenankan hidup ribuan tahun lagi, kuharap kau bisa menemukan buku ini. Juga surat dari Yunita untukmu. Dan, terus terang .... aku benar-benar salah menilaimu. Di satu sisi kau adalah pemuda yang memiliki pesona dan mampu menaklukkan hampir seluruh wanita di muka bumi ini, tapi, di satu sisi ... kau adalah seorang pria yang tak bertanggung jawab, kejam dan berbisa. Dengan membaca buku ini juga surat dari Yunita sebelum dia meninggal secara mengenaskan, kami harap ... kau bisa memahami dan mengerti perasaaan wanita yang kau cintai dan kau sayangi sekaligus kau campakkan ke dalam jurang yang dalam, gelap dan penuh dengan derita. Jurang yang tak mungkin bisa diukur kedalamannya. JURANG DERITA. Betapa banyak wanita yang mengharapkan menjadi isterimu, tapi, benar-benar pria yang tak mempunyai perasaan.
_____
Aku menutup buku bersampul hitam itu. Terus terang, aku ragu untuk mempercayai semua yang tertulis di dalamnya. Tapi, setelah aku membaca surat yang terselip di dalam buku itu... baru aku yakin dan percaya, bahwa Keluarga Van Koef yang terkenal dengan nama baiknya adalah palsu. Cindy memberi saran padaku agar surat yang ditulis Yunita atau Dyah Sekar Ayu Prameswati untuk Allan yang tidak sampai itu disimpan terlebih dahulu. Alasannya sederhana, apa jadinya jika Yunita mengetahui kalau Allan sama sekali tidak menerima surat itu.
“Kukira, dia sudah mengetahuinya Maribeth, itulah sebabnya, dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu. Aku melihat keputus asaan dalam dirinya saat menceritakan masa lalunya,” ujar Rita. Perkataan Rita ini membuatku semakin merasa iba pada Yunita, aku ingin segera menemuinya dan mendengar ia bercerita lagi tentang kehidupannya di masa lalunya. Nasibnya lebih tragis dibanding Sri Menur, itu menurutku.
__________