05. - Percikan Api Di Tengah Salju ( bagian kedua ) -
Sejak saat itulah, Allan dan Yunita sering melewatkan waktu bersama-sama ketika orang tua Allan tidak ada di rumah. Hubungan mereka semakin akrab, Allan sudah berhasil melupakan Mira, wanita yang ia cintai selama lebih kurang 3 tahun itu. Hati mereka yang bagaikan sebuah tanah gersang, mendadak saja, muncul mata air yang sejuk dan menyegarkan serta ditumbuhi oleh bunga-bunga mekar dan berbau harum; hati mereka yang dingin, beku dan hampa bagaikan sebuah padang salju yang luas; mendadak saja dicairkan oleh nyala api yang membara dan membakar segala yang ada.
Hingga pada suatu hari, saat Tuan dan Nyonya Van Koef tidak ada di rumah, Allan menemui Yunita yang sedang memasak di dapur. “Begitu selesai memasak ... bisakah kamu menemuiku di teras ?” tanya Allan. Sebenarnya, Yunita merasa takut sekali bertemu dengan Allan, tapi, ia sadar dengan posisinya juga posisi Allan. Akhirnya, ia mengangguk, “Sebentar lagi saya selesai, Tuan,” katanya, “Tinggal menghangatkan satu masakan saja,” Allan mengangguk, lalu melangkah ke arah teras. Disana, ia duduk sementara sepasang matanya menerawang ke tempat yang kosong, pikirannya kembali berkelana ke masa lalu, masa dimana saat Mira masih disisinya untuk yang terakhir.
Siang itu Allan berkunjung ke rumah Mira, di luar sudah duduk Ayahnya Panji Asmoro. Melihat kedatangan Allan, wajah Panji Asmoro merah padam, “Mau apa lagi kau datang kemari ?! Apakah kau belum mengerti juga apa yang kukatakan padamu ? Ataukah, aku harus mengulanginya lagi dan kali ini aku tak akan sungkan-sungkan lagi !! Biarkan semua orang mendengar dan menyaksikan bagaimana aku berani mengusir seorang Tuan Muda Belanda penjajah negeri ini !!!”
Allan tak peduli akan kemarahan orang itu, ia terus berjalan dan saat tiba di hadapan Panji Asmoro, ia berlutut, “Maafkan, saya Tuan .... ijinkanlah saya bertemu dengan Mira untuk yang terakhir kalinya,” katanya.
“Aku sudah bilang .... jangan kau temui lagi puteriku !! Kau masih saja bandel, haruskah aku memukulmu hingga babak belur ?! Sekarang pergilah dari rumah ini !! Pergilah, jangan sekali-kali kembali !! Lebih bagus apabila kalian orang-orang Belanda semuanya angkat kaki dari negeri ini !!! Penghisap Darah !!!”
Keributan itu didengar oleh Trinil dan juga Mira yang berada di dalam rumah. Buru-buru mereka keluar dan mendapati Panji Asmoro hendak menendang wajah Allan. Tapi, Mira buru-buru menghadangnya, “Jangan, Ayah !!! Tak sadarkah Ayah, siapa orang yang ada di hadapan Ayah ini ?”
“Cih !! Sekalipun pejabat atau tentara Belanda dalam jumlah yang besar ... aku takkan mundur !! Kau masuklah ke dalam atau aku juga akan menghajarmu di tempat terbuka ini ?!!”
“Kau keterlaluan sekali, kakang. Kau mempermalukan dirimu sendiri... tarik ucapanmu itu, aku belum siap untuk menjalani hidup ini sendirian. Tahukah, kau ?!” Trinil juga ikut bicara, “Jika kau ingin memukul mereka hingga babak belur, pukullah aku terlebih dahulu !!”
“Kalian berdua, mengapa kalian membela bocah Belanda itu, ha ? Apakah kalian sudah tak lagi memandangku sebagai kepala rumah tangga di rumah ini ?!”
“Jangan salah paham, kakang.... tak bisakah kau bicara baik-baik ? Kemanakah Ki Panji Asmoro yang dulu kukenal ramah dan sopan ? Ingatlah, kang .... jangan kau turuti emosi yang bisa saja mencelakakan kita semua,” kata Trinil lalu memandang puterinya dan memberi isyarat agar Allan pergi. Mira paham, apa yang harus dilakukan, maka dari itu ia menarik tangan Allan dan menjauh dari hadapan Ayahnya yang sedang kalap.
Saat muda-mudi itu melngkah menjauh, Panji Asmoro semakin meninggikan suaranya, “Mau kemana kau !!! Ayah belum selesai bicara denganmu, bocah tak tahu adat !!”
“Plak !!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi Panji Asmoro, Trinil sudah menamparnya dan menatap tajam ke arah pria yang berumur sekitar 50 tahunan itu, “Maafkan aku, kang ... terpaksa aku melakukan itu karena ucapanmu benar-benar kasar terhadap Mira,” katanya sambil melangkah meninggalkan Panji Asmoro yang masih berdiri bagaikan sebuah patung. Emosinya seketika itu juga lenyap, diapun melangkah masuk mengikuti Trinil.
“Tuan Muda Allan, maafkan Ayahku,” kata Mira saat sudah jauh dari rumahnya. Allan bagaikan orang yang hilang ingatan, kejadian itu membuatnya Shock. Ia tersadar saat jari jemari lentik Mira menyentuh dagunya, 2 pasang mata muda-mudi itu saling pandang, “Tuan muda Allan, kini kau tahu bagaimana marahnya Ayahku saat Tuan datang ke rumah. Untuk sementara, Tuan jangan ke rumah dulu... kalau saatnya tepat, aku sendiri yang akan menemuimu. Bagaimana menurut pendapat Tuan ?” ujar Mira lembut.
Allan mengangguk, dengan langkah gontai, iapun meninggalkan Mira yang masih berdiri sendirian di tempat itu. Sepeninggal Allan, sepasang mata Mira berkaca-kaca, “Maafkan, saya, Tuan ... mungkin ini yang terakhir kalinya kita bertemu. Besok, Ayah akan membawa saya pergi dari tempat ini. Jika ada jodoh, saya akan kembali pada Tuan ....” katanya dalam hati lalu ia berlari meninggalkan tempat itu sambil menangis tersedu-sedu.
_____
“Tuan Muda, katanya Anda ingin berbicara dengan saya,” sapaan lembut terdengar di kedua belah telinga Allan, suara itu berasal dari hadapannya. Sapaan yang membuat Allan harus kembali ke masa sekarang dan si empunya sapaan itu adalah : YUNITA. Allan memperbaiki posisi duduknya yang setengah berbaring, terduduk tegak sambil meraih cangkir teh yang mulai dingin di atas meja. Sepasang matanya beradu pandang dengan sepasang mata bulat milik Yunita. Kedua insan manusia itu saling pandang, berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dadanya.
“Ah, ya ...” Allan memulai pembicaraan, “Apakah kamu sudah lama berada di teras ini ?” tanyanya. Yunita mengangguk, “Ya, Tuan Muda, saya sempat melihat air mata menetes dari sudut mata Tuan Muda. Apakah Tuan Muda masih teringat akan gadis yang bernama Mira itu ?” tanyanya.
“Yah... hubungan kami sudah berlangsung 3 tahun. Tapi, nyatanya kandas di tengah jalan. Itu membuat saya enggan untuk mengenal apa itu cinta,” kata Allan.
“Tuan Muda, memang sulit melupakan kenangan-kenangan manis bersama kekasih. Saya juga pernah mengalaminya, namun ... itu semua bagaikan warna-warni kehidupan. Tanpa itu, hidup serasa tak berarti atau hampa sekalipun itu menyakitkan hati kita,” jelas Yunita.
“Kamu pernah mengatakan, sebenarnya, kamu tidak mencintai suamimu ... tapi, mengapa kalian bisa hidup sebagai suami-isteri dan memiliki 3 orang anak ? Bisakah kamu menceritakannya padaku,”
“Tuan Muda, saya dan suami saya tidak pernah bertemu. Sebenarnya, sebelum saya menikah... saya sudah memiliki seorang kekasih, dia berjanji akan melamarku saat dia sudah bekerja. Saya menyetujuinya, tapi, saat dia jauh ... tokoh / pemuka agama yang sudah menjadi orang kepercayaan Ayah menjodohkanku dengan anaknya. Waktu itu saya marah sekali, saya benci Ayah saya dan lebih parah lagi saya membenci semua orang yang ikut-ikutan mendukung perjodohan sepihak itu. Saya memilih pergi dari rumah. Dia, Jala Sutra yang sekarang menjadi suami saya mencari saya kesana-kemari, dimana pun saya pergi seakan dia tahu dan tampaknya, saya tidak bisa menghindari pernikahan yang sebenarnya tidak saya ingini,” jelas Yunita.
“Hm... bukankah kamu bisa mengatakannya pada Ayahmu dan orang kepercayaannya itu ?”
“Sudah, tapi ... saya malah kena marah sama pemuka agama yang bernama Jala Panji itu. Dan, akhirnya saya terpaksa menjalani hidup yang sepertinya bagaikan sebongkah batu besar yang menindih tubuh saya sehingga saya harus bertahan untuk hidup sekalipun tanpa cinta ... semua itu demi anak-anak saya,”
“Apa maksud kamu, dengan berkata, ‘bagaikan sebongkah batu besar menindih tubuh’ ? Apakah artinya suami kamu, selalu bersikap kasar pada kamu, begitu ?”
Yunita menundukkan wajahnya dalam-dalam, perkataan Allan benar, tanpa sadar airmatanya meleleh, mengalir membasahi lantai teras. Melihat hal itu Allan merasa iba, “Maafkan saya, karena telah mengungkit rumah tangga orang, dan membuat sedih. Sebenarnya, saya ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi, saya sudah merusak suasana yang seharusnya bukan seperti ini,”
“Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya sendiri sebenarnya membutuhkan teman untuk berkeluh kesah. Sebab, semenjak ibu saya meninggal, saya harus menahan diri untuk bersabar dan terus bersabar. Saya berharap, perkataan almarhum ibu saya benar adanya,”
Saat hari menjelang sore, awan hitam bergulung-gulung menutupi langit yang semula cerah. Cahaya kilat menyambar-nyambar seakan hendak mengoyak awan hitam itu diiringi dengan bunyi guntur yang bersahutan ditambah dengan hembusan angin yang cukup kencang, membuat bulu kuduk merinding, “Tuan, tampaknya akan turun hujan,” kata Yunita. “Benar. Ijinkan saya membantu kamu membereskan pakaian-pakaian yang dijemur di belakang,” kata Allan sambil mengikuti Yunita dari belakang.
Jumlah pakaian yang dicuci hari itu cukup banyak. Hampir memenuhi halaman belakang rumah keluarga Van Koef. Yunita mencuci semuanya dengan dibantu oleh beberapa buruh lain, kini semua buruh sibuk mengamankan tanaman-tanaman teh yang hendak dipetik. Jadi, Yunita terpaksa harus mengamankan pakaian yang dijemur itu sendirian, namun, Allan dengan hati yang lapang bersedia membantunya. Yunita mengamankan pakaian di sebelah utara sedang Allan mengamankan pakaian di sebelah selatan. Mereka bergerak dengan cepat terlebih hujan mulai turun dengan deras. Tanah tempat menjemur pakaian mulai becek, Yunita bergerak keluar masuk ruangan penyimpanan pakaian.
Karena tak ingin pakaian majikannya kotor, ia pun lupa menjaga keseimbangan tubuhnya, kakinya tergelincir dan karena tak bisa mengendalikan tubuhnya, Yunita pun roboh. Untunglah, saat tubuhnya belum menyentuh lantai sebuah tangan kekar menyambar tubuhnya, pemilik tangan itu adalah Allan, “Kau tidak apa-apa ?” tanya Allan sambil memeluk pinggang Yunita.
Yunita terkejut, buru-buru ia melepaskan diri dari pelukan Allan. Posisi tubuh Allan kurang menguntungkan, perbuatan Yunita ini justru malah mencelakakan Allan. Pemuda itu jatuh terduduk sementara matanya menatap tajam ke arah Yunita. Melihat putera majikannya itu roboh, Yunita segera berlutut dan meminta maaf, “Maafkan saya, Tuan Muda ... saya tak sengaja mendorong Tuan hingga jatuh. Apakah tuan baik-baik saja ?” tanyanya cemas.
Semula Yunita ketakutan, ia khawatir Allan akan marah besar. Akan tetapi, dugaannya salah. Allan tidak marah melainkan menganggap itu adalah kesalahannya, “Tidak apa-apa. Saya yang salah karena menyentuh tubuh wanita yang seharusnya tidak boleh dilakukan dan tak pantas bagi orang-orang pribumi di negeri ini,” katanya sambil mencoba untuk berdiri, tapi, tampaknya ada otot di pergelangan kakinya yang terkilir sehingga ia meringis kesakitan.
Yunita semakin merasa bersalah, “Tuan, maafkan saya...,” sambil mengatakan itu, Yunita segera membantu Allan berdiri dan memapahnya menuju ke tempat duduk. Bukan main kacaunya perasaan Yunita saat itu. Di sisi lain ia merasa senang bisa berdekatan dengan Allan, pada sisi yang lain, ia merasa hal itu tak pantas dilakukan oleh seorang wanita. Wajah Yunita tampak cemas sekali, tak tahu apa yang harus dilakukan. Melihat keadaan wanita di dekatnya itu, Allan tersenyum lalu berkata, “Sudahlah, ini adalah luka kecil, kamu tak perlu mencemaskannya. Begini saja, diantara para werknemer, ada yang bernama Yogi, tolong kamu panggilkan dia. Dialah yang bisa mengurut kaki saya ini,”
Yunita mengangguk, “Baiklah, tuan ... sekali lagi, saya minta maaf. Tuan tunggu disini dulu, saya akan memanggilkan Pak Yogi,” katanya lalu meninggalkan Allan yang masih meringis kesakitan, tapi, rasa sakit itu seperti tak ia hiraukan. Sepasang matanya terus mengamati Yunita yang berjalan tergopoh-gopoh, hingga tubuhnya lenyap di tikungan jalan.
Tak lama kemudian, tampak Yunita muncul bersamaan dengan seorang pria setengah baya berbadan agak gemuk dan pendek. Pak yogi segera memeriksa kaki kanan Allan, ia tersenyum, “Tuan Muda, saya akan mencoba untuk mengurut pergelangan kaki Tuan yang terkilir. Mungkin akan terasa menyakitkan, tapi, cobalah untuk bertahan,” Allan menganggukkan kepala, “Lakukanlah, Pak Yogi. Ini tak seberapa daripada patah tulang,” katanya.
Jari-jemari Pak Yogi bergerak lincah dan setelah dirasa aman, ia pun mulai mengurut, “Aduh !!” teriak Allan diiringi dengan bunyi halilintar menggelegar. Yunita tak tahan mendengar teriakan Allan, ia semakin merasa bersalah, ia menutup kedua belah telinganya saat Allan berteriak-teriak kesakitan, hatinya serasa diiris-iris sembilu. Seandainya saja ia membiarkan dirinya dipeluk oleh Allan, mungkin, pemuda itu tidak akan celaka. Mengingat hal itu, pipi Yunita merona merah, ia tak berani membayangkan bagaimana jadinya kalau seorang pria, yang bukan suami menyentuh tubuhnya. ‘Suami ? Apakah aku harus mengakui Kakang Jala Sutra sebagai suamiku ? Dialah yang membuatku menderita, dialah yang menguras semua harta peninggalan ibuku. Iapun selalu kasar denganku, tak jarang pipi ini panas dan hati ini sakit apabila ia melayangkan tangannya ke wajahku. Masihkah dia bisa kusebut sebagai suami ? Terlebih pernikahanku itu adalah kehendak ayah dan Jala Panji, orang yang telah menghancurkan kebahagiaanku,” kata Yunita dalam hati.
Semenjak Allan jatuh, perhatian Yunita terhadapnya makin besar. Yunita merasa bersalah sekali. Tapi, semuanya sudah terjadi, Allan merahasiaan kejadian itu pada orang tuanya. Hubungan Yunita dan Allan makin dekat dan makin akrab. Hingga pada suatu hari Allan mengungkapkan perasaannya pada Yunita. Di pihak Yunita, wanita itu sekalipun sudah menikah dan memiliki anak, rumah tangganya dengan Jala Sutra tidak harmonis. Maka dari itu, entah mengapa tiba-tiba, saat Allan mengungkapkan perasaannya itu Yunita tidak lagi memikirkan suaminya yang selalu mabuk-mabukan dan seringkali berbuat kasar padanya. Yunita dihadapkan pada sebuah dilema, di satu sisi kedudukannya sebagai isteri orang tidak terbantahkan, sementara, di sisi lain ia pun tidak ingin kehilangan sosok Allan dalam hidupnya, seorang pria yang telah menabur benih-benih cinta dan kasih sayang. “Ya, Tuan Allan ... saya menerima cinta Tuan, tapi, tuan harus tahu siapa saya. Terus terang saya memang tak bisa mengingkari perasaan saya pada Tuan dan saya tak bisa mengabaikan suami dan keluarga saya. Mohon Tuan Allan mengerti,” demikianlah perkataan Yunita pada Allan.
“Jika memang demikian, semuanya bisa diatur Yunita. Yang jelas saya berterima kasih karena engkau telah menerima cintaku. Untuk sementara, biarkan semuanya berjalan apa adanya. Saya minta agar hubungan kita ini jangan sampai diketahui oleh orang. Termasuk orang tua saya. Bisakah kita berusaha untuk itu ?” tanya Allan. Yunita mengangguk, memang itulah yang dia inginkan. Sejak saat itulah mereka berdua sering bertemu dan saling tukar menukar pikiran juga pengalaman. Itulah saat-saat yang membahagiakan bagi dua insan itu, terlebih Allan. Kenangan bersama Mira, sedikit demi sedikit hilang, Yunita selalu hadir di saat Allan membutuhkannya, demikian pula halnya dengan Allan. Dua anak manusia itu, memulai perjalanan dengan CINTA TERLARANG mereka.
__________