04. - PERCIKAN API DI TENGAH SALJU -
Meski Allan adalah seorang pemuda yang ketus, tertutup, penyendiri, pemarah dan sensitif, gara-gara patah hati, kehadiran Yunita yang sabar dan senantiasa memberikan perhatian sekalipun dicaci-maki habis-habisan. Membuat hatinya yang sekeras batu karang, perlahan-lahan rontok. Dulu sebelum bertemu dengan Yunita, semenjak patah hati, ia berjanji pada diri sendiri agar tidak akan lagi jatuh cinta. Ia hanya menginginkan Mira menjadi pendamping hidupnya. Tapi, begitulah orang yang patah hati, orang yang jatuh ke dalam jurang kelam dan terluka, sulit sekali untuk bangkit dan mulai melangkah. Sifatnya hanya sementara saja dan tergantung pada dirinya sendiri untuk bangkit dan memulai hal yang baru.
Allan sedikit demi sedikit menemukan kembali jati dirinya, meski sekali-kali ia masih terlihat menyendiri. Senyum mulai menghias wajahnya yang boleh dibilang tampan, terlebih saat Yunita menyapanya dengan lembut dan penuh perhatian. Siang itu seperti biasa, Allan selalu duduk di halaman belakang rumahnya. Ia memandangi sawah-sawah hijau dengan latar belakang pegunungan yang cukup tinggi dan cakrawala biru. Ia memandangi sementara pikirannya berpetualang kemana-mana. Pertama kali yang ia kunjungi adalah Mira, bekas kekasihnya. Puteri dari pasangan Panji Asmoro dan Trinil, sepasang suami isteri yang bekerja sebagai buruh di perkebunan teh salah satu warga Belanda yang tinggal tak jauh dari rumah Keluarga Koef.
Allan teringat akan pertemuannya dengan Mira, saat itu Mira membantu ibunya memetik daun teh dan memasukkannya ke dalam keranjang yang tergantung di pinggang kanannya. Ada sehelai kain berwarna merah muda menutupi kepala gadis manis itu.
Entah mengapa angin mendadak bertiup kencang dan melepaskan kain yang menutupi kepalanya dan terbang lalu mendarat di wajah Allan. Allan tersentak buru-buru tangannya meraih kain yang menutupi wajahnya, “Siapa pemilik sapu tangan ini ?” tanyanya kepada para wanita yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Sepasang mata Allan menatap liar ke arah para wanita itu, semuanya mengenakan kain di kepalanya, namun, hanya satu orang yang tidak mengenakan kain, dia adalah Mira. Begitu mata Allan yang tajam bagaikan elang itu menatap ke arahnya, Mira buru-buru meletakkan keranjangnya dan berjalan menghampiri Allan, “Maafkan saya, Senor (Tuan). Itu adalah milik saya, tuan muda,” katanya sambil menundukkan wajahnya, jantungnya berdegub dengan kencang sementara keringat dingin mengalir dari dahi dan menetes membasahi sepatu Allan.
“Tunjukkan wajah kamu, biar kulihat siapa orang yang berani berlaku kurang ajar terhadap Tuan Muda,” kata salah seorang tentara yang mendampingi Allan. Allan menatap tajam ke arah pengawalnya, “Wanita ini adalah salah seorang werknemer (buruh) di keluarga ini, kamu jangan kasar padanya. Bayangkan saja kalau setiap weknemer disini diperlakukan kasar oleh kalian, apa jadinya ?! Jagalah sikap kalian, biar bagaimanapun juga dia adalah manusia seperti kita, jangan sembarangan memperlakukan orang,” katanya dalam bahasa Belanda. “Maafkan, saya, Tuan muda,” sambil membungkukkan badan, sementara Allan kembali mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang masih berlutut di hadapan Allan.
“Berdiri dan perlihatkanlah wajah kamu itu. Tak perlu khawatir, saya takkan memarahi kamu,” kata Allan ramah. Meski ragu-ragu Mira mengangkat wajahnya, sepasang mata miliknya beradu pandang dengan sepasang mata Allan. Kedua belah pipi Mira merona merah, ia tak tahan menatap tatapan mata Allan lama-lama. Maka dari itu, buru-buru ia membuang wajahnya, ada sebuah perasaan aneh dalam hatinya yang tak bisa diungkapkan, demikian pula di pihak Allan. Untuk sesaat wajah dua muda-mudi itu berpandangan meski sesekali Mira harus berusaha mengendalikan perasaan aneh itu.
Suara batuk-batuk dari pengawal Allan, menyadarkan mereka, tapi, Allan tidak terpengaruh, ia membuka bibirnya, dan berkata, “Teruskan pekerjaanmu, sementara sapu tangan ini.... kamu tak keberatan, bukan jika saya menyimpannya ?” Mira salah tingkah, tanpa sadar ia menganggukkan kepala perlahan, lalu kembali bekerja. Semenjak itulah Allan selalu datang mengunjungi Mira. Saat jam istirahat, Allan mengajak Mira berjalan-jalan mengelilingi perkebunan teh. Hubungan Allan dengan para werknemer ( buruh ), begitu akrab dan disanjung banyak orang karena bijak dan tak jarang bersikap tegas pada werknemer yang teledor atau melakukan kesalahan.
Tak jarang saat Allan sedang tidak ada di tempat para Werknemer menanyakannya, terutama Mira. Kehadiran Allan dalam hidupnya, membuatnya semakin bersemangat untuk membantu ibunya memetik daun teh, itu semua dilakukan karena ada Allan yang selalu menemaninya bercakap-cakap saat jam istirahat.
“Aku tahu kau sedang jatuh hati pada Allan, nduk ... tapi, harus kau ingat siapa dirimu dan siapa Allan,” kata sang ibu suatu hari pada Mira, “Sebaiknya, jangan terlalu berharap banyak pada orang Belanda itu. Ayahmu, pasti tidak menyetujui hubunganmu dengannya,”
“Mengapa demikian, bu ?” tanya Mira.
“Terus terang, Ayahmu tidak suka orang Belanda karena bangsa itulah yang menjajah negeri ini. Entah harus berapa banyak lagi korban yang berjatuhan dan entah berapa banyak lagi sumber daya alam di negeri ini yang harus dikuras habis oleh mereka,” jelas sang ibu.
“Lalu, bagaimana pendapat ibu sendiri tentang Keluarga Van Koef ?”
“Setahu ibu, mereka adalah keluarga yang cukup disegani dan dihormati. Baik dari penduduk negeri ini, dalam hal ini para werknemer yang bekerja disini ... juga orang-orang Belanda yang berada di luaran sana. Ibu khawatir, cintamu bertepuk sebelah tangan, nduk. Melihat usiamu yang sudah menginjak remaja ini, memang sudah waktunya menikah. Tapi, Ibu sarankan ... carilah orang lain. Paling tidak carilah pemuda yang satu bangsa, satu keyakinan, dan satu visi / tujuan,”
“Jadi, ibu tidak setuju dengan hubungan kami ?” tanya Mira kecewa.
“Bukan. Ibu setuju-setuju saja. Allan adalah pemuda yang tampan, rajin, bertanggung jawab dan penuh perhatian. Ibu khawatir itu hanyalah kedok. Semuanya itu hanya demi kebaikanmu, nduk... terlebih lagi kau tahu bagaimana sifat, watak dan karakter Ayahmu,”
“Bisakah ibu membujuk Ayah ?”
Trinil menghela nafas panjang, ia tahu puterinya ini berwatak keras sama seperti Ayahnya. Setelah sesaat lamanya terdiam, barulah berkata, “Ibu akan berusaha, nduk. Selanjutnya, jika Ayahmu tidak menyetujuinya ... maka, ibu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ibu hanya bisa menasihatkan, jika kau mecintai Allan ... sebaiknya, kau jangan terlibat terlalu dalam. Biarkanlah berjalan apa adanya,”
Baru saja Trinil menutup mulutnya, terdengar pintu diketuk seseorang, “Permisi, bolehkah saya masuk ?” itu suara Allan. Buru-buru 2 wanita itu berdiri dan membereskan rumahnya yang sejak tadi masih berantakan. Setelah dirapikan seadanya, barulah Trinil berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu, dari luar seorang pemuda jangkung mengenakan topi khas orang Belanda berdiri sambil tersenyum, “Ah, Tuan Muda... saya tidak menyangka Tuan datang ke rumah saya di saat libur begini. Apakah ada yang bisa saya bantu,” tanyanya.
“Ibu Trinil, jangan sungkan ... saya datang kemari untuk memberikan sesuatu untuk ibu sekeluarga. Bolehkah saya masuk ?” kata Allan ramah. Trinil tersadar, buru-buru mempersilahkan tamunya masuk, “Silahkan masuk tuan Muda, maaf rumah kami berantakan belum sempat kami bersihkan karena sibuk bekerja di kebun teh Keluarga Koef,” katanya dengan nada gemetar sementara, tangannya meraih sebuah kursi yang terbuat dari rotan dan diletakkan di dekat Allan, “Mari, silahkan duduk, biar saya persiapkan minuman dan makanan seadanya sementara Tuan ditemani oleh Mira,”
Allan tersenyum, “Ibu, tidak perlu sungkan, saya hanya sebentar saja, ini ada sebuah bingkisan dari tanah kelahiran saya, mohon ibu menerimanya,” katanya sambil memberikan beberapa bungkusan berukuran sedang berwarna merah. Dengan tangan gemetar, Trinil menerimanya, “Mengapa Tuan Muda begitu repot-repot, kami adalah orang biasa... rasanya tak pantas diperlakukan secara istimewa. Tapi, te ... terima kasih, Tuan.... Sekarang juga, saya akan menyiapkan makanan dan minuman untuk Tuan. Biar Mira dulu yang menemani Tuan,” katanya.
Trinil masuk ke dalam, beberapa saat kemudian dari dalam muncullah Mira dengan penampilan yang benar-benar membuat Allan terpana. Pakaian yang dikenakan berwarna merah muda model pakaian Belanda dengan renda-renda mawar kuning di bagian dada. “Kamu ... kamu cantik sekali,” katanya terbata-bata. Wajah Mira merona karena malu, semakin menambah kecantikannya, dengan langkah anggun, ia menghampiri Allan, “Selamat datang, Tuan Muda. Maaf kami sama sekali tak menyangka Tuan Muda datang ke rumah kami yang kecil ini,” katanya dengan nada hormat.
“Su ... sudahlah, jangan sungkan, terus terang saya datang kemari adalah untuk mengajak kamu jalan-jalan ke kota,” kata Allan. Baru kali ini ia tak bisa mengendalikan dirinya di hadapan salah seorang yang menjadi werknemer (buruh) di lingkungan rumahnya. Ucapan ini membuat Mira terpaku, ia tak bisa berkata apa-apa untuk sekian lama. Dua muda-mudi itu membisu, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, ruangan itu menjadi sunyi. Yang terdengar adalah detak jantung mereka. Yah, hati merekalah yang bicara dan semuanya itu disaksikan oleh Trinil dari balik dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
“Anakku .... seandainya Allan bukanlah orang Belanda. Ibu takkan keberatan menikahkan mu dengannya. Kalian adalah pasangan yang serasi, cinta kalian sangatlah besar, tanpa terasa ... kau telah membuat ibumu ini ri, anakku,” katanya dalam hati, “Kau benar-benar cantik apabila mengenakan gaun itu dalam pernikahanmu kelak. Aku bisa merasakan gelora api cinta kalian berdua. Jika mau, aku ingin menikahkan mereka sekarang juga. Tenanglah, nduk... ibu akan berusaha membantumu. Ibu bisa melihat diri ibu di dalam dirimu, anakku... yah, ibu akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu,”
Hubungan antara Mira dan Allan akhirnya diketahui juga oleh Panji Asmoro, ayah Mira. Semula sang Ayah bersikap baik dan hormat pada keluarga Koef, akan tetapi, amarahnya memuncak manakala saat itu Allan datang bersama Ayah dan ibunya, tujuan mereka adalah melamar Mira. Dengan kasar Sang Ayah mengusir mereka dari rumahnya walau itu sempat memicu pertengkaran dalam rumah tangga Panji Asmoro. Alasannya sederhana, karena perbedaan kewarganegaraan plus perbedaan keyakinan. Keluarga Mira beragama muslim sementara, Keluarga Van Koef Nasrani. Puncaknya adalah dimana setelah pertengkaran Keluarga Van Koef dan Keluarga Mira, Allan masih saja datang mengunjungi rumah Mira. Dengan kasar Panji Asmoro mengusir Allan dari rumahnya dan pada hari itu pula Yunita datang menyapanya.
_____
Lamunan Allan buyar, telinganya mendengar namanya dipanggil-panggil dari arah belakang. Allan mengalihkan pandangannya ke asal suara itu. Tak jauh dari tempatnya duduk seorang wanita berdiri, ia terseyum manis, “Tuan Muda, maaf mengganggu ketenangan Tuan. Saya minta ijin untuk membersihkan teras ini” dia adalah Yunita, wanita yang baru saja hadir dalam lamunannya walau hanya sepintas saja.
Kedatangan Yunita memang sedikit mengganggu Allan, tapi, beruntung bagi Allan, jika terus-menerus larut dalam lamunan masa lalunya, mungkin, bisa saja membuatnya kembali menjadi orang yang pemurung, penggerutu, sensitif dan pemarah. Saat melihat Yunita di hadapannya Allan tersenyum kecil, “Setelah membersihkan tempat ini, apakah ada waktu bagi kamu untuk menemani saya disini ? Bukannya, pekerjaanmu hampir semuanya selesai ?” tanyanya.
Yunita tersenyum manis, “Apakah kehadiran saya tidak mengganggu Tuan Muda ? Sebab, sejak dari tadi saya melihat Tuan Muda duduk sambil melamun disana ? Apakah Tuan Muda lagi mengenang masa-masa bersama Mira ?” tanyanya.
“Ah, sudahlah ... melamun terus tak akan mengembalikan Mira di sisi saya. Jadi, maukah kamu menemani saya duduk disini ? Karena semua pada pergi, saya jadi kesepian, tak ada teman untuk bicara,”
Yunita menganggukkan kepala, “Baiklah, Tuan Muda. Mohon ditunggu dulu saya akan menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal sedikit ini,” katanya sambil tangannya terus bekerja, sementara, sepasang mata Allan tak berkedip memandanginya, “Dia adalah wanita yang rajin. Semua pekerjaan yang begitu berat di rumah ini, dikerjakan sendirian. Tidak pernah mengeluh,” katanya dalam hati.
Pandangan mata Allan tak berkedip menatap Yunita yang terus menyapu lantai teras, wanita itu jadi salah tingkah, “Anak ini terus memandangiku bekerja, aku jadi tak enak sendiri. Jantung ini, entah mengapa jantung itu berdegub begitu kencang sekali. Sudah, tuan muda ... jangan memandangiku terus, aku jadi tak bisa bekerja dengan baik,” katanya dalam hati. Buru-buru Yunita membereskan pekerjaannya, “Sudah selesai, Tuan Muda. Tuan Muda bisa duduk lagi. Saya akan ke belakang sebentar untuk mengambilkan minuman dan makanan ringan,” katanya dengan suara gemetar.
Allan masih saja memandangi wajah Yunita, pipi wanita itu memerah, tanpa menunggu jawaban dari Allan, ia segera melangkah ke dalam. Beberapa saat kemudian muncul lagi sambil membawa nampan berisi makanan ringan dan sebuah gelas berukuran agak besar yang di dalamnya sudah terisi teh yang asapnya masih mengepul dan sebagian diterbangkan angin yang kemudian masuk ke lubang hidung Allan. Baunya begitu harum. Aroma teh itu lebih harum lagi saat nampan yang dibawa Yunita sudah diletakkan pada meja tak jauh dari Allan duduk.
Allan mengangguk perlahan, “Terima kasih,” katanya, “Duduklah di hadapanku. Tapi, mengapa hanya satu gelas saja. Kamu juga harus menemani saya minum sambil menunggu Papa dan Mama pulang,”
“Saya tidak berani, Tuan Muda ....” ujar Yunita.
“Aku memberi ijin, kamu tak perlu khawatir. Tak ada salahnya kamu menemaniku minum. Jangan sungkan,” sahut Allan.
Walau merasa tak enak hati, Yunita akhirnya menurut juga. Ia kembali masuk ke dalam untuk kemudian keluar lagi sambil membawa sebuah gelas kosong lalu diisinya dengan teh yang sudah disiapkan untuk Allan.
Baru kali ini ia duduk santai sambil minum bersama majikan, “Terima kasih, Tuan Muda. Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya,” katanya.
Alan tersenyum, lalu bertanya, “Kalau tak salah, nama kamu yunita,ya ?”
Yunita mengangguk, “Benar, Tuan Muda,”
“Sepertinya, kamu bukanlah penduduk biasa. Dari gaya bicaramu dan gerak-gerik kamu itu .... lain sekali dengan para werknemer ( buruh ) yang bekerja di perkebunan juga para bediende ( pelayan ) lain. Apakah kamu tidak keberatan menceritakannya pada saya ?” tanya Allan.
“Tuan Muda, apalah gunanya mengenal saya. Saya hanyalah seorang bediende, saya malu untuk menceritakannya pada tuan Muda,” jawab Yunita.
“Kalau kamu merasa keberatan, sebaiknya tak perlu kau ceritakan. Tapi, sejujurnya ... saya ingin mengenal kamu lebih dalam,” kata Allan dengan tatapan yang dalam seakan-akan hendak memaksa lawan bicaranya menyerah. Hingga akhirnya tanpa ditanya dua kali, Yunita segera menceritakan asal-usulnya.
“Oh, jadi dulu kau hidup di lingkungan istana dan ayahmu adalah bekas seorang pejabat tinggi di kerajaan Pasundan. Nama kamu sebenarnya adalah Dyah Sekar Ayu Prameswati. Mengapa tidak kamu pakai saja nama itu ?”
“Saya sekarang bukan lagi wanita keraton, Tuan Muda. Saya memiliki seorang suami dan 3 orang anak. Apalah gunanya memiliki kedudukan dan pangkat, jika, akhirnya harus kembali menjadi orang biasa. Jadi, saya mengganti nama saya dengan Yunita. Biar kita terus mengingat bahwa kita dulunya tercipta sebagai manusia biasa. Berakhir pun juga sebagai manusia biasa,” ujar Yunita.
“Sebuah ucapan yang bijak. Perkataan kamu membuat saya terharu. Tapi, janganlah kamu putus asa, sebab, semua itu pasti ada hikmahnya,”
Kata-kata yang terlontar dari mulut Allan membuat Yunita tercengang. Perkataan itu mirip dengan perkataan almarhumah ibunya, ‘Nduk... apapun yang kita hadapi, hendaknya kita tak perlu berkeluh kesah atau merasa diperlakukan tak adil oleh Yang Maha Esa. Apapun yang kita alami, pahit-manis, suka-duka, semua pasti ada hikmahnya,’ sesaat lamanya ia termenung. Ia tersadar, manakala mendengar namanya dipanggil-panggil oleh Nyonya Elizabeth Koef. Tampaknya beliau sudah datang, “Tuan Muda, Nyonya besar sudah datang. Saya harus kembali bekerja. Terima kasih karena Tuan Muda bersedia minum bersama saya,”
Allan mengangguk, “Sayalah yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah menemani saya bicara,” katanya sambil memandangi Yunita. Tubuh wanita itu lenyap di tikungan jalan, “Sekalipun wanita itu sudah menikah dan memiliki 3 orang anak ... ia masih tetap cantik,” katanya dalam hati.
__________