03. DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI
Setelah kakaknya menikah dengan pria pilihan orang tuanya, pernikahan Sekar Arum membawa kehancuran bagi Keluarga Jogorogo. Hal itu disebabkan karena berbagai faktor. Faktor utamanya adalah, keluarga yang selama ini dibina, retak yang kemudian hancur setelah DYAH ASIH WILUJENG, isteri Ki Jogorogo meninggal. Faktor dari luar disebabkan menyerahnya Kerajaan Pasundan kepada Belanda. Pemerintah Hindia Belanda merombak susunan kepengurusan istana yang sebagian besar dipegang oleh pejabat-pejabat yang memiliki pola pikir berseberangan dengan pejabat lama termasuk Ki Jogorogo. Pihak pejabat lama tidak rela apabila negerinya dijajah oleh bangsa lain sementara, pejabat baru memilih bekerja sama dengan pihak Belanda.
Satu per satu, pejabat lama mengundurkan diri, termasuk Jogorogo. Sebagian diantara mereka memilih berperang melawan penjajah, sementara yang lain memilih tidak melibatkan diri lagi dalam urusan politik. Hidup Ki Jogorogo berubah drastis setelah menjadi rakyat jelata. Dulu saat masih berada di istana, segala kebutuhannya tercukupi, akan tetapi, setelah menjadi rakyat jelata, Ia bersama Dyah Sekar Ayu dan juga para dayang yang masih setia menemani mereka harus bekerja keras di sebuah sawah yang tidak terlalu besar. Dari situlah Ki Jogorogo bertahan hidup di tengah tekanan pihak penjajah.
Sekalipun Ki Jogorogo dulunya adalah termasuk salah satu orang yang memiliki ilmu bela diri yang hebat, tak terhitung berapa jumlah orang yang telah bertarung dan tewas di tangannya. Akan tetapi, ia tak mampu melawan usia yang kian menjelang senja dan sakit. Ia memilih untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Ia teringat dengan salah seorang tokoh pemuka agama pada jaman kerajaan Pasundan masih jaya. Kebetulan tokoh religius itu memiliki seorang anak laki-laki yang semenjak masih di istana menaruh hati pada Sekar Ayu. Masih ada satu tugas yang harus diselesaikan sebelum Ki Jogorogo meninggalkan dunia ini. Menikahkan puteri yang tinggal satu-satunya.
Dyah Sekar Ayu semula menolak untuk menikah, ia ingin menghabiskan waktunya untuk merawat sang Ayah. Tapi, karena desakan Sang Ayah ... iapun terpaksa menikah dengan JALA SUTRA putera JALA PANJI yang merupakan orang kepercayaan Ki Jogorogo sekaligus pemuka agama yang sudah mahir dalam ilmu agama. Tapi, untuk kesekian kalinya, Ki Jogorogo melakukan tindakan yang salah. Setelah menikah dengan Jala Sutra, hidup Dyah Sekar Ayu bagaikan perahu yang berlayar tak tentu arah. Jala Sutra hanya bisa bersenang-senang, berjudi dan minum-minum. Hingga harta yang terkumpul semenjak meninggalkan istana terkuras habis. Sementara, Sang Ayah mulai sakit-sakitan dan tak mampu lagi bekerja. Terlebih saat Sekar Ayu melahirkan anak ketiga, hidupnya serba sulit di tengah pemerintah kolonial Belanda menaikkan pajak. Keadaan Sang Suami bertambah parah, tak jarang Dyah Sekar Ayu, merasakan panas di pipinya manakala, tangan-tangan kasar sang suami menjamah. Tak jarang kedua belah telinganya panas, manakala, suara-suara caci maki dan umpatan kasar terlontar dari mulut suami.
Keadaan ekonomi Sekar Ayu merosot drastis dan memaksanya bekerja lebih keras daripada manusia normal pada umumnya, itupun masih belum cukup. Segala cara dilakukan oleh Sekar Ayu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, sedang Jala Sutra tidak mau bekerja. Termasuk menjadi seorang pembantu di rumah Keluarga Van Koef, rumah seorang warga Belanda yang memang memiliki citra baik di mata semua orang baik warga pribumi maupun warga Belanda. Dyah Sekar Ayu memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang YUNITA, pembantu rumah tangga.
"Nduk ... maafkan jika Ayah selama ini membuatmu sengsara. Harusnya dari dulu, Ayah tidak memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Pertama, kakakmu Dyah Sekar Arum yang kini tak ketahuan dimana rimbanya. Seandainya dulu Ayah tak memaksanya menikah dengan orang lain yang bukan pilihannya, mungkin, nasib kita tidak seperti ini," kata Ayahnya suatu hari. Ia terbaring lemah di atas pembaringan yang nyaris ambruk.
"Sudahlah, Ayah ... kita tak mungkin bisa merubah sejarah di masa lalu. Ibu pernah berkata ... 'apapun yang terjadi pada kita pasti ada hikmahnya. Jangan sampai berkeluh kesah', meski sebenarnya, saya ragu apakah perkataan itu benar. Tapi, selama saya mampu menjalaninya, tak apa. Ayah tidur saja, tidak perlu berpikir apa-apa lagi,"
"Tapi, Ayahmu ini merasa berdosa ... tak tahu, apakah masih bisa diampuni atau tidak. Kemana suamimu ?"
"Entahlah, sejak tadi pagi tak ada di rumah,"
"Duh, nduk... Ayah kira menikahkanmu dengan dia, kau pasti bisa hidup lebih baik, tetapi... malah membuatmu sengsara. Lihat dirimu semakin hari semakin kurus. Kau tidak lagi merawat dirimu sendiri,"
"Sudahlah, Ayah... jangan bicara lagi. Berbaringlah, Ayu akan berangkat bekerja," kata Yunita sambil menutupi tubuh Ayahnya dengan selimut yang kumal, "Ya ... ya... berangkatlah, Ayah harap kau bisa menjaga diri," kata Ki Jogorogo dengan nada lemah.
Yunita mengeluarkan sepeda buntutnya, dia mengayuh sepeda itu cepat-cepat untuk tiba di rumah Keluarga Van Koef, jika tidak ingin kena marah majikan atau gaji dipotong, sementara, jarak rumahnya dengan rumah Keluarga Van Koef lebih kurang 3 kilo. Sepanjang jalan yang dilewati adalah padang ilalang, sawah, sungai dan tanah pemakaman yang gelap saat malam menjelang. Namun, Yunita rela melakukan itu semua, hanya demi sesuap nasi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Allan, putera ketiga dari KELUARGA VAN KOEF. Dia berjalan dengan wajah lesu dan tak bersemangat, tak seperti biasanya.
"Tuan Muda, selamat pagi... mengapa Anda berada disini sendirian," sapanya.
Pemuda itu menatap Yunita sebentar tapi, kemudian buru-buru membuang mukanya. Tak ada senyum terlintas di bibirnya dan itu membuat jengkel Yunita. Tanpa menunggu jawaban dari Allan, Yunita kembali mengayuh sepedanya dan akhirnya tiba lebih dulu di rumah Keluarga Van Koef, "Huh, orang yang menyebalkan... tak ada senyum sedikitpun di wajahnya, padahal dia sudah mengenalku. Cih, mengapa aku harus peduli ?" katanya dalam hati.
Yunita memarkir sepedanya di tempat seperti biasa, lalu langsung masuk ke dalam rumah. Dari jauh ia sempat melihat Allan masih berjalan dengan wajah menunduk. Tangan-tangan Yunita bekerja cepat melakukan rutinitasnya, ia sudah tak mempedulikan pintu rumah terbuka dan dari luar Allan masuk. "Selamat pagi, dear Allan, mengapa wajahmu kusut seperti itu ?" dari dalam muncul seorang wanita berkulit putih dan anggun, dialah Nyonya Keluarga Koef. Namanya, Elizabeth. Ibu dari Allan.
Allan hanya tersenyum tipis tak bersemangat, lalu kemudian melangkah masuk menuju kamar tidurnya. Melihat kelakuan Allan yang tak wajar itu, sang ibu segera ikut masuk ke dalam kamar. Yunita terus bekerja, ia sebenarnya penasaran terhadap apa yang dialami Allan. Semenjak pertama kali ia bekerja disitu, ia sama sekali tak pernah melihat senyum di wajah Allan Tuan Mudanya itu. Tampan saja tidak, pendiam, pemarah, penyendiri dan penggerutu, tak ada minat untuk mengenalnya karena membosankan, setidaknya itulah penilaian Yunita terhadap Allan.
***
Siang itu Nyonya Koef datang ke ruang dapur, Yunita baru saja membereskan peralatan dapur dan baru saja duduk untuk melepas lelah. Melihat kemunculan Nyonya Koef, buru-buru Yunita bangkit berdiri dan mengerjakan pekerjaan lain, "Maaf, Nyonya... saya seharusnya bekerja, namun, masih sempat-sempatnya duduk," katanya merasa bersalah.
Nyonya Elizabeth Koef tersenyum, "Sudahlah, kau beristirahatlah dulu... saya tahu kau sejak tadi terus bekerja dan tidak pernah beristirahat, jika, pekerjaan belum selesai. Duduklah disini, disampingku. Ada yang hendak kubicarakan," Yunita menurut, meskipun ia merasa tak enak untuk duduk di samping majikan, sekujur tubuhnya gemetaran karena merasa gugup. Nyonya Elizabeth Koef hanya tersenyum, "Jangan sungkan, Yunita ... kamu sudah saya anggap sebagai bagian dari keluarga ini. Jadi, saya menganggapmu sebagai anak sendiri," katanya.
"Terima kasih, Nyonya ... sebuah kehormatan bagi saya apabila nyonya menganggap saya demikian," kata Yunita sambil berusaha menenangkan diri. Nyonya Elizabeth Koef menghela nafas panjang, "Aku tahu akhir-akhir ini anakku Allan sering sekali marah-marah padamu, sementara, kau tak melakukan kesalahan padanya," katanya.
"Sudahlah, Nyonya... saya tidak mempermasalahkannya... mungkin karena ada sikap saya yang salah atau tidak berkenan, sehingga membuatnya tersinggung," ujar Yunita yang sudah mulai bisa menenangkan dirinya.
"Bukan. Saya yang paling mengerti sifat, watak dan karakternya. Saya tahu, dia baru patah hati," ujar Nyonya Elizabeth Koef. Yunita tertegun, mendadak saja sikapnya terhadap Allan Koef yang selama ini dikenal pemarah, penggerutu dan lain sebagainya berubah menjadi iba. Ia kemudian mendengarkan cerita Nyonya Koef dengan penuh perhatian.
"3 tahun yang lalu, Allan jatuh hati dengan salah seorang anak keturunan pribumi. Hubungannya sudah berjalan hampir 3,5 tahun. Sebenarnya, saya belum bisa menyetujui hubungan mereka, karena berbagai hal. Tapi, karena melihat kesungguhan hati mereka, akhirnya, saya terpaksa menerimanya. Akan tetapi, di saat kami hendak melamar Mira, orang tua gadis itu tidak setuju. Hubungan mereka pun akhirnya, kandas di tengah jalan. Sejak saat itulah Allan yang dulunya periang, suka senyum dan suka bercanda, menjadi seperti sekarang ini. Saya tak habis pikir, bagaimana caranya agar dia bisa kembali seperti dulu lagi. Bisakah kau membantuku ?" tanyanya kemudian.
Yunita terdiam sesaat lamanya, setelah itu bertanya, "Maaf, Nyonya ... kalau boleh tahu, apa yang membuat keluarga Anda juga keluarganya tidak menyetujui hubungan Allan - Mira ?"
"Tidak tahukah kamu, bagaimana bangsa kami menjajah bangsamu ? Meski sebenarnya, tidak semua bangsa kami melakukan hal yang sama terhadap bangsamu. Berapa banyak nyawa penduduk negara ini yang kehilangan nyawanya demi membela hak-haknya sebagai penduduk sipil. Nah, pandangan semacam itulah yang membuat keluarga Mira, memandang negatif terhadap ... hampir semua Bangsa kami. Belum lagi, masalah keyakinan dan kepercayaan. Walau semuanya itu terlahir dari pribadi masing-masing orang. Namun, bagi keluarga Mira .... itu adalah sebuah prinsip yang tidak b isa dirubah sama sekali. Usiamu dengan usia Allan mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun saja, barangkali ... kalian bisa saling tukar-menukar pikiran dan pengalaman. Kamu tahu bukan, bagaimana rasanya patah hati atau putus cinta, bukan. Saya kira semua orang pernah mengalaminya," jelas Nyonya Elizabeth Koef.
"Nyonya, sebelumnya... saya minta maaf, saya tak yakin bisa membantu Anda. Karena,Tuan Muda Allan ...." ucapan Yunita tersebut segera dipotong oleh Nyonya Koef, "Dengarlah.... Allan sebenarnya adalah pemuda yang baik. Allan adalah anak paling muda. Melihat keadaan dia sekarang, saya benar-benar iba. Jika terus-terusan seperti ini, bagaimana masa depannya. Entah mengapa, saya percaya kamu bisa membimbing dia untuk keluar dari dasar jurang yang dalam. Saya akan sangat berterima kasih sekali, apabila kamu bisa membantu saya, menyelamatkan Allan. Jasa-jasa kamu akan selalu saya ingat,"
"Baiklah, nyonya... saya akan berusaha," ujar Yunita
Setelah perbincangan itu, Yunita mencoba untuk lebih mengakrabkan diri pada Allan, walau, semula tanggapan Allan dingin, tak jarang kata-kata kasar dan kotor keluar dari mulut Allan dan itu tak jarang membuat telinga Yunita panas dan menyakiti hati serta harga diri Yunita. Tapi, wanita yang memang usianya lebih tua 2 tahun dari Allan itu, berusaha untuk tetap sabar dan mengendalikan diri. Dan, akhirnya ....
***