02. - Burung Dalam Sangkar Emas -
Sewaktu Yunita masih hidup, ia bernama DYAH SEKAR AYU PRAMESWATI dan memiliki seorang kakak bernama DYAH SEKAR ARUM PRAMESWARA. Mereka adalah anak-anak yang memiliki keturunan darah biru Kerajaan Pasundan. Mereka hidup bergelimang harta dan kemewahan. Tetapi, sekalipun demikian, mereka tidak pernah mengenal, apa yang dinamakan kebahagiaan. Karena, segala sesuatu, diatur oleh orang tua, mereka hidup bagaikan seekor burung dalam sangkar emas. Tidak pernah mengenal dunia luar. Itu sebabnya, berulang kali 2 puteri keraton ini senantiasa menghilang atau lari dari istana diam-diam. Dan, itu membuat seluruh penghuni istana geger. Tak jarang ayah mereka marah besar dan menghukum mereka.Sekalipun demikian, 2 puteri keraton ini, tidak pernah jera.
Hingga pada suatu hari, 2 puteri keraton ini menghilang dalam waktu yang cukup lama. Mereka kembali ke istana saat mendengar bahwa ibunya sedang jatuh sakit. Begitu mereka tiba di pintu gerbang rumah tempat tinggalnya, sang ayah sudah duduk sambil memain-mainkan cemeti / cambuk dikelilingi oleh beberapa dayang istana dan prajurit-prajurit jaga.
"Jika kalian tak mendengar kabar bahwa ibu kalian sedang sakit, mungkin, kalian takkan pulang, bukan ?" tanya sang Ayah dengan nada geram. Dyah Sekar Arum menarik lengan adiknya dan menyuruh adiknya berdiri di belakangnya, "Ananda berdua sudah melakukan kesalahan, tapi, jika tidak demikian mungkin seumur hidup kami akan terus dikurung dalam istana. Ayahanda tahu, kami ingin sekali bermain-main dan mengenal dunia luar," katanya sementara ia dan adiknya berlutut dan menundukkan wajah ke lantai.
"Selama ini kami sudah bersabar melihat kelakuan kalian yang sesukanya sendiri dan tidak mematuhi peraturan-peraturan istana. Kalian adalah anak-anak perempuan.... pantaskah kalian berlaku seperti itu ? Ingatlah, kalian adalah puteri-puteri keraton. Harusnya kalian menjaga sikap kalian itu dan menjadi contoh seluruh kawula muda di negeri ini. Apakah kalian tahu bagaimana kekhawatiran kami ? Jika sampai kalian celaka, mau ditaruh dimana mukaku ini ?" ujar sang Ayah, nadanya masih terdengar tinggi sekali.
"Ayah, daripada kami hidup seperti ini, lebih baik mati saja," sahut Dyah Sekar Ayu. Perkataan Sekar Ayu ini benar-benar membuat Ayahnya bertambah marah, "Baik !! Jika kalian tidak bisa diatur ... Sekarang juga pergi dari sini dan jangan kembali ! Asal tahu saja, begitu kaki kalian melangkah keluar dari halaman ini .... Kalian bukanlah anakku !!!"
Perkataan sang Ayah itu seakan bagaikan ribuan tombak menusuk ulu hati anak-anak yang baru berusia 10 dan 12 tahun itu. Mereka menatap wajah Ayahnya yang merah padam, benar-benar perkataan yang tak pantas disebutkan apalagi di hadapan para dayang dan para prajurit.
"Tarik kembali ucapanmu itu, kakang Jogorogo," mendadak terdengar suara lemah dari dalam rumah. Bersamaan dengan itu, di ambang pintu, muncullah seorang wanita cantik berwajah pucat, pandangan matanya begitu sayu.
"Ibu..." seru 2 puteri keraton itu hampir bersamaan dengan sapaan lembut dari Sang Ayah, "Nyai. Harusnya kau berbaring saja di pembaringan, kau, kan masih sakit ?" sambil berkata demikian pria yang dipanggil dengan sebutan KAKANG JOGOROGO itu berjalan menghampiri dan hendak memegang tubuh wanita yang baru keluar dari dalam rumah itu. Tapi, wanita itu menempiskan tangannya sambil berkata, "Aku tak menyangka ... Kakang bisa berkata seperti itu terhadap puteri-puteri kita di hadapan orang. Mereka adalah wanita, tahukah kau, bagaimana jadinya jika ini sampai tersebar sampai keluar istana. Bagaimana perasaan mereka, kang ?" sambungnya sambil kemudian melirik ke arah 2 puteri keraton itu, "Kalian masih saja berlutut disitu ? Masuk dan bersihkanlah tubuh kalian. Makanan dan minuman sudah disiapkan oleh para dayang,"
Dyah Sekar Ayu dan Dyah Sekar Arum berdiri dan kemudian melangkah masuk sementara, para dayang segera mengikuti mereka dari belakang. Di dalam Dyah Sekar Arum menatap tajam ke arah para dayang, "Aku bertanya pada kalian semua, siapakah yang memberikan surat ini pada Ayah ?" tanyanya sambil mengeluarkan sehelai kertas yang terbuat dari kulit sapi dari balik lipatan pakaiannya.
Dyah Sekar Ayu menatap wajah kakaknya dengan tatapan heran, "Kak, bukankah surat itu tadi tergantung di ikat pinggang Ayah ? Kapan kakak mengambilnya ? Darimana pula kakak mempelajarinya ?"
Dyah Sekar Arum tertawa nakal, "Tadi sewaktu lewat di samping Ayah. Karena, Ayah teledor, surat ini tak lagi diperhatikan. Aku sempat membaca isinya. Kalau kau bertanya darimana aku bisa melakukan itu... jawabnya Kakang Sabdo Ditho yang mengajariku. Namanya, mencopet,"
"Apa isi surat itu, kak ?" tanya Sekar Ayu.
"Ini adalah surat kita yang kuberikan pada ibu sebelum berangkat dari istana, tampaknya ada orang yang sengaja mencari muka di hadapan Ayah," jawab Sekar Arum lalu kemudian kembali menatap tajam ke arah dayang-dayang istana, "Ayo, katakan atau kalian semua akan mendapat hukuman dariku. Bukankah kalian sudah tahu bagaimana aku menghukum orang yang bermain-main dengan kami ? Ayo, katakan selagi aku masih bisa bersabar," ancamnya dengan nada yang dingin. Perkataan Sekar Arum itu membuat bergidik semua dayang yang berada di dalam ruangan. Mereka semua menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai ruangan.
Untuk sekian lama, ruangan itu sunyi mencekam. Karena tak ada yang menjawab, Dyah Sekar Ayu ikut-ikutan bicara. "Kalian mengertilah, bayangkan jika kami adalah kalian, apakah yang akan kalian lakukan ? Aku yakin kalian akan melakukan hal yang sama dengan kami, bukan ?"
Dyah Sekar Ayu dan Dyah Sekar Arum, meski mereka adalah saudara kandung, namun, memiliki sifat yang bertolak belakang. Dyah Sekar Ayu adalah seorang yang bijaksana, segala perbuatannya disertai dengan tutur kata yang ramah dan penuh kasih. Segala gerak-geriknya yang lemah lembut itu, adalah warisan sang ibu. Sementara, Sekar Arum, dia sedikit pendendam, congkak dan tinggi hati namun, tegas dalam bertindak atau memutuskan suatu perkara ? Rasa ingin tahunya lebih besar daripada sang adik. Saat Ayahnya berkata hal-hal yang kurang pantas diucapkan terlebih di hadapan banyak orang, ia merasa tidak terima dan ingin melampiaskan kekesalannya pada para dayang dan para prajurit.
Karena tak ada jawaban dari para dayang dan yang lainnya, maka, ia merasa kesal dan ingin memukul semua orang yang ada di tempat itu. Akan tetapi, saat hendak melayangkan tangannya ke arah dayang-dayang, mendadak, terdengar suara dari arah pintu masuk, "Mereka tidak bersalah, nduk...," bersamaan dengan itu dari ambang pintu muncul seorang wanita berusia lebih kurang 39 tahunan. Dia berjalan tertatih-tatih sambil batuk-batuk perlahan. "Ibu ...," panggil dua puteri keraton itu. Mereka kemudian berjalan menghampiri dan memapahnya menuju ke pembaringan.
"Ibulah yang memberikan surat itu pada Ayah kalian," kata wanita itu setelah meletakkan pantatnya dengan nyaman di tepi pembaringan, "Ibu melakukan itu, semata-mata untuk kebaikan kalian. Juga demi untuk menyadarkan Ayah kalian agar lebih bijak dalam mendidik anak-anaknya," katanya lagi. Ia memberi isyarat agar para dayang pergi dari kamar itu. Setelah semua orang pergi, ia menghela nafas panjang sesaat, baru kemudian kembali berkata, "Hidup di lingkungan istana seperti ini, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hampir seluruh mata orang memandang ke arah istana ini. Mengapa ? Sebagian dari orang-orang di luaran sana berpendapat, hidup di lingkungan istana ... segala sesuatunya akan serasa lebih mudah, sebagian berpendapat, bahwa di tempat inilah mereka menggantungkan harapan dan cita-cita mereka, di tempat ini pula ... hampir seluruh mata orang mengarah kemari. Perbuatan kita, tingkah laku kita dan apapun yang terjadi disini, akan dilihat dan didengar banyak orang. Sekalipun kita adalah orang-orang bermartabat, terhormat ataupun bergelimang harta dan kemewahan, hasilnya, tetaplah sama, tidak berbeda dari orang-orang di luaran sana; kita harus hidup dengan segala peraturan dan norma-norma yang ada, tak seorang pun bisa menghindarinya,"
Mendengar perkataan ibunya, 2 bocah perempuan itu segera berlutut, "Ananda berdua, mengaku bersalah ... mohon ibu sudi memberikan hukuman. Kami bersedia menerimanya," kata mereka.
"Sudahlah anak-anakku, bangunlah dan duduklah di samping ibu. Ada yang hendak ibu bicarakan dengan kalian, terutama kau, Sekar Arum,"
2 puteri keraton yang jelita itu menurut. Setelah batuk-batuk sebentar, DYAH ASIH WILUJENG, isteri pembesar Istana Pasundan itu berkata, "Kalian adalah puteri dari Maha patih JOGOROGO, salah satu pejabat istana Pasundan ini. Nama Ayahmu cukup disegani dan dihormati, baik dari kalangan istana maupun di luar istana. Lihat diri kalian. Semenjak kecil kalian disebut sebagai pemberontak kecil, pembangkang dan lain sebagainya. Keinginan kalian untuk keluar istana, ibu sangat memakluminya. Apakah kalian tahu, sewaktu pertama kali ibu menginjakkan kaki di istana ini sebagai isteri salah seorang pembesar istana ... ibu juga pernah merasakan apa yang kalian rasakan. Berulang kali ibu mencoba keluar dari istana dengan berbagai macam alasan.Tetapi, toh akhirnya harus kembali kemari. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri hidup di lingkungan istana,"
"Jadi, ibu pernah mengalaminya ?" tanya Sekar Ayu. Sang Ibu tersenyum, "Tentu saja. Tapi, tak senekad kalian," katanya dengan nada sedikit tinggi, "Setelah ibu mengandung dan melahirkanmu, Sekar Arum, ibu sadar bahwa, tak selamanya ibu terus-menerus bertindak seenaknya. Sementara, Ayah kalian bekerja untuk negeri ini. Bayangkan saja, apa jadinya jika negeri ini terancam dan membutuhkan tenaga dan pikirannya sementara, ibu hanya memikirkan diri sendiri. Kalian paham, bukan apa yang ibu maksud ?"
Perkataan itu membuat Dyah Sekar Arum dan Dyah Sekar Ayu menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lantai kamar. Mereka terdiam seribu bahasa. Sejak saat itulah, mereka tak pernah lagi pergi diam-diam dari lingkungan istana. Mereka baru bisa keluar istana, saat Sang Ayah mengajak berburu ataupun mendapat tugas dari Sang Raja. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup mereka.
__________