01. - Sosok Wanita Yang Menari Dalam Hujan -
Bangunan itu berdiri di atas tanah lapang yang sangat luas, berarsitektur Belanda, kokoh menantang langit. Didirikan mungkin sekitar tahun 1800-an. Tegak berdiri meski sudah berulang kali mengalami perbaikan disana-sini dan tidak merubah bentuk aslinya. Hal itu semata-mata adalah untuk mempertahankan peninggalan sejarah kelam masa kependudukan kolonial Belanda atas negeri ini. Bangunan itu sebelumnya adalah sebuah perkebunan kopi, gudang penyimpanan dan pengolahan kopi juga mes para pegawai diatur sedemikian rupa sehingga tetap terjaga keasriannya.
Sejalan dengan berjalannya waktu bangunan multifungsi itu, berubah menjadi kantor pemerintahan. Entah mengapa, kantor tersebut mendadak tutup. Tanah dan bangunan yang berdiri di atasnya dijual dan akhirnya, sekitar tahun 1900an dibangun sekolah Belanda.
Yang mencakup pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah keatas dan kejuruan.
SMP Negeri 1 Keteng - Banyuwangi baru berdiri setelah memasuki jaman kemerdekaan lebih kurang tahun 1940-an. Sebagai bekas sekolah HIS ( Holland Inlandsche School ), peraturan-peraturan sekolah masih berpegang pada peraturan yang dibuat pada jaman kolonial, hanya saja perbedaannya tidak ada diskriminasi dan tulisan "Verboden Voor Honden En Inlander" ( Dilarang Masuk Anjing dan Pribumi ) dihilangkan.
Tapi siapa yang menyangka, di bawah bangunan megah itu tersimpan banyak kisah pilu yang terkubur. Hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya, salah satunya, aku Maribeth. Di tempat inilah untuk pertama kalinya, aku menuntut ilmu... Di tempat ini pula aku bertemu dengan Cindy Permatasari dan menemukan bahwa, kita hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk lain yang biasa disebut 'hantu' atau 'arwah penasaran'.
Jika engkau bertanya, pernahkah aku melihat hantu ? Inilah yang bisa kusebutkan, aku memiliki banyak teman hantu, semua berasal dari latar belakang atau keluarga yang berbeda plus kisah hidup mereka. Berbicara dengan mereka, iya... Setiap hari aku berbicara dengan mereka.
Tarian dalam Rinai Hujan, adalah salah satu dari sekian banyak teman hantuku... Yah, entah mengapa tiba-tiba aku ingin menuliskan cerita tentang dia. Akan tetapi, sebelum cerita ini kumulai, ijinkanlah aku mengajak Anda sekalian berpetualang menerobos lorong ruang dan waktu untuk mengenal mereka semua yang terlibat dalam kisahku ini. Secara khusus pada, Yunita... Hantu Gantung Leher Penghuni Toilet Wanita di SMP Negeri 1 Keteng.
Yah, nama sekolah dan nama tokoh yang kusebutkan diatas adalah nama yang telah kuubah demi menghormatinya... Plus, kerelaan hatinya karena bersedia mengungkapkan identitas dan asal usulnya.
Kuharap, Anda sekalian tidak bosan untuk mengikuti petualangan saya menuju lorong ruang dan waktu dengan membuka buku ini setiap lembarnya dan tidak berhenti membacanya hingga tuntas.
***
Hujan. SMP Negeri Keteng I dan sekitarnya, diguyur hujan yang sangat deras dan berangin. Bangunan yang didirikan sekitar tahun 1900-an itu, seakan hendak ditenggelamkan. Padahal menurut prakiraan cuaca, harusnya, hari ini cerah, tak ada angin, tak ada hujan ditambah lagi listrik padam. Untunglah saat listrik padam kami sudah memasuki jam istirahat kedua.
Dalam keadaan hujan seperti itu, tak ada seorang pun yang berani berlarian di halaman sekolah. Tapi, jika hari tidak hujan ... mungkin halaman sekolah penuh dengan anak-anak bermain bulu tangkis, bola basket atau yang lain. Hanya beberapa anak saja yang berlalu lalang ke halaman, kalau tidak ke kantin, paling ke toilet, selebihnya, mereka hanya duduk-duduk saja di teras atau di dalam kelas.
Aku terkejut, tiba-tiba Cindy datang ke kelasku, ia menarik tanganku dan berjalan menyusuri teras untuk kemudian berhenti tak jauh dari toilet wanita. "Kak, coba perhatikan baik-baik halaman di depan toilet," bisiknya. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh Cindy. Dan, akhirnya, selain pandangan mata, imajinasi, naluri dan kemampuan yang diberikan oleh keluargaku ... aku bisa melihat bahwa : Di tengah guyuran air hujan ada sesosok bayangan wanita cantik berbaju putih, berambut hitam dan panjang. Wanita itu sedang menari-nari dengan gerakan lemah gemulai di tengah guyuran air hujan.
Meski menari, namun, aku bisa melihat senyuman di sudut bibirnya. Senyuman yang biasa dilempar untuk para penonton, tapi, senyuman yang penuh dengan kesedihan. Pandangannya lurus ke depan seakan ada orang lain yang menari bersamanya, dia tak memperhatikan kami, dia terus menari dan menari dengan gerakan yang indah. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pemandangan kami. Tali... yah, tali yang mengikat lehernya itulah yang mengganggu pandangan kami. "Siapakah dia ?" tanyaku dalam hati.
Tariannya begitu indah. Tubuhnya berputar ke kiri dan ke kanan, terkadang melompat, menyentakkan kakinya ke depan, ke belakang dan ke atas. Hujan seakan bukanlah penghalang malah justru membuat gerakannya indah. Air hujan bagaikan lampu-lampu penghias dengan halaman toilet wanita dan tanaman-tanaman perdu sebagai latar belakangnya. Tapi, yang pasti, wanita itu bukanlah manusia.
Mendadak lonceng berbunyi, jam istirahat kedua usai. Tapi, wanita itu terus menari, ia tak terganggu dengan bunyi berisik tersebut. Tariannya makin indah dan membuat kami enggan untuk meninggalkannya. Tapi, apa boleh buat kami harus kembali mengikuti mengikuti pelajaran, kami sebenarnya ingin menonton tarian itu hingga usai.
Sepanjang jam pelajaran terakhir, aku tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pikiranku masih tertuju pada sosok wanita yang menari dalam guyuran air hujan di depan halaman toilet wanita itu. Ternyata, bukan hanya aku saja yang tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, Cindy pun mengalaminya. Maka dari itu, sepulang sekolah, kami kembali menuju ke tempat itu, berharap bisa menikmati tarian itu lagi akan tetapi, ketika kami tiba disana tak ada siapa-siapa lagi, hujan sudah reda saat jam ke-7 tadi. Yang tersisa hanyalah genangan air dan hembusan angin dingin menggoyang tanaman-tanaman di sekitarnya, juga, Pak Jiman yang tengah sibuk membersihkan halaman dan ruangan kelas yang sudah kosong.
Melihat kami, Pak Jiman berjalan menghampiri, "Kalian kok belum pulang ? Apakah masih ada barang tertinggal ataukah yang lain ?" tanyanya ramah. Aku menggelengkan kepala, "Tadi sebenarnya kami buang air kecil. Tapi, sekarang mendadak hilang ?!" jawabku berbohong.
Pak Jiman tertawa, "Apakah karena ada saya disini sehingga kalian malu ? Baiklah, saya membersihkan ruangan lain dulu, sementara, kalian pergi ke toilet," katanya.
"Tidak apa, pak ... Bapak teruskan saja pekerjaan, sementara, kami pulang dulu ... mumpung hujan sudah reda. Sampai ketemu besak, pak ..." kataku sambil menarik lengan Cindy dan melangkah meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, hati-hati di jalan, ya," kata Pak Jiman sambil meneruskan pekerjaannya.
***
Sebelum jam pelajaran dimulai, seperti biasa, aku menuju Lab Bahasa. Disana sudah menunggu Cindy dan kawan-kawannya juga Rita. Mereka berbincang-bincang mengenai berbagai peristiwa yang terjadi tempo hari, dimana aku dan Cindy melihat sosok wanita yang menari dalam guyuran air hujan, tepat di halaman depan toilet wanita. Aku segera menceritakan kedatangan Hantu Gantung Leher, Penghuni toilet wanita dini hari tadi pada semua yang ada di ruangan itu.
"Apakah kau tahu siapa wanita itu, Rit ?" tanyaku.
Rita mengerutkan keningnya, "Yang jelas, dia bukanlah Lita, Salah satu siswi yang meninggal beberapa waktu yang lalu, sekalipun ada tali yang mengikat lehernya. Dia baru kali ini menampakkan dirinya," ujar Rita.
"Mungkinkah dia, Yunita ?" tanyaku.
Semua yang ada di ruangan itu memandangiku dengan tatapan heran, "Yunita ? Siapa dia ?" tanya Rita.
"Bukankah kau sudah mengenalnya ?" aku balas tanya, "Dulu, kau menceritakan sebelum sekolah ini berdiri ada sosok hantu wanita yang menghuni toilet wanita. Wanita itu meninggal dengan cara menggantung lehernya sendiri. Entah apa penyebabnya. Apakah kau sudah lupa ? Namanya Yunita,"
"Darimana kau tahu dia bernama Yunita ?" tanya Rita lagi.
Aku kemudian menceritakan apa yang kualami dini hari tadi. Semua mendengarkan dengan penuh perhatian. Begitu aku selesai menceritakan itu, Cindy menimpali, "Jika benar dia bernama Yunita dan sudah tinggal lama disana, mengapa tidak segera kita temui ? Bukankah kakak mengatakan bahwa dia tahu, semua yang telah terjadi di sekolah ini ?"
Rita mengangguk, "Aku setuju, tetapi, kita tak mungkin kesana semuanya. Jika kita semua kesana beramai-ramai, aku ragu dia akan menampakkan diri. Kau pergilah bersama Cindy. Kami menunggu disini," katanya.
"Dia juga mengenalmu, Rit ... juga kalian semua. Mengapa tak sekalian saja ikut kami," tanyaku sedikit kecewa.
"Dengarlah ... jika dia sudah menampakkan dirinya pada kalian, itu artinya, dia hanya ingin bicara pada kalian. Sebab, bisa jadi setiap golongan kami, memiliki rahasia sendiri-sendiri yang tak ingin diungkapkan. Dan, rahasia itu hanyalah bisa diungkapkan pada siapapun yang dia inginkan. Manusia lebih sempurna daripada kami, pada manusialah kami terkadang meminta bantuan. Baik bantuan yang bersifat positif ataupun negatif. Dari situlah manusia akan diuji iman mereka. Kalian mengerti, bukan ? Pergilah, selagi masih ada waktu. Kami menunggu disini dan apabila kalian memerlukan kami, panggillah nama kami dalam hati, kami akan datang," jelas Rita.
Tanpa banyak bicara lagi, Cindy segera menarik tanganku dan meninggalkan Lab Bahasa, sementara, Rita dan yang lain tersenyum sambil mengganggukkan kepala.
***
Hari masih pagi, namun, karena mendung suasana di sekitar sekolah kelihatan gelap ditambah dengan tanaman-tanaman raksasa yang tumbuh disana-sini di halaman. Sebagian lampu masih belum dimatikan oleh Pak Jiman. Aku dan Cindy berjalan menyusuri jalanan di lorong-lorong ruangan kelas yang menghubungkannya ke halaman toilet wanita.
Baik lorong kelas maupun ruangan kelas masih sepi, karena anak-anak lain belum datang. Bunyi beradunya sepatu dengan lantai terdengar bergema memenuhi setiap ruangan yang kami lewati beriringan dengan suara halilintar yang terdengar semenjak dini hari tadi. Cuaca seakan tak bersahabat, cahaya kilat menyambar-nyambar seakan hendak mencabik-cabik awan hitam yang bergulung-gulung menyembunyikan wajah mentari pagi.
"Ddduuuaaarrr !!!" kali ini bunyi guntur lebih keras dari sebelumnya, membuat kami melompat kaget, gendang telinga seakan pecah memaksa setiap detak jantung dan aliran darah bergerak dua kali lebih cepat dari batas normal para pendengarnya.
Aku menengadah ke langit. Awan hitam sudah seluruhnya menutupi langit dan tak lama lagi hujan akan turun, sementara, kami masih berjalan menyusuri lorong demi lorong. Tepat ketika kami hendak menapak halaman Toilet wanita, hujan turun disertai hembusan angin. Meski titik-titik hujan tak sebesar pangkal sapu lidi, tapi, tetap saja membuat pandangan kami terhalang.
Kami terus melangkah. Langkah-langkah kaki kami terhenti saat melihat sesosok bayangan wanita berbaju putih dan berambut panjang berdiri. Kepalanya menengadah ke langit sementara sepasang matanya terpejam. Pada leher wanita tersebut melingkar sebuah tali berwarna hitam. Dialah wanita yang kami temui beberapa waktu lalu. Ia menampakkan diri lagi pada kami. Apa yang hendak dilakukannya di tengah guyuran hujan seperti ini ? tanyaku dalam hati.
Pertanyaan itu segera terjawab, manakala, wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya. Pinggangnya meliuk-liuk bagaikan badan seekor ular raksasa, tangan dan kakinya bergerak kesana-kemari. Ia menari. Menari dalam guyuran air hujan. Tapi, gerakannya berbeda dengan beberapa waktu lalu, gerakan tariannya bersifat setengah erotis. Aku dan Cindy tak paham mengenai seni tari, akan tetapi, tarian yang dibawakan olehnya, bagi kami merupakan bentuk tarian yang ... mungkin, terkesan seperti : MERINDUKAN KEKASIH.
Sebuah tarian yang cukup langka, mata kami tak berkedip menyaksikannya. Itu adalah tarian yang cukup indah, beruntung kami dapat menyaksikannya. Setidaknya itulah pendapat kami.
"Tarian itu, seperti orang yang merindukan kekasih," perkataan itu mengejutkanku. Buru-buru aku menoleh ke arah darimana suara itu berasal, di belakangku sudah berdiri : Rita, Intan Jan-Shen dan Timmy. Tobby duduk tak jauh dari halaman depan toilet, ia duduk sementara tangannya bergerak mencorat-coret skeetch book yang ada di pangkuannya. Ia duduk di tempat yang nyaman.
"Kalian .... sejak kapan kalian ada di tempat ini ?" tanyaku.
"Kalian pernah menyaksikan tariannya dalam guyuran hujan beberapa waktu lalu. Tarian itu selesai saat hujan reda. Aku penasaran dengan cerita kalian itu, maka, saat hujan turun kami segera kemari berharap bisa menyaksikan bagaimana dia menari di tengah guyuran hujan seperti ini. Dan, ternyata.... niat kami kesampaian juga," jawab Rita sambil menatap wanita yang masih menari di halaman toilet wanita itu, "Tariannya memang indah dan membuatku terpesona," sambungnya.
Kami terus menonton, hingga hujan berangsur-angsur reda. Detik berikut, kami menyaksikan wanita itu berjalan tertatih-tatih memasuki toilet wanita. Aku dan yang lain mengikutinya dari belakang. Saat tiba di toilet, kami melihat wanita itu berdiri membelakangi kami.
"Kalian tampaknya menyukai tarianku, ya ?" tanyanya tanpa menoleh.
"Jadi, kau tahu bahwa kami menyaksikan tarian-tarianmu yang indah itu," tanyaku.
"tentu saja. Kalian kira aku tak mengetahuinya ? Aku juga melihat seorang bocah melukis semua gerakan-gerakan tarianku," kata wanita itu sambil melirik ke arah Tobby yang berdiri di belakang Cindy berdampingan dengan Timmy, ia memeluk skeetch book-nya.
"Apakah kau tidak suka, bila tarianmu itu dilukis oleh Tobby ? Kalau memang tak suka, biar Cindy memintanya untuk diberikan padamu," sahut Cindy.
Wanita itu tersenyum, "Sebenarnya, tarian itu kupersembahkan untuk dia.
Tapi, kurasa dia takkan mempedulikannya. Kemarikan lukisanmu itu, biar aku melihatnya,"
Tobby melangkah maju dan kemudian memberikan Skeetch Book-nya pada wanita itu. Begitu buku sudah dipegang, jari-jemari wanita itu bergerak membuka halamannya satu persatu, "Kau pandai sekali melukis. Apa nama lukisan ini ?" katanya sambil menunjukkan lukisan 2 anak duduk di tepi pantai sambil memandangi bulan purnama.
"PENANTIAN ANAK REMBULAN," jawab Tobby singkat. Wanita itu tampak heran, "Judul yang bagus. Bisakah kau melukiskannya lagi untukku ?" tanyanya sambil memberikan Skeetch Book itu kepada Tobby. Tobby mengangguk, lalu kembali tangannya bergerak lincah seperti menari di atas kertas. Dalam waktu singkat, Lukisan PENANTIAN ANAK REMBULAN sudah jadi dan diberikan kepada wanita itu.
"Namamu : Yunita, bukan ?" tanya Cindy, "Apa nama tarianmu tadi ?" "Tak ada nama yang cocok untuk tarianku tadi. Jika kau menyukainya, aku dapat mengajarkannya kepadamu," jawab wanita itu.
Cindy tersenyum, "Cindy menghargainya. Selama ini Cindy banyak belajar banyak hal dari teman-teman Cindy ini. Cindy berterima kasih sekali. Tapi, sebelum itu... bisakah kau ceritakan perihal tentangmu. Maksud Cindy, sewaktu kau masih hidup di dunia ini. Apa yang menyebabkanmu masih berada di dunia ini, sementara, Cindy tahu ... harusnya kau sudah meninggal. Bisakah kau ceritakan semuanya kepada kami ? Jika kau tak keberatan,"
Wanita yang disebut Yunita itu tersenyum, ia berjalan melayang mengelilingi kami, "Ini luar biasa. Aku tak habis pikir, bagaimana anak-anak seusia kalianberdua bisa melihat, berkomunikasi juga bersahabat dengan kami. Padahal, setahuku, anak-anak lain seusia kalian ini, pasti ketakutan melihat apa yang tidak mereka pahami. Selama sekian abad, aku harus sendirian di tempat ini. Rasanya tersiksa sekali apabila tak ada yang bisa kuajak bicara. Dulu, tak seorang pun berani menginjakkan kakinya di tempat ini. Sekarang, ada 2 orang bocah perempuan yang masih bau kencur berani datang dan mengajakku berbicara. Tentu saja aku tak keberatan. Baiklah akan kuceritakan, kuharap setelah kalian mendengar ceritaku ini, janganlah enggan datang kemari kapanpun. Akan tetapi, aku tak ingin ada orang lain mengganggu saat aku bercerita. Akan tetapi, maafkan aku, jika harus mengganti suasana toilet ini menjadi rumah tempat tinggalku. Aku berjanji, saat jam pelajaran sekolah ini dimulai ... kalian sudah kembali," jelasnya.
Aku mengangguk, seketika itu pula suasana di ruangan toilet wanita berubah. Pasak-pasak kayu yang menyangga atap ruangan berubah menjadi dahan dan ranting pohon beringin yang berdaun lebat. Cat pada dinding ruangan terkelupas dan retak disana-sini, perlahan-lahan berubah menjadi semak-semak belukar. Lantai di ruangan perlahan-lahan berubah menjadi rumput-rumputan hijau dan empuk.
"Sebelum ruangan ini dibangun, ini adalah sebuah tanah lapang yang cukup luas. Disini, ada sebuah pohon beringin yang berukuran raksasa dan berdaun lebat, disinilah aku menggantung leherku. Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungimu, Maribeth. Besar harapanku, agar kau dan teman-temanmu bisa membongkar seluruh kejahatan yang terselubung di sekolah ini dan menyeret para pelakunya di pengadilan, semuanya harus diakhiri. Jika hukum tak bisa memberikan keadilan untuk para korban.... maka, kamilah yang akan memberikan hukuman," jelas Yunita. Diapun mulai membawa kami memasuki lorong ruang dan waktu, sebuah masa dimana Yunita masih hidup sebagai manusia seperti kami.
***
Aku, Cindy dan teman-teman berada di sebuah bangunan sederhana dengan sebuah pohon beringin berukuran raksasa. Usia pohon itu mungkin sudah ratusan tahun. Masih berdiri kokoh dengan serabut akar-akarnya yang bergelantungan di tengah udara, panjang dan lebat. Begitu panjangnya hingga sebagian ada yang menyentuh tanah. Bentuk pohon itu aneh sekali, jika aku bisa melukiskan bentuknya dengan kata-kata, aku akan menceritakan setiap detailnya. Yang bisa kukatakan adalah, bentuknya mirip kerumunan manusia yang saling berpelukan erat dan kuat. Berjejeran dan bertumpuk-tumpuk menjadi satu.
Aku dan Cindy mendengar suara aneh yang berasal dari atas kepala. Buru-buru kami mengalihkan pandangan ke asal suara itu. Ada sesosok wanita berbaju putih bergelantungan di udara. Sebuah tali tambang mengikat erat lehernya, sepasang matanya terbelalak lebar, lidahnya terjulur keluar. Saat aku hendak membuka mulutku, sepasang kelopak matanya bergerak menatap tajam ke arah kami. Menyusul kemudian tubuhnya yang kaku itu bergerak perlahan-lahan, ia melayang turun dan berdiri di hadapan kami.
"Maaf, sudah membuat kalian takut," katanya.
Memang, untuk beberapa menit, kami dihadapkan oleh sebuah pemandangan yang cukup menakutkan dan menegangkan.
"Selama 20 menit aku harus tersiksa di atas sana, setelah itu aku melihat diriku bergelantungan. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya, aku bergelantungan disana selama tiga hari, tiga malam. Hingga akhirnya, ada seorang wanita datang dan menurunkan tubuhku dari atas pohon beringin ini. Kalian tahu, siapa dia ? Dialah Nyai Keting, kakakku. Dia pula yang mengubur jenazahku di bawah pohon beringin ini," jelasnya.
Mendengar nama 'NYAI KETING' disebut-sebut, kami semua terkejut. Kami semua tak menyangka bahwa, hantu gantung leher penghuni toilet wanita dan penunggu Ringin Kembar memiliki hubungan darah.
"Sebenarnya, apa yang membuatmu melakukan ini ?" tanyaku.
"Tahukah kalian, di dunia ini, apa penyakit yang paling berbahaya sekaligus mematikan ?"
"Kanker,"
"Bukan," tegas Yunita, "Kalian adalah anak-anak kemarin sore yang lugu dan polos. Tapi, tak apa ... aku menyukainya. Nama penyakit itu adalah : CINTA,"
Setelah berkata demikian sosok arwah penasaran yang menamakan dirinya sebagai YUNITA itu mulai bercerita. Cerita yang mungkin pernah dialami oleh manusia pada umumnya. Cerita yang bisa kuanggap, membahagiakan namun harus berakhir tragis. Berbeda dari yang dialami oleh SRI MENUR dan yang lain. Cerita yang benar-benar membuat kami, memperoleh pengalaman baru dan harus berhati-hati dengan apa yang disebut CINTA BUTA. Setidaknya itu menurut kami, sementara, orang boleh berpendapat lain. Kami adalah anak-anak yang masih harus belajar memahami perasaan orang-orang yang ada di sekitar kami.
__________