Setiap perempuan pasti mengidam-idamkan rambut yang indah dan terawat. Berbagai perawatan pun sering dijalani demi mendapatkan rambut yang berkilau dan lembut juga bebas ketombe.
Seperti halnya Sissy, ia sangat merawat rambut indahnya baik dengan perawatan modern sampai ramuan herbal. Baginya, rambutnya itu selain sebagai mahkota, juga ia anggap sebagai aset. Karena memang ia pernah menjadi seorang model iklan shampo. Namun, dibalik cerita rambutnya yang indah menawan, Sissy mempunyai kisah mistis berhubungan dengan hal tersebut.
Suatu malam, Sissy baru saja mendapatkan serum baru untuk rambutnya. Ia tidak sabar untuk memakaikan benda cair itu ke setiap helaian rambutnya. Sambil tersenyum gembira, gadis itu mengoleskan serum secara merata lalu menyisirinya. Di depan cermin, ia terus menerus mengagumi rambutnya sendiri seraya mengusap-usap.
"Jangan sisiran malam-malam, Sy. Pamali!" Suara ibunya menghentikan gerakan tangan Sissy.
"Memang kenapa, Bu?"
"Nanti ada yang iri sama rambutmu, terus sesuatu yang aneh bakal terjadi."
"Ah, mitos, Bu!"
"Ya sudah, kalo nggak percaya." Sang ibu beranjak pergi meninggalkan Sissy.
Sissy tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Ibu ada-ada aja, deh!"
Sissy mulai melanjutkan kegiatan menyisir rambutnya tanpa memedulikan peringatan sang ibu.
Kemudian, gadis itu pergi tidur setelah menyelesaikan perawatan rambut. Tanpa disadarinya, ada sesosok makhluk yang mengawasinya.
***
Pagi hari setelah mandi, Sissy menyisir rambut dengan hati-hati. Ia benar-benar merawat mahkotanya itu.
Setelah menyelesaikan rutinitas, ia menyambar tas selempangnya lalu berangkat ke kampus.
Siang hari saat jam makan siang, Sissy mengajak temannya, Lina, makan di kantin. Rambut indah Sissy tergerai dan melambai indah ditiup angin.
"Kamu jadi ikut audisi iklan shampo lagi, Sy?" tanya Lina sambil menyantap makanan yang sudah tersaji di hadapannya.
Sissy menganggukkan kepala, mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.
"Wah, iya sih. Cocok! Aku kadang minder kalo lihat rambutmu, Sy. Bagus, pasti kamu bener-bener merawatnya, 'kan?"
"Aku sendiri juga tergila-gila sama rambutku." Sissy tertawa setelah mengucapkan kata-kata konyol tersebut.
Malam hari, seperti biasanya, Sissy duduk di depan cermin menyisir dan meletakkan beberapa treatment rambut. Ia tersenyum saat memandangi pantulan dirinya di cermin. Kemudian ia mulai berpose ala-ala bintang iklan shampo. Terkadang ia juga mengibas-ibaskan rambut yang hitam berkilau itu, lalu menyisirnya kembali.
"Sy, ini malam Jum'at lho, pamali, sisir rambut malam-malam!" Lagi-lagi ibunya mengingatkan Sissy. Namun, gadis itu tidak menggubris perkataan sang ibu, malah asik menyisir rambutnya.
Tiba-tiba Sissy merasa gatal di kepalanya. Ia menggaruk ke sana ke mari seperti orang kesetanan. Rambutnya menjadi acak-acakan. Saat menggaruk, gadis itu terkejut ketika ada benda yang masuk ke dalam sela-sela kuku.
Sissy mencongkel benda hitam kecil yang tersangkut di sela-sela beberapa kuku jarinya. Kemudian ia berteriak histeris saat melihat benda hitam kecil itu bergerak-gerak.
"I—ini, kutu rambut? Kok bisa?" teriak Sissy ketakutan.
Ibunya Sissy berlari masuk ke kamar setelah mendengar teriakan putrinya.
"Ada apa, sih? Malam-malam gini teriak-teriak!" gerutu sang ibu.
"Bu, coba lihat deh. Ini kan kutu rambut?" Sissy menunjukkan beberapa bekas hewan kecil di sebuah kertas.
"Iya, sejak kapan kamu punya kutu, Sy? Ih geli, ibu! Ntar nularin yang di rumah. Hiyyy ...."
"Terus gimana dong, Bu?"
"Sini, coba ibu lihat kepalamu!"
Ibu Sissy bergidik geli saat melihat beberapa hewan kecil berjalan-jalan di rambut putrinya. Hewan itu muncul seperti terjatuh dari atas. Sang ibu mendongakkan kepala, ia terkejut begitu melihat sosok perempuan pucat menggantung di langit-langit. Tangan makhluk itu menyisir rambut yang kusam nan panjang dengan jari-jari yang berwarna pucat dan kuku menghitam. Ia menyeringai kepada ibu Sissy.
"Astagfirullah!" seru Ibu Sissy lalu memejamkan matanya.
"Kenapa, Bu?" tanya Sissy.
"Ini ... rambut kamu kenapa jadi gini, Sy?" Ibunya Sissy tidak mau berkata jujur. Perempuan paruh baya itu mendongak kembali, tetapi makhluk tadi sudah menghilang.
"Tunggu sebentar, jangan digaruk-garuk dulu, Sy. Nanti kulit kepalamu bisa luka!" Ibu Sissy berlari ke ruang tengah untuk mencari kotak obat, beruntungnya ia masih menyimpan obat pembasmi kutu di sana.
Sang ibu dengan telaten menaruh obat di rambut Sissy dan memijat-mijatnya. Setelah obat merata, ia menutup rambut putrinya dengan handuk kecil.
"Tunggu dua puluh menit, Sy."
Betapa terkejutnya kedua perempuan itu setelah melepas handuk yang melilit di kepala Sissy. Kemudian mereka berdua bergidik ngeri.
"Sana kramas Sy, sebelum kramas, baca ayat kursi dan doa ini." Sang ibu mengulurkan secarik kertas bertuliskan sebuah doa.
Sissy mematuhi perintah ibunya, sebelum masuk ke kamar mandi, ia membaca ayat kursi dan membaca doa yang diberikan ibunya. Sementara sang ibu, membakar handuk yang tadi dipakai Sissy.
"Makanya, dengerin apa kata ibu, besok ibu ceritain, kenapa kamu gitu. Sekarang tidur, sudah malam. Dah salat kan?"
Sissy mengangguk.
***
Keesokan harinya, Ibu Sissy membawa seseorang laki-laki yang sudah menua masuk ke kamar Sissy. Pria itu memakai sarung dan baju koko. Peci hitam bertengger di atas kepalanya.
"Jadi, gimana Pak Mu'in? Beneran ada, 'kan?" tanya Ibu Sissy.
Pria itu mengangguk.
"Ibu dan Mbak Sissy, amalkan doa yang saya tulis ini, Insya Allah, dia akan lari tunggang langgang." Pak Mu'in mengulurkan sebuah gulungan kertas. Mereka berdua mengangguk.
Setelah Pak Mu'in pergi, Sissy mendekati ibunya.
"Sebenarnya ada apa sih, Bu?" tanya Sissy.
"Ibu kan sudah bilang, jangan sisiran malam-malam. Kalo pun kepepet, jangan berlama-lama."
Kemudian sang ibu membisikkan sesuatu di telinga Sissy.
"Ada makhluk yang nempel di langit-langit kamarmu, dan nggak suka lihat kamu mengagumi rambutmu sendiri, terus-terusan!"
Sissy bergidik ngeri lalu mulutnya mulai sibuk membaca amalan do'a yang diberikan Pak Mu'in.