12. - Akhir -
Hingga pada suatu kesempatan tongkat kepala manusia itu berhasil menyodok dada wanita itu dan membuatnya terdorong ke belakang. Tidak terasa sakit, tapi, cukup mengejutkan. Nenek itu lagi-lagi terkekeh-kekeh, "Itu hanya pelajaran saja, anak manis.... serangan berikutnya, mungkin akan melukaimu juga tubuh yang kau pinjam itu," katanya.
"Hmm... kesalahan yang sama takkan terulang lagi, Mak..." katanya seraya hendak mengambil kuda - kuda bersiap untuk melanjutkan serangan. Akan tetapi, Miwako mencegahnya, "Biar aku saja yang menghadapinya, bi... aku mulai paham dengan serangannya. Bolehkah aku meminjam selendangmu ini ?" katanya.
"Baiklah," kata wanita itu sambil menyodorkan selendangnya.
"Inikah selendang Sih Wilujeng milik Djojo Diningrat yang tenar itu ?" tanya Miwako.
"Kau juga mengetahuinya ? Kalau begitu berhati-hati lah... kalau tidak malah kau yang celaka," kata wanita itu sambil melangkah mundur sementara guci yang dibawa Miwako sudah berpindah ke tangannya, "Michikko akan aman bersamaku," katanya.
Miwako mengangguk lalu melompat ke hadapan nenek itu.
"He... he... he... he... anak bau kencur, kau mundur saja biarkan aku memberi pelajaran untuk Rara Utari itu,"
"Kau sombong sekali, Nek..." kata Miwako, "Aku takkan selengah tadi sewaktu kau menggunakan sihirmu untuk merampas guci Michikko," setelah berkata demikian mendadak kain putih itu meliuk-liuk bagaikan seekor ular raksasa. Bagi orang awam, kain itu terlihat seperti seekor naga menyerang ke arah nenek yang kini berusaha menghindari serangan ujung kain itu dengan tongkatnya.
Setelah sekian lama berkutat dengan tongkat kepala manusia, kain itu akhirnya mampu melilit kuat membuat gerakan nenek tersebut tersendat. Nenek itu terkejut namun sesaat kemudian ia tertawa, "He... he... he... he... bagus sekali kau mampu menahan serangan ku. Jangan dikira kau sudah diatas angin..." setelah itu ia memutar tongkatnya dan ikatan kain itu kian menguat hingga akhirnya, sebuah ledakan dahsyat mengejutkan semua orang.
Tubuh Miwako terpental beberapa tombak demikian pula tubuh nenek itu. Arimbi dan yang lain menghampiri Miwako yang mencoba berdiri tertatih-tatih, "Kau tidak apa-apa, nak?" tanya wanita itu. Miwako menggelengkan kepala.
Sementara itu nenek itu juga sudah berdiri tegak, "Hmmm... kau benar-benar hebat. Tak percuma kau menyandang keturunan Djojo Diningrat... baiklah, aku tidak akan memperpanjang urusan ini... tapi, tunggulah bila saatnya tiba, aku akan kembali. Pada saat itulah, takkan kubiarkan keturunan Djojo Diningrat hidup.... he...he...he...he..."
Bersamaan dengan itu, sebuah gulungan hitam menyelimuti tubuh nenek itu dan terdengar tawa mengerikan menyakitkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Perlahan-lahan gulungan hitam itu menipis dan hilang demikian pula tubuh nenek tua itu.
"Jangan lari, kau... Kita masih belum selesai," kata wanita berbaju hijau itu yang kemudian ikut menghilang di balik rimbunan semak belukar.
"Tunggu," Arimbi berteriak namun sepertinya tidak ada tanggapan.
"Dia bukan manusia," ujar Ki Prana, "Mungkinkah dia itu Nimas Selo ? Tidak, dia sudah mati puluhan tahun silam," katanya pada Arimbi.
"Siapa, Ki ?" tanya Arimbi.
"Panjang ceritanya, tampaknya lawan kita kali ini lebih kuat daripada Michikko. Tampaknya aku harus segera menemui guruku," ujar Ki Prana.
"Situasi menjadi di luar kendali," kata Miwako, "Arimbi, aku harus segera kembali ke Jepang sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, jangan khawatir, aku akan datang lagi dan membantumu membereskan masalah keluarga Djojo Diningrat. Biar bagaimanapun juga kalian adalah keluargaku. Siapapun nenek itu, ia berbahaya dan bukan orang sembarangan," sambungnya sambil perlahan-lahan Miwako membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara Arimbi dan yang lain hanya memandanginya hingga tubuh wanita itu menghilang di tikungan jalan. Ia tak mampu mencegah kepergian saudara tirinya itu.
“Bagaimana dengan Kedung Bawuk, Ki ?” tanya Arimbi.
“Biar kami yang mengurusnya. Kedung Bawuk, bisa dipastikan takkan bisa lagi berbuat onar. Tapi, waspadalah, kelak akan muncul Kedung Bawuk yang lain. Selama kami masih ada di dunia ini, mereka takkan bisa berbuat apa-apa lagi,” ujar Husein Bin Mahfud.
Ki Prana dan yang lain satu per satu meninggalkan tempat itu sambil membawa tubuh Kedung Bawuk yang masih tak sadarkan diri.
“Kini kita bisa beristirahat dengan tenang. Kak Arimbi, bolehkah kami tinggal beberapa hari lagi di rumah kakak ?” tanya Cindy.
Arimbi menoleh ke arah Cindy, “Kalian tidak boleh kemana-mana. Semenjak kejadian Michikko, sepertinya kita dihadapkan sesuatu yang menegangkan sehingga tak ada lagi waktu bersantai. Kini semuanya sudah selesai, jadi, aku akan menemani kalian piknik kemana pun kalian suka. Lagipula aku masih merindukan kalian semua,” Cindy dan Maribeth tersenyum, kejadian menegangkan beberapa jam yang lalu bagaikan hilang entah kemana.
_____
Epilog
Dengan sepotong tongkat kayu yang usang, laki-laki paruh baya itu berjalan menyusuri jalanan terjal berbatu. Lusuh pada wajahnya, selusuh pakaian dan sorban putih kecoklatan, compang-camping yang dikenakannya.
Sesekali ia berhenti untuk menyeka keringat yang mengalir dari dahinya dan menarik nafas panjang. Sepasang matanyanya sayu dan berkantung menatap ke sekeliling. Di depan hanya ada jalanan gersang, tandus, kering dan terbakar sengatan terik matahari tepat di atas kepala. Jalanan itu sepertinya tak berujung, di sebelah kanan kirinya hanyalah deretan batu nisan yang sebagian sudah rusak disana-sini. “Ah, sekalipun lama rasanya aku berjalan, selalu dihadapkan pada pemandangan yang sama,” katanya seorang diri untuk kemudian melanjutkan langkah-langkahnya yang terseok-seok. Ia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu..
Setelah agak lama berjalan, ia kembali berhenti dan pemandangan yang ada di sekelilingnya selalu sama. Ia pun jatuh terduduk dan menangis, tangis penuh keputus asaan. Di sela-sela tangisnya, terdengar suara aneh dan cukup mengganggu dari arah depan.
Lebih kurang 200 meter di depan, tampak orang banyak berkerumun. Laki-laki itu menghentikan tangis dan rasa penasaran yang menggelitik membuat langkah-langkahnya terasa ringan dan dalam sekejab sampailah di tempat yang dituju. Sepasang matanya terbelalak lebar manakala melihat orang-orang tersebut ternyata mengerumuni sesosok tubuh laki-laki tua tergeletak di tengah jalan dalam keadaan sudah tak bernyawa. Ia mengenali laki-laki tersebut. Kedung Bawuk. “Mana mungkin itu aku ?” ia bertanya pada salah seorang dari kerumunan tersebut, tapi, sepertinya orang itu tak mendengarnya. Sekali, dua kali, tiga kali hingga kesekian kalinya ia bertanya pada orang lain, tapi, tak ada yang mendengarnya, “Tidak mungkin !!” ia berteriak sekeras mungkin namun, itu hanyalah teriakan yang semakin lama semakin jauh dan menghilang terbawa angin ke berbagai penjuru.
Angin tersebut berhembus perlahan, membelai badan perbukitan dan lereng-lereng Pegunungan Arjuna. Menerbangkan apa saja termasuk debu-debu yang ada pada jalanan sunyi dan sepi. Debu-debu tersebut berkumpul menjadi satu membentuk sebuah benda. Boneka gadis cilik yang lucu dengan rambut berkepang dua. Sepasang matanya tampak hidup, bergerak naik turun, senyum manis pada bibirnya yang imut membuat boneka itu tampak cantik sekalipun dihiasi debu. Senyuman yang mengandung kekuatan magis, membuat siapapun ingin memilikinya.
Nun jauh disana ... di dalam sebuah gua, sebuah bayangan wanita duduk bersila sementara wajahnya tertunduk, sepasang matanya terpejam rapat. Ia duduk dikelilingi oleh lebih kurang 20 batang lilin.
Angin berhembus perlahan, menggoyang nyala api pada lilin – lilin tersebut. Asap putih tipis meliuk – liuk mengikuti arah angin melenggak – lenggok bagaikan penari – penari jelita, membentuk siluet – siluet aneh. Detik berikut, wanita itu mengangkat wajahnya, sepasang matanya terbuka dan menyorot tajam manakala bayangan lain muncul di hadapannya.
“ANRE ATINUY, saatnya sudah tiba, orang suruhanku itu gagal melakukan tugasnya dan harus menukar dengan jiwanya. Kini giliranmu melaksanakan janji yang telah kita sepakati bersama. Janganlah mengecewakanku....” terdengar suara serak menyakitkan telinga para pendengarnya.
Wanita itu tersenyum dingin, “Terima kasih, guru... kali ini semua orang yang berhubungan dengan dia harus mati. "Ha... ha... ha... ha...” tawanya menggelegar, memantul ke semua dinding gua, untuk kemudian terbawa oleh angin malam di tempat itu ke sebuah Villa Gunung Tidar Kota Malang... Membuat Arimbi dan teman – temannya yang tengah duduk setengah terbaring di ruang tengah melompat berdiri, “Apa kalian tak merasakannya ?” tanya Arimbi.
T A M A T
( Lumajang, 30 Mei 2019 )
Sampai jumpa lagi di lain kisah.
Terima Kasih & Salam hangat selalu dari penulis untuk para pembaca yang budiman.