Cuaca panas membakar tenggorokan. Pendingin ruangan tak sanggup melarutkan dahaga. Kupaksa kakiku melangkah ke kantin, kupesan brown sugar boba milk dan kulayangkan pandang ke layar handphone.
Lima menit berlalu. Aku tetap tak bergeming dari posisiku berdiri dekat meja kasir. Ketika suara pramuniaga yang kukenal dengan baik mempersilakan mengambil pesanan, otomatis tanganku bergerak mencari minuman yang tengah trendi itu tanpa sedikitpun kualihkan pandangan dari layar handphone. Dan saat menjelajah, tanganku tak sengaja bertabrakan dengan tangan seseorang.
"Aduuuh maaaaff... ini pesanan saya bukan ya?" tanya si empunya tangan yang ternyata adalah seorang perempuan. Mau tak mau, pandanganku bergeser juga dari layar handphone. Kutatap perempuan itu. Cantik. Tak bisa kutaksir berapa usianya. Yang jelas cekungan bawah matanya terlihat sangat jelas hingga sedikit mengurangi kecerahan raut wajahnya.
"Maaf bu, ini pesanan masnya," sahut pramuniaga kantin seraya menunjuk kearahku.
"Oh gitu ya, ini brown sugar boba milk kan?" tanyanya lagi.
"Iya tapi mas ini pesan lebih dulu. Pesanan ibu sedang dibuatkan. Mohon tunggu sebentar ya bu."
"Wah maaf ya," selama beberapa detik dia sempat tersenyum padaku. Setelah itu secepat kilat perhatiannya terpusat kembali pada seorang anak laki-laki yang sedari tadi merengek tak sabar minta minuman brown sugar boba milk.
"Iya... tunggu sebentar ya sayang, minumnya lagi dibikinin," ujarnya lembut pada anak itu. Si anak menjawab dengan bersenandung, tangan mungilnya digandeng super erat oleh si perempuan. Suara dari mulutnya yang menggemaskan tak menghasilkan konsonan jelas. Prilaku anak itu juga cenderung berulang-ulang membentuk pola tersendiri. Sepintas, sebagian besar orang awam bakal dengan entengnya melabeli anak itu tak normal. Jujur, aku tak suka dengan predikat 'tak normal'. Toh manusia mana yang sempurna. Tak ada. Dimataku, anak itu baik-baik saja. Memang kemungkinan ada kelainan, gangguan atau problematika lain yang membelenggunya. Tapi semua itu bisa diatasi secara profesional dan penuh kesabaran.
"Bu, ini pesanannya," ujar si pramuniaga.
"Ya, terima kasih." Si perempuan mengambil pesanannya, membuka sedotan yang disediakan lalu sambil berjongkok memberikan minuman manis itu ke anak laki-laki. Tak berapa lama, keduanya beranjak pergi. Aku masih memandangi dari kejauhan sampai siluet mereka tak tampak.
"Mas, tumben bisa lama istirahatnya. Gak ada terapi apa?" tanya Narni, pramuniaga penjaga outlet minuman boba di kantin tempatku bekerja. Seperti diingatkan, aku bergegas menghabiskan minuman, melambaikan tangan ke Narni dan setengah berlari menuju tangga ke lantai 2.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Lantai 2 tempatku bekerja disesaki manula, pasangan orangtua dan anak-anak. Sudah 3 tahun ini aku bekerja sebagai perawat di klinik spesial tumbuh kembang anak sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta. Aku menyukai pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata oleh segelintir orang ini.
"Satria, Panji udah datang tuh," tegur Faris, petugas administrasi.
Belum sempat aku membalasnya, tiba-tiba ada yang menubruk dari arah belakang. Ternyata Panji. Anak laki-laki super aktif berparas menawan. "Halo Panji," sapaku pada bocah berumur 3 tahun itu. Kuangkat dia dan kugendong sepanjang lorong menuju ruangan terapi wicara. Panji kegirangan. Aku tambah bersemangat. Kuputar-putar dia dan kucium pipi tembemnya. Begitulah aku kalau sudah bercengkerama dengan anak-anak. Energi positif mereka menjadi stimulus sekaligus nutrisi tubuh. Tanpa sadar, tingkah kekanakanku rupanya menarik perhatian seseorang yang duduk di bangku depan ruang terapi tempat kerjaku. Rupanya dia perempuan yang kulihat di kantin. Mata letihnya tersenyum memandangku. Aku membalasnya dengan anggukan.
Satu jam waktuku berlalu bersama Panji. Perkembangan demi perkembangan tercatat di buku penghubung yang memang wajib dimiliki. Aku menjelaskan pada orangtua Panji apa saja materi terapi yang kuberikan hari ini dan apa saja kemajuan yang dicetak putranya. Kedua orangtua Panji duduk berdekatan dengan perempuan yang kulihat di kantin. Samar-samar dia berbicara dengan Bella, rekan kerjaku. Dari Bella juga aku tahu kalau perempuan itu adalah ibu dari Driano, anak laki-laki yang terus menerus merengek minta minuman susu boba. Tak lama Panji dan orangtuanya pamit undur diri diikuti oleh Driano dan ibunya. Aku melihat Driano kembali merengek minta minuman boba dengan lafal yang belum sempurna. Sang ibu menggeleng-gelengkan kepala tanda tak boleh. Wajar. Anak-anak seperti Driano sangat disarankan tak mengonsumsi makanan atau minuman berkandungan susu. Melihat penolakan ibunya, Driano mengajukan protes. Ia merajuk, berteriak, menarik-narik lengan ibunya lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri. Si ibu semula kewalahan. Ia berusaha menenangkan buah hatinya dengan suara lembut. Driano tak menggubris. Ia menjulurkan tangan hendak menggendong putranya. Driano malah menjerit-jerit. Beragam jurus kasih sayang penuh kesabaran dikerahkan untuk menaklukan kekerasan hati Driano. Baru setelah lima belas menit, kemarahan Driano sedikit demi sedikit mereda. Ibu itu lalu membisikkan sesuatu ke telinga putranya, mencium keningnya dan menggandengnya menuju lift. Aku sedikit terpana. Sebenarnya bukan hal asing bagiku menyaksikan anak-anak tantrum. Tapi entah mengapa, pemandangan Driano dan ibunya yang sarat emosi itu menggetarkan hatiku.
***
Bayang-bayang Driano dan sang ibu sukses mengisi kekosongan relung jiwaku. Selama ini aku tak mudah menaruh hati pada fenomena di sekeliling. Keseharianku sudah terpuaskan dengan pekerjaan bertemu dan bermain bersama anak-anak. Kini, hari Kamis dan Sabtu menjadi hari yang kunanti setiap minggunya. Aku tak sabar ingin melihat Driano dan ibunya. Ketangguhan ibu Driano begitu menakjubkan.
***
Memalukan. Aku memiliki rutinitas baru setiap hari Kamis dan Sabtu. Usai sesi terapi keempat, aku sengaja ke kantin. Bukan untuk memuaskan lapar atau dahaga. Tapi lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Ini hari Kamis. Aku kebagian shift pagi. Ada 5 sesi terapi dalam satu shift. Satu sesi terapi berdurasi 45 menit. Sesi pertama shift pagi dimulai pukul 09.00 WIB dan terapi sesi keempat berakhir pukul 11.45 WIB. Tepat pukul 11.50 aku melenggang ke kantin. Kuturuni anak tangga dengan semangat menggebu. Bella, Tika, Irawan, Tohir dan rekan kerja lainnya terkesima. Aku sendiri pun heran mengapa adrenalin ini terpacu begitu hebatnya.
Sampai kantin, aku memesan mineral dingin. Mataku mencari-cari sosok Driano dan ibunya. Tak ada. Belum datang mungkin terjebat macet, pikirku. Detik demi detik waktu berlalu. Sosok yang kutunggu tak kunjung datang. Aku kecewa. Pukul 13.00 WIB terapi sesi kelima dimulai. Aku harus kembali ke lantai 2. Jalanku menuju kelas terapi tak segagah kala menuruni anak tangga tadi. Kali ini langkahku gontai. Rekan kerja yang kebetulan memandangku menggeleng-gelengkan kepala. Mereka tahu apa yang terjadi padaku tapi diam seribu bahasa.
***
Titik-titik air jatuh dari langit. Mula-mula ringan intensitasnya. Lambat laun deras disertai angin. Hatiku gundah. Kamis lalu kedua orang yang kunanti tak tampak. Sepanjang sisa waktu shift, aku bekerja tak profesional. Pikiranku melayang jauh. Belum pernah terjadi hal demikian pada diriku. Hhmmff... aku menarik nafas panjang.
Sabtu ini aku kebagian jatah shift siang. Jam kerjaku dari pukul 14.00 sampai 19.00 WIB. Tak semangat sekali. Kebetulan Alicia, anak perempuan keturunan Australia yang seharusnya mengisi sesi terapi keempat berhalangan. Mamanya WA sedari pagi mengabarkan kalau Alicia sakit cacar air. Dengan enggan, kulalui empat puluh lima menit dengan duduk termenung menatap jendela di sudut kantin.
Lima belas menit sebelum pukul 18.00 WIB yang menandai dimulainya sesi kelima shift siangku, handphone berdering. Bunda Khalid yang menelpon. Ibu dari Reno, bocah laki-laki pengisi sesi terakhir hari Sabtuku. Reno juga tak bisa terapi. Hujan angin merintangi niat keduanya. Genangan air di komplek rumah Reno mulai tinggi sehingga bocah dan bundanya tak kuasa menerjang. Setelah kututup telepon dari bunda Khalid, layar handphone muncul notifikasi WA dari mbak Susi, Kepala Tim Perawat Divisi Fisioterapi.
Satria, kamu dimana?
Kujawab singkat, Di kantin
Khalid terapi gak?
Gak mbak, barusan bundanya telepon ngabarin kompleknya banjir
Oke, kalau gitu tolong gantikan Bella bisa gak? Bella ijin pulang, dia muntah-muntah terus
Bisa aja mbak. Siapa yang terapi?
Driano. Kamis kemarin dia gak terapi jadi Sabtu ini double, ibunya minta begitu. Kamu cepet naik deh, anaknya udah nunggu
Aku terkesima membaca WA mbak Susi. Jantungku meresponnya dengan ritme cepat. Buru-buru aku ke lantai 2. Jari-jariku gemetaran mengetik jawaban permintaan mbak Susi;
Oke mbak, aku naik sekarang
Tak kuasa menahan senyum, aku memandang sosok yang kurindukan. Eh... rindu? Deg... deg... deg... jantungku berdegup kencang. Benarkah itu? Apakah selama ini kegundahanku mengarah pada rasa rindu?
"Satria, sini!" panggil mbak Susi. Di sampingnya berdiri ibu Driano. Aku menghampiri mereka.
"Mama Driano, ini Satria pengganti Bella," ujar mbak Susi. Perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum. Seperti biasa wajahnya keliatan letih.
Driano, anak yang pandai. Daya ingat dan kemampuan kognitifnya luar biasa. Kelemahannya, anak itu belum bisa fokus, konsentrasi masih lemah dan kurang konsisten dalam mengerjakan sesuatu. Masih dalam batas wajar untuk anak seusia Driano. Memang butuh kesabaran, ketekunan dan perhatian super ekstra untuk perkembangannya.
Tak terasa empat puluh lima menit berlalu. Sesi terapi bersama Drian usai. Saatnya menginformasikan materi terapi kepada orangtua anak, dalam hal ini ibunya. Aku agak gugup dalam menjelaskannya. Ibu Driano tak banyak bicara. Dia hanya menyimak. Sesekali mata kami bertemu dan aku seakan tenggelam dalam bola mata indahnya. Bodoh sekali aku.
"Makasih ya mas," ibu itu sudah mau undur diri.
"Ya, sama-sama bu." Tak ingin berpisah, aku berusaha mengulur waktu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah kutahu jawabannya. "Oh ya bu, Driano umur berapa ya?"
Ibu itu menjawab, "Tiga tahun mas."
"Punya adik atau kakak?" Sekarang aku terlihat seperti laki-laki iseng yang selalu mau tahu urusan orang lain. Menyedihkan.
"Driano punya adik. Perempuan, usianya 1 tahun. Mari mas, pulang dulu."
"Oh ya bu, hati-hati. Dadaaaahh...Driano..."
"Daaaahhhh Drianoooo...," seru Tohir menirukan ucapan, melambaikan tangan ke arah Driano sembari merangkul pundakku.
Aku melirik sengit ke arah rekan kerjaku itu. Yang bersangkutan hanya meringis.
"Jadi itu Sat, cewek yang saban hari lu tunggu di kantin?" tanyanya tanpa beban.
"Huushhh apaan sih Hir, sok tahu ah. Minggiiirr... gue mau pulang, mumpung reda hujannya," kulepaskan tangannya dari pundak dan melenggang pergi ke ruang loker staf.
Aku sengaja bergegas karena takut hujan akan kembali deras. Kusambar jaket dan tas, pamit ke mbak Susi lalu turun via tangga ke lantai 1 menuju parkiran. Baru sampai di anak tangga keenam dari jendela kutengok hujan turun dengan lebatnya diiringi angin kencang. Badai, pikirku. Dahan-dahan ranting melambai-lambai tertiup angin seperti lambaian kipas maharaja. Tak mau ambil risiko basah kuyup, aku melipir ke kantin. Petang ini kantin padat. Aku memesan teh panas dan melirik bangku sudut dekat jendela yang belum berpenghuni. Cepat-cepat aku melangkah ke tempat favoritku. Sayangnya, seorang ibu yang menggendong anak bergerak lebih cepat. Aku nyaris bertabrakan dengannya. Lenganku bersenggolan dengan pundaknya. Teh panasku tumpah. Gelas plastik itu terjatuh ke lantai. Sebagian isinya menyembur ke segala arah termasuk ke tangan si ibu.
"Eeh maaf...addduuhhh...tumpah ya minumnya," si ibu itu malah meminta maaf padahal tangannya terluka akibat ketumpahan teh panas. Aku hanya terpana dengan kata-katanya. Si ibu itu melanjutkan ucapannya, "Ooh mas Satria ya, maaf ya mas kesenggol tehnya jadi tumpah deh. Sebentar biar saya ganti."
"Eh enggak usah mama Driano, sudah biar saja. Saya panggil petugas cleaning service dulu biar lantainya dipel supaya enggak licin," aku mendekati petugas cleaning service terdekat dan meminta bantuannya mengepel lantai yang basah. Kemudian, aku memesan dua gelas teh hangat manis dan kembali ke bangku tempat mama Driano tengah duduk.
"Tangan ibu enggak apa-apa?" tanyaku seraya mendekat dan memberikan teh hangat kepadanya.
"Enggak apa-apa mas, cuma merah dikit. Wah kok malah saya yang dibelikan teh," ujarnya.
"Permintaan maaf bu, saya juga salah tadi."
"Kalau gitu makasih ya mas."
"Sama-sama, saya pikir sudah pulang dari tadi bu."
"Maunya gitu mas, saya pesan taksi online tapi gak bisa-bisa. Mungkin karena hujannya deras jadi sinyal terganggu. Driano gak sabar nunggu di ruang tunggu lobi jadi saya ajak ke sini. Dia kan suka banget boba."
"Halo Driano, mau om belikan boba?"
Driano tak acuh. Matanya sibuk menatap layar handphone yang mungkin milik sang ibu. Menoleh ke arahku pun tidak. Sebenarnya dia kelihatan lelah. Mungkin karena hari ini terapinya dua kali jadi gampang tak sabaran.
"Enggak usah mas, sudah saya belikan tadi. Cukup satu kali aja sehari, jangan kebanyakan."
Tak berapa lama, handphone yang dipegang Driano berdering. Video call dari ayahnya. Hatiku mencelos. Ingin rasanya merebut handphone itu dan me-reject sambungan video call-nya. Ibu Driano tampak lega menerima video call dari suaminya. Dari pembicaraan keduanya, sang suami akan menjemput. Ibu Driano sempat menanyakan buah hatinya yang kecil. Rupanya adik Driano ditinggal di rumah sama ayahnya. Mereka tampaknya tak memiliki asisten rumah tangga atau pengasuh anak. Itulah sebabnya, ibu Driano seringkali terlihat letih. Tak mudah memang membesarkan dua anak di jaman modern ini. Aku semakin salut padanya. Mataku terpaku padanya. Susah sekali mengalihkan pandangan dari sosok perempuan yang meski sudah memiliki dua anak tapi masih kelihatan cantik dan berkharisma. Kala sambungan video call telah terputus, ibu Driano pamit. Dia bilang suaminya sudah dalam perjalanan menjemput. Jarak rumah dan rumah sakit tempat Driano terapi rupanya tak jauh. Bisa ditempuh 15 menit dengan kendaraan roda empat. Namun Driano mendadak tantrum. Kali ini ibunya kewalahan. Benak sang ibu mungkin terpecah memikirkan adik Driano yang masih bayi. Aku mengambil inisiatif. Kugendong Driano dan kuangkat tinggi-tinggi melewati kerumunan orang yang tengah duduk di kantin. Semula Driano kaget. Ia sempat meronta. Kuangkat bocah itu dan kucium-cium perutnya. Ia geli. Kugendong menuju lobi. Ia tertawa. Ibu Driano mengekor di belakangku. Entah mengapa aku merasa menang. Kemenangan yang membahagiakan. Tapi kebahagiaan itu hanya sekejab. Di lobi, kulihat ibu Driano berlari ke arah seorang laki-laki berkacamata yang sedang menggendong bayi perempuan. Untuk ukuran pria, laki-laki itu jauh dari tampan. Wajahnya biasa, tubuhnya gempal dan rambutnya tipis. Aku heran, bagaimana mungkin ibu Driano yang cantik bahkan setelah mempunyai dua anak bisa jatuh hati pada pria berwajah kaku nan membosankan. Bukannya sombong, ibu Driano lebih cocok bersanding denganku yang berpostur proporsional, wajah ganteng memesona.
Melihat ayahnya, Driano meronta lagi. Kali ini dia minta diturunkan. Kuturuti kemauannya. Sang ayah yang sudah menyerahkan anak perempuan ke istrinya, membentangkan kedua tangan lalu meraih Driano ke dalam pelukannya. Driano tertawa-tawa. Lalu digendongnya putranya tersebut.
"Pah, ini terapis mas Driano. Namanya Satria," ibu Driano memperkenalkanku kepada suaminya. "Tadi anak lanangmu rewel, mama kewalahan terus digendong sama mas Satria ini."
"Wah Driano kenapa kok rewel... capek ya sayang, maaf ya nak papah jemputnya kelamaan ya. Tadi dedekmu laper, papah suapin dulu biar gak rewel," jelas ayah Driano. Kemudian menoleh ke arahku dan mengulurkan tangan untuk berjabatan seraya berucap, "Terima kasih banyak ya mas sudah dibantu. Maaf lho jadi merepotkan."
Kupaksakan untuk tersenyum dan menyambut jabatan tangannya. "Iya sama-sama pak, enggak merepotkan kok. Memang saya suka sekali sama anak-anak."
Tak berapa lama keluarga bahagia itu beranjak pergi. Hatiku sesak melihatnya. Apakah aku cemburu? Aku begitu ingin berada di posisi si ayah. Mengayomi keluarga, melindungi perempuan yang dicintainya dan menjadi panutan anak-anak. Haruskah kurebut kehidupan si ayah?
"Hoooiii... Sat, bengong aja lu. Ati-ati kesambet ntar..." teriakan Tohir membuyarkan lamunanku.
"Hir, lu kan udah nikah. Gimana rasanya?"
"Ett dah... napa lu nanya begituan? Kebelet lu yaaa... hahaha..." ejek Tohir.
"Aaah... Hir, tanya beneran jawabannya ngaco," gerutuku.
***
Tiga bulan ini semangat kerjaku mencapai puncak. Bukan berarti bulan-bulan lalu, aku didera rasa malas. Tapi kehadiran Driano dan ibunya memberi warna tersendiri. Gairahku terpacu.
Aku tak mudah jatuh hati pada perempuan. Tapi hatiku bisa langsung luluh saat bersama anak-anak. Jangan salah paham, aku laki-laki normal seutuhnya, jiwa dan raga.
Pasangan ibu dan anak, Driano beserta ibundanya berhasil membangunkan jiwa kelelakianku. Jelas, aku menyayangi Driano. Masalahnya, aku juga menyayangi ibunya. Aku tahu perasaan itu tak semestinya muncul. Tapi bagaimana cara mencegahnya? Bukankah cinta berasal dari Sang Pencipta, karenanya timbul istilah 'cinta tak pernah salah'.
***
Kabar buruk yang menyakitkan itu datang seketika. Aku diberitahu mbak Susi, Driano sekeluarga akan pindah ke Surabaya mengikuti dinas kerja ayahnya. Aku mati rasa saat mendengar info itu. Sekujur tubuhku lemas. Tak ada ucapan perpisahan. Tak ada kalimat selamat tinggal. Keduanya pergi begitu saja dari hidupku.
Seminggu pertama sejak kepergian Driano, dunia kerja yang semula begitu kucintai berubah menjadi neraka. Anak-anak yang kuterapi berprilaku tak seperti biasanya. Mereka seringkali membuat ulah di luar batas. Kesabaranku benar-benar diuji. Hingga suatu hari, aku membuat kesalahan fatal dengan memarahi salah satu diantara mereka hingga anak itu trauma. Kedua orangtua si anak murka. Keduanya mengancam akan menuntut pihak rumah sakit. Tak pelak, Surat Peringatan dari pihak manajemen rumah sakit jatuh ke tanganku jua. Karirku berada di ujung tanduk. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuruni anak tangga. Kutelusuri lorong demi lorong lantai 1 hingga berhenti pada ruangan tempat aku pertama kali berjumpa dengan Driano dan ibunya. Kantin. Di dekat kasir, kulihat dua anak kecil menyesap minuman yang sama dengan yang aku dan ibu Driano pesan dahulu. Brown sugar boba milk. Sesak di dada tak terperi, terutama kala membayangkan rasa manis minuman itu yang tak semanis kisah cintaku.
*** tamat ***