03. - Pembantaian -
Di salah satu ruangan kecil yang minim cahaya pada SMA I Tidar, 5 sosok bayangan itu berdiri mengelilingi seorang laki – laki paruh baya. Laki – laki itu mengenakan sorban berwarna putih seputih pakaiannya yang putih dan berlengan panjang. Sebagian bajunya pada bagian leher tertutup oleh jenggotnya panjang. Ia memegang sebuah tongkat. Tubuhnya pendek kekar dan mengenakan sebuah sarung sutera dengan corak batik berwarna merah.
“Hmm... di dunia modern seperti sekarang ini, masih saja ada orang kafir. Kalau memang benar perkataan kalian itu, wanita Jepang bernama Michikko itu harus disingkirkan saja, itu salah satu perbuatan baik yang bisa menambah amal ibadah kita pada Yang Maha Kuasa,” kata laki – laki itu. Suaranya begitu kering sehingga terdengar serak.
Salah satu bayangan dari 5 sosok itu maju mendekat dan menyerahkan 1 lembar foto. Foto seorang wanita berambut hitam panjang terurai, mengenakan pakaian hitam dan kedua tangannya memeluk sebuah boneka wanita berambut pirang dikepang dua. Michikko.
Laki – laki itu tersenyum, “Cantik dan sexy, tubuhnya sintal padat berisi. Jika bukan penyihir dia pasti akan kujadikan isteriku yang ke tujuh. Dan, boneka itu... boneka itu seakan memiliki kekuatan hitam yang amat jahat, tak kasat mata... benda ini pastilah sumber kekuatannya. Dengan menyingkirkan boneka itu, maka, kita bisa berbuat apa saja pada gadis manis ini. Baik... kalian memperoleh restu dan berkatku, lakukan saja secepatnya sebelum ada korban yang jatuh. Yang Diatas pasti akan mendukung usaha suci kita. Pergilah dan jangan buat aku kecewa. Bawa dia padaku hidup atau mati,” katanya.
“Baik, guru... kami tidak akan mengecewakan Anda,” sahut mereka berbarengan.
“Jika para dewan Guru turut campur, katakanlah kalian sudah mendapatkan ijin dariku, Ki Kedung Bawuk. Dan, kalaupun ada yang menghalangi kalian, akulah yang bertanggung jawab, tak perlu khawatir. Tujuan kita baik,” tegas pria itu.
5 sosok itu mengangguk hormat dan dengan diikuti tatapan dingin dan licik pria bersorban putih, mereka meninggalkan tempat itu. Sepeninggal mereka, ia berdiri dan menutup serta mengunci pintu. Setelah pintu tertutup dan terkunci rapat, pria itu menyalakan sejumlah lilin yang mengelilingi foto Michikko. Asap lilin bercampur dupa bergoyang perlahan dipermainkan oleh hembusan angin dingin yang masuk melalui celah – celah lubang udara, membentuk siluet – siluet aneh.
Mendadak saja di hadapan pria pendek gempal itu berdiri seorang nenek tua bongkok berbaju hitam membuatnya duduk bersimpuh. “He... he... he... he... he..., bagus Kedung Bawuk, aku takkan melupakan jasa – jasamu ini. Kini tinggal menunggu aksi pemuda – pemuda berandal itu. Tapi, ingatlah, jika mereka gagal ... nyawamu adalah taruhannya ! He... he... he.... he....” suara dan tawanya yang parau, mengiring menghilangnya sosok nenek tua bongkok itu.
“Baik, Mak... aku Kedung Bawuk pasti tidak akan mengecewakanmu. Demi membangkitkan Nini Bujana Andrawina, aku akan melakukan apapun. Tunggulah, kabar baik dariku, Mak...” sambil berkata demikian, sepasang matanya menerawang jauh ke langit – langit ruangan yang dihiasi oleh asap – asap tipis tanpa tujuan.
Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah foto Michikko, “Cantik, manis dan sexy, dia mirip sekali dengan Bujana Andrawina. Sayang keturunan Djojo Diningrat harus mengalami nasib yang mengenaskan. Jika dari dulu ia berbuat baik padaku, aku takkan merelakan diriku menjadi budak Mak Selo. Tapi, tanpa bantuan Mak Selo, belum tentu aku bisa hidup sampai sekarang. Djojo Diningrat, dendam kakek buyutku ini pasti terbalas. Michikko, kutunggu kau dalam pelukanku, kita akan bersenang – senang, biarlah dia menjadi pelepas rinduku terhadap Bujana Andrawina sementara waktu saja. Kelak jika Bujana Andrawina sudah bangkit kembali, aku akan membuangmu ke dasar neraka seperti yang dilakukan oleh Kakek Buyutmu,”
Setelah berkata demikian, laki – laki itu mematikan api, membalikkan badan, membuka pintu dan saat pintu tertutup dan menelan tubuhnya tinggallah sisa – sisa asap lilin bercampur dupa, terbang melayang – layang dipermainkan oleh angin malam dan lenyap tanpa bekas.
______
Pagi itu, Michikko tengah memain – mainkan Missukko sendirian di halaman belakang SMA I Tidar. Ia tampak senang sekali hingga tidak menyadari adanya 5 sosok bayangan bergerak perlahan semakin lama semakin dekat.
Salah satu sosok bayangan memberi isyarat pada yang lain untuk bersembunyi di balik semak – semak. Anggukan kepala perlahan namun serentak mengiringi gerakan perlahan bayangan pertama mengeluarkan sebuah kantung seukuran manusia.
Jarak antara bayangan itu dengan Michikko tinggal beberapa depa lagi, mendadak saja gadis Jepang itu menoleh dan bertanya, “Mau apa kau ?”
Bayangan itu tersentak kaget dan ia sama sekali tak menduga kehadirannya yang sudah sangat berhati – hati itu diketahui oleh Michikko. Tak tahu harus menjawab apa, kantung yang dibawanya diangkat tinggi – tinggi menyusul ia memasukkan tubuh Michikko ke dalamnya.
Michikko terkejut, tentu saja tidak mau menyerah begitu saja, ia berontak. Tapi, hari masih terlalu pagi, SMA Tidar I lokasinya amat terpencil dan belum ada orang yang datang ke sekolah. Tak ada orang yang datang ataupun mendengar teriakan minta tolongnya. Menyusul sebuah pukulan keras mendarat di pelipis kanan yang membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
“Bawa dia ke toilet wanita” terdengar seruan lain dari keempat bayangan yang bersembunyi di semak belukar. Orang pertama yang memasukkan tubuh Michikko ke dalam kantong segera melarikannya ke toilet wanita.
Setelah dirasa keadaan aman, keempat bayangan lain keluar dari persembunyiannya, bergegas menuju ke toilet wanita sambil tertawa – tawa penuh kemenangan.
Entah berapa lama Michikko pingsan saat sadar yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Seto, Lino, Edward, Pandu dan terakhir adalah Raga.
Wajah Raga merah padam, “Celaka, dia mengetahui siapa kita, bukankah ini melenceng dari rencana,” sahut Raga.
“Masa bodoh,” sahut Lino, “Butakan saja matanya,” sambungnya sambil mengambil sebuah sikat gigi bekas yang tergeletak sembarangan di lantai toilet dan terdengar suara ‘Jleb, Jleb’ diikuti teriakan menyayat hati.
Pandangan Michikko gelap, sepasang matanya telah dibutakan, dalam kesakitannya ia mencoba memukul tak tentu arah berharap tangannya bisa memukul atau menyentuh salah seorang atau lebih dari pemuda – pemuda itu, tapi, justru ia merasakan cengkeraman erat pada pergelangan tangan dan kirinya. Tubuhnya seperti didorong keras hingga ambruk.
“BUK !” punggung dan kepala belakang Michikko beradu dengan lantai ubin yang cukup keras, basah dan lembab, tawa – tawa menjijikkan keluar dari para pengeroyoknya diiringi dengan jeritan, kali ini jeritannya terdengar keras sekali diselingi dengan sura seperti daging disayat – sayat diantara tawa.
“Cras ! Cras ! Cras !”
Michikko berteriak – teriak kesakitan bagian kewanitaannya terasa sakit sekali dan seperti ditusuk – tusuk benda tajam. Sekalipun ia tak bisa melihat lagi, namun ia merasakan lantai tempatnya terbaring basah. Ia terluka.
Lebih kurang setengah jam ia Michikko merasakan sakit di sekujur badannya setelah itu suara tawa terbahak – bahak mengiringinya jatuh ke dalam alam bawah sadar. Ia kembali pingsan.
Michikko merasakan tubuhnya ringan sekali, sayup – sayup terdengar suara,
“Bukalah matamu, anak yang malang, lihatlah keadaanmu sekarang”.
Michikko mencoba membuka matanya, yah... sepasang matanya tertuju pada sebuah pemandangan yang menyedihkan. Tampak olehnya 5 orang laki – laki sedang memperkosa seorang wanita yang mirip dengan dirinya beramai – ramai. Bergiliran. Pakaiannya sudah sobek disana – sini, sebagian warna merah membasahi tubuhnya yang kuning langsat. Wanita itu adalah dirinya sendiri, dan 5 orang pemuda itu adalah Raga, Seto, Lino, Edward dan Pandu.
“Jika kau menuruti perintahku beberapa hari yang lalu, tak mungkin kau mengalaminya. Mengapa kau masih memperhatikan orang – orang rendahan seperti itu ?”
Sepasang mata Michikko yang tersembunyi di balik rambut hitamnya tampak mencorong tajam, tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya menyentak ke kiri berulang – ulang. Tangan kanannya bergetar.
“Michikko, perlakuan mereka tidak berbeda dengan perlakuan keluargamu. Ingatkah kau, sebelum pindah ke negeri ini apa yang telah kau alami ? Ingatkah, kau ?! ”
“Dia sudah kubunuh berikut pelacur itu ! Mereka takkan menggangguku lagi ! Tapi, mengapa orang – orang yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka berdua memperlakukanku seperti binatang ?”
“Itulah dunia manusia... karena nafsu sesaat, mereka jadi gelap mata, kehilangan sisi – sisi kemanusiaannya. Nah, apa yang hendak kau lakukan kini ?”
Michikko diam tak bergeming bak arca batu. Tubuhnya masih bergetar dengan hebat menahan amarah yang selama ini dipendamnya. “Watashi...” ( aku )
“Dengarlah, kuberi kau kesempatan hidup akan tetapi, itu harus ditebus dengan kematian mereka, dan semua orang – orang di sekitarmu. Nah, pergilah ... selamatkan dirimu. Mereka tak layak hidup dan menebarkan racunnya di dunia ini. Beberapa orang harus berkorban, untuk sesuatu yang lebih baik. Itu tidak salah,”
"Tidak ! Aku tidak bisa melakukannya. Ibu memintaku untuk hidup dengan baik dan tidak terus – menerus melakukan kesalahan yang sama. Itu dosa...”
“Apa bedanya dengan mereka. Jika dibiarkan hidup... pastilah banyak orang yang akan menderita ! Itu lebih berdosa ! Pergilah, tumpah ruahkan amarahmu pada mereka. Lihat dirimu yang bodoh !”
Kemudian ia menambahkan gambar setengah lingkaran mirip huruf 'U', memotong sedikit bagian ujung garis vertikal dan horisontal Michikko pun menghilang... Ia sudah masuk ke tubuh kasarnya.
_____
Ruangan yang semula temaram mendadak menjadi terang benderang, aku mendapati diriku bersama Cindy dan Maribeth berdiri di dalam sebuah ruangan yang kotor dan kumuh... Yah, aku sengaja melepaskan pegangan tangan Cindy dan Maribeth, membuat 2 wanita itu tersentak.
"Kak Rimbi, jangan lakukan itu lagi kakak bisa merusak portal dimensi kita dengan dimensi alam lain .. itu berbahaya sekali, kak...." Seru Cindy.
"Masa bodoh, aku tak tahan lagi melihat penderitaan yang dialami gadis itu... Aku akan menolongnya. Pemuda-pemuda itu benar-benar biadab," seruku.
"Hanya dengan ini kakak bisa menolongnya. Cepat, kak pegang tangan kami... Kakak tidak menyadari sudah berulang kali pegangan tangan kita terlepas," Maribeth ikut angkat bicara seruannya menyadarkanku dan bersamaan dengan itu, kami mendengar suara berderak seperti tanah retak tapi tak tahu darimana asal suara itu.
Buru-buru aku meraih tangan Cindy dan Maribeth, kembali kami menembus lorong ruang dan waktu menuju saat dimana Michikko masih hidup.
_____
Jari-jemari tangan wanita itu bergerak meraba-raba lantai basah, kotor dan menebarkan bau tidak sedap. Ia tidak peduli dengan rasa sakit pada sekujur badannya, terutama, rasa sakit pada bagian kewanitaannya, ia tak peduli dengan sepasang matanya yang sudah tidak bisa lagi melihat karena terluka parah dan terus-menerus mengeluarkan darah merah kehitaman, iapun tak peduli dengan darah yang membasahi pelipisnya juga rasa pusing pada kepalanya, ia tak peduli dimana ia kini berada dan juga lima orang pemuda yang berdiri sambil menatap dengan tatapan dingin ke arahnya. Sebuah boneka, ia mencari sebuah boneka yang selama ini menemaninya, ia tersenyum manakala benda yang dicari sudah berada di tangan. Dipeluknya benda itu erat-erat bibirnya komat-kamit melantunkan sebuah lagu dengan lirik Jepang.
Setelah selesai bersenandung, ia menyentakkan kepala ke arah lima orang pemuda yang tengah menatapnya. Ia menuding lurus-lurus ke arah mereka dengan telunjuk kanannya. Bibirnya terbuka dan terlontar kata-kata aneh dalam bahasa Jepang.
“API NERAKA TELAH DATANG, MEMBAKAR SEMUA YANG ADA DI TEMPAT INI !”
Seketika itu terdengar ledakan keras, membuat tubuh salah seorang dari mereka terpental jauh.
“BBRRUUAAKK !!” seketika ruangan menjadi terang benderang, menyinari tubuh keempat pemuda yang berdiri terperangah, mereka adalah : Edward, Seto, Lino dan Raga sementara yang terpelanting keluar adalah Pandu. Belum habis rasa heran mereka, bunga-bunga api memercik dari tempat dimana wanita yang tak lain adalah Michikko duduk. TOILET WANITA.
Api segera menjalar keluar dan membakar semua gedung yang ada di sekitar tempat itu. Semua yang ada di sekitar tempat itu berteriak-teriak ketakutan, sebagian berlarian keluar hendak menyelamatkan diri dengan tubuh yang terpanggang api. Pintu gerbang sekolah menutup dan terkunci dengan sendirinya, membuat semua yang ada di dalam tak bisa keluar. Termasuk Thalia yang saat itu sedang kebingungan mencari dimana Michikko berada. Ia memeriksa ke setiap sudut ruangan, tempat dimana biasanya gadis Jepang itu duduk menyendiri tapi tak ditemukan. Ia terjebak diantara bangunan-bangunan yang terbakar juga mayat-mayat hangus dan tergeletak tak tentu arah sementara api masih membakar tubuh hangus tersebut.
Dalam keadaan bingung, mendadak tubuhnya seperti diseret oleh kekuatan tak kasat mata. Ia berteriak-teriak ketakutan, meronta hendak melepaskan diri, tapi, kekuatan itu tak mampu dilawan, ia pasrah, hingga akhirnya merasakan tubuhnya dimasukkan ke sebuah tempat yang gelap dan dingin. Sebelum kehilangan kesadarannya, ia merasakan sekujur tubuhnya basah kuyub dan telinganya mendengar suara percikan air.
Perlahan-lahan, suara hiruk pikuk sirna digantikan oleh gemerantak kayu-kayu terbakar. Tak ada lagi teriakan minta tolong, tak ada lagi teriakan menyayat, tak ada lagi jerit kesakitan. Sunyi sepi. Mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah bercampur dengan timbunan puing-puing bangunan dan bahan material lain yang menghitam. Bau tidak sedap segera menyebar mengikuti kemana angin berhembus. Di sudut ruangan yang gelap, sebuah boneka wanita berambut acak-acakan duduk, ia tampak tersenyum melihat keadaan sekitar. Sebuah tangan putih pucat mendadak muncul dan perlahan-lahan mengangkat boneka itu. Terdengar senandung lirih “Nina Bobo” dalam bahasa Jepang.
Sebuah bayangan wanita mendadak muncul dari permukaan tanah, ia berambut hitam, panjang terurai lagi kusut menutupi wajahnya, sesekali kepalanya menyentak ke kiri. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian pelajar SMA khas Jepang, berwarna merah darah. Ia berdiri membelakangi tiga orang gadis yang tengah bergandengan tangan. Salah seorang dari mereka yang berdiri di tengah menatapnya dengan tatapan iba. Bayangan itu seperti mengetahui bahwa ada orang lain yang memandang, ia membalikkan badan. Kini mereka berhadap-hadapan dalam jarak lebih kurang tiga meter. Bayangan itu mengangkat telunjuk kanannya, “Kita akan bertemu 7 hari lagi,” katanya dengan suara berat, setelah itu membalikkan badan, melangkah meninggalkan tempat itu diiringi dengan tawa mengerikan.
_____
Di Negara Matahari Terbit ( Jepang ), seorang wanita cantik terbangun dari tidurnya. Tatap mata yang penuh kekhawatiran, memandang ke segala penjuru ruangan yang hanya diterangi sebuah lentera. Di ujung sana, tampak sebuah meja altar dengan panjang satu setengah meter terbaring bagaikan raksasa yang sedang tidur berselimutkan sebuah kain usang berwarna coklat. Di atasnya, ada sebuah nampan berisikan berbagai macam makanan dan buah-buahan diletakkan tepat di bawah dupa yang masih menyala. Asap mengepul menyelimuti sebuah foto gadis cantik yang tergantung pada dinding. Saat asap yang menebarkan bau harum di ruangan itu melayang-layang dibawa angin, barulah terlihat dengan jelas wajah di dalam foto itu.
Wanita berambut panjang terurai dengan kimono berwarna merah jambu, berjalan dan berhenti tepat di hadapan meja altar. Pandangan matanya terpaku pada foto tersebut. Bibirnya terbuka, sebuah kata-kata dalam bahasa Jepang terlontar :
“Michikko, apa yang terjadi padamu ? Roh jahat yang bersemayam dalam tubuhmu, tampaknya sudah menemukan wadah yang baru ... Aku harus mencegahnya agar roh jahat itu tidak terlahir lagi di dunia ini. Kalau terlambat, dunia berada dalam kehancuran,” setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, “Sebelum itu terjadi, aku harus mencegahnya, jangan sampai roh itu mendapatkan wadahnya,”
Ia memejamkan matanya, mulutnya komat-kamit tak jelas. Sesaat kemudian matanya terbuka, ia mengepalkan tangannya keras-keras, sebuah asap tipis keluar perlahan dari punggung tangannya. Saat membuka kepalan tangannya, tampak gumpalan abu dan tanah lalu ia menebarkannya ke lantai tak jauh dari meja altar itu ditempatkan.
“Yami kara hikari e.
Hikari ga sonzai suru subete no kurayami o terasu yō ni shite kudasai...
Ushinawareta tamashī o tsurete…
Hisu rappu ni modoru
Shizen no itsutsu no yōso ga ketsugō sa re, tsuyo-sa ga kumiawasari,
Sekai no subete wa zen'nō-sha ni yotte sōzō sa remasu
Kare ni modoru
Michikkono tasuke o karite kare no kigen ni modorimashou
Kyōryokuna”
Yang artinya :
“Dari kegelapan kembali ke cahaya ...
Biarlah cahaya menerangi semua kegelapan yang ada ...
Membawa jiwa-jiwa yang tersesat ...
Kembali ke pangkuan-NYA ...
5 unsur alam bersatu padu, kekuatanpun berpadu,
Segala yang ada di dunia diciptakan Yang Maha Kuasa
Kembali kepada-NYA
Ijinkanlah aku mengembalikan Michikko ke asalnya dengan bantuan
YANG MAHA KUASA”
Begitu wanita itu menyelesaikan perkataannya, di halaman rumah yang tertutup salju, mendadak menyembul keluar beberapa sosok wanita berpakaian coklat tua, berambut panjang terurai menutupi wajahnya. Sosok wanita yang berjumlah lebih kurang 10 orang itu memiliki perawakan dan penampilan sama dengan Michikko. Lalu dengan gerakan aneh mereka membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan tempat itu sambil berteriak-teriak dalam bahasa Jepang :
“Modotte kite ne”
“BAWA DIA KEMBALI !”
berulang kali mereka meneriakkan itu hingga hilang dalam kegelapan malam.
_____
Aku, Maribeth dan Cindy jatuh terduduk, aku merasakan ada cairan kental mengalir dari hidung sebelah kananku. Ini sudah biasa, tiap kali selesai membiarkan diri ini berkelana menembus dimensi ruang dan waktu. Kuseka darah itu dengan punggung tanganku, “Tujuh hari lagi ?” desahku. Yah, jika masker yang menutupi wajahku terbuka, maka, semua yang tak bisa dilihat orang awam, terlihat olehku. Dan, aku ikut merasakan semua derita yang mereka alami.`
“Tenanglah, kak... kita tidak sendirian,” tiba-tiba terdengar seruan dari samping kananku, seorang bocah berumur 13 tahunan mengenakan kacamata memandangiku di sisi lainnya kulihat seorang bocah wanita berpakaian putih, berambut sebatas bahu, sepasang matanya dihiasi cekungan hitam. Di sisi lainnya lagi ada 2 orang bocah dan salah satu dari mereka memeluk skeetch book. Aku mengenal mereka ... mereka adalah Jen-Shen, Intan, Timmy dan Tobby, sahabat-sahabat hantunya Cindy.
Cindy dan Maribeth membimbingku berdiri. Yah, mungkin kejadian yang baru saja kami lihat adalah sebagian dari masa lalu sosok wanita yang hadir dalam mimpi-mimpiku dan mengikutiku kemana pun aku pergi. “Apa yang harus kita lakukan sekarang, teman-teman ?” aku meminta pendapat.
Cindy dan Maribeth terdiam.
“Kalian tak perlu khawatir,” tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang, seorang wanita berambut hitam berombak mendadak muncul. Ia jelas bukan asli penduduk pribumi di lihat dari logat bicara yang bagi kami terdengar lucu, juga gerak-geriknya yang mirip Michikko. “Siapa kau ? Bagaimana kau bisa muncul di tempat ini ?” tanyaku.
“Aku bernama, MIWAKO. Kakak kandung Michikko,” jawabnya singkat, ia tampak kesulitan untuk berbicara bahasa Indonesia. Jen-Shen yang memang paham bahasa Jepang segera berjalan menghampiri, “Dia kurang fasih berbahasa Indonesia, Cindy ... Biarkan aku yang mengajaknya bicara, aku tahu dia memiliki kemampuan yang sama denganmu, Maribeth juga Arimbi. Dia bisa melihat kami yang tak kasat mata,”
Cindy menganggukkan kepala, “Kalau begitu ajaklah dia berbicara,”
Jen-Shen berjalan menghampiri gadis yang bernama Miwako itu, dan memang, Miwako bisa melihat Jen-Shen juga yang lainnya. Begitu Jen-Shen mengajaknya berbicara dalam bahasa Jepang, ia tampak girang sekali dan begitu pula Jen-Shen. Selama ini ia tidak pernah bertemu dengan orang yang berasal dari satu negara dengannya. Bagi Jen-Shen, ini adalah hari yang membahagiakan. Dalam waktu singkat, mereka sudah menjadi sahabat karib. Sahabat karib kedua setelah Cindy Permatasari. Saat matahari sudah tepat berada di atas kepala, kami meninggalkan tempat itu.
_____
Bersambung ke jilid ke-4