"Gue mau lo jadi pacar gue."
"Tapi gue nggak mau."
"Lo berani nolak gue?"
"Gue nggak ada rasa sama lo. Gimana mungkin gue bisa nerima lo masuk kekehidupan gue."
Nareyka menghembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya memicing tajam menatap gadis dihadapannya tersebut. Gadis dengan rambut panjang dibatas pinggang, lengkap memakai seragam sekolahnya itu hanya menundukkan wajahnya.
Ia tahu, pemuda dihadapannya ini tengah murka kepadanya. Dilihat dari cara Nareyka menatapnya membuat dirinya ingin mual saja saking takutnya. Tangannya gemetar hebat, ketika tangan kekar Nareyka memegang erat pergelangan tangannya.
"Ikut gue sekarang!" bentaknya secara kasar. Nareyka menggeret tangan gadis tersebut menuju sebuah tangga dipersimpangan lantai dua sekolah mereka. Menuju keatas, terus keatas, hingga mereka sampai dipuncaknya. Yaitu, rooftop sekolah.
Sebuah tempat dengan papan yang luas tanpa sebuah penghadang disetiap sisinya, membuat tempat ini terlihat begitu bebas. Bebas terjun kemana saja maksudnya. Gadis itu memandang sekitar. Matanya membulat sempurna karena dapat melihat gedung-gedung pencakar langit disetiap penjuru kota. Kakinya terasa lemas saat menatap jalanan Jakarta yang selalu ramai berjejalan sebuah kendaraan.
Angin sore yang berhembus sangat kencang mengibarkan rambut sepingganya dengan mendayu-dayu sempurna.Ini pengalamannya pertama kali menaiki rooftop selama ia bersekolah hampir 4 bulan disini.
Ia terduduk begitu saja, ia sangat takut dengan ketinggian. Apalagi, saat ini Nareyka menariknya menuju pinggir rooftop yang tidak ada besi penghadang apapun. Membuat nyali gadis tersebut semakin menciut. Sekolah dengan lantai 4 yang menjulang tinggi. Bisa dibayangkan betapa hancurnya tubuh seseorang jika jatuh dari tempat ia berpijak saat ini.
"Lo masih mau nolak gue? Lo belum paham apa yang bakal bisa gue lakuin sama lo, kalau lo tetap nolak gue?" Nareyka bersuara. Tangan kekarnya masih terus mencekal pergelangan tangan gadis tersebut.
"Rey, gue mohon, lepasin gue." air mata gadis itu luruh seketika.
"Jangan nangis! Gue benci cewek cengeng kayak lo!" bentaknya.
"Kalau lo benci cewek cengeng kayak gue, kenapa lo suruh gue buat jadi pacar lo?" tantang gadis tersebut. Matanya semakin melotot karena tidak terima dihina seperti itu.
"Gue harus menangin taruhan gue! Kalau gue bisa dapetin lo, gue bakalan dapat rumah yang dijanjiin sama Edo. Lo tau itu?"
"Lo jadiin gue bahan taruhan Rey?"
"Ya." Nareyka melepaskan cekalan tangannya pada gadis tersebut. Ia membalikkan tubuhnya hingga membelakangi sang gadis yang masih berdiri dibibir rooftop tersebut.
"Edo ajakin gue taruhan. Dan dia janjiin gue rumah kalau gue bisa dapatin lo hanya dengan waktu yang singkat. Yaitu satu minggu."
"Gue nggak kenal sama lo ataupun Edo. Salah gue apa Rey sampai lo jadiin gue bahan taruhan kayak gini?"
"Lo nggak ada salah. Gue sama Edo nggak ada target lain yang bisa gue jadiin bahan buat taruhan. Cuma lo target satu-satunya."
"Alasannya kenapa?"
"Lo nggak perlu tahu. Yang perlu lo tahu, sekarang lo jadi milik gue."
"Gue nggak mau! Gue nggak mau jadi pacar lo!" tegas gadis tersebut.
"Lo nolak gue?" Nareyka mendekati gadis tersebut yang hanya bisa mematung. Jika ia bergerak sedikit saja, maka ia akan terjerembab kebawah sana dan pulang hanya tinggal nama.
"Lo mau mati?" bisik Nareyka ditelinga gadis tersebut. Bulu kuduk gadis itu meremang, merinding, apalagi suara Nareyka yang begitu sangat dingin menyapa gendang telinganya.
"Gue nggak mau Rey, tolong lepasin gue." Nareyka semakin kuat memegang bahu gadis tersebut. Siap mendorong apabila ucapannya tidak diturutinya.
"Gue tanya sama lo sekali lagi, lo tetap mau nolak gue? Atau lo mati sekarang?" Nareyka menatap tajam pada gadis yang menangis hingga tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.
Gadis itu mengangguk pasrah, membuat Nareyka melepaskan cekalan bahunya dan sedikit mendorong gadis itu ketengah rooftop agar tidak terjatuh.
"Deal. Mulai sekarang, lo jadi milik gue." Nareyka mengambil ponselnya, menuju sebuah kamera lalu mendekat pada gadis itu.
Wajah Nareyka sangat presisi didepan sang gadis, membuat kedua netra mata saling bersilang tatap. Perlahan, Nareyka mendekatkan bibirnya pada bibir sang gadis, lalu memotretnya dari samping agar tak terlihat bahwa gadis itu sedang menangis.
Setelah selesai, ia menjauhkan tubuhnya dari sang gadis. "Jangan pernah bilang sama siapapun termasuk Edo, kalau lo terpaksa jadi pacar gue. Kalau sampai rahasia ini terbongkar, lo orang pertama yang akan gue cari dan habisi."
Gadis itu hanya mengangguk saja. Ia masih menangis tanpa suara. Nareyka meninggalkan gadis tersebut begitu saja. Ia menuruni anak tangga satu persatu, sembari melihat foto yang ia ambil beberapa saat yang lalu.
"Lihat foto yang gue kirim." ucapnya pada ponselnya. Ia mengirim pesan suara kepada Edo. Untuk memperlihatkan bagaimana ia mencium gadis yang saat ini masih berada dirooftop tersebut.
*********
Menatap matahari dengan warna orange yang sangat menyilaukan mata. Cahanya menembus hingga menghangatkan sekuruh tubuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul 17.25 namun sang gadis masih belum beranjak dari tempat tersebut.
Tempat dimana ia menyerahkan cintanya hanya untuk Nareyka. Cinta yang seharusnya ia berikan pada seseorang yang ia cintai juga, kini malah harus terdampar pada sebuah kenyataan bahwa cintanya telah direnggut secara paksa oleh seorang pria dingin bernama Nareyka Alaska Nugroho.
"Gimana bisa gue jalanin hidup gue disini dengan penuh tekanan kayak gini. Gue kesini buat cari kebahagiaan gue, bukan malah hidup tertekan kayak gini." lirihnya. Pandangannya kosong. Ia tahu, hari-harinya kedepan adalah hari-hari yang akan membuatnya menderita dan semakin gila karena paksaan dari Nareyka. Ia juga tahu, bahwa Nareyka tidak hanya akan memaksanya menjadi kekasihnya, namun juga membullynya habis-habisan karena merasa gadis itu sudah menjadi miliknya.
"Gue pindah kesini buat cari kebahagiaan gue, Tuhan! Kenapa sesulit ini buat gue bahagia!?" teriaknya begitu kencang. Namun tetap saja tak ada yang mendengar.
Lagi, air mata gadis itu terus turun membasahi pipi chubbynya. Rambutnya berantakan sekali tertiup angin kencang sore ini. Poni yang semula tertata rapi juga entah sudah tidak berbentuk lagi.
Gadis itu menangkup wajahnya, ia menumpukan kedua tangannya pada kedua lututnya yang ia lipat hingga bersedekap dada.
"Tasya." gadis itu berhenti tersengguk, ia menoleh kebelakang dan mendapati seorang pria yang tadi memaksanya untuk menjadi kekasihnya. Hanya saja, bukan lagi seragam sekolah yang pria itu kenakan. Hanyalah pakaian santai seperti celana jeans hitam dipadukan dengan kaos hitam, juga jaket levis. Membuat gadis bernama Tasya tersebut sempat terpesona.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Nareyka dalam mode santai tanpa seragam sekolah. Segera tersadar, Tasya kembali pada posisi awalnya, ia membelakangi Nareyka.
"Lo kenapa belum pulang?" tanya Nareyka. Ia berjalan mendekati Tasya lalu ikut duduk disampingnya. Jika Tasya duduk menghadap arah tenggelamnya sunset sore itu, maka Nareyka menghadap arah Tasya hingga bisa melihat tangisan Tasya yang belum juga mereda.
"Tasya, gue cuma mau lo jadi pacar gue. Bukan istri gue. Kenapa lo sampai segininya nangis?" tanya Nareyka terheran-heran. Sementara yang ditanya hanya diam tanpa menoleh. Melirik pun tidak.
"Gue antar lo pulang."
"Gue nggak mau. Gue bisa pulang sendiri."
"Gue nggak mau dibantah." Nareyka langsung menarik tangan Tasya begitu saja. Membuat gadis itu mau tak mau harus mengikuti langkah Nareyka menuruni tangga perlahan. Tangannya masih dicekal kuat oleh Nareyka, membuatnya sedikit meringis kesakitan. Namun ia bertahan untuk tidak berkata apapun.
"Gue pulang sendiri aja." ucap Tasya begitu mereka sampai area parkir sekolah.
BERSAMBUNG...