Happy reading guys ❤️
[DAY1] GADIS PEMURUNG YANG MISTERIUS
***
Hobi memotret membuat ku yakin dengan memotret setiap adegan dalam hidup dapat membuat memorial yang indah nantinya. —Abimanyu Maheswara.
***
Ini kisah ku bersamanya yang telah pergi menuju tempat yang indah di atas sana.
***
Kenalin nama aku Abimanyu Maheswara. Saat ini aku lagi kuliah semester akhir di Institut Teknologi Bandung (ITB) aku ambil jurusan Desain Interior (DI).
Memotret memang hobi dan pekerjaan ku namun Desain Interior adalah keinginan mending almarhum ayah. Ayah sangat ingin aku menjadi seorang desain interior agar nantinya aku tidak perlu repot-repot mencari desain interior untuk rumah.
Hobi memotret membuat ku yakin dengan memotret setiap adegan dalam hidup dapat membuat memorial yang indah nantinya.
Saat ini aku tengah pusing karena banyaknya tugas dan bisnis pemotretan keliling ku yang semakin hari semakin sepi karena semua orang sudah punya handphone masing-masing jadi mereka enggan menggunakan jasa fotografer keliling seperti ku lagi.
Aku yang gak tau arah mau kemana pun sampai di sebuah taman yang gak jauh dari tempat kos ku.
Setiap aku lewat sana entah itu pagi, siang, sore, maupun malam gadis itu hanya diam saja. Aku pikir dia gila, tapi ternyata tidak. Pernah sekali aku menjumpainya sedang menolong anak kecil yang jatuh dari sepeda.
Dia dengan telaten mengobati kaki anak kecil itu. Dari situ aku tau dia gadis yang baik dan tentunya dia masih memiliki akal yang sehat.
Taman, adalah awal pertemuan ku dengan gadis pemurung itu. Aku selalu bertanya-tanya kenapa gadis itu hanya duduk kursi taman tanpa melakukan apapun.
Bahkan gadis itu tidak pernah tersenyum kepada siapapun. Apa dia tidak lelah duduk termenung seperti itu? Apa dia tidak punya rumah atau apa?
Hari ini aku memberanikan diri menghampiri gadis pemurung itu. Dengan langkah hati-hati aku mendekati gadis itu. Semakin dekat dengan gadis itu aku bisa melihat wajah cantiknya yang murung itu.
"Pe-permisi," ucap ku memberanikan diri walaupun aku gugup setengah mati.
Gadis itu menatap ku dengan tatapan bertanya dengan kehadiran ku yang tiba-tiba.
"Bo-boleh ikut duduk?" tanya ku semakin gugup dibuatnya.
Gadis itu malah menautkan kedua alisnya, dan tanpa menjawab pertanyaan ku gadis itu langsung berdiri dan meninggalkan ku begitu saja.
Mungkin dia pikir aku ingin menawarkan jasa foto karena aku membawa kamera kesayangan ku.
Hari ini aku gagal mengobrol dengan gadis itu mungkin hari esok aku bisa mengobrol dan bertanya kenapa dia murung.
Keesokan harinya saat aku sedang mencari sarapan aku bertemu dengan gadis itu di tukang bubur langganan ku. Dengan langkah seribu aku berjalan ke arahnya. Namun lagi-lagi gadis itu malah pergi ketika melihat ku menghampirinya.
Apakah wajah ku semenakutkan itu? Apakah aku seperti orang jahat yang ingin berbuat macam-macam kah? Padahal aku tampan dari lahir banyak orang yang bilang jika aku mirip dengan idol Korea Na Jaemin.
"Masih pagi sudah gagal saja," ucap ku.
"Apanya yang gagal Mas Abi?" tanya Pakde Sudin. Pakde Sudin orang Jawa asli yang menikah dengan orang Sunda dan menetap di Bandung. Maka dari itu aku memanggilnya Pakde dan bukan Mang maupun Akang.
"Gapapa Pakde, biasalah masalah anak muda," jawab ku.
"Oh, masalah cewek ya?" tebak Pakde Sudin.
"Ya begitulah Pakde," jawab ku.
"Pakde, buburnya satu seperti biasa," ucap ku kepada Pakde Sudin.
"Siap," jawab Pakde Sudin langsung membuatkan bubur pesanan ku.
"Mas Abi, mau tau tidak siapa nama cewek tadi?" tanya Pakde Sudin.
"Siapa namanya Pakde?" tanya ku langsung semangat 45.
"Namanya Mbak Zayla, Mbak Zayla sering beli bubur Mang Sudin juga," ucap Pakde Sudin.
"Pakde Sudin tau alamat rumahnya?" tanya ku.
"Setau Pakde ya, rumahnya gak jauh dari sini, kalau gak salah mah di jalan pentolon," jawab Pakde Sudin.
"Jalan pentolon?" tanya ku sedikit asing dengan nama jalan itu.
"Ya Mas, itu loh arah perumahan mewah Serumning," ucap Pakde Sudin.
"Memang kenapa tanya alamatnya Mbak Zayla? Mas Abi suka Mbak Zayla ya?" tanya Pakde Sudin.
"Enggak lah Pakde, cuman nanya aja, soalnya saya sering lihat dia duduk di taman sendirian," ucap ku menjelaskan agar Pakde Sudin tidak menganggap jika aku suka cewek itu.
"Oh, Mbak Zayla memang seperti itu Mas," ucap Pakde Sudin.
"Dulu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan, mungkin dari situ Mbak Zayla jadi pemurung dan gak pernah senyum lagi," ucap Pakde Sudin.
"Oh, gitu ya Pakde, buburnya jadi berapa Pakde?" tanya ku.
"Seperti biasa, 10 ribu saja," jawab Pakde Sudin menyerah bubur pesanan ku.
"Ini Pakde, sama utang yang kemarin," ucap ku memberikan uang bernominal 20 ribu.
"Matur nuwun mas," ucap Pakde Sudin menerima uang yang aku berikan.
Aku yang mendengarkan cerita Pakde Sudin tadi merasa iba ternyata itu yang terjadi kepada gadis itu. Memang bagi sebagian orang setelah kehilangan orang tuanya menjadikannya pendiam dan pemurung seperti gadis itu.
Hari ini kebetulan sekali aku masuk kuliah pagi dan siang nya tidak ada jadwal kuliah lagi. Jadi ku putuskan untuk pergi ke taman itu lagi. Siapa tau aku bertemu gadis yang bernama Zayla lagi.
Seperti semester memang berpihak kepada ku. Hari ini gadis itu kembali duduk di tempat biasanya. Semoga hari ini aku tidak dikira ingin menawarkan jasa foto lagi.
Aku menuju arahnya sambil merangkai topik-topik pembicaraan.
"Mau tawarin jasa foto? Saya gak butuh!" ucap gadis bernama Zayla itu judes.
"Saya gak mau tawarin jasa foto Mbak. Saya mau ngobrol sama Mbak," ucap ku sudah tidak gugup lagi seperti kemarin.
"Ngobrol apa?" tanya nya dingin seperti es saja.
"Ya ngobrol apa aja," jawab ku.
"Kenalin nama saya Abimanyu Maheswara, kamu?" ucap ku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Zayla," jawabnya cuek nan dingin tanpa mau menyalami tanganku.
"Boleh ikut duduk?" tanya ku.
"Duduk aja, gak ada yang ngelarang," ucap nya.
Judes, jetuk, kompil deh nih cewek! batin ku.
"Ngomong -ngomong kamu rumahnya mana?" tanya ku sedikit basa-basi atau mungkin memang basi baginya.
"Gak di bawa," jawabannya membuat ku tak habis pikir.
"Maksudnya alamat rumah kamu," ucap ku.
"Pentolon," jawab nya singkat.
"Kamu gak kuliah? Atau udah kerja?" tanya ku sedikit kepo.
"Kuliah," jawabnya lagi-lagi singkat dan padat.
"Kuliah dimana?" tanya ku.
"ITB," jawabnya.
"Ambil jurusan apa?" tanya ku.
"Fkk," jawabnya.
"Fkk kepanjangan dari Farmasi klinik dan komunitas ya?" tanya ku.
"Tau dari mana kamu?" tanya nya.
"Kebetulan saya juga kuliah di ITB," jawab ku.
"Ambil jurusan apa?" tanya nya.
"Desain interior," jawab ku.
Zayla mengerutkan keningnya, mungkin dia pikir jurusan dan pekerjaan ku tidak sinkron.
"Desain interior jadi tukang fotografer jalanan?" tanya nya.
"Ya begitulah," jawab ku malu.
"Kenapa gak ambil jurusan fotografer aja?" tanya nya.
"Karena almarhum ayah pengen aku jadi desain interior," jawab ku.
"Oh"
"Disini kamu ngekos atau punya rumah sendiri?" tanya nya.
"Ngekos," jawab ku.
"Oh, terus ibu kamu?" tanya nya lagi.
"Ibu di kampung gak mau ikut ke Bandung, katanya Bandung panas," jawab ku. Ku rasa sekarang Zayla tidak sedingin, jutek dan judes seperti tadi.
"Bandung memang panas, tapi Bandung banyak kenangan nya," ucapnya.
"Emm, gue boleh nanya sesuatu yang mungkin agak private buat kamu gak?" tanya ku.
"Tanya aja, selagi bisa aku jawab kenapa gak?" jawab nya.
"Kenapa kamu sering ke taman ini?" tanya ku.
"Karena di taman ini banyak kenangan sama mama, papa," jawabnya.
"Taman ini menjadi terrakhir kalinya aku merasakan hangatnya keluarga," ucapnya.
"Di taman ini juga aku merasakan hancurnya keluarga ku," sambung Zayla.
Aku dengan setia mendengarkan cerita Zayla. Aku bisa melihat kesedihan yang amat mendalam lewat sorot matanya.
"Gak usah diterusin kalau kamu gak kuat lanjutin ceritanya," ucap ku.
Zayla mengusap air mata nya yang sudah turun membasahi pipi imutnya.
"Hei, jangan nangis," ucap ku refleks mengusap air mata Zayla yang semakin deras mengalir membasahi pipinya.
"Makasih, tapi aku gak nangis cuman kemasukan debu aja mata ku," ucap Zayla mencoba membohongiku.
"Jangan berbohong Zay! Aku tau kamu sedih setiap mengingat kejadian itu," ucap ku.
"Aku juga kadang sedih ketika mengingat kejadian dimana ayah meninggal dulu," ucap ku.
"Aku tau mungkin ini berat buat kamu, tapi aku yakin kamu gadis yang kuat! Jadi jangan murung lagi ya!" ucap ku.
"Ini sudah sore lebih baik kamu pulang, nanti masuk angin lagi," ucap ku.
"Makasih, kamu orang pertama yang peduli setelah papa dan mama gak ada," ucap Zayla.
"Kalau gitu aku pulang dulu," ucap Zayla.
"Hati-hati dijalan," ucap ku.
"Besok aku tunggu kamu disini lagi Zay!" ucap ku sedikit berteriak.
Zayla menengok ke belakang dan tersenyum tipis kepada ku. Walaupun itu hanya senyum tipis namun ku rasa Zayla sudah mau tersenyum lagi.
Bibir ku tak berhenti tersenyum setelah Zayla lenyap dari pandangan ku sampai-sampai ada anak kecil yang melintas dan berucap.
"Ih, ada orang gila!" ucap anak kecil itu.
Aku pun tersadar jika aku dari tadi tersenyum seperti orang gila. Ada apa dengan ku? Tidak biasanya aku sebahagia ini. Apa ini semua karena Zayla gadis pemurung itu? Aku pun tidak tau.
To be continued.
Terima kasih telah membaca cerpen pertama Pinnky ❤️
Komen pendapat kalian tentang cerpen FOTOGRAFER JALANAN DAN GADIS PEMURUNG ini.
Cerpen ini masih belum tamat akan ada beberapa bab lagi.
See you next cerpen.