*KISAH NYATA*
Author : Meisya W. S
Real story....
⚠ Semua nama dan tempat disamarkan..
.
.
.
.
Rumah lama ku, rumah yang jauh dari pemukiman warga, rumah yang dirumorkan angker, pertama kali kami semua pindah kesana memang hawanya sudah sangat berbeda..
Yah bagaimana tidak berbeda, rumah ini sudah 7thn lebih tidak ditinggalkan, rumah yang tampak sudah tua dan tampak tidak terlalu ter urus..
Rumah yang menyatu dengan beberapa ruko disebelahnya, sebenernya tempat tinggal ku lebih pantas disebut ruko dari pada sebuah rumah, bagaimana tidak orang depan nya saja sudah jalan raya dan juga sungai.
Jalan untuk menuju kearah sini saja tampak sangat sepi, layaknya tempat Jin buang anak.
Aku sebut rumah karena biar Astetick dikit.
.
.
.
.
.
Ok lanjut, Saat pertama kali aku menginjakkan kaki ku dirumah itu, memang aku sudah merasakan bahwa rumah ini memang lebih pantas jadi tempat tinggal Setan dari pada di sebut sebuah rumah tinggal.
Bagaimana tidak..
Bau rumah ini saja sudah sangat tidak enak, bau menyengat kotoran tikus dan juga kelelawar benar-benar membuat ku merasa tidak nyaman.
Saat aku berjalan keruang tengah, seketika aku sadar bahwa rumah ini menyatu dengan beberapa ruko didekatnya, bahkan diruang tengah terdapat 3 pintu penghubung antar setiap ruko.
Melihat arsitektur tempat ini saja sudah sangat aneh.
Saat pemilik rumah sedang berbicara dengan orang tua ku, aku sedikit berjalan-jalan menuju kearah pintu biru yang tampak tertutup.
Perlahan tangan ku meraih pengangan pintu itu dan tanpa ragu sedikitpun aku langsung membukanya, untuk pertama kalinya, aku bisa melihat dengan jelas bahwa ini adalah ruang dapur, ruang dapur yang amat luas bahkan jika bisa dikirakan luas areanya akan tampak seperti 1 rumah di perumahan biasa.
Dari ambang pintu aku bisa melihat, di dekat meja dapur terdapat bak yang sangat besar tampak sepeti tempat penampungan air, bahkan itu saja lebih terlihat seperti kolam berenang dari pada tempat penampungan air .
Aku melihat kesegalah arah tanpa sedikitpun berpindah dari posisi awal ku, di samping kanan ku terlihat pintu keluar menuju halaman samping dan di sebelah kiri ku terdapat seperti dinding pemisah dan tampaknya ini seperti ruangan yang tak tau dimana pintu masuknya.
aku sungguh tidak menyangka bahwa tempat ini sangat luas.
Pada saat itu juga pandangan ku langsung berfokus ke satu tempat jauh di pojok sana, mata ku sedikit menyipit untuk melihat kearah tempat yang tampak tidak asing tersebut dan tampak nya itu adalah toilet rumah ini, jika benar bagaimana mungkin bahwa kamar mandinya terdapat di sana.
Bahkan tidak ada lampu untuk menuju kearah kamar mandi.
Bahkan cahaya matahari saja tidak masuk sama sekali keruangan ini, hanya sedikit cahaya yang masuk tetapi ruangan ini masih tetap gelap bahkan hanya ada 1 lampu berwarna oren Remang-remang tepat di depan kamar mandi itu.
Aku hanya bisa terdiam di ambang pintu dan tak berani untuk berjalan mendekat kearah sana.
Seketika aku nyeletuk dengan nada sedikit kesal
" jika benar itu WC nya maka dari pintu masuk sampai menuju WC akan sangat jauh.. Ini rumah di rancang jadi buat tempat tinggal apa jadi labirin sih.. "
Aku mengerutkan dahi ku menatap kesal kearah kamar mandi yang berjarak cukup jauh dari tempat ku berdiri.
Kalo dihitung mungkin jaraknya kisaran 10 meter atau lebih.
Tidak lama dari itu orang tua ku selesai berbicara dengan sang pemilik rumah dan tampaknya mereka akan memutuskan untuk mengecek area belakang yaitu dapur.
Aku hanya bisa sedikit bergeser dari ambang pintu dan memberi jalan kepada orangtua ku, aku tetap mengikuti mereka dari belakang.
Padahal niat ku, aku tidak ingin melihat ruangan ini tapi mau bagaimana lagi, aku berjalan perlahan masuk ke area dapur, mata ku menatap kesegala arah tanpa henti.
Pelapon yang tampak sudah lapuk dan area yang begitu sangat lembab bahkan hawa di sini lebih dingin dari ruangan sebelumnya.
Aku berdiri tepat di dekat bak tersebut, bak penampungan air yang hampir setinggi diriku, bahkan volume airnya juga tampak begitu besar.
Dalam hati aku hanya bisa berkata
"Fix gw akan encok bersihinnya..!! "
Aku hanya menatap bak itu dengan tatapan yang amat ku benci, yah tatapan dimana aku harus bersiap membersihkan nya nanti.
Setelah beberapa detik aku menatapnya, aku berbalik dan melihat bahwa dinding ruangan yang ku lihat tadi dari ambang pintu masuk, rupanya pintu masuk menuju kedalam ruangan ini ada tepat tidak jauh dari bak dan kamar mandi.
Sang pemilik rumah menjelaskan bahwa ruangan ini adalah kamar, aku hanya bisa terperangah saat tau ada kamar di dekat area dapur.
"Kalo ini pintu kearah mana"
Ucap ibuku sembari menunjuk kearah pintu yang jaraknya 4 sampai 5 meter dari bak penampungan air.
"Ouh ini pintu menuju ruko yang di sebelah" - (ucap sang pemilik rumah)
"Ini toiletnya yah..? " (Ucap ku dengan nada berharap bahwa ini bukan toilet nya)
"Yah ini toiletnya.. "
Seketika aku terdiam saat tau bahwa dugaan ku benar bahwa skat dinding di ujung ruangan ini adalah kamar mandi, bagaimana mungkin kamar mandinya sejauh ini dari pintu menuju ruang tengah, bahkan jika di perkirakan dari pintu masuk awal sampai kesini benar-benar jarak yang sangat jauh
"Kalo yg ini kemana..? " Tanya ibuku kembali yang membuat lamunan ku pecah.
Rupanya tepat di depan pintu kamar mandi terdapat pintu lagi.
"Ini pintu menuju ke area belakang, kalo ibu seneng berkebun, ibu bisa gunain halaman dibelakang ini.. "-(ucap sang pemilik)
Aku hanya bisa terdiam takjub saat melihat keseluruhan rumah ini, dari awal kami masuk keruko pertama dan sampai masuk menuju 2 ruko dibelakang nya.
Ini benar-benar Sangat luas jika dihitung terdapat 9 pintu termasuk pintu kamar diarea dapur dan juga pintu kamar mandi.
1 pintu masuk awal dan tepat diruang Tengah terdapat 3 pintu penghubung ruko disamping yang memiliki arsitektur rumah klasik.
1 pintu lagi menuju 2 ruko di sampingnya dan pintu mengarah ke belakang yaitu area dapur.
Setelah sampai ke ruang dapur kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa ada pintu lagi di samping kanan menuju halaman samping jika kita berjalan beberapa meter ke area bak penampungan air terdapat 4 pintu.
1 pintu kamar , 1 pintu menuju kamar mandi, 1 pintu yang tidak jauh dari bak penampungan air dan 1 lagi menuju halaman belakang.
sebenarnya pintu yang tidak jauh dari bak penampungan air, adalah pintu penghubung ke ruangan disebelah nya , Ruangan yang sangat luas, yang terdapat begitu banyak kaca di setiap dindingnya
Ruangan yang 3x lipat lebih luas dari rumah yang akan kami sewa.
Jika bisa di ibarat kan luas ruangan nya hampir seperti luas lapangan bola basket.
Ruangan yang plong kosong tanpa memiliki skat dinding pembatas satupun, saat kami melihat ruangan itu sang pemilik bercerita bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah tempat GIM.
Makanya dikarenakan itu masih banyak sekali kaca yang full memenuhi dinding ruangan ini.
Jujur saja rumah ini seperti labirin sangat sulit menjelaskan bagaimana detail dari setiap ruangan nya, bahkan begitu banyak pintu penghubung di setiap ruangan, rumah tua yang sudah cukup lama tidak dihuni, rumah yang sangat jauh dari pemukiman warga.
Jalan menuju kesini saja masih tampak begitu sepi, masih banyak pepohonan dan juga perkebunan.
Tempat ini memang pantas disebut tempat Jin buang anak karena memang jauh dari pemukiman, bahkan jika ada sekalipun kami harus berjalan puluhan meter untuk sampai ke tempat pemukiman warga.
Laki-laki sialan itu benar-benar membuang kami di tempat horor ini.
.
.
.
.
.
.
Sebenarnya ini baru awal permulaan, kisah yang lebih mengerikan terjadi setelah kami benar-benar memutuskan untuk tinggal disini.
Kami tinggal ber 4 dirumah yang begitu amat luas ini, aku, ibuku dan ke 2 kakak perempuan ku.
kami juga memutuskan tidak mengisi kamar yang berada di area dapur.
Selama 1 bulan aku benar-benar merasa sangat tidak nyaman, setiap malamnya gangguan aneh selalu muncul dan tampaknya bukan hanya diriku yang merasakan hal itu tapi seluruh keluarga ku juga merasakannya, bahkan sangkin takutnya kami, jika malam tiba dan salah satu dari kami ada yang ingin kekamar mandi, kami selalu saling menemani.
karena kamar mandi yang berjarak cukup jauh dari ruang tengah membuat kami merasa takut.
Bahkan terkadang selalu saja ada ular di dapur, aku selalu berusaha untuk berfikir positif, karena mau bagaimanapun aku berfikir ini bukanlah ganguan nyata dari makhluk - makhluk penghuni rumah ini.
Kami selalu berfikir bahwa rumah kami memang dekat dengan perkebunan jadi wajar saja ada ular yang masuk.
Sebenarnya kami ber 4 memiliki kemampuan untuk merasakan kehadiran mereka, ke 2 kakak ku bisa melihat sesuatu yang sebenarnya tidak semua orang bisa melihatnya.
Ini benar-benar terasa begitu berat, 4 perempuan yang memiliki kemampuan untuk bisa merasakan kehadiran mereka, di tempatkan dirumah yang sudah 7 tahun lebih tak dihuni.
Walau begitu kami selalu menjalani hari-hari penuh gangguan itu layaknya tak terjadi apa-apa.
bahkan saat pembersihan rumah, ke 2 kakak ku pernah berkata bahwa di dalam bak kamar mandi terdapat kepala laki-laki saja yang berada di dalam bak tersebut.
aku bergidik merinding saat mendengar hal itu, tetapi walau begitu rumah ini sudah dipagar
[dalam konteks gaib] bahkan kami sudah membuat perjanjian dengan mereka bahwa kami hanya mengusir mereka untuk sementara waktu dan ketika kami pindah dari rumah ini, kalian boleh kembali mengisi rumah ini.
jadi walau banyak sekali gangguan yang terjadi mereka tidak akan dengan sangat mudah masuk kedalam area rumah ini.
Laki-laki itu sudah tau jelas bahwa rumah ini tidak beres, tapi dia malah menempatkan istrinya dan ke 3 anak perempuan nya disini.
.
.
.
.
.
.
Terkadang beberapa hari sekali aku akan berjalan kearah pemukiman untuk berbelanja kebutuhan rumah, membeli banyak stock makanan dan lain-lain.
Tempat pemukiman ini dekat dengan sekolah Dasar, jadi wajar saja daerah sini lebih ramai dari daerah yang kutinggali .
Saat aku sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari salah satu ibu- ibu tampak memperhatikan ku terus-menerus aku hanya sedikit menatapnya dan pada saat itu juga dia menegur ku.
Dia menatap ku dengan tatapan asing aku hanya bisa sedikit tersenyum canggung kearah nya.
Dia menepuk pelan bahu ku dan berkata
"Neng orang anyar didieu nyah...? "
Aku mengerutkan dahi ku dan menatap bingung kearah ibu-ibu ini.
Aku hanya bisa tertawa canggung sembari berkata "Iyh saya orang baru disini.. "
"Oalah pantes.. neng teh, arep imahnya tah di mana..? "
Tangan ku menunjuk kearah rumah ku yang berjarak cukup jauh dari tempat aku berdiri sekarang "disana, tempat yang banyak ruko nya itu.. "
"Yang ruko Samping tambal ban neng..? " - tanya Ibu penjual yang ikut menyambung pembicaraan kami
Aku mengangguk dan mereka hanya diam menatap ku dengan tatapan aneh.
"Neng nginep disana juga..?"
"Tentu saja aku nginep disana.. Memangnya kenapa..? "
"Emang, neng ngk takut..? "
"Takut sama apa..? " -ucap ku dengan nada bingung
"Hareup jeung tukang imah itu teh aya kuburan neng.. saatos eta imah teh katelah angker pisan.. Emang neng teu sieun..!!? "
"Katelan Itu maksudnya apa yah bu..? "
"Rumah itu udah populer dengan angker nya neng, makanya banyak yang ngak berani nempatin daerah sana.. " -Ucap ibu-ibu penjual.
Saat aku mendengar rumor soal rumah yang ku tinggali aku hanya bisa terdiam.
Aku memang tau jelas bahwa rumah ku horor, tapi aku baru tau, rupanya warga sekitar sini juga mengetahui ke angkeran rumah itu, aku hanya bisa tertawa canggung sembari berkata
"Ngak lah.. Ngapain takut, orang ngak ada apa-apa"
Dan saat pembicaraan kami berakhir aku segera mengambil barang belanjaan ku dan bergegas kembali, sembari membawa berita penting.
Langkah kaki ku berhenti sejenak Tepat di depan rumah ku, tatapan ku mengarah tepat kearah seberang sungai, terlihat pepohonan memenuhi tempat itu dan ternyata aku baru tau bahwa tempat itu adalah kuburan.
Aku memasuki rumah ku dan bergegas menaruh barang belanjaan ku, aku langsung segera bercerita ke ibuku dan juga ke 2 kakak ku soal rumor yang ku dengar barusan..
Mereka hanya terdiam saat aku menceritakan soal rumor ini, mau bagaimana pun kami memang sudah tau bahwa rumah ini angker hanya saja kami tidak tau bahwa rumah ini memang sudah terkenal dengan angkernya.
Banyak yang bilang bahwa kami adalah satu-satunya orang yang berani tinggal disana .
.
.
.
.
.
.
Mau bagaimana pun, setiap malamnya gangguan akan selalu terjadi, seakan-akan mereka berusaha untuk mengusir kami.
Engkoh adalah sebutan laki-laki berparas chines yang selalu mengganggu kami tiap malamnya.
Bau dupa yang selalu tercium saat pergantian sore Ke malam.
Aroma yang menyengat yang menusuk hidung, aroma yang berasal dari Ruko kosong dengan arsitektur rumah klasik yang tak di huni oleh siapapun.
Aroma aneh yang selalu datang padahal sudah sangat jelas bahwa hanya kami yang tinggal disini bahkan jika ada tetangga sekalipun itu juga berjarak kurang lebih 35 meter dari rumah kami.
Bukan hanya dia yang mengganggu kami, ada beberapa makhluk lain juga yang selalu berusaha mengganggu kami.
Entah bagaimana tampaknya kehadiran kami disini sangat tidak di sambut baik oleh mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hampir menuju 1 tahun, gangguan itu perlahan-lahan kami abaikan, walau terkadang perasaan tidak nyaman itu selalu hadir kapan saja.
Malam mencengkam yang selalu hadir setiap malamnya, tampak sudah seperti makanan sehari-hari kami, tetapi entah bagaimana kali ini tampak lebih berbeda.
Hujan deras melanda daerah yang kami tinggali, angin kencang yang membuat rumah tua ini tampak tidak sanggup menahannya.
Tepat pada jam setengah 2 malam
Dentuman kencang terdengar keras di area dapur, yang membuat kami sontak terbangun karena suara keras itu.
Kami saling menatap satu sama lain, suara keras itu benar-benar membuat kami bergidik merinding.
Bahkan tidak ada satupun dari kami yang berani untuk mengecek suara itu.
Suara dentuman keras yang amat kencang tampak terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh.
Walau begitu kami hanya bisa melanjutkan tidur kami dan akan mengeceknya pada esok hari.
.
.
.
.
Pagi hari tiba dan kami semua langsung bergegas mengecek asal suara itu dan rupanya suara itu benar-benar berasal dari area dapur, terlihat jelas bahwa atap tepat di depan kamar mandi rubuh, puing-puing genteng dan juga pelapon atap tampak hancur berantakan dibawah.
Dan saat itu juga kakak perempuan ku mencoba mengecek kamar kosong yang tak kami tempati dan rupanya atap kamar ini juga ikut rubuh sebagian.
Rupanya ini bukan gangguan Gaib, yang seperti kami pikirkan semalam, Ternyata ini adalah gangguan alam.
Atap itu rubuh dan meninggalkan jejak yang amat besar, terlihat bahwa diatas kamar mandi rumah ini ada pohon mangga yang amat besar dan juga bisa terlihat jelas bahwa tampaknya ada hutan bambu di belakang rumah ini.
Rubuhnya atap di depan kamar mandi malah semakin membuat rumah ini terlihat seram.
Semenjak kejadian itu, setiap ada hujan dan juga angin kencang kami selalu takut rumah ini akan rubuh dan menimpa kami, jujur saja ini memang terlihat sungguh tragis.
.
.
.
.
.
Beberapa hari semenjak kejadian itu bukannya membuat kami semakin tenang malah membuat kami semakin takut, gangguan yang sudah kami anggap biasa saja malah kembali berulah dan malah semakin menjadi.
Tepat pada bulan puasa ditahun pertama kami tinggal dirumah itu, terdengar lantunan ayat suci Al-Quran yang terdengar jelas tepat di balik pintu rumah kami, suara ayat Suci yang tampak di lantuni oleh seorang perempuan.
Pintu kami bukan lah pintu rumah pada umumnya tetapi pintu kami adalah pintu Rolling Door yang terbuat dari aluminium, jadi jika ada siapapun yang ada di depan rumah, kami akan langsung bisa mendengar suara itu dengan sangat jelas.
Jujur saja yang menyadari suara itu pertama kali adalah diriku, karena pada hari itu aku tidak bisa tidur dan memutuskan untuk begadang sampai waktu Sahur tiba.
awalnya aku mengira itu adalah suara masjid, tapi saat aku mengecek Jam di HP milik ibuku waktu masih menunjukkan angka setengah 2, jadi suara itu tidak mungkin berasal dari masjid.
Suara itu memang terdengar samar-samar tetapi aku merasa yakin bahwa itu bukan dari masjid.
aku berjalan mendekat kearah suara itu berada dan rupanya suara itu berasal dari depan pintu, pada awalnya aku berfikir bahwa itu adalah suara orang iseng yang berusaha menakuti kami, jadi pada saat itu juga aku memberanikan diri untuk mengecek nya Rolling Door milik kami memiliki lubang kecil yang memungkinkan kami bisa melihat kearah luar.
perlahan mata ku mendekat kearah lubang kecil itu, karena aku merasa yakin bahwa itu tidak mungkin suara Hantu dan aku benar-benar tercengang karena aku tidak melihat siapapun yang berada di depan rumah kami.
bahkan lantunan itu masih terdengar jelas, tepat didepan pintu, tetapi kenapa aku tidak melihat ada satupun orang.
suara itu semakin terdengar jelas, pada saat itu juga aku memutuskan untuk membangunkan keluarga ku, awalnya mereka mengira aku mengalami halusinasi karena aku tidak tidur semalaman, tetapi pada saat itu juga mereka bisa mendengar suara itu dengan jelas .
aku memberi tau mereka bahwa tadi aku sudah mengecek nya, tetapi tidak ada satupun orang yang berada di depan pintu.
kakak pertama ku mengedor Rolling Door itu dengan sangat keras dari dalam rumah, karena dia yakin jika itu manusia maka suara itu akan hilang, tetapi bukanya menghilang lantunan ayat Suci itu malah semakin terdengar jelas.
"Ini bukan orang " - ucap kakak pertama ku
"kalo gitu coba buka pintunya" - sambung kakak ke 2 Ku
Sebelum kami memutuskan untuk membuka pintu itu, aku, ibu dan kakak perempuan ke2 ku , masing-masing memegang senjata jika semisal kan ini adalah penjahat kami bisa langsung membela diri.
senjata yang di maksud bukan lah senjata api, tetapi senjata seperti linggis , palu dan juga sapu, tentunya karena aku yang paling kecil diantara keluarga ku, aku yang membawa sapu.
kami semua bersiap untuk langsung mengecek suara itu, kakak pertama ku bersiap membuka Rolling Door dan dia memberikan aba-aba kepada kami, pada saat itu juga lantunan ngajian itu masih tetap terdengar cukup jelas.
kakak pertamaku mulai menghitung mundur.
"1"
"2"
"3"
dengan cepat kakak ku langsung membuka pintu Rolling Door itu dan secara bersamaan kami langsung keluar dari rumah, bersiap jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakan .
Tetapi pada saat itu juga benar-benar tidak ada satupun orang, bahkan jalan raya saja sepi tidak ada satupun mobil dan juga motor yang lalu lalang.
Suara itu juga ikut menghilang.
.
.
.
.
.
Beberapa Hari kemudian akhirnya sebuah informasi sampai ke telinga kami, bahwa salah satu Guru ngaji perempuan di kampung ini meninggal dunia beberapa hari yang lalu dan kami merasa tampaknya suara lantunan ayat Suci yang kami dengar adalah dia.
walau sudah tidak berada didunia, dia masih tidak berhenti melantunkan ayat suci itu dengan sangat merdu .
Semoga Allah SWT menerimanya disisinya Aamiin..
.
.
.
.
Akhirnya kami sampai di tahun ke 2 menuju tahun ke 3.
walau pada awalnya kami tidak betah dengan rumah ini, lama kelamaan kami merasa nyaman, hanya saja gangguan itu tidak akan pernah berhenti sampai mereka berhasil mengusir kami dari rumah ini.
Dan akhirnya kita benar-benar sampai pada titik ter DASYAT yang membuat kami benar-benar ketakutan setengah mati.
Tepat pada malam JUM'AT KLIWON .
Cuaca tadi siang yang awalnya tampak cerah benerang, seketika berubah drastis saat malam tiba, Angin kencang tampak menerpa daerah rumah kami.
suhu rumah yang biasanya hangat seketika menjadi dingin secara drastis.
kami tau jelas bahwa ini malam jum'at kliwon, kesempatan mereka untuk bisa masuk kerumah kami benar-benar sangat dasyat, kesempatan yang jarang terjadi pastinya tidak akan mungkin mereka sia-siakan begitu saja.
Sebelum malam tiba, ibuku memutuskan untuk mengunci semua pintu yang berada di ruangan tengah termasuk pintu mengarah kearea dapur, bahkan kami memberikan garam kasar di setiap sudut ruangan .
Seakan-akan kami bersiap dengan segala hal buruk yang akan terjadi, kami berkumpul di ruangan tengah sembari menerka-nerka apakah semuanya akan baik-baik saja atau tidak.
kami juga tau jelas bahwa mereka adalah makhluk agresif yang tak akan segan-segan mengusir manusia yang berada di daerah mereka.
Dan tampaknya sesuai yang kami prediksikan tepat jam 12 malam mereka semua mulai beraksi, suara ketukan pelan terdengar dari salah satu pintu diruangan tengah, kami sontak secara bersamaan menatap kearah pintu itu.
tampaknya Engkoh itu juga tidak melewatkan kesempatan ini, kesempatan untuk masuk dan mengganggu kami, yang awalnya itu hanya sebuah ketukan pelan, lama kelamaan ketukan itu semakin cepat dan semakin kencang dan secara bersamaan angin yang sangat kencang menerpa rumah kami, membuat Rolling Door itu bergerak-gerak dan membuat suara yang menyeramkan.
bahkan bukan hanya itu, terdengar juga suara meja yang bergeser, yang berasal dari ruko kosong di sebelah rumah kami, secara bersamaan semua suara muncul .
Terdengar langkah kaki yang begitu banyak diatas atap,bahkan terdengar suara tawa perempuan dan lolongan anjing yang amat menyeramkan
Dentuman keras kembali terdengar dari arah dapur, kami benar-benar tidak berani untuk mengecek asal suara itu, lampu yang tampak berkedip beberapa kali, seakan-akan mereka berusaha untuk memadamkan lampu rumah ini.
Kami semua saling berpegangan tangan dan berdoa, jika lampu kami mati mereka akan semakin kuat dan pagar rumah akan bisa ditembus oleh mereka dengan sangat mudah.
angin kencang terus menerpa, seakan-akan mereka berusaha membuat rumah tua ini roboh dan menimpa kami.
kami terus berdoa tanpa henti, kami berdoa dan meminta perlindungan agar malam ini segera berlalu.
Malam kali ini benar-benar terasa sangat panjang, suara-suara itu masih belum kunjung berhenti.
Bahkan kami tidak berani untuk tidur sama sekali, kami benar-benar berharap agar Suara kumandang azan subuh segera tiba.
jujur saja rasa takut itu benar-benar sangat melekat pada diriku dan aku tidak mungkin bisa melupakannya begitu saja, aku menutup telinga ku sekuat mungkin agar suara menyeramkan itu tidak masuk kedalam telinga ku.
aku benar-benar ketakutan, bukan hanya aku tapi seluruh keluarga ku juga merasakan hal yang sama .
Mereka benar-benar berusaha masuk kedalam rumah ini.
Dan tidak lama kemudian Suara kumandang Azan Subuh tiba, suara yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba dan seketika semua suara menyeramkan itu lenyap.
Angin kencang berhenti bertiup, suara ketukan dan langkah kaki itu juga ikut menghilang.
akhirnya kami bisa bernafas dengan sangat lega, air mata ku juga ikut jatuh di saat yang bersamaan, sulit untuk dijelaskan perasaan legah saat mendengar lantunan Azan mulai di kumadangkan.
.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian tepat pada bulan Mei 2018 kami memutuskan untuk pindah dari rumah itu.
sesuai perjanjian kami melepaskan pagarnya dan mereka kembali mengisi rumah itu.
walau begitu kami tidak akan pernah melupakan kejadian ini.
kami semua pindah ke rumah baru kami, rumah yang lebih layak.
Rumah yang jauh dari kata mistis..
Kami hidup bahagia dirumah baru kami, tetapi kami juga tidak akan pernah melupakan semua kejadian horor, selama kami tinggal disana.
Daerah yang awal nya jauh dari mana-mana, sekarang mulai terjamahkan manusia, jalanan yang dulunya amat sepi, sekarang menjadi ramai.
Dan kisah ini berakhir disini.
****TAMAT****